Jay telah terlalu biasa dengan kehidupannya yang serba berkecukupan. Apapun yang ia inginkan, ia selalu mendapatkannya dari kedua orangtuanya yang bekerja keras dalam mencukupi segala kebutuhan. Ia mendapatkan semua fasilitas yang memudahkannya dalam bergerak dengan hanya meminta. Mobil –pun motor- untuk mengantarkannya kemana saja sebagai remaja aktif. Gadget mahal untuk memenuhi kebutuhannya akan perkembangan dunia yang tidak pernah berhenti. Serta unlimited credit card untuk memudahkannya dalam transaksi jual-beli tanpa perlu repot menyodorkan sejumlah uang.
Kehidupan yang dimiliki Jay layaknya seorang pangeran muda dari sebuah kerajaan yang berjaya, hanya hanya perlu menjentikkan jarinya dan para pengawal pun akan patuh pada segala perintahnya, tanpa terkecuali. Ya, seperti namanya, Berjaya, ia pun berjaya dalam menggunakan fasilitas yang telah diberikan kedua orang tuanya.
Jay, dengan segala fasilitas yang diberikan orangtuanya, banyak menghabiskan waktu sebagai mahasiswa aktif dengan mendayagunakan secara maksimal semua fasilitas tersebut. Hingga sampai pada suatu momen ketika semua fasilitas yang semula adalah tanpa batas, secara tiba-tiba terdapat batasan yang menyebabkan ia tidak lagi menikmati semua fasilitas itu secara penuh.
“Mami gak sengaja dengar ibu-ibu yang lain membicarakan sesuatu di belakang mami. Mereka mengatakan bahwa mereka menerima mami di grup sosialita mereka karena mami yang begitu royal membelanjakan mereka ini-itu. Mereka memanfaatkan semua royalnya mami untuk kesenangan mereka, Jay!!”
Suatu hari mami datang mengadu pada Jay dengan kesal sekaligus rasa kecewanya yang membaur menjadi satu setelah mengetahui ketidaktulusan rekan-rekan sosialitanya yang selama ini ternyata hanya memanfaatkannya. Mereka bersedia menerima mami dalam grup sosialita mereka karena mami yang begitu ringan tangan membelanjakan hartanya untuk orang lain, bukan karena menganggap mami sebagai seorang yang menyenangkan dan layak secara personal untuk bergabung dengan grup sosialita mereka.
Setelah mengetahui fakta tersembunyi itu, mami tentu saja marah pada grup sosialitanya yang tidak tulus sama sekali itu, dan memutuskan untuk keluar dari grup sosialita tersebut. Dan sebagai efek beruntun, Jay pun terkena imbasnya
“Mami minta unlimited credit card, kamu.”
“Untuk apa?”
“Agar kamu gak sembarangan menggunakan credit card itu untuk membelanjakan keinginan teman-teman kamu. Agar kamu gak sama dimanfaatkannya seperti mami yang diperalat oleh ibu-ibu gak tahu diri itu,” ujar mami yang masih sangat kesal.
“Tapi teman-teman aku gak kayak teman-teman mami,” sahut Jay yang terdengar membela teman-temannya.
“Kita gak akan pernah tahu bagaimana sebenarnya orang, Jay.”
Mami tanpa kompromi kemudian mengambil dompet Jay yang tergeletak di atas meja, ia menggeledah dan mengambil semua credit card disana tanpa terkecuali. Ia bahkan mengambil kartu ATM yang juga terselip. Dan mami hanya menyisakan lima lembar seratus-ribuan sebagai uang tunai pegangan untuk Jay.
Penderitaan Jay tidak berakhir begitu saja setelah semua credit card dan kartu ATM-nya menjadi barang sitaan mami. Masalah bertambah pelik ketika malamnya papi juga ikut mengadu padanya. Papi mengatakan bahwa keuangan kantor sedang mengalami krisis, sehingga hal itu akan berdampak pada keuangan Jay yang setiap bulannya akan mendapatkan suntikan dana dari sejumlah uang yang ditransfer papi ke rekeningnya. Dan suntikan dana itu berkurang drastis dari dana normal yang biasanya akan masuk ke dalam rekeningnya.
“Lima ratus ribu, pap??!”
Jay tidak percaya dengan keputusan yang papi jatuhkkan papi padanya. Uang senilai lima ratus ribu adalah jumlah baru yang akan masuk ke rekeningnya setiap bulannya. Satu nol berkurang dari jumlah sebelumnya yang biasa ia terima. Dan jika jumlah itu ia tambahkan dengan uang yang disisakan mami di dompetnya, maka totalnya adalah satu juta.
“Mulai sekarang kita harus belajar berhemat, mengurangi sikap komsutif kita, Jay,” ujar papi yang tidak hanya memberikan nasihat pada Jay, namun juga dirinya agar belajar pada hidup yang sederhana, yang tidak dengan mudahnya menghamburkan uang pada hal yang tidak benar-benar diperlukan.
Babak baru dimulai Jay setelah kedua orangtuanya mengajaknya secara tiba-tiba untuk memulai pola hidup berhemat. Dan imbas dari itu ialah ia yang mulai mengurangi hangout dengan teman-teman geng sepergaulannya. Mulai mengurangi party-party yang biasa ia lakukan setiap malam di klub. Ia bahkan menurunkan kelas tempat makannya yang biasa ia habiskan di restoran mewah, menjadi sebuah restoran biasa. Bahkan jika benar-benar tidak diperlukan ia hanya akan makan di rumah saja, demi menghemat pengeluarannya.
Seperti hari ini, Jay memutuskan untuk makan siang di rumah sebelum berangkat ke kampus untuk mengikuti kuliah siangnya. Dan tepat ketika ia memasuki dapur, aroma sedap makanan menghampiri penciumannya. Sebuah pemandangan langka, ia kemudian mendapati mami yang baru saja mematikan kompor dan menyajikan beberapa hidangan di atas piring.
Pemandangan langka adalah ketika ia menemukan mami yang menggunakan celemek disana, ketika biasanya yang ia tahu adalah mami lebih banyak menghabiskan waktu dengan teman-teman sosialitanya.
“Ngapain mami disini?” tanya Jay sambil membantu mami membawa beberapa hidangan ke atas meja makan.
“Apa celemek ini kurang bisa menjelaskan?” ujar mami yang turut melangkah menuju meja makan.
Penasaran dengan hasil masakan ibunya, Jay langsung menyendokkan nasi ke piringnya, lalu menambahkannya dengan beberapa lauk-pauk hasil dari masakan mami. Ia pun mulai mencicipi menu makan siangnya yang kali ini disponsori oleh mami. Dan Jay cukup takjub dengan rasa yang menyentuh lidahnya.
“Sejak kapan mami bisa masak?” tanya Jay yang heran dengan rasa masakan mami yang begitu enak.
“Sebenarnya sejak dulu mami bisa masak, Jay. Hanya saja, sejak mami punya kesibukan dengan ibu-ibu munafik itu, mami memang gak pernah lagi masak di rumah.”
Ada terselip rasa kesal dalam benak Jay, mengingat mami yang sempat mengabaikan perut anggota keluarganya sendiri dengan lebih memilih bergaul dengan teman-teman sosialitanya yang sekarang terungkap ketidaktulusannya.
“Ya. Aku lebih suka mami yang sibuk di dalam rumah seperti ini. Yang memasak untuk aku, dan bukan sekedar memberikan makanan siap saji atau frozen food.”
Jleb!
Kata-kata itu berhasil menusuk hingga ke ulu hati mami yang terdalam. Itu adalah protes keras sang anak untuknya secara terang-terangan. Dan mami pun hanya mampu terdiam kemudian, menatap Jay yang lahap memakan hasil makanannya –namun pada saat bersamaan ia juga tahu bahwa anaknya tersebut menyimpan kekecewaan sekaligus kekesalan terpendam untuknya.
Hari ini Jay hanya mengikuti satu mata kuliah yang terjadwal untuknya. Perkuliahan dimulai sejak pukul dua siang, dan berakhir pukul empat sore. Namun ketika ia akan kembali pulang ke rumahnya, ia menemukan ban motornya yang menggembos, tidak ber-udara.
“Kenapa, Jay?”
Seseorang mencoba bersimpati dengan menanyakan trouble Jay. Namun reaksi yang ia dapatkan dari Jay justru raut bingung.
Sambil tersenyum, ia berujar. “Gue Ando. Sebenarnya kita cukup sering bertemu di kelas perkuliahan yang sama. Tapi gue maklum kalau lu gak mengenali gue, karena gue memang bukan anak orang kaya seperti lu atau teman-teman di kelas lainnya.”
Mendadak rasa tidak nyaman menjalar dalam benak Jay ketika Ando secara tidak langsung memberikan penilaian betapa pemilihnya ia dalam berteman. Demi membuang rasa tidak nyamannya itu, Jay pun menjelaskan keadaannya yang menjengkelkan karena rencana ingin pulang ke rumah harus diperlambat disebabkan ban motornya yang menggembos.
“Gue bantu bawa sampai depan, bagaimana?”
“Sampai depan?!” tanya Jay kaget.
Jarak gedung fakultas Jay hingga gerbang depan kampus hampir satu kilometer jauhnya. Ia tidak mampu membayangkan jika ia harus berjalan kaki hingga pintu gerbang kampus. Karena jika terjadi trouble semacam ini, biasanya ia akan meninggalkan kendaraannya begitu saja, kemudian memanggil orang bengkel untuk mengurusnya. Dan sebagai gantinya ia akan menebeng pada temannya yang lain. Namun Ando sepertinya tidak mampu memberikan tebengan itu padanya. Karena untuk rutinitas harian seperti ke kampus saja Ando terbiasa untuk menggiatkan kakinya melangkah. Dan agak terpaksa, Jay menerima tawaran Ando, demi menghargai kebaikannya tersebut.
Jay menyeruput es kelapanya yang ia beli selama menunggu motornya dipompa dan diisi angin oleh petugas bengkel. Untungnya, tepat di jalanan seberang kampus terdapat bengkel kecil yang mampu memberikan layanan isi angin untuk motornya yang bermasalah. Jay pun tidak perlu berjalan lebih jauh lagi, setelah jarak dari fakultas menuju gerbang kampus pun telah mampu ia mandi keringat, itu pun tanpa ia yang mendorong kendaraannya, melainkan Ando.
“Gue duluan, Jay. Ini kalau sudah selesai, langsung lu bawa aja, sudah gue bayar. Tadi juga sekalian sama es kelapa lu, gue udah bayar tadi.”
“Hah?”
“Duluan, Jay.”
Jay terdiam di tempatnya, ia bahkan tidak mampu menahan kepergian Ando, meskipun ia ingin, saking terkejutnya. Terkejut dengan kebaikan Ando ketika pada kondisi normal seharusnya Ando dapat lebih berhemat untuk kehidupannya sebagai anak kost di kota perantauan untuk menuntut ilmu. Dan yang lebih membuat Jay tidak habis pikir adalah Ando yang melakukan semua itu dengan perasaan ringan, terlihat dari senyum yang tidak henti disunggingkannya.
“Baru pulang, pap?” tanya Jay dengan suara paraunya saat jam dua dini hari ia menemukan papinya muncul dari pintu masuk.
“Karena keadaan kantor sedang krisis, impact-nya kerjaan di kantor semakin bertambah untuk mengembalikan pada keadaan –minimal- normal kembali,” sahut papi yang terdengar seperti sebuah alasan.
Tanpa papi melihatnya, Jay tersenyum sinis, sambil meletakkan kembali teko berisi air yang telah memenuhi gelas kosongnya. “Tanpa keadaan kantor yang sedang krisis pun, papi selalu pulang larut, seolah menganggap tidak penting sama sekali pertemuan denganku di rumah ini.”
“Jay? Kenapa kamu bicara sepert itu?” tanya papi heran.
“Ada yang salah? Bukan kah aku sedang membicarakan sebuah fakta akurat..?” ujar Jay yang sama sekali tidak mampu menyembunyikan kekesalannya pada papi yang selalu pergi ke kantor sebelum ia bangun, dan pulang malam hari setelah ia tertidur.
“Tapi papi bekerja untuk memenuhi keperluan sehari-hari kamu –dan mami- juga, Jay..” ujar papi yang lagi-lagi terdengar seperti sebuah alasan membosankan di telinga Jay.
“Keperluan harian aku –dan mami- bukan uang papi semata. Kepedulian papi terhadap keluarga ini adalah keperluan utama aku –dan mami, pap.”
Dan pernyataan Jay tersebut berhasil mengundang rasa bersalah dalam benak papi. Ia pun tidak ingin menyangkal bahwa selama ini ia memang lebih banyak menghabiskan waktu sebagai kepala keluarga dengan hanya mencari materi untuk keluarganya. Bahkan ketika weekend pun ia juga lebih memprioritaskan sebuah meeting dengan klien, dibandingkan keluarganya sendiri.
“Kita perlu bicara, pap..” ujar mami pagi itu, sambil merapikan dasi papi yang sudah akan berangkat ke kantor ketika matahari bahkan belum menampakkan dirinya –ketika Jay bahkan belum terbangun dari tidur lelapnya.
Dan rupanya mami sempat mencuri dengar sindiran tajam yang ditujukan Jay pada papi yang baru saja tiba di rumah malam tadi. Mami kemudian berinisiatif untuk membicarakan sindiran-sindiran yang nyatanya tidak hanya ditujukan padanya, namun juga pada suaminya, sebagai bentuk protes sang anak atas segala kesibukan mereka di luar rumah selama ini.
“Kayaknya ada yang harus kita ubah.”
“Maksud mami?”
“Kita selama ini sudah terlalu sibuk pada dunia kita di luar rumah, sehingga melupakan Jay yang tertinggal seorang diri di rumah ini,” ujar mami menjelaskan duduk perkara yang dipersoalkan Jay secara tersirat sebagai keinginannya sebagai seorang anak.
“Tapi papi harus kerja keras untuk keluarga ini juga, mam.”
Mami menghela napas. “Aku gak mempermasalahkan papi yang berusaha keras untuk membahagiakan keluarga ini. Tapi kebahagiaan gak hanya bersumber dari uang, pap ... namun juga dari kehadiran kita sebagai orangtua untuk melengkapi kebahagiaan Jay, pap.”
“Aku gak bisa membiarkan pekerjaan kantor ditinggalkan begitu saja.”
Mami lagi-lagi menghela napas, kesal dengan keras kepala dan egoisnya suaminya tersebut. “Apa papi gak punya rasa bersalah sedikit pun karena selama ini sudah mengabaikan Jay?”
Lagi-lagi papi diingatkan tentang rasa bersalahnya terhadap Jay. Jika tadi oleh Jay sendiri, kali ini oleh istrinya sendiri. Rasa bersalah itu pun sebenarnya ada saja dalam hatinya, bersaing dengan egois dan keras hatinya.
“Coba sekali saja pikirkan tentang kebahagiaan Jay. Yang Jay perlukan adalah kita, bukan –hanya- materi berlimpah.”
Papi lalu mengarahkan tatapannya pada bingkai foto setahun lalu yang tergantung di dinding di atas meja rias mami. Foto tersebut bagaimana harmonisnya keluarga mereka melalui senyum mami dan papi yang mengapit Jay yang juga ikut tersenyum di tengah-tengah keduanya. Dan kebahagiaan yang tergambar dalam senyum di foto itu sama sekali palsu, karena pada kenyataannya, semua orang yang ada dalam foto tersebut hidup lebih secara individual, bukan sebagai keluarga sesungguhnya.
Hari ini Jay mengikuti perkuliahan paginya seperti biasa. Namun ada seseorang yang ingin ditemuinya untuk sesuatu yang ia ingin tanyakan. Dan Jay langsung menghampiri Ando setelah kelas perkuliahan hari itu berakhir.
“Ada apa, Jay?” tanya Ando yang cukup heran karena inilah kali pertama Jay menyapanya lebih dulu.
“Ada yang ingin gue ketahui dan tanyakan ke lu.”
Ando mengangguk.
“Lu bahagia?”
Kernyitan dalam kemudian terlihat jelas menghiasi kening Ando. Tentu saja itu adalah pertanyaan aneh untuk diajukan. Namun itulah yang sangat ingin Jay ketahui.
“Maksud gue, lu disini adalah anak kost perantauan. Dan setahu gue, kehidupan sebagai anak kost sama sekali gak mudah, terutama dalam berhemat. Tapi kenapa lu kemarin kayaknya ikhlas banget nolongin gue, dengan traktiran kelapa dan juga upah isi angin motor gue, bahkan dengan mendorongnya sampai depan. Sebenarnya pun lu gak harus melelahkann diri lu seperti itu kalau lu mau, tapi kayaknya lu melakukan semua itu dengan senang hati. Lu bahkan masih bisa tersenyum setelah itu.”
Ando mengerti hal yang dimaksudkan Jay. Ia pun tersenyum dan mulai menjelaskan bahwa, “sejak kecil gue selalu diajarkan orangtua gue untuk gak hitung-hitungan dalam membantu orang lain, meskipun diri sendiri bukan dalam keadaan yang nyaman. Namun nilai yang coba orang tua gue tanamkan tersebut menjadi salah satu sumber kebahagiaan gue, Jay. Ada perasaan puas setiap kali gue berhasil meringankan beban orang lain, meskipun itu hanya untuk perkara kecil.”
“Lu bahagia dengan hanya membantu orang lain?” tanya Jay heran.
“Keluarga gue mungkin gak se-kaya keluarga lu, namun dengan kesederhanaan dan nilai-nilai sosial dari orangtua yang berusaha gue terapkan dalam kehidupan sehari-hari.. itu sudah cukup menjadi sumber kebahagiaan gue. Karena sumber kebahagiaan kadang bukan dari banyaknya harta yang dimiliki, cinta –dan kebaikan untuk orang lain pun- sudah cukup mampu untuk mendatangkan banyak kebahagiaan.”
Jay tercenung mendengar pernyataan Ando, sekaligus iri. Karena yang ia dapatkan selama ini dari kedua orangtuanya hanyalah materi yang berlimpah, namun minim sekali curahan perhatian dari kedua orangtuanya yang selama ini sibuk sendiri. Ia pun ingin mendapatkan perhatian yang sama seperti anak-anak lainnya dari kedua orangtuanya.
“Jay, ponsel lu bunyi.”
Perkataan Ando berhasil mengembalikan Jay dari lamunan singkatnya. Ia kemudiann merogoh ponselnya yang terselip di saku celananya. Ternyata panggilan telepon dari mami.
“Kalau gitu gue cabut duluan, ya..” pamit Ando.
Jay mengangguk. Kemudian menjawab panggilan telepon dari mami.
“Ada apa, mam?”
“Kalau sudah selesai kuliahnya, langsung pulang ke rumah ya..”
Jay melirik jam tangannya yang telah menunjukkan pukul sebelas siang. Maka sekaligus memenuhi panggilan mami, Jay pun langsung pulang ke rumah untuk makan siang –dan mengakhiri aktivitasnya hari ini yang hanya terjadwal mengikuti kuliah pagi.
Peristiwa langka terjadi untuk pertama kalinya. Meja makan yang biasanya diisi oleh anggota keluarga yang tidak pernah makan dalam waktu yang bersamaan, kali ini meja makan tersebut berfungsi sebagaimana mestinya. Seluruh anggota keluarga berkumpul untuk makan siang bersama, makan siang yang disiapkan mami yang menjalankan perannya sebagai ibu rumah tangga yang membuktikan kemampuannya untuk urusan dapur.
Dapat dibayangkan betapa terkejutnya Jay ketika tiba di rumahnya untuk memenuhi panggilan mami dan melihat kedua orangtuanya telah menunggunya untuk makan siang bersama. Papi yang biasanya disibukkan dengan pekerjaan kantor, kini bersedia meluangkan waktunya untuk makan siang bersama. Dan itu adalah momen langka yang tidak ingin Jay lewatkan begitu saja. Maka ia pun segera bergabung di meja makan, membiarkan mami menyendokkan nasi dan lauk-pauk hasil olahannya ke atas piringnya –yang tidak perlu diragukan lagi tentang rasanya, lalu menikmati makan siangnya dengan senyum mengembang lebar. Senyum yang sangat nyata untuk menggambarkan kebahagiaannya.
“Ini baru namanya suasana rumah yang hidup,” komentar Jay.
“Papi akan usahakan untuk makan siang –juga makan malam dan sarapan- di rumah, selama yang menjadi juru masaknya adalah mami,” ujar papi.
Mami tersenyum. “Tentu saja mulai sekarang mami yang akan masak di rumah ini, pap.”
Inilah bentuk keluarga yang Jay inginkan. Keluarganya yang mampu memberikannya kebahagiaan kecil hanya dengan bersama. Keluarga yang mampu memberikannya cinta, bukan keluarga yang hanya memberikan materi yang tidak akan mampu menjadi sumber kebahagiaan sebenarnya. Dan semua orang pun kini tersenyum –benar-benar- bahagia dengan cinta baru mereka untuk keluarga tersebut.
end.