Jika Saja Aku Menikah Lebih Cepat
Jika secepatnya Allah mengabulkan, itulah yang terbaik. Jika Allah menundanya, itu pun yang terbaik.
Pernah aku berpikir, andai aku cepat menikah, tentu akan ada yang menemani di setiap fase perjuangan ini. Banyak orang yang merajut mimpinya bersama pasangan halalnya, sehingga aku tak perlu merasakan kesepian dan segala ketidaknyamanan yang muncul.
Namun, ternyata ada hal yang perlu tumbuh dalam diriku, dan itu hanya bisa berkembang menjadi versi terbaikku ketika aku sendiri.
Jika bukan alur ini yang terjadi, aku tak akan tumbuh dengan utuh, tak akan mencintai dengan setulus itu pada setiap perjalanan, tak akan jatuh cinta berkali-kali pada kehidupan.
Aku memang perlu sendiri dulu, karena ada luka yang perlu kusembuhkan dengan kejujuran pada diriku sendiri, meski berkali-kali terasa tak nyaman. Ternyata, mengenali diri sendiri dalam kesendirian dengan segala lika-likunya adalah sebuah proses yang menakjubkan.
Jika aku bertemu denganmu dalam versi diriku yang dulu, yang masih minim dalam manajemen dan pengenalan diri, kita mungkin akan lebih cenderung saling takut kehilangan, bukan memiliki keberanian untuk saling menguatkan dan saling melihat ketika kita rapuh.
Aku memang perlu sendiri dulu, agar bisa membedakan mana cinta sejati dan mana obsesi, mana kebutuhan dan mana keinginan, mana aku yang kokoh dan mana kebergantungan, mana rindu yang tulus dan mana pelarian semata.
Aku tak menunda cinta, tapi Allah menjaga kita agar ketika bertemu, kita sudah sama-sama penuh dan melanjutkan untuk tujuan yang sama.
Aku memang perlu sendiri untuk benar-benar sembuh. Agar ketika berjalan bersamamu nanti, kita bisa mengalir dengan tenang dan terlalu sayang untuk mengkhawatirkan hal-hal duniawi.
Kita berjalan beriringan, bertumbuh tanpa terburu-buru.
Kita tahu ini tak mudah, tapi kita berani melihat dan menerima kerapuhan masing-masing. Kita tahu tak perlu sempurna, tapi bersama lebih kuat dan bertahan lebih lama.
____🌱
Kamis, 2 Juni 2025


















