Kepulangannya Memulangkanku
SUDAH lebih dari tiga tahun kiranya aku tinggal di tanah orang. Semenjak aku memutuskan untuk kuliah di luar kota dan menetap di sana, aku semacam menjelma menjadi perantau sungguhan yang sering lupa akan kampung halaman.
Beberapa kali aku memang menyempatkan diri untuk pulang, itu pun sangat jarang sekali, dan sangat sebentar sekali. Mungkin kepulanganku dalam setahun bisa terhitung oleh jari: hanya beberapa kali. Dan biasanya aku pulang hanya untuk mengistirahatkan tubuhku, membagi sedikit rejeki atas hasil kerjaku, dan menukar koleksi pakaian-pakaianku. Setelah itu aku pergi lagi tanpa banyak basa basi dan haha hihi.
Selain disibukkan oleh kegiatan perkuliahan, aku juga kerap dibikin sibuk oleh urusan pekerjaan. Maklumlah, aku memang tidak berasal dari keluarga yang berkecukupan. Untuk membiayai kuliah, aku harus melakuan sesuatu yang bisa memberikanku penghasilan. Aku bersyukur, dengan begitu aku tak lagi merepotkan Bapakku. Sejauh ini, aku bisa dibilang sudah tumbuh menjadi anak yang mandiri, yang bukan hanya bisa mencukupi kebutuhan hidupku sendiri, tapi bisa pula membantu kebutuhan hidup keluargaku sesekali.
Aku sangat tidak keberatan untuk membagi rejeki yang kumiliki, terlebih untuk keluargaku sendiri. Tapi kadang aku merasa kesal kepada Adik lelakiku. Setiap kali aku berada di rumah, dia selalu saja menadahkan tangannya ke arahku sambil sesekali berucap ketus, “Bagi duit dong!” katanya.
“Minta ke Bapak sana!” sahutku.
“Masa?” Aku sedikit mengerutkan dahi meresponnya, “Ya sudah, nih!” dan akhirnya aku pun memberikan beberapa lembar uang padanya.
Beberapa saat kemudian, ketika aku ingin memberi uang kepada Bapakku, aku memberanikan diri untuk bertanya, “Si Adek nggak dikasih duit jajan?”
“Dikasih,” jawab Bapakku.
“15 ribu, terus kadang sore suka minta lagi. Kenapa memangnya?”
“Nggak, kemarin dia minta duit, katanya nggak dikasih sama Bapak?”
“Bohong! Jangan didengar dia kalau ngomong gitu lagi.”
“Ya sudah, nggak apa-apa. Kurang kali, nanti kalau si Adek minta kasih saja ya, ini duitnya.” Kusodorkan beberapa lembar uang seratus ribuan, dan setelah itu aku pamit untuk kembali ke perantauan.
Setahun belakangan, aku sudah tidak pernah pulang. Dengan alih-alih membereskan kesibukkan, aku terlena dengan kehidupanku di tanah orang. Di sini, aku merasa telah menemukan keluarga baru yang mempedulikanku, sampai-sampai aku lupa bahwa aku memiliki keluarga yang mungkin merindukanku lebih dari siapa pun.
Dalam setahun ini aku berhubungan dengan Bapak hanya lewat telepon, itu pun sangat jarang karena aku tak berani meneleponnya lebih dulu, dan sepertinya Bapakku pun enggan untuk terlalu sering menggangguku, entahlah, pokoknya kami sudah sangat jarang berkomunikasi. Terakhir aku dengar kabar, adikku sudah lulus dari sekolahnya, dan sepertinya dia akan langsung kerja. Rasanya memang tidak mungkin untuk meneruskan ke jenjang kuliah dikarenakan perekonomian keluarga kami yang cukup lemah.
Sejujurnya aku kadang merasa rindu untuk pulang. Aku rindu bertemu Bapak. Aku rindu saat melihatnya pergi dan pulang kerja. Aku rindu memperhatikan kerja kerasnya. Aku juga rindu Adik lelakiku meskipun seringnya dia malah bikin kesal. Beberapa kali Adikku pernah mengirimiku pesan singkat yang berisikan pesan senada dengan yang sering dia sampaikan ketika kami bertemu, semisal:
“Bagi duit dong!”
“Kirimin pulsa dong!”
“Beliin baju dong!”
Dan sebagainya yang berhasil membuatku kesal setiap kali membacanya.
Bukannya aku tidak mau memberinya, tapi aku kesal dengan cara dia memintanya. Maksudku, sebagai seorang saudara, tidakkah dia mempedulikan keadaanku? Apakah dia tidak ingin tahu bagaimana kabarku? Atau setidaknya menanyakan kesibukkanku? Kenapa harus langsung meminta dan selalu meminta? Seolah-olah baginya yang penting adalah dia dapat uang dari Kakaknya, dan tidak memikirkan apa pun selainnya. Dia bahkan tidak peduli akankah aku kembali pulang atau tidak, dia tidak peduli aku sehat atau tidak, dia tidak peduli aku sedang dalam perasaan senang atau tidak. Dia hanya peduli pada pemberianku, bukan padaku.
Sering aku mengabaikan pesan dari Adikku. Bukan karena aku tak sayang, hanya saja karena aku merasa tak tahan dengan sikapnya. Sebagai seorang Adik, dia seperti tak pernah menghargaiku. Iya, aku memang salah karena ngebaikannya, tapi apakah aku tidak berhak untuk merasa dihargai?
Rasa kesalku yang selama ini kupendam pun muncul kembali ketika suatu hari Adikku datang menemuiku di perantauan. Entah sudah berapa lama kami tak berjumpa, sudah setahun lebih sepertinya. Aku sampai agak lupanya, dia kini tampak lebih kurus dan penampilannya tampak tak terurus. Rambutnya acak-acakan. Sendalnya putus satu. Dan bajunya terlihat kotor dengan bercak-bercak dangkal kemerahan di lingkaran lehernya. Aku melihatnya sudah seperti gelandangan yang baru saja diusir karena tidur sembarangan di depan toko, sangat dekit. Tapi dari semua keanehan penampilannya itu, ada satu hal yang tak berubah darinya, yaitu kelakuannya. Dia masih sama seperti dulu. Bahkan saat pertama kali kita bertemu saja, dia tanpa sungkan langsung berkata ketus, “Bagi duit dong!”
“Buat apa sih minta duit mulu?”
“Buat jajan, buat beli makan, buat beli baju, sama buat beli sendal.”
“Banyak amat? Memangnya di rumah nggak dikasih duit?”
“Sudah lama nggak ada yang ngasih duit, semenjak Abang nggak pulang, Adek nyari duit sendiri,” dia tampak sedikit bergetar mengatakannya, dia seperti sedang menahan ketidakberdayaannya.
“Jangan bohong! Dulu bilangnya nggak dikasih duit sama Bapak, tapi pas ditanyain ke Bapak katanya dikasih setiap hari.” Mulai meninggi emosiku saat mengatakannya.
“Itu dulu, setahun yang lalu, waktu Abang terakhir kali pulang ke rumah,” Dia nampak menghembuskan napas yang terasa agak berat. “Setelah itu, apa Abang tahu gimana nasib keluarga kita?” dilemparnya pertanyaan itu kepadaku.
Aku hanya diam mendengarkan.
“Bapak sakit, Bang, nggak bisa kerja lagi. Jadi sudah setahun ini Adek nyari duit sendiri buat makan, buat Bapak juga.”
“Kenapa Abang nggak dikasih kabar?”
“Aku sudah sering kirim pesan ke Abang, tapi nggak pernah ada balasan,” dia mengangkat kepalanya, matanya menatap tajam ke arahku. “Bapak nggak mau ngehubungin Abang, katanya dia takut Abang keganggu, dia takut Abang khawatir, dan dia juga takut Abang nggak fokus kerja, nggak fokus kuliah, jadi aku yang disuruh ngehubungin Abang, tapi apa Abang pernah kasih respon?” kembali dilemparkannya pertanyaan yang tak bisa kujawab kepadaku.
Aku semakin terdiam menelan setiap ucapannya yang menyudutkanku. Aku tak bisa membantah sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya.
“Makanya, bagi duit dong!”
“Iya nanti Abang bagi. Terus gimana kabarnya Bapak sekarang?”
“Dia sudah lumayan sehat, tapi belum bisa ngerjain yang berat-berat. Kalau Abang mau tahu, mending Abang lihat sendiri ke rumah.”
“Ya sudah, ayo kita pulang.”
“Abang pulang duluan saja, Adek masih ada urusan.”
“Pokoknya ada deh, tanya saja sama Bapak,”
“Iya, pokoknya tanya saja. Mana Bang, bagi duit dong! Adek nggak bisa lama-lama di sini.”
“Ya sudah, nih!” Aku pun kembali memberinya uang, yang nominalnya agak lebih banyak dari yang terakhir kali aku berikan padanya. Kupikir tak apalah, tidak akan setiap hari juga aku memberinya uang sebanyak itu.
Setelah pertemuan dengan Adikku itu berakhir, aku bergegas pulang ke rumah untuk menemui Bapakku dan melihat keadaannya. Di sepanjang perjalanan pulang, aku merasa seakan ada yang berbeda. Tiba-tiba aku merasa rindu sekali melihat pemandangan pulang ini. Sudah setahun aku tidak melewati jalan yang sedang kulalui. Semuanya terlihat masih sama, tidak banyak berubah, dan aku menjadi semakin ingin cepat sampai di rumah, semoga semuanya masih sama, dan semoga Bapak masih sehat-sehat saja.
Sesampainya aku di rumah, aku merasa heran mengapa di rumahku begitu banyak sanak familiku berkumpul. Sedang ada acara apakah ini? Dengan dinaungi rasa penasaran, langsung kuparkirkan motorku di halaman, dan kemudian aku disambut dengan tatapan nanar dari semua orang yang melihatku datang.
“Nah, ini yang dari tadi dicariin. Sini langsung masuk!” Salah seorang Bibiku menggenggam tanganku dengan cukup kuat. Aku masih penasaran, ada apa sebenarnya?
Setelah aku masuk ke rumah, aku melihat ada Bapakku, dan kemudian dia pun meraih tanganku sambil berkata, “Bang, Adek kamu, Bang.”
Aku sungguh tidak percaya dengan apa yang sedang kulihat.
“Adekmu sudah nggak ada, Bang.” kata Bapakku sambil menahan air matanya agar tak jatuh di hadapanku.
“Ya Allah! Ini kapan kejadiannya, Pak?”
“Tadi pagi, setelah selesai sarapan, dia minta duit buat beli rokok, terus nggak Bapak kasih. Kemudian dia marah dan lari keluar dari rumah. Terus pas dia mau nyebrang jalan, ada mobil melaju kencang, dan akhirnya Adek kamu tertabrak dan terpental.”
“Nggak mungkin, Pak! Nggak mungkin!” Aku masih sangat tidak percaya dengan semua ini, “Tadi siang Adek datang ke tempatku, dia bilang Bapak lagi sakit, makanya aku pulang. Jadi nggak mungkin kalau Adek sudah…”
“Abang, Adek kamu sudah nggak ada.” Bapak melanjutkan perkataan yang tak sanggup kukeluarkan dari mulutku. “Kamu harus ikhlas, Bang. Maafin Adek kamu kalau dia pernah banyak bikin salah sama kamu.”
“Tapi, Pak? Tadi aku ketemu Adek, dia baik-baik saja. Nggak mungkin…”
“Abang, ikhlaskan Adekmu, Bang.” Seketika itu Bapak memelukku dengan begitu erat, mencoba menenangkanku yang sudah tidak karuan menenerima kenyataan yang begitu mengejutkan itu.
“Bapak! Maafin aku!” Kataku sambil menangis di pelukkannya. “Aku nggak bisa jadi anak yang baik buat Bapak, dan aku nggak bisa jadi Kakak yang baik buat Adek. Aku minta maaf, Pak, maafin aku!” Air mataku tumpah ruah saat itu, emosiku tak lagi bisa kukendalikan. Aku masih bertanya-tanya dalam hati, kenapa ini bisa terjadi? Apa ini hanya mimpi? Lalu siapa yang bertemu denganku tadi?
“Iya, Bapak maafin kamu. Bapak juga yakin Adek maafin kamu, dia sayang sama kamu, sama seperti Bapak yang sayang sama kalian.”
Aku tak bisa lagi berbicara, lidahku kaku, kepalaku pusing, dan badanku lemas sekali sampai-sampai aku kehilangan kesadaran dan jatuh pingsan di pelukan Bapak.