Tak terasa tahun ini udah mulai berpisah dengan kita. Tahun 2020 yang penuh emosional, lika-liku, tantangan, sambatan,umpatan, dan keresahan. Tak bisa dipungkiri, kegiatan terbatas menjadi faktor utama. Tak ubahnya ibarat burung dalam sangkar. Dalam kondisi tersebut tentu bukan hal yang mudah untuk dilewati. Akal dan jiwa pun seakan terkurung seperti masa abad pertengahan.
Kejadian tahun 2020 memang mengisahkan banyak pertanyaan yang membekas di benak. Loh kok iso?. misteri mengenai covid-19 perlu dipertanyakan, sampai kapan ini akan berjalan?, sampai kapan isu ‘monster kecil” ini berakhir?. covid-19 menjadi momok bagi semua pihak, baik Pemerintah, bawahanya,rakyatnya,investornya,tukang pentol, sampe tukang bubur naik haji pun turut merasakan kerugian jika tukangnya jadi jualan beneran.
Dampak tak perlu dipertanyakan lagi, bahkan semua lapisan sudah mengenal apa yang dinamakan krisis ekonomi. Istilah resesi mulai mencuat ke publik, meski tak semua paham apa dan dampak dari resesi. Saya pun juga belum tau lebih jauh apa yang sebenarnya terjadi ketika ada resesi. Yang pasti, keuangan negara dalam tantangan besar. Disaat masyarakat dianjurkan untuk dirumah saja, artinya tak ada pergerakan uang yang signifikan seperti sebelumnya. Lah terus kepriye dong ?.
Banyak orang akhirnya bantir setir dari pekerjaan aslinya. Yang awalnya ngojek jadi jualan tanaman, dulunya buruh pabrik sekarang menjadi penjual ikan cupang yang harganya sampe melejit hingga dompet saya ikut menangis mendengar hal ini. Namun ada juga yang stagnan, misal yang awal jadi beban keluarga sampe covid melanda masih menyusahkan juga ( termasuk saya,hehehe). and then , artinya adalah masih ada peluang yang bisa dimanfaatkan untuk berkreasi menciptakan siklus jual beli baru. Let’s say masih ada perputaran uang.
Menginjak pada bidang medis dan kesehatan. Lah ini lebih signifikan lagi akibat covid-19. is that true?. yes. Pertama, tenaga medis banyak berguguran akibat tertular dari pasiennya. Ini jelas menjadi pertanyaan terkait jaminan keselamatan dokter dan tenaga medis. Apakah sarpras dari bidang medis bermasalah?. sorry to say, i don’t know. Kedua, mengenai tesnya. Menjadi topik yang tidak bisa dipisahkan dari isu covid-19. alih-alih menjamin keaslian dari hasilnya, banyak sekarang sudah dimanipulasi demi keuntungan hakiki. Entah mengapa, seolah tes yang digunakan sebagai syarat wajib untuk berpergian memasuki wilayah lain agaknya menjadi “pembodohan publik” yang nyata di masyarakat. Bisa dibilang ini monopoli gaya baru ( jadi keinget VOC nih).
Ketiga, tentu masih ingat dengan isu krisis masker?. nah, menjadi persoalan awal ketika covid-19 melanda di Indonesia. Lantas apa akibatnya. Harga masker yang awalnya hanya sekitar dibawah Rp 10.000 melunjak hampir ratusan ribu bahkan jutaan. Bisa dikatakan, covid-19 membuat oknum yang “anjay” ini mengeluarkan ide gilanya untuk menimbun masker, supaya rezekinya tetap mengalir. Sungguh di luar dugaan beberapa umat Nabi Muhammad SAW ini.
Lanjut ke bidang politik pemerintahan, tentu tak terlepas dari adanya kebijakan yang dikeluarkan. Situasi pandemi membuat Pemerintah berpikir keras , hingga pusing 7 keliling trapesium guna bisa memuaskan semua harapan lapisan masyarakat. Namun terjadi kebimbangan disitu. Saya ibaratkan Pemerintah adalah seorang manusia yang ingin menyebrang jalan. Kemudian ia berhasil menyebrang jalan namun hanya sampe setengah jalan. Nah jalan tersebut dilewati oleh 2 arah, nah arah tersebut adalah isu kesehatan dan ekonomi. Jika seorang manusia itu melanjutkan perjalanan maka ia akan tertabrak oleh isu kesehatan, karena dengan kebijakannya memperbolehkan aktivitas diluar rumah , maka kesehatan individu menjadi taruhannya.
Namun ketika ia berdiam diri, bahkan malah mundur lagi ke tepi jalan, maka ia tertabrak oleh isu ekonomi, dimana rakyat harus beraktivitas di dalam rumah ( atau lebih dikenal istilah Lockdown). sikap Pemerintah terhadap pandemi ini, menjadi bahan menarik untuk diperbincangkan. Kepusingan Pemerintah juga ditambah oleh isu-isu yang lain, misal isu bansos, isu RUU Cipta Kerja,dll. Untuk Bansos akhirnya bermasalah juga,meskipun telah mendapat jaminan oleh Pemerintah bahwa bantuan akan sampai ke tangan masyarakat bawah. Namun tetep aja ditelen lagi meskipun tidak seberapa dan yang kena adalah tokoh utamanya. Ya saya nggak mau sebut nama karena semua masyarakat Indonesia udah pandai dan tahu. Saya nggak mau menyebut nama juga karena rumah saya deket ama kantor cabang sebuah partai, takut tulisan saya dibaca oleh anggota partainya dan akhirnya rumah saya digrebek, kan repot.
Pindah ke isu pariwisata, tidak terlepas dari kegiatan liburan. Pada malam tahun baru, suasana di jalan-jalan dekat rumah saya berbeda dengan suasana malam tahun baru tahun sebelumnya. Yang biasanya ramai, penuh deru suara motor, terompet, kembang api menggema hingga ke penjuru kampung, kemarin sepi. Tak ubahnya seperti hari hari biasanya di masa pandemi ini. Yang sebelumnya orang-orang menghabiskan waktu menunggu malam pergantian tahun, dengan berjalan-jalan, mengunjungi tempat wisata, bahkan hanya sekedar nongki atau kongkow, kemarin tak terlihat adanya penampakan itu. Misteri tapi nyata. Ya , karena tempat wisata,dll mengalami pengawasan yang ketat, dan dianjurkan untuk di rumah saja. Hal itu menjadi jawaban atas pertanyaan mengenai situasi di malam pergantian tahun baru di kampung saya.
Memang terasa aneh, tapi ya mau bagaimana lagi. Seolah waktu tak memberi izin untuk keluyuran di malam itu. Jalanan menjadi sepi, hanya suara jangkrik yang tetap menemani dan deru motor yang hanya sesekali lewat. Lantas susasana sepi senyap, cocok bagi anak imajinatif yang pengen cari inspirasi dan ketenangan. Meski begitu, pariwisata akan terganggu dengan adanya pandemi ini. Mau tidak mau, orang-orang akan bosan di rumah dan pengen mengunjungi tempat hiburan( tentu bukan hiburan malam dong ya!). yaps, apalagi dengan adanya pembatasan kunjungan wisata, kemudian juga adanya pelarangan pergi ke Luar Negeri, tentu menjadi dampak dari Pandemi ini. Penutupan kedatangan dan keberangkatan bagi Turis Asing tentu menjadi mata rantai dampak pandemi lainnya. Indonesia yang kaya akan pariwisata , mengalami kerugian dan berdampak pada devisa negara.
Namun yang pasti, tahun 2020 menjadi tahun yang tak terlupakan. Bahkan menjadi kisah sejarah baru, menyusul peristiwa sejarah pandemi sebelumnya. Artinya masih ada harapan untuk bisa bangkit dari keterpurukan yang ada di tahun 2020, berkaca pada isu pandemi sebelumnya. Saya mengambil sebuah pesan yang diambil dari salah satu iklan rokok di televisi , bahwa “kita tak bisa mengubah situasi, tetapi kita bisa ubah strategi, yes you can”.