Aku lupa sudah berapa minggu kuabaikan dia, aku kira ketenangan akan kurasakan dalam jangka waktu lama. Ternyata tidak.
Selalu saja di tengah malamku terusik, sekarang ini bau amis menyeruak di penjuru rumah, tak perlu kucari, aku sudah tau sumbernya.
Aku tak perlu mengetuk pintu sebagai bentuk kesopanan. Kulihat kamar yang berantakan dengan cahaya remang, tak perlu terang untuk tau ceceran di lantailah yang menjadi sumber bau amis.
"lucu ya" ucapnya sembari meringkuk di sudut dinding.
Sedetik aku menerka apakah ini pertanyaan atau pernyataan darinya.
"apanya? Siapa yang lucu?" tanyaku memastikan maksudnya.
"ya kamu, aku, kita" tak perlu kulihat jelas wajahnya, aku tau dia menyeringai.
"maksudnya?" bingungku sembari tetap berdiri di depan kamar, tak ingin melangkah masuk.
"aku tau kamu berharap aku mati, atau setidaknya tak sadarkan diri. Kamu lihat genangan darah itu? Kamu pikir aku tak pernah mencoba untuk mengakhiri semuanya?! Sering, dan selalu gagal!" ucapnya datar tanpa emosi.
Kubiarkan dia mengambil jeda untuk memuntahkan isi kepalanya, beberapa menit kami nikmati dalam diam. Aku bergelut dengan isi kepalaku untuk menerka isi pikirannya, berada di posisinya.
"Lucu bukan? Kamu mengurungku di kamar yang penuh rongsokan ini, membiarkan aku terkunci, dan seolah-olah tak pernah terjadi apa-apa" terdengar jelas amarah yang ingin menyeruak dari suaranya.
"memangnya apa yang terjadi? Hah?" pertanyaan bodoh keluar dari mulutku, padahal aku sangat tau jawabannya tanpa perlu dijelaskan.
Tak kubiarkan dia membuka mulutnya, tak lagi ingin kudengar suaranya, malam ini aku terlalu lelah untuk sekadar berdebat.
Kutarik nafas sebentar, "kita bicarakan ini besok, hanya amarah yang akan tumpah kalau kita masih berbicara. Aku perlu istirahat, terserah kamu ingin melakukan apa. Tapi, setidaknya tolong biarkan aku tidur lelap malam ini".
Segera kututup pintu kamarnya ketika samar kulihat anggukan darinya.
Banjarmasin, 13 Oktober 2023 - 00:01