Hai Berkepala Dua
Hai usia yang sudah memasuki kepala dua.
Selamat Ya! Selamat menjalani hari-hari dengan penuh tanggungjawab. Selamat dimana bahwa dirimu masih sama dan dirimu kuat menjalani badai yang terus menerjang. Dan selamat untuk hal-hal bahagia atas pencapaian dirimu, bahwa kesedihan yang pantas untuk ditangisi adalah ketika aku merasakan sesuatu berharga telah pergi meninggalkan untuk selama-lamanya. Kau mampu mengatasi semuanya diriku! kau layak untuk diberikan penghargaan. Terimakasih sudah menahan beban yang ada, tapi kau terus tersenyum didepan banyak orang sampai berbuat konyol hanya menyenangkan orang lain. Tak apa, itulah penghargaan kecil yang bisa aku berikan. Bersyukur untuk segalanya. Hati yang terus terbolak-balikkan, mungkin itu jawaban Tuhan disetiap doa yang aku panjatkan. Untuk lebih mencintai dirinya sendiri baru mencintai dia. Merasakan untuk menikmati prosesnya terlebih dahulu, baru bisa melepaskan bersama kecerahaan dihari nanti. Tidak bisa menyebutkan satu persatu dengan ucapan “Terima kasih”, hanya ingin berpesan. Tetaplah bersama, mendukung, peduli, ikhlas jangan pernah pergi. Jika keadaan menekan pergi, jangan lupa untuk kembali bersama dengan momen keindahan itu. Dan jika memang tidak bisa, lapang dada adalah jalan terakhir untuk melepaskannya. Karena diusia seperti ini, aku tidak ingin bermain-main lagi dan aku tidak ingin terus mencari kuantitas tapi aku sangat membutuhkan kualitas, supaya menjadikan simbiosis mutualisme bukan simbiosis parasitisme. Maaf atas segalanya, yang juga tidak bisa disebutkan satu persatu atas kesalahan. Yang hanya aku bisa adalah terus evaluasi atas diriku sendiri.Â
Aku hanyalah manusia biasa. Manusia biasa yang juga meiliki hati nurani. Dan manusia biasa yang ingin menjadi dirinya sendiri. Bukan soal egos, tapi soal memperbaiki luka pada hati yang semakin membesar.
https://rimaniah.blogspot.com/2021/07/hai-selamat-berkepala-dua.html














