Perbandingan kita bukan orang lain, tapi diri sendiri; apakah hari ini kita lebih baik dari hari kemarin?
Cukup jawab dalam hati, lalu perbaiki.
seen from Italy

seen from Russia
seen from India

seen from Malaysia

seen from United States

seen from Singapore
seen from Sri Lanka
seen from Taiwan
seen from Sweden

seen from Malaysia
seen from Sweden
seen from China

seen from Malaysia

seen from United States
seen from United States

seen from Sweden

seen from China
seen from China

seen from United States
seen from New Zealand
Perbandingan kita bukan orang lain, tapi diri sendiri; apakah hari ini kita lebih baik dari hari kemarin?
Cukup jawab dalam hati, lalu perbaiki.
Mungkin awalnya dirimu hanya berteman dekat, akrab dan sebatas norma kesopanan untuk berbuat baik kepada siapapun termasuk keluarganya.
Namun, semakin hari semakin menyadari bahwa dirimu jadi "menanggung hidup" seseorang. Dikala dia kesusahan, kamu selalu ada. Sebaliknya, dikala dirimu susah dia tidak selalu ada.
Kau harus paham bahwa hubungan bersosialisasi dengan orang lain tidak selamanya mengikat, dalam arti mengikat dia hanya denganmu.
Dia bisa saja bersosialisasi dengan yang lain. Jangan pernah harapkan balasan yang sama dari orang lain.
Sekarang, saat harus pergi demi kewarasan diri malah tidak sanggup, tidak tega meninggalkan yang berjuang bersama dari nol.
Seolah-olah dirimu menanggung hidupnya disini, memikirkan perasaan keluarganya dan semua orang yang mengenalmu.
Ragu dan bimbang seketika, haruskah aku egois meninggalkannya atau aku bertahan dan membuat diriku tidak nyaman?
#22 — Teguh atau Runtuh
Kita semua adalah manusia yang terluka. Berupaya baik-baik saja dengan kepura-puraan yang dibiasakan. Sudahkah kita terbiasa?
Berlarut pada usia yang makin mendewasa. Jejak terjal terasa meradang. Kian hari kian menyesakkan. Pola kerdil tentang menjadi dewasa sejati-jatinya.
Ada yang masih setia pada masa lalu, terlumat ingatan bising. Diri yang terisak sakit sejadi-jadinya. Memberi vibrasi pada masa kini yang tanpa sadar terakumulasi. Rasa dan pikiran kerdil, kini membumi pada tiap langkah pun pilihan yang dihidupkan, detik ini juga. Terwujud pada diri yang merasa mengganjal, tak lepas, terjerat dengan ketidaktahuan dan kebingungan.
Ada yang memilih setia pada masa kini, memaksa diri untuk terbiasa. Iya, menganggap semua yang telah berlalu jadi garis masa lalu. Namun, jejak sakit itu sekedar dihindari hingga suatu saat terjatuh dalam hempasan isak tanpa sebab. Masih sakit, serasa-rasanya. Sesekali, tertunda, terasa lagi, terulang dan berulang.
Ada yang langsung menerjang ke masa depan, fokus pada apa-apa yang baik untuk dilakukan. Setia pada pemulihan dan perbaikan tak jarang ke arah perubahan. Sebuah lompatan tajam, ya, pola memaksa ekstrem bagi diri, boleh jadi, diri masih terjerembab di masa lalu atau tertatih-tatih di masa kini. Langkah seperti miskin energi, terpasung dalam kekosongan dan kerumitan. Tanpa jalan keluar, tidak tahu, bingung, anehnya seperti "baik-baik saja."
Seluruhnya, bicara soal pola yang belum usai.
Perihal rasa sakit dan pikiran kerdil dengannya perlu ditata sedemikian rupa.
Pola perlahan-lahan yang mestinya dihidupkan.
Sebab diri masih dalam keraguan, berlari dalam halunya jalan keluar, tersandera pada rasa "baik-baik saja", sesekali berbinar pada lompatan peluang padahal pilihan yang makin menjauhkan diri pada kesejatiannya.
Masih bertarung pada rumitnya pertanyaan yang tak kunjung terjawab, sesekali mengernyitkan dahi berupaya mencari jalan keluar, sekali lagi.
Nyatanya, memang begitu adanya...
Bahwa hidup berarti sebuah proses panjang, tanpa harus terlalu berlebihan, perlahan tetap pada pola menikmati, tak perlu terburu-buru, melalui atau segera menyudahi.
Ada berjuta-juta alasanNya, tanpa harus segera kita ketahui ujungnya.
Berilah kesempatan pada diri untuk belajar memahami, sekali lagi.
Ada banyak cara dalam memahami, dengannya kita perlu mulai menikmati. Segala proses tanpa tapi. Bertahan, boleh jadi, salah satu cara terkuat.
Berupaya teguh atau memilih runtuh, setia jadi pilihan kita semua sebagai manusia yang terluka. Tetaplah, semua pilihan seiring resiko, dengannya kita perlu tanggungjawab seserius-seriusnya. Tanpa tapi, lagi-lagi.
Pertanyaan selanjutnya,
Masih beranikah dirimu untuk menikmati sebuah seni keteguhan, sekali lagi?
Selamat bertumbuh bersama semesta!
[c] Muhammad Sarifin | @muhsarifin
SELF LOVE
Pernahkah kita selami diri kita sendiri? Sedetik... semenit... atau sejam dalam sehari, pernah? Atau jangan-jangan selama ini kita jarang menengoknya.
Coba lihat diri kita di depan cermin. Apakah pernah kita cermati bagaimanakah diri kita di depan cermin tersebut?
Kita sering bertegur sapa dengan orang lain. Bercengkerama, berbagi cerita, ketawa terbahak-bahak mendengar cerita lucu, meneteskan air mata mendengar cerita sedih, dan sebagainya. Namun, apakah sama diri sendiri sudah pernah ajak berekspresi seperti itu?
Seringkali kita bersikap fleksibel dengan orang lain, dan justru keras sama diri sendiri. Seringkali – bisa jadi – kita cuek dan beranggapan negatif padanya.
Self love... mencintai diri sendiri, adalah hal yang sepertinya hampir saja terlupakan. Biasanya kita ingin selalu menunjukkan rasa cinta, rasa sayang dengan orang lain, keluarga, teman, dan sebagainya. Kita lupa bahwa ada seseorang yang harus dicintai terlebih dahulu sebelum mencintai orang lain. Yaitu diri sendiri. Ya, diri sendiri.
Lalu, mengapa ya kita susah sekali untuk self love? Mengapa kita gengsi sekali untuk sekedar mengucapkan “terima kasih” sama diri sendiri? Mengapa kita jarang mengapresiasi diri sendiri?
Kerap kali kita suka merasakan yang namanya overthinking, misal ketika menghadapi suatu peristiwa yang membuat kita down, stres, gak semangat untuk ngapa-ngapa-in. Pada saat itu, umumnya kita lebih suka menyalahkan diri sendiri. Kenapa harus gini? Kenapa aku gak gitu aja? Misal lain, sebagai makhluk sosial kita tak terlepas dari bergaul dan berelasi dengan orang lain. Ketika kita melihat kehidupan mereka yang mungkin terkesan keren, bisa menghasilkan hal yang bermanfaat, punya ini, punya itu, pasti ada – walau misalnya sedikit – rasa iri, ingin menjadi seperti mereka, dan seterusnya.
Mungkin ini jadi alasan kenapa kita susah untuk mencintai diri sendiri. Kita sulit untuk menerima diri sendiri. Mungkin juga kita enggan berteman dengannya. Padahal.. tanpa sadar dia yang selalu setia menemani, dia yang tidak akan pernah pergi meninggalkan, dia yang selalu ada dekat dengan kita. Siapa lagi.. kalau bukan diri sendiri.
Bayangkan. Apa jadinya kalau “diri” kita tak ada? Bagaimana jadinya kalau diri kita ini tak merangkul kita? Sepertinya bayangan itu sulit tergambarkan.
Oleh karena itu, sering-seringlah mengucapkan “makasih banyak ya”, “selamat ya”, “maafin ya”, “saling tolong menolong kita ya” ke diri sendiri. Sering-seringlah kasih apresiasi ke diri sendiri. Agar terhempas semua pikiran, perasaan negatif, tergantikan dengan energi positif. Peluklah.. dekap erat diri sendiri, minimal sebelum tidur dan saat bangun tidur di hari berikutnya. Tiap hari begitu, hingga kita dan diri kita menyatu seutuhnya.
Dan.. itu semua adalah.. bagian besar dari self love, mencintai diri sendiri. Love yourself!!
Penyesalan dan Kata Maaf
Dua hal yg terlihat ringan tapi kenyataannya sangat sulit dilakukan, yaitu ucapan maaf dan terimakasih. Maaf, menjadi suatu tolak ukur dari sebuah penyesalan. Banyak hal yg tidak bisa kita atur sesuai hati sendiri, karrna menyangkut orang banyak. Tentunya Allah juga ikut andil dalam setiap takdir yg terjadi. Apapun itu, kita harus menerimanya dengan ikhlas. Apa yg dipikirkan saat ini baik, belum tentu ke depannya juga baik. Dan sebaliknya. Banyak hal yg tidak pernah kita ketahui seluruhnya, bahkan yg telah lama kita kenal. Ketika dihadapkan pada beberapa pilihan, pastinya akan menaruh harapan tinggi pada salah satunya. Dan ketika terjadi salah memilih hal tersebut, penyesalan lah yg terus menghantui.
Mungkin akan lebih mudah jika bisa meminta maaf pada orang lain atas penyesalan kita. Tapi, gimana jadinya kalo pelakunya adalah diri sendiri? Kita sendirilah yg bersalah pada diri sendiri, kita pula lah yg harus meminta maaf pada diri sendiri. Tidak mudah, sangat sangat sangat tidak mudah.
Andaikan ada 1001 cara pun belum tentu cukup untuk membayar semua penyesalan itu. Harus bagaimana? Bagaimana bisa memaafkan diri sendiri? Kesalahan demi kesalahan yg telah terjadi disebabkan diri sendiri? Apakah bisa memperbaikinya? Tidak. Yg telah tergores akan tetap membekas, tak perlu lagi untuk berusaha memperbaikinya. Kata maaf itu akan tetap menggaung disepanjang hidup dan entah sampai kapan diri ini bisa menerimanya...
Of all the ones that begged to stay
I'm still longing for you
Of all the ones that cried their way
I'm still waiting on you
Maybe we seek for something that
We couldn't ever have
Maybe we choose the only love
We know we won't accept
Or maybe we're taking all the risks
For somethin' that is real
'Cause maybe the greatest love of all
Is who the eyes can't see
Pamungkas - To The Bone
Jika belum bisa menjadikan shalat sebagai kebutuhan, setidaknya jadikanlah sebagai tempat pelarian dalam hari-hari penuh kepenatan.
- Sastrasa
Tetaplah sederhana, tetaplah menjadi dirimu sendiri, tetaplah menjadi orang dengan versi terbaik menurut dirimu sendiri.