“aku tidak sebaik postinganku. sungguh sangat membutuhkan pertolongan Allaah.”
One Nice Bug Per Day
TVSTRANGERTHINGS
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open

shark vs the universe
wallacepolsom

Product Placement
dirt enthusiast

⁂

Kaledo Art
sheepfilms

No title available
he wasn't even looking at me and he found me
AnasAbdin
tumblr dot com
almost home

Origami Around

oozey mess
Three Goblin Art
hello vonnie
occasionally subtle
seen from Argentina
seen from Türkiye

seen from United States
seen from Malaysia

seen from United States

seen from United States
seen from Brazil
seen from United States
seen from Lithuania
seen from T1
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from Japan

seen from Australia
seen from T1
@rinaimimpi
“aku tidak sebaik postinganku. sungguh sangat membutuhkan pertolongan Allaah.”
Hidup bukan tentang seberapa kuat kita berdiri, melainkan seberapa sadar kita mau bersandar pada-Nya.
Saat aku berdiri di antara luasnya semesta yang tunduk pada kehendak-Nya, aku menyadari betapa kecilnya aku, betapa fananya, dan lemahnya hatiku.
Maka pada hamparan milik-Nya yang luas, ada hati yang diajarkan untuk menunduk. Untuk memahami bahwa segala yang selama ini aku anggap sebagai kekuatan, sejatinya rapuh. Bahwa rencana dan ingin yang sempat kususun dengan begitu yakin pun bisa runtuh dalam sekejap jika bukan karena izin-Nya. Ya Allah, betapa seringnya aku berjalan dengan merasa mampu, padahal setiap langkahku ada karena penjagaan-Mu.
Sedangkan di tengah keterbatasanku yang begitu nyata, aku kerap menemui pertolongan-Nya justru datang dengan tumpah ruah. Dalam lemahku, Dia kuatkan. Dalam bingungku, Dia arahkan. Dalam jatuhku, Dia angkat kembali. Betapa rahmat dan kasih-Nya tak pernah menunggu aku pantas; ia hadir bahkan saat aku lalai, saat aku lupa, saat aku tersesat.
Maka mungkin benar jika sesekali kita perlu keluar untuk menyapa alam-Nya yang luas. Bukan sekedar untuk melihat betapa indahnya, melainkan juga untuk mengingat posisi diri. Untuk menyadari bahwa ada begitu banyak hal yang tak bisa kita genggam, tak bisa kita kendalikan, dan tidak tunduk pada ingin kita. Dan barangkali ketenangan itu mulai hidup saat kita berhenti memaksa dan mulai percaya.
Percaya bahwa, ada banyak hal yang tak mampu kulalui dengan dayaku, namun dengan cara-Nya, takdir mampu menuntunku untuk sampai.
Dan di antara semua itu, semoga syukur mampu tumbuh berbunga dalam hati. Syukur karena masih dituntun. Syukur karena masih dijaga. Syukur karena, meski aku kecil dan lemah, Dia tidak benar-benar membiarkanku sendirian.
📍Kebun Raya Purwodadi || 29 Maret 2026
omar suleiman in one of his ramadān series episode said;
If Allāh can be patient, waiting for you to return to Him and doesn’t punish you immediately after you commit a sin, why can’t you be patient with His plans and trust Him over your own desires.
nothing ever slapped me harder than this ever🥺🤍.
Harapan untukmu.
Untuk besok, lusa, atau kapan pun kamu merasa serba salah dan tak tahu harus mulai dari mana, semoga Allah tetap mempertemukanmu dengan kebaikan-kebaikan kecil yang datang tanpa diminta. Lewat kalimat hangat yang tak sengaja terbaca, lewat percakapan singkat, lewat hal-hal sederhana yang membuatmu ingat bahwa hidup ini masih layak untuk dijalani. Semoga dari semua momen kecil itu, tumbuh keberanian untuk tetap bertahan dan melangkah, meski pelan.
Untuk hari-hari ketika kamu merasa bingung bagaimana caranya menjadi "pantas", semoga hatimu diluaskan untuk menerima segala kurang yang ada. Semoga kamu dipeluk oleh kehadiran orang-orang yang tidak membuatmu meragukan nilai dirimu sendiri. Dan lebih dari itu, semoga kamu mampu memeluk dirimu sendiri: mengakui, memaafkan, lalu tetap melanjutkan hidup dengan segala yang kamu sukai, sebagai bentuk syukur yang paling sederhana.
Jika kamu menemukan tulisan ini saat kamu kebingungan mencari arah, saat doa-doamu terasa jauh, atau saat kamu masih sibuk menunjuk-nujuk dirimu sebagai kesalahan, aku hanya ingin mengatakan: bahwa kita tidak perlu menjadi siapa-siapa untuk paham. Kamu tidak perlu tergesa-gesa untuk menemukan makna. Kamu tidak perlu memaksa diri untuk cepat mengerti. Cukup tetap pulang, cukup tetap percaya.
Sebab Allah tidak pernah menelantarkan hamba-Nya hanya karena ia belum menemukan jalannya. Bahkan dalam bingungmu, dalam jatuhmu, dalam diammu yang panjang, Dia tetap menjaga. Maka jika hari ini kamu masih bertahan, masih mencoba, itu bukan hal kecil. Itu adalah tanda bahwa Allah masih menggenggam tanganmu, meski kamu belum menyadarinya:")
Setiap keistiqomahan dalam hal apapun pasti akan diuji, pun halnya keistiqomahan dalam jalan kebaikan. Banyak dari kita yang mungkin gagal ditengah jalan sebelum sampai ke titik akhir tujuan. Inilah yang kemudian perlu kita refleksi, sebenarnya apa yang menjadi penyebab dari kegagalan ini? Kita perlu bermuhasabah, meminta petunjuk dari-Nya, jangan-jangan selama ini kita salah dalam menentukan arah kemana kita ingin pergi. Sering kali, kegagalan kita bukan semata karena beratnya ujian, melainkan karena lemahnya pondasi niat yang kita bangun sedari awal. Niat yang tidak murni karena Allah akan mudah goyah ketika dihadapkan pada godaan duniawi. Baik itu rasa lelah, rasa malas atau kecewaa terhadap manusia. Padahal, istiqomah sejatinya bukan hanya soal berjalan lurus tanpa henti, tetapi juga tentang kita berusaha kembali setiap kali kita tergelincir. Jalan kebaikan memang panjang, penuh onak duri, dan seringkali minim apresiasi. Justru di sanalah Allah menguji:
"Apakah kita berjalan demi-Nya, atau demi pandangan sesama manusia? Apakah kita melangkah dengan sabar dan tawakal, atau hanya mengikuti semangat sesaat yang mudah padam?" Maka, bermuhasabah menjadi kunci. Menyadari bahwa istiqomah itu tidak lahir dari kekuatan diri semata, melainkan dari pertolongan Allah yang meneguhkan hati. Di setiap langkah, kita perlu berdoa: “Ya Muqallibal Qulub, tsabbit qalbi ‘ala dinik.” , karena tanpa penjagaan-Nya, kita hanyalah manusia yang mudah lemah, mudah menyerah, dan mudah berpaling. Pada akhirnya, istiqomah bukan tentang siapa yang paling cepat sampai, melainkan siapa yang mampu tetap bertahan hingga akhir, meski jalannya perlahan namun konsisten.
Semoga Allah meridhoi langkah-langkah baik yang sedang kita upayakan. Menjadi diri yang lebih baik, mengejar kehidupan yang lebih layak, apapun itu. Wallahua'lam.
Prinsip hidup yang terus coba diupayakan.
Kita harus punya keyakinan utuh, bahwa konsep keadilan Allah itu nyata adanya. Kalau ada orang yang berbuat nggak adil, bahkan dzalim terhadap manusia tetapi hidupnya terlihat baik-baik saja, percayalah bahwa balasan Allah itu nyata.
Pun halnya diri kita, yang selalu mengupayakan segala hal dengan sebaik mungkin, tetapi tidak mendapati apa yang kita inginkan, kita juga wajib percaya bahwa janji Allah itu nyata, dan pasti, pasti melebihi ekspektasi yang bisa dijangkau manusia.
Masalahnya, prasyaratnya memang nggak mudah; yaitu harus ada keyakinan yang utuh, tanpa distorsi sedikitpun. Keyakinan utuh itu tidak sebatas ucapan atau cara pandang "Insyaallah nanti diberikan Allah yang terbaik.", tetapi juga menuntut adanya ikhtiar yang konkret, yang terus dievaluasi dan diperbaiki setiap saat.
Bahwa caranya belum ideal, langkahnya belum maksimal, capaiannya belum terpenuhi, itu manusiawi bahkan bagus. Kenapa bisa gitu? Artinya, masih ada kesadaran dalam diri kita bahwa sejatinya langkah-langkah kita ini memang sangat terbatas, lemah dan seringkali hilang arah, maka dari itu kita harus bergantung dan melibatkan Allah, dengan segala keagungan-Nya.
Jadi, tetap lakukan yang terbaik apapun kesempatannya, kita tidak tahu amalan apa yang akan menyelamatkan kita di akhirat nanti. Wallahua'lam.
Cinta pada Hal Kecil
Pernikahan itu bukan hanya melangitkan perkara yang besar, tapi pernikahan itu adalah seni untuk menghangatkan perkara kecil supaya mengawetkan rasa cinta yang ada pada hati manusia.
Pernikahan bukan hanya bahasan pada masalah besar. Kadang sebelum menikah hal-hal besar yang ditanyakan seperti dia berhijab tidak/apakah berbakti pada ortu/apakah mau nurut/bisakah jadi imam yang baik/ikut ta'lim di mana/bisa memberi nafkah yang halal(?). Ternyata ketika sudah menikah yang dihadapkan sehari-hari adalah masalah kecil.
Jangan lupakan perkara kecil sebagai ikhtiar menerjemahkan ketakwaan dalam rumah tangga.
Ada riwayat ketika Rasulullah Saw. mendapati Jabir bin Abdullah menikah dengan seorang janda.
Di sini bukan masalah janda atau gadis.
"Kenapa kamu tidak Di sini bukan masalah janda atau gadis,menikah dengan gadis. Kamu bisa bersenda gurau dengannya, begitu juga ia bisa bermain-main denganmu pada senda gurau yang diridai Allah."
Bukan hanya jurang yang membuat terpeleset, tapi kadang kerikil yang menggelincirkan.
Banyak hadits Rasulullah Saw. tentang pernikahan yang membahas tentang hal-hal kecil; seperti hadits tentang Rasulullah Saw. yang mencari bekas minum Aisyah, Rasulullah Saw. ngobrol dengan Maimunah, Safiyah untuk duduk di pangkuan Rasulullah Saw., Rasulullah Saw. dan Aisyah mandi bersama, Rasulullah Saw. dan Aisyah pergi makan memenuhi undangan orang Persia.
Tidaklah tercipta gunung, kecuali dari tumpukan batu kerikil kecil. Tidaklah berkobarnya api, kecuali dari tersulutnya ranting kecil.
Semakin banyak perkara kecil yang diremehkan, semakin rentan tergelicirnya dalam kehidupan pernikahan.
Kadang seorang istri lupa dengan jumlah nafkah yang diberikan suami kepadanya, tapi tidak akan pernah lupa ketika dibukakan pintu mobil untuknya.
Kadang seorang istri lupa bahwasanya sang suami telah membangunkan rumah untuknya, tapi terkadang tidak akan lupa ketika seorang suami pagi-pagi mengajaknya untuk keliling komplek hanya waktu setengah jam.
Beberapa perkara yang harus dimengerti:
1. Mengilmui pasangan adalah kewajiban
Suatu ketika Rasulullah Saw. sedang safar untuk kembali ke Makkah dibersamai unta-unta yang mogok. Lalu ada sahabat yang memegang cemeti dan memukul unta agar mau berjalan. Rasulullah Saw. menyetopnya.
Rasulullah Saw. tahu akan sesuatu yang pernah menahan Gajah Abrahah ketika memasuki kota Makkah. Rasulullah Saw. saja paham akan psikokogis unta, maka memahami/mengilmui pasangan adalah hal yang penting.
2. Selalu ingat bahwa tidak ada yang membuat konsisten pada perkara kecil, kecuali Allah Swt.
Imam Ahmad, ketika putranya, Abdullah, menikah, beliau memberikan nasihat hal-hal kecil seperti: a. Katakanlah cintamu, b. Buktikanlah cintamu, c. Maafkanlah istrimu karena ia makhluk yang bengkok, d. Cintailah keluarganya, e. Berikan quality time, f. Jagalah rahasianya, g. Muliakanlah keluarganya, h. Berhiaslah kepadanya.
Umamah binti Al Harits, ketika menasihati putrinya yang akan menikah memberi wasiat yang simple-simple seperti supaya qonaah, jaga mata, jaga tidurnya, supaya patuh.
Pernikahan itu adalah humor bersama pasangan dalam menjalani sisa kehidupan. Terbiasalah untuk ngobrol dengan pasangan dan mengenalinya tanpa henti. Karena taaruf dengan pasanganpun akan berlanjut seumur hidup. Bukan gagal dalam memahami tapi memang akan berlanjut sampai kapanpun. Karena manusia itu dinamis dan bisa berubah PoV nya.
SAAT RASULULLAH ﷺ MENGINGKARI TANPA MENYAKITI | Riyadhus Shalihiin
pertanyaan yang tujuannya mengingkari. pertanyaan yang sifatnya tidak meminta jawaban.
Rasulullah bersabda: "Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam" (HR. Bukhari dan Muslim).
[ QS. Ali Imran: 159]: maka, berkat rahmat Allah engkau (Nabi Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Seandainya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka akan menjauh dari sekitarmu. Oleh karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam segala urusan (penting). Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.
kelembutan itu bersal dari hati. bukan hanya kemampuan lisan. orang yang bisa berkata berlemah lembut, maka itu adalah rahmat dari Allaah.
ketika kita berbicara kasar, keras, dan meledak-ledak = tidak efektif.
tidak ada manusia yang suka dikasarin. apalagi dalam hubungan dengan pasangan, ortu, saudara.
Rasulullah diutus Allaah bukan untuk melaknat, akan tetapi diutus untuk menebarkan rahmat.
tidak pantas bagi orang yang jujur dan beriman untuk melaknat. seharusnya manusia beriman itu memiliki ulul himmah (semangat tinggi), menjaga standar yang tinggi, meninggalkan hal - hal yang receh seperti menghina, mencela, kata-kata kotor, nama-nama hewan, dan kata-kata kasar.
melaknat seoarang mukmin seperti membunuhnya. jadi termasuk dosa besar. orang-orang yang suka melaknat orang lain maka tidak akan bisa menjadi syuhada.
melaknat = sifat yang buruk.
manusia itu memanen apa yang mereka tanam. apabila yang kita tanam adalah keburukan, maka yang kita dapatkan nanti juga keburukan.
kenapa Rasulullaah menjadi manusia terdepan dalam memberi syafaat di hari kiamat, ya karena Rasulullah adalah manusia terbaik.
Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri حفظه الله
barakallahu fiik
Samarinda, 10 Agustus 2025 | 20.58 wita
Membelai Luka
Salah satu hal berharga dari luka adalah membelajarkanmu agar tak menjadikan telinga orang lain sebagai ruang dengarmu, tak menjadikan bahu orang lain sebagai sandaranmu, tak menjadikan pelukan orang lain sebagai tempat tenangmu. Sebab barangkali di depan sana banyak hal yang akan kamu hadapi sendirian atau bahkan orang lain enggan untuk membantumu.
Dari segala hal yang sempat membuatmu porak-poranda, begitu hancur, dan berantakan, semoga itu yang menjadi bekal hatimu kuat sekaligus lembut. Dunia memang menyeramkan. Banyak orang baik, tapi barangkali yang akan kau temui di jalanmu banyaknya adalah orang jahat.
Jadi belajarlah kuat, belajarlah hanya terus bersandar pada Tuhan. Hanya Ia yang takkan pernah meninggalkanmu bagaimanapun keadaanmu.
@terusberanjak
Sedikit banyak yang Allah titipkan semoga kita dimampukan untuk merasa cukup~
Kadang, naifnya diri kita saat beranjak dewasa adalah merasa tahu tentang diri sendiri, berusaha mengendalikan takdir, dan berpikir bahwa setiap usaha pasti akan sampai.
Lupa kalau Allah pun kadang menjauhkan bahkan membuat kita tidak sampai ke tujuan yang kita mau, demi kebaikan kita. Cuma, kitanya yang sering gagal memahami, menyalahkan takdir, dan merasa gagal sebagai manusia. Padahal, jika kita mau berpikir jernih dan lapang, kita hanya sejengkal dari hikmah kebaikan.
Kadang kita juga ingin mengendalikan takdir dengan pekerjaan apa kita berjodoh atau dengan siapa kita mau menikah. Seolah, jika tidak dengan orang tersebut, hidup kita akan sengsara. Kata siapa? Hanya karena kenaifan kita, kita menyangka bahwa jalan satu-satunya adalah memperjuangkannya sampai dapat, meski harus menunggu dan melepaskan kemungkinan-kemungkinan lain yang datang. Yakin?
Bodohnya kita percaya sama kata mutiara yang dibuat oleh orang yang jatuh cinta dan patah hati. Sementara seharusnya kita lebih yakin sama Qada dan Qadar-Nya. Karena hal-hal terbaik menurutNya seringkali tidak mampu kita pahami dalam kapasitas seorang manusia.
Butuh kelapangan hati, butuh kejernihan berpikir, saat beranjak dewasa dengan berbagai macam keputusan besar yang ada di depan mata. Kita berharap tidak membuat kesalahan dalam pengambilan keputusan, tapi kita seringnya hanya bergantung pada keyakinan diri sendiri dan ketakutan-ketakutan di pikiran memengaruhi pengambilan keputusan tersebut. Coba pejamkan matamu, tarik nafas yang dalam. Bagaimana kalau mulai sekarang, kita menata lagi bagaimana cara kita mengambil keputusan dalam hidup. Pelan-pelan membesarkan ruang hati untuk menerima segala petunjuk dan pertandaNya. (c)kurniawangunadi
harus saling
dua orang yang menikah nggak bisa hanya sama-sama. prinsipnya adalah juga harus ✨saling✨.
nggak bisa hanya sama-sama mencintai. karena itu artinya bisa saja... dia mencintai Allah. mencintaimu. mencintai anak-anakmu. sementara kamu, hanya mencintai dirimu sendiri.
nggak bisa hanya sama-sama berjuang. karena itu artinya bisa saja... dia berjuang untuk keluarga. untuk masa depan. sementara kamu, hanya berjuang untuk kesenanganmu sendiri.
nggak bisa hanya sama-sama mendukung. karena itu artinya bisa saja... dia mendukungmu. membela semua cita-citamu. sementara kamu, hanya mendukung yang enak untukmu sendiri.
nggak bisa hanya sama-sama memaafkan. karena itu artinya bisa saja... dia selalu memaafkanmu. menerimamu pulang. sementara kamu, hanya memaafkan kesalahanmu untuk mengulanginya lagi.
kamu dan dia harus saling. saling mencintai. saling memperjuangkan. saling mendukung. saling memaafkan. saling yang tidak berhenti pada saling menyayangi saja. saling yang terus-menerus.
bukankah itu yang Allah ajarkan? saling mengingatkan dalam kebaikan. saling menasihati dalam kebenaran.
Kita hanya harus percaya bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan kita. Dan itu sudah lebih dari cukup untuk membuat kita aman dari semua hal yang kita takutkan 🍂
Hi tumblr!
lama sudah aku tidak main disini, menulis di platform yang aku sayang.
banyak hal baru di hidupku, tapi semua mengajarkanku hal baru juga.
aku rasa, Allaah memang masih sayang dan akan terus menyayangiku.
maafkan aku ya Allaah, aku masih lemah menjadi hamba-Mu.
ya Allaah, Allaah-ku, aku selalu butuh Allaah. jangan timggalin hamba-Mu ini.
Samarinda, 12 Juni 2025
Menjelang usia 30, aku jadi mengerti.
1. Kamu tidak akan mengerti beratnya perjuangan orang tua sampai kamu merasakan menjadi orang tua itu sendiri.
2. Kalau kamu terlalu banyak ide, ide mu ternyata membuat kemajuan, siap-siap kamu akan dibenci banyak orang.
3. Ada banyak hal yang sebaiknya memang tidak perlu kamu omongkan, apalagi sampai tertulis di sosial media.
4. Stop jadi orang gak enakan! Karena seandainya kamu pun tiada, orang itu juga tidak akan peduli kepadamu.
5. Hindari perdebatan. Lebih baik diam dan pergilah. Hatimu juga berhak bahagia.
Meski yang dimintakan tidak diberikan saat itu juga, minimal hati menjadi tenang tatkala semua sudah dicurahkan. Dan kalau kita peka, yang kali pertama ditolong adalah perasaan. Dikuatkan lagi iman, hati ditenangkan.
-Karena Allah menolong tidak selalu yang terlihat oleh mata, tapi juga bisa dirasakan oleh hati.
@menyapamakna1
Bersamalah dengan seseorang yang apabila kita menghabiskan waktu dengannya dapat membuat kita lebih dekat dan taat kepada Allah. Baik dalam hal pertemanan maupun pasangan hidup. Laa hawla wa laa quwwata illa billah.
Untukku terlebih dahulu.
Bandung, 28 Maret 2025
75/365 | @monicasyarah