Pernah suatu ketika, aku merasa seperti mendapat tamparan hebat, hatiku berguncang, lutut seperti tak kuat lagi menopang badan, sambil berlarian kesana kemari, mata mencari sambil airnya berurai, sungguh! Aku takut kehilangan.
Sore itu, aku sedang sibuk membereskan tumpukan baju di kamar, sambil asyik mendengar renyahnya gelak tawa anakku di teras rumah. Ah, senangnya bisa sejenak mengambil waktu untuk menata ruang di sudut-sudut rumah tanpa terganggu oleh aktivitas anak, pikirku. Saking asyiknya, aku sampai tidak sadar sejak kapan suara derap kaki yang berlarian dan tawa itu hilang dari pendengaranku.
"Umaaa" Kupanggil namanya sekali, kulihat menuju teras depan, tidak ada suara lagi.
"Umaaa" kupanggil lagi namanya, bergegas aku menuju dapur dan halaman belakang, tetapi tidak ada tubuh mungil yang bersembunyi dimana pun mata ini menyisir.
"Umaaa, dimana?" Berjalan cepat aku menuju lapangan dekat rumah, tetapi disana kosong melongpong.
"Mbaaaa!" panggilku kepada orang yang tadi sedang menemani anakku. Mbak yang baru datang seminggu di rumah ini, dan pasti belum tahu arah tempat bermain selain sekitar rumah ini.
"Mbaaa!" Aku berlari ke kanan menuju ujung gang, kemudian kembali lagi, berlari lagi ke kiri menuju ujung gang dan kembali lagi.
"Umaaaa" aku mulai menangis. "Dimana?"
aku memperhatikan mereka sama sekali tak menggunakan alas sandal. Apa iya ada sekelompok orang asing membawa mobil box kemudian bergegas mengangkut mereka pergi dari sini?? AH!! pikiranku kemana-mana! Aku panik!! dan sungguh, takut kehilangan.
Kupanggil tetangga depan rumahku, kumintai pertolongannya untuk megantarku berkeliling komplek ini. Kutelepon kakakku yang sedang bekerja, aku menangis dan meminta bantuan untuk mencari anakku. Sudah setengah jam berlalu aku takut radarnya semakin jauh dari jangkauan, aku takut sekali tak bisa menemukannya. Sungguh, aku takut kehilangannya.
Aku bertanya kepada setiap orang yang berlalu lalang di jalanan sekitar komplek, tak satupun dari mereka yang melihat anak kecil dengan mbak nya berkeliling di sekitar sini. Aku menuju pos satpam depan blok ini, dan bertanya memastikan apakah ada mbak membawa anak kecil keluar gerbang ini? Mereka menyuguhkan wajah kebingungan. Ah!!! rasanya ingin marah dan mengerahkan semua orang untuk mencari!!! Aku takut, sungguh takut!
Satu jam berlalu, anakku muncul menghampiri aku yang sedang menangis memeluk lutut di depan rumah. "Umaaaaa"
Kupeluk, kucium, kudekap erat-erat anak mungil itu.
"Maaf bu, uma tadi lari aku kejar, terus keterusan menuju ke lapang masjid tapi aku bingung kemana jalan untuk pulang, uma tunjukin ke arah belakang sana."
Mbak yang lugu itu berusaha menjelaskan kejadiannya, apapun! apapun alasannya, aku marah ia pergi membawa anakku tanpa ijin dan tidak bilang mau kemana!
------------------------------------------------------------------------
Rasa takut kehilangan itu muncul amat kuat, membuatku menjadi sangat tidak berdaya. Kejadian itu membawaku merenung berkali-kali bahwa, seberapapun sayangnya kita kepada anak, kita tidak benar-benar memilikinya. Ia adalah titipan, yang bisa diambil pemiliknya kapan saja, dalam kondisi kita yang tidak akan pernah siap sekali pun.
Rasa takut kehilangan selalu hadir bahkan karena kejadian-kejadian kecil, sesederhana ia main terlalu jauh dari radius rumah, atau ia pulang lebih lambat dari biasanya. Sering kali kita berlaku seolah kitalah yang paling bisa melindungi anak, a to z peraturan kita berlakukan, demi keamanannya. Kenyataannya kita begitu lemah. Kita lebih sering melupa bahwa pemiliknya lah yang senantiasa menjaga. Di tempat-tempat yang tak bisa kita lihat dan kita jangkau sekalipun.
Maka, jangan pernah lupa untuk selalu meminta pertolongan, perlindungan, pengawasan, dan segala penjagaan-NYA untuk anak kita, amanah yang Dia titipkan pada kita yang sering alpa. Tanpa penjagaanNya kita tidak akan mampu menjaga, benar-benar tak berdaya.
----