Malam ini 00.13 WIB di kamar LD.4 putri asrama UNY kampus Wates. 9 Desember 2017, aku Rini Sulistyowati ijinkan sedikit menyampaikan sesuatu padamu wahai saudariku. Maaf jika ini menyakitimu, ini juga sebagai tulisan untuk diriku sendiri. Entah mengapa rasanya aku miris sekali, menangis sendiri melihat sesuatu meskipun aku tak berada diposisimu. Kamu tahu? Seorang wanita selalu mendamba cinta tulus dari seorang pria, setia jiwa dan juga raga. Setiap wanita menginginkan sebuah kepastian, kejelasan masa depan hubungannya. Tetapi sayangnya kenapa kamu meninggalkan yang sudah jelas di depan matamu demi sesuatu yang jauh disana? Seorang laki-laki dengan tulusnya mencintaimu, menunjukkan keberaniannya padamu dengan datang kerumahmu beserta keluarganya, memintamu dengan tata krama, kamu pun setuju dan kalian beberapa waktu menikmati hal itu. Tetapi mengapa? Mengapa kamu tega mematahkan hatinya demi sesuatu yang tidak memberimu kejelasan di masa depan? Jujur, sedih sekali aku melihatnya. Kamu tau memperjuangkan cinta itu tidaklah mudah. Apalagi kita hanyalah seorang wanita. Cinta tulusnya kamu abaikan begitu saja, hanya karena keegoisanmu ingin mendapatkan yang lainnya. Seandainya laki-laki itu lebih baik tidak masalah, tapi sayangnya ini kamu yang terlalu mencinta. Kamu yang akan berjuang mati-matian mendapatkan dia yang baru itu. Kamu tahu? Aku iri melihatmu. Iya, boleh dibilang aku sangat iri padamu. Iri karena tidak mampu. Iya benar, aku memang tidak mampu. Oke, lebih tepatnya belum mampu. Suatu saat aku pasti mampu. Aamiin. Kamu berhasil memikat hatinya, sepenuhnya. Dia berjuang mati-matian memperjuangkan kamu, dengan segala hal yang bisa dilakukannya. Sedangkan aku, aku pernah berjuang sekuat itu dulu. Tapi apalah daya ku, aku hanyalah wanita biasa dan laki-laki itu memilih wanita yang lebih rupawan dariku, bukan karena sebuah ketulusan tapi karena kecantikan. Kamu tau? Semua perjuangan, semua hal yang kulakukan tak berarti baginya. Aku kalah rupa, aku kalah harta.... Aku bisa apa? Kamu tau? Dan pada akhirnya kini aku trauma. Aku takut. Aku takut terluka lagi. Luka itu masih ada, sakit sekali. Sungguh. Kamu tau? Aku ingin merasakan sepertimu, diperjuangkan, disayang bukan sebaliknya. Tetapi justru kamu sendiri malah menginginkan yang lainnya. Bukankah kalian dulu pernah merancang masa depan, bukankah kalian pernah mencinta satu sama lain. Ini tentang keluarga mu dan keluarganya bukan hanya kamu dan dia. Tetapi sudahlah, itu adalah sepenuhnya hakmu. Semoga apapun itu diberikan terbaik untukmu dan untuknya. Kuharap kami segera menemukan bahagiamu itu, dan semoga diapun segera menemukan bahagianya. Wanita yang berjuang itu menyakitkan seandainya kamu tau. Apalagi memperjuangan seseorang yang tidak peduli kalau dia sedang diperjuangkan. Lebih menyakitkan. Iya, itu aku. Sekarang ini. Bahkan dia tidak perduli apa yang aku lakukan juga aku rasakan. Ah baiklah. Aku kuat