Secarik testimoni untuk Sakuntala
Masa lalu bukan hanya untuk di kenang.
Masa lalu juga untuk pembelajaran.
Berbuatlah kebaikan karena dia akan menolong mu kelak.
Bercerita masa itu membuat raga kembali pada masa lalu , samar-samar rasa itu pernah bergejolak untuk sesuatu yang baru, pengalaman baru yang membuat hati membara karena adrenalin yang berlari kencang.
Pamit ke orang tua untuk tetap menomer satukan kuliah adalah janji mutlak.
Menuju pengalaman yang baru adalah suatu hal harus di lakukan demi terpenuhinya kebutuhan rohani dan pemenuhan hormon adrenalin.
Hutan gunung, rock climbing, caving, di tambah materi-materi sosial pedesaan, survival, manajemen perjalanan dan bagaimana packing yang baik dan benar di tambah lagi harus latihan fisik dan mental yang menguras tenaga dan keringat adalah suatu kerja yang tidak mudah tapi menyenangkan.
Memasuki kawasan hutan, merasakan dingin yang menyusuri relung hati, mencium bau lembab yang menyegarkan otak yang di penuhi mimpi-mimpi, menapakkan kaki di tanah basah dan berlumpur, merasakan segar dan sejuknya mata air, tidur beralaskan rumput dan beratapkan bintang serta berselimut kabut, semua tak akan terlupakan dan tak akan terganti.
Memasuki gelap nya gua, mencium aroma mistik, menapaki lantai licin dan berlumut yang kadang di penuhi air yang super dingin, melepas takut karena takjub akan stalaktit dan stalagmit yang begitu mengagumkan, itu sungguh pengalaman yang luar biasa.
Merasakan tekstur kasar tebing, mencoba bersatu untuk menaklukannya, mencoba menjadi sahabatnya, tapi its not my passion itu susaaahhh...
Jadi siapa yang nggak mau coba?? Menjadi pecinta alam yang nota bene pendaki gunung atau tebing yang nota bene adalah caver, itu merupakan cita-cita awal yang harus di raih dan di perjuangkan.
SAKUNTALA adalah jawaban awal untuk cita-cita menjadi pecinta alam sebelum cita-cita yang lebih besar yang akan di kejar kemudian.
Kebersamaan merupakan konpensasi yang di dapat dari menjadi pencinta alam, keterikatan satu dengan yang lain, keterikatan tanpa pamrih.
Alam pun mengajarkan banyak pelajaran, untuk berbagi, untuk peduli, untuk saling mengisi.
Pemantapan demi pemantapan di lalui. Rute sempit, terjal, jurang, semak, belukar, duri, pacet dan masih banyak yang lainnya. Halangan tersebut tak mengapa karena banyak tawa disana, halangan tersebut tak mengapa karena penuh peluk dan kehangatan yang menyertai.
Rapat demi rapat di lakukan, kata setuju atau tidak setuju menjadi warna disana. Halangan tersebut tak mengapa demi jiwa kepemimpinan yang akan di dapat, demi hasil-hasil yang akan di sepakati bersama.
Agenda agenda tahunan di jalani, kegiatan yang satu dan yang lainnya silih berganti di lalui, lelah..iya pasti, tapi tak mengapa karena kompensasi nya menjadi kaya akan pengalaman dan organisasi.
Pada akhirnya, Sakuntala tempat kami kembali. Kembali bersama saudara, kembali kepada sahabat, kembali kepada kearifan yang di usung nya.
Keburukan-keburan coba kami singkirkan, kami kembali untuk melakukan kebaikan-kebaikan, demi Sakuntala.
Semoga kebersamaan untuk kebaikan akan mengakar, semoga kebaikan-kebaikan akan menjadi bola salju yang di lempar kelembah, semakin besar dan semakin besar. Semoga kita semua bisa berguna untuk Sakuntala yang lebih baik khususnya dan untuk anggota pada umumnya.