Aku berhasil melaluinya karena izin dan pertolongan Allah yang Maha segala.. Alhamdulillaahh :)

Origami Around
I'd rather be in outer space 🛸

祝日 / Permanent Vacation
Not today Justin
$LAYYYTER
Jules of Nature
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year

if i look back, i am lost
almost home

Love Begins
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
Peter Solarz
NASA

blake kathryn

No title available
art blog(derogatory)
🪼

titsay
Cosmic Funnies
No title available
seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Egypt

seen from United Kingdom

seen from Malaysia

seen from Germany

seen from United States

seen from United States
seen from Germany
seen from Netherlands
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from Australia
@riskifauziah
Aku berhasil melaluinya karena izin dan pertolongan Allah yang Maha segala.. Alhamdulillaahh :)
Suatu hal; suatu urusan; suatu takdir; suatu kesempatan; suatu perjalanan; suatu harapan; dan sebuah doa mendalam...
Di buat oleh Allah mudah menjadi terjadi dan nyata untukmu, tetapi bisa jadi sukar untuk orang lain..
Sebaliknya, di buat sulit untukmu tetapi bisa jadi mudah untuk orang lain..
Itulah takaran ujian hidup, beserta banyak sebab akibat yang sebagian bisa jadi paham alasannya apa melalui getaran iman di dalam hati——dan sisanya adalah perihal kelapangan hatimu untuk menerima, dan bersabar, bahwa ujianmu sudah Allah takar sesuai kemampuanmu. Dan mustahil kamu akan mampu melewatinya tanpa pertolongan Allah.
Subuh di bulan April, 18 - 04 - 2026
Allah yang menjawab
hidup sebagai orang dewasa mengajarkanmu bahwa Allah yang paling Maha adalah Allah yang akhirnya menjawab semuanya.
segala pertanyaan yang muncul di benakmu: apa, ada apa, mengapa, bagaimana, kapan, di mana, bahkan siapa--Allah jawab satu per satu. mungkin tidak dengan jawaban yang paling enak untuk didengar. mungkin tidak dengan cara yang paling nyaman untuk diterima. tetapi kebenaran dari Allah selalu datang pada waktu yang paling tepat, saat diri kita sejatinya paling siap. iya, kebenaran itu milik Allah.
bukan waktu yang menunjukkan. bukan semesta yang membuktikan. cukuplah Allah yang menjawab.
ingatlah bahwa Allah yang menjawab semua pertanyaanmu juga adalah Allah yang menjawab semua doamu. serahkan semua pertanyaan kepada Allah sebagaimana kamu menyerahkan semua urusan kepada Allah. tugasmu tidaklah hanya berdoa, tetapi berdoa dengan penuh keyakinan. begitu kuatnya hingga doa itu terwujud dalam tindakanmu, perilakumu, kebiasaanmu, sikapmu, sifatmu.
Allah akan menjawab semuanya. saat jawaban itu datang, percayalah kamu sudah sangat siap, kamu sudah sangat mampu dan kuat karena Allah yang menyiapkan, memampukan, menguatkan.
Jangan buru-buru dimasukkan ke hati
Ada banyak hal yang terjadi di sekitarmu setiap hari. Ada tatapan yang dingin, ada pesan yang tak kunjung dibalas, ada percakapan yang menggantung tanpa kejelasan. Ada orang yang tiba-tiba menjauh tanpa alasan yang jelas, ada kata-kata yang terdengar kasar, ada senyum yang tak sempat diberikan. Dan tanpa sadar, kau sering kali buru-buru menaruh semua itu di dalam hatimu. Seakan-akan semuanya tentangmu.
Kau mulai berpikir, “Apa aku salah? Apa aku kurang? Apa aku tidak cukup?” Lalu dari satu pertanyaan, lahirlah ratusan prasangka. Dadamu jadi penuh sesak oleh cerita-cerita yang sebenarnya hanya kau tulis sendiri. Kau meyakini bahwa orang lain menolakmu, padahal kadang mereka hanya sibuk dengan hidupnya. Kau merasa diabaikan, padahal sebenarnya mereka sedang berusaha bertahan dari badai yang tak pernah kau lihat.
Kenyataannya, tidak semua sikap orang lain adalah cermin dari nilai dirimu. Banyak sekali hal yang terjadi di luar kendalimu. Ada orang yang memilih diam bukan karena kau tidak berarti, tapi karena mereka sendiri sedang berperang dengan luka yang tak pernah mereka ceritakan. Ada orang yang melempar kata-kata pahit, bukan karena mereka benar-benar membencimu, tapi karena mereka sendiri sedang dipenuhi amarah yang ditujukan pada dirinya. Ada orang yang menjauh, bukan karena kau tidak layak, tapi karena mereka sedang belajar menemukan dirinya sendiri.
Namun kita, manusia yang rapuh ini, terlalu sering menjadikan diri kita pusat segalanya. Kita percaya bahwa semua sikap orang lain adalah refleksi dari siapa kita. Padahal tidak. Hidup mereka tidak berputar mengelilingi kita. Seperti halnya hidupmu pun tidak sepenuhnya bisa dipahami oleh orang lain.
Belajar untuk tidak membawa semua ke hati bukan berarti kau kehilangan perasaan. Itu bukan tanda bahwa kau menjadi dingin atau tak peduli. Justru sebaliknya—itu adalah tanda bahwa kau sedang melindungi dirimu dari luka yang tidak perlu. Kau sedang menjaga hatimu tetap ringan, agar tidak tenggelam oleh beban yang bukan milikmu.
Sebab hidup ini sudah cukup berat dengan segala hal yang memang harus kita pikul. Jangan biarkan hatimu remuk hanya karena prasangka. Jangan biarkan jiwamu dipenuhi cerita yang kau buat sendiri. Tidak semua tatapan harus kau tafsirkan. Tidak semua diam adalah penolakan. Tidak semua kata harus kau simpan di dada.
Kadang, yang paling menenangkan adalah mampu berkata pada dirimu sendiri:
“Ini bukan tentangku.”
Dengan begitu, kau mulai memberi ruang bagi orang lain untuk tetap menjadi dirinya, tanpa kau paksa agar sesuai dengan ceritamu. Kau belajar menerima bahwa manusia berbeda, bahwa setiap orang berjalan dengan luka, cerita, dan pikirannya masing-masing. Kau tidak lagi menaruh beban di bahumu setiap kali seseorang tidak bertindak sesuai harapanmu.
Di titik itu, kau menemukan kebebasan. Kau mulai sadar bahwa yang benar-benar bisa kau kendalikan hanyalah dirimu sendiri: caramu berpikir, caramu merespons, caramu menafsirkan. Kau tidak bisa mengendalikan bagaimana orang lain memandangmu, tapi kau bisa memilih bagaimana kau memandang dirimu sendiri.
Dan mungkin, inilah salah satu kebijaksanaan paling sederhana namun paling sulit dijalani: tidak menaruh segalanya ke hati. Membiarkan sebagian hal lewat begitu saja, seperti angin yang hanya singgah sebentar. Sebab tidak semua yang singgah layak tinggal di dadamu.
Hiduplah lebih ringan. Biarkan orang-orang dengan bebannya masing-masing. Jangan mengikat dirimu dengan prasangka. Jangan menuduh hatimu dengan kesalahan yang bahkan bukan milikmu. Kau tidak perlu membuktikan apapun kepada semua orang. Kau hanya perlu menjaga dirimu agar tidak hancur oleh hal-hal kecil yang sebenarnya bukan tentangmu.
Pada akhirnya, kau akan sadar: menjaga hati tetap lapang bukan berarti kau berhenti peduli. Itu hanya berarti kau memilih untuk tidak membiarkan dunia luar merampas kedamaian dalam dirimu. Dan mungkin, itulah bentuk cinta terbesar yang bisa kau berikan untuk dirimu sendiri.
167
Manusia itu, seringkali dengan mudah menyematkan ‘gelar’ dan ‘label’ kepada manusia lainnya. Entah karena lakunya, tampilannya, gaya bicaranya, sampai buku-buku yang dibacanya. Seolah dapat menyelami pikirannya. Merasa mengerti benar bak cenayang.
Lalu pada suatu waktu, mereka kecewa dengan manusia itu. Kecewa karena penilaian mereka jauh berbeda dengan kebenarannya. Lalu memberikan label lain... lagi. Begitu seterusnya.
Lucu sekali, bagaimana mereka tidak belajar dari kekecewaannya? Gemar sekali mereka berkawan dengan harapan yang jelas-jelas diletakkan pada tempat yang salah.
Manusia itu dinamis, wahai manusia.
Dan selagi masih menjadi manusia, berhenti menghitung pahala dan dosa orang lain, mengira-ngira tempat mereka kelak di neraka atau surga.
Hitung-hitunglah dirimu sendiri, sebelum dihitung.
@ffahraa
Menyenangkan dan memenuhi ekspektasi semua orang itu seperti jalan yang panjang, diakhiri dengan tanda bertuliskan: "Maaf, jalan buntu, silahkan berputar arah".
Yang mencintaimu tidak akan melihat cacatmu, dan yang membencimu tidak akan menilai kebaikanmu.
Sebagus apapun tampilanmu, tetap terlihat kurang dimata sebagian orang, setulus apapun bantuan dan pertolongan bahkan nasihat yang kamu berikan, akan tetap dipandang remeh oleh mereka yang sedari awal memang tidak suka denganmu.
Seberusaha apapun seorang anak memenuhi kemauan orang tuanya, terkadang tidak akan sempurna dan tetap dipandang kurang. Seorang ayah yang berusaha memenuhi keinginan semua anggota keluarganya, tetap bisa saja dilihat tidak maksimal tersebab ada saja kebutuhan baru dari mereka.
Jadilah dirimu sendiri, jangan memuaskan pandangan orang lain, sebab hal itu akan sangat mustahil kamu dapatkan, bahkan sampai kamu mati.
Berikan saja usaha yang terbaik, doa yang terbaik, perilaku dan sikap yang baik, dari situlah nanti akan tersaring, siapa yang menerima bagaimana pun keadaanmu, baik kurang atau pun lebihmu, baik cacat atau pun keunggulanmu.
— Jundi Imam Syuhada
Dewasa dan Harta
Makin dewasa, makin banyak hal yang kita sadari ternyata membutuhkan biaya. Dan itu tidak sedikit, sesuatu yang dulu waktu kita kecil bahkan mungkin sampai kuliah, kita nggak kepikiran karena semua hal yang kita butuhkan, diusahakan oleh orang tua. Kita tidak perlu mengusahakannya sendiri, semua tersedia. Kini, umur kita beranjak, tanggungjawab kita bertumbuh. Kita mulai menyadari bahwa biaya hidup sehari-hari, bahkan untuk diri sendiri, ternyata begitu banyak. Apalagi jika nanti berkeluarga.
Menyadari saat kita perlu bekerja bukan lagi karena kita suka, tapi karena kita butuh. Kita perlu membeli tempat tinggal, membeli pakaian, membayar biaya pendidikan, menjaga kesehatan, dan ternyata kita menyadari bahwa untuk mencapai standar kenyamanan kita, jalannya tidak nyaman. Namun, di tengah hiruk pikuk manusia yang mengusahakan dunia. Kita adalah hamba Allah Yang Maha Kuasa, yang memiliki dunia dan seisinya. Melalui petunjukkan, kita belajar bahwa kehidupan dunia yang amat sebentar ini hanyalah tempat singgah. Seperti seorang musafir yang melakukan perjalanan dan istirahat sebentar, tempat ini nanti akan kita tinggalkan selamanya.
Kita tidak pernah mendengar orang yang bergelimang harta hidup sampai 200 tahun, bahkan 100 tahun pun belum tentu. Hidup kita mungkin hanya sampai umur 60 atau 70? Bisa lebih dari itu, bisa kurang, kita tidak ada yang tahu. Sementara kita tahu bahwa hidup yang sebentar ini, kita diisyaratkan untuk menyiapkan bekal hari akhir. Pernah nggak membayangkan para orang salih yang dulu mungkin meninggal di tahun 5 hijriah. Hidupnya di dunia mungkin sederhana dan cukup. Bayangkan umurnya kala itu mungkin hanya 60 tahun di dunia dengan hidup yang sederhana tapi bekal akhiratnya luar biasa. Maka, saat ini 1400-an tahun ia hidup di alam kubur dengan kelapangan dan kenikmatan sembari menunggu hari akhir. Dan kita tidak tahu, kapan hari akhir itu akan terjadi. 60 tahun benar-benar tidak ada apa-apanya di bandingkan dengan 1400-an tahun, apalagi dibandingkan dengan kekekalan di akhirat nanti. Makin dewasa, kita juga makin belajar bahwa tidak semua jalan bisa kita pakai untuk mengumpulkan harta. Kita mulai memilah halal haram, tapi kadang kala kita pun tergoda dengan riba. Karena merasa tidak ada jalan lain. Makin dewasa, selain belajar dan bekerja dengan baik. Untuk menjaga akal sehat dan ketenangan hidup. Kita harus menyeimbangkan cara pandang dan cara hidup kita dengan pandangan yang benar. Pandangan yang menata hidup kita menjadi lebih bijaksana, ditengah pemahaman bahwa takdir seorang manusia itu beda-beda.
Mungkin pekerjaan yang kita tekuni saat ini, tidak menjadikan kita seorang kaya rasa yang bisa membeli segalanya, seperti yang kita lihat di media sosial. Mungkin pekerjaan yang kita pilih, tidak akan menjadikan kita bergelimang harta hingga kita tidak tahu cara menghabiskannya. Tapi sadarkan kita, bahwa mungkin itu adalah keadaan terbaik yang paling menyelamatkan. Yang membuat hidup kita di akhirat nanti lebih selamat. Sesuatu yang justru meringankan hidup kita nanti. Kita hanya perlu cukup, bukan berlebih. Kita hanya perlu cukup, bukan segalanya. (c)kurniawangunadi
pekerjaan para suami
mengamati beberapa keluarga yang aku kenal sekilas, masyaallah mereka "cemara" sekali. pernah terbersit di benakku, "kira-kira suaminya pada kerja apa ya?"
para ibu ini, sambil menunggu anak-anaknya bersekolah, punya segudang kegiatan untuk diri sendiri (yang kebanyakan adalah cost center). nge-gym dengan personal trainer, club hopping (untuk olahraga ya), kajian, pengajian, arisan, pijat refleksi, ke salon, perawatan wajah dan badan, belanja, ngopi-ngopi cantik, mencoba makanan lucu-lucu. kalau sedang tidak menunggu anaknya bersekolah, mereka jalan-jalan jauh. kadang dengan keluarga, kadang dengan geng-nya, kadang sendiri saja.
para ibu ini, bahagianya memancar ke mana-mana. setiap diskusi dan mengobrol dengan mereka, isinya daging semua. tentang parenting dan pengasuhan, bahas hasil kajian, ide bisnis dan sejenisnya, bahkan setidaknya adalah rekomendasi ini itu (resto, hotel, dll.) hampir tidak pernah membicarakan orang lain.
para ibu ini, ada yang bekerja dan berpenghasilan. ada juga yang masih bersekolah. ada yang penuh menjadi ibu rumah tangga. tapi mereka punya kesamaan: sama-sama bahagia dan bisa punya gaya hidup yang mungkin hanya dimiliki 1% istri-istri di Indonesia.
sekali lagi, "kira-kira suaminya pada kerja apa ya?"
setelah kuamati, ternyata para suaminya punya pekerjaan yang sama: membahagiakan istrinya. harga dirinya naik ketika bisa memberikan yang terbaik untuk keluarga. tidak pernah sekalipun suami berhitung telah memberi apa kepada keluarga. mereka punya provider mindset, ke-qawwam-an, maskulinitas yang sebenarnya.
jika istrinya ibu rumah tangga, kewajiban sang istri adalah mengantar jemput anak-anak sekolah. itu pun istrinya disediakan kendaraan terbaik plus supirnya. di rumah tetap ada ART yang mengerjakan hampir semua urusan domestik. tugas istrinya di rumah apa? menjadi cantik dan bahagia.
jika istrinya bekerja atau berpenghasilan, dukungan suaminya tidak kaleng-kaleng. modalnya dari suami, untungnya semua untuk istri. bekerja atau berpenghasilan bukan untuk menafkahi keluarga, melainkan untuk aktualisasi diri sang istri. di luar urusan kantor atau bisnis, para ibu ini tetap dapat queen treatment dari suami, tak cukup istilah "yang penting setia."
akhirnya baru kupahami. para istri ini bisa punya gaya hidup seperti itu, bukan karena suaminya kaya. justru, karena suaminya mengusahakan yang terbaik untuk istri dan anak-anaknya, Allah berikan rezeki yang melimpah ruah kepada sang suami. para suami ini, tak sedikit yang rela menurunkan tingkat kenyamanan diri demi istri dan anak-anak yang hidupnya lebih nyaman.
para ibu ini, pekerjaan mereka juga hanya satu: berbahagia. dan aku yakin tidak ada kebahagiaan yang hadir begitu saja tanpa dirinya sendiri susah payah menghadirkan ketenangan hati. kebahagiaan mereka adalah hadiah dari Allah untuk maaf yang terus mereka berikan, kasih sayang yang terus mereka semaikan, serta ketaatan yang terus mereka tegakkan.
semoga keluargamu adalah keluarga yang bahagia. di depan publik, di dalam rumah, juga di belakangmu.
Kalau ada seseorang yang menerapkan suatu prinsip dalam hidupnya, selama tidak mengganggu orang lain, biarkan saja. Kita hanya akan dihisab sesuai dengan amal masing-masing. Kita bukan hakim yang berhak untuk menghakimi.
melihat ke belakang
pelan-pelan, kamu tiba pada titik itu: sebuah masa di mana ketika kamu melihat ke belakang, tidak ada perasaan lain yang hadir dalam hatimu kecuali rasa syukur.
pada titik itu, rasanya... bersyukur sekali. doamu terjawab satu per satu. meskipun jalannya tidak selalu mulus, kamu yakin bahwa kamu ada pada jalan yang lurus. dan begitulah, doamu terkabul. sampai-sampai... kamu bingung ingin meminta doa apa lagi selain rasa syukur yang terus ditambah.
Allah baik sekali. kamu diberi karunia banyak sekali. semuanya terasa lengkap. semuanya terasa sempurna. tidak ada yang kurang sama sekali. semuanya terasa damai. perasaanmu begitu ringan. hatimu begitu tenang.
pelan-pelan, kamu menemukan khidr moment-mu. "ternyata karena ini ya Allah... ternyata untuk ini ya Allah... terima kasih ya Allah... segala puji bagi-Mu ya Allah..."
sementara itu, melihat ke depan... tubuhmu berdiri lebih tegak. matamu melihat lebih jeli. telingamu mendengar lebih tajam. pikiranmu bekerja lebih jernih. hatimu berdoa lebih kencang. kakimu melangkah lebih berani. tanganmu bergerak lebih cekatan. dan mimpi-mimpimu bertumbuh lebih besar.
pada titik ini, kamu tidak takut lagi melihat ke manapun. sebab sepanjang mata hatimu dapat memandang, tidak ada perasaan lain yang hadir dalam hatimu kecuali rasa syukur. ❤️
Aku memilih diriku sendiri dan begitulah beberapa hubungan berakhir. Aku memilih Tuhanku, dan begitulah beberapa hubungan membaik.
Dalam episode sebelumnya:
Aku memilih semua orang, jadi aku kehilangan diriku sendiri.
— Giza. Mencari ridha manusia itu satu kebodohan otodidak yang kalo dipikir-pikir senggak guna itu untuk kehidupan akhirat
Jika keuntungan duniawimu tidak dapat membuatmu sukses di akhirat, maka itu bukanlah dunia yang baik.
Dunia yang baik adalah yang mendekatkan dirimu kepada Tuhanmu. Yang kau sedekahkan untuk menyambung tali silaturrahni, yang kau gunakan untuk berbuat baik kepada tetangga, yang kau gunakan untuk menyenangkan hati orang miskin. Inilah dunia yang akan mengantarmu ke derajat yang tinggi di akhirat.
Al habib Ali juga berkata, Pedagang besar, yang sangat kaya, yang penghasilannya sangat banyak, kelak ia akan keluar dari dunia ini dengan tangan kosong, tidak membawa hartanya sedikit pun. Sementara harta yang ia tinggalkan tersebut, jika (dahulu di dunia) ia mengumpulkan harta tersebut dengan cara yang halal, maka ia akan dihisab dan jika ia mengumpulkan harta dengan cara yang haram maka ia akan disiksa.
Pergilah…
Pergilah dari tempat di mana bahagiamu dianggap luka bagi orang lain.
Pergilah dari sesuatu yang membuatmu tenggelam dalam dosa.
Pergilah dari tempat yang hanya menyilaukan matamu dengan gemerlap dunia, tetapi menggelapkan hatimu dari cahaya-Nya.
Mungkin langkahmu tak mudah. Akan ada hinaan, hujatan, bahkan prasangka buruk yang dilemparkan kepadamu. Tapi tenanglah. Selama hatimu telah kau serahkan pada Allah, selama petunjuk-Nya telah menjadi pedomanmu, yakinlah—Allah takkan pernah meninggalkanmu.
Jangan biarkan dendam mengisi ruang hatimu. Doakan kebaikan untuk mereka yang kau tinggalkan. Bahkan Rasulullah pun, yang dilempari batu hingga berdarah, hanya mendoakan kebaikan untuk umatnya.
Percayalah, meninggalkan bukan berarti menyerah. Kadang, pergi adalah bentuk terbaik dari cinta kepada Allah dan dirimu sendiri. Sebab Dia, yang Maha Mengetahui isi hati, selalu punya rencana indah di setiap langkah yang kau ambil demi ridho-Nya.
Pergilah, dan lihat betapa banyak kesempatan terbuka saat kau meninggalkan keburukan demi Allah.
Saat dunia membuatmu begitu lelah dan Allah terasa begitu jauh darimu, datanglah.
Datanglah ke sini. Kamu tidak akan disia-siakan.
Masa Muda
Kamu mungkin akan bertemu dengan orang yang kamu kira akan menjadi pasangan hidupmu, ternyata tidak. Kamu bersedih. Tapi ketahuilah, nanti kamu akan tahu kenapa kamu tidak dengannya. Nanti. Setelah kamu melewati waktu beberapa tahun ke depan. Kamu mungkin akan bertemu dengan pekerjaan yang kamu rasa cocok, tapi nanti kamu akan ketemu sama pertanyaan mendalam : apakah kamu akan menjalani hal itu seterusnya dan selamanya, seumur hidupmu? Lalu kamu akan mulai berpikir bercabang-cabang karena pekerjaan yang kamu dapatkan sebelum kamu berkeluarga itu ternyata seberpengaruh itu pada keputusan-keputusan besarmu yang lain, seperti tinggal dimana, nikah sama siapa. Kamu mungkin akan ketemu sama hal-hal yang kamu rasa adalah petunjuk, tapi ternyata adalah ujian. Sama halnya dengan orang-orang yang hadir dalam hidup kita, banyak diantara mereka yang datang sebagai ujian, hanya sedikit sekali yang menjadi karib, dan hanya satu saja yang menjadi pasangan hidup. Saat itu kamu begitu berapi-api seolah semua hal akan sesuai dengan sangkamu, tapi ternyata kamu terjerumus pada ujian yang membuatmu kelelahan badan dan pikiran. Kamu bersedih. Tapi ketahuilah, ujian itulah yang nanti akan menjawab pertanyaanmu kenapa orang dewasa/orang tua itu bisa lebih bijaksana.
Kamu mungkin akan ketemu sama hal-hal yang di luar nalarmu. Seperti kamu hari ini, yang tengah berdiri pada apa-apa yang telah kamu raih dan memang ada juga yang belum berhasil kamu raih. Tapi sadar nggak, kalau kamu bisa berjalan dan bertahan sejauh ini saja udah merupakan pencapaian yang luar biasa di tengah semua dinamika hidup yang kamu jalani. (c)kurniawangunadi
Pada peluncurkan produk pertama dari studio baru ini, Childreams juga membuka peluang kolaborasi sama teman-teman reseller untuk menjadi mitra. Syarat menjadi mitranya juga mudah, cukup dengan melakukan pembelian dengan minimal tertentu dan nanti akan dapat harga khusus mitra untuk produk-produk berikutnya tanpa minimal order. Kerasa banget, "in this economy" , kolaborasi menjadi jalan tengah agar setiap orang bisa saling mendukung satu sama lain :) Buat teman-teman yang ingin menjadi mitra, silakan cek link berikut ya : KLIK DI SINI
Menjadi dewasa itu kamu akan berhadapan dengan banyak hal yang tadinya kamu ga siap jadi siap,,hal yang ga kamu tahu jadi tahu.
Kadang kamu gelagapan menghadapinya