“Berbahagialah. Lebih banyak. Lebih sering. Lebih dari sebelumnya.”
—
(via aksarannyta)
Melangkahlah.
Lebih lebar.
Lebih pasti.
Lebih yakin.
Lebih mantap dari sebelumnya.
KIROKAZE
untitled

#extradirty
No title available
Show & Tell
art blog(derogatory)

Origami Around

tannertan36
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open

ellievsbear

PR's Tumblrdome
No title available
Cookie Run:Kingdom Official!
cherry valley forever
Monterey Bay Aquarium
Keni

No title available
Misplaced Lens Cap
Sweet Seals For You, Always

Game Changer & Make Some Noise

seen from United States

seen from Switzerland
seen from United States
seen from Brazil
seen from United States

seen from Venezuela

seen from United States
seen from Vietnam
seen from United Kingdom
seen from United States

seen from Malaysia

seen from United States
seen from Ireland
seen from United States

seen from United States

seen from Netherlands

seen from United States

seen from Ecuador
seen from United States
seen from Morocco
@riskykw-blog
“Berbahagialah. Lebih banyak. Lebih sering. Lebih dari sebelumnya.”
—
(via aksarannyta)
Melangkahlah.
Lebih lebar.
Lebih pasti.
Lebih yakin.
Lebih mantap dari sebelumnya.
Healing is so weird. One day you'll break down, one day you'll feel numb af.
Ketika hal sepele saja mampu membuat percayaku hancur. Lantas masih pantaskan aku jika selalu menuntukmu untuk berlaku jujur? Lebih-lebih pada seseorang yang ya seharusnya pantas untuk dipercaya. Tapi... Sayangnya tak lagi bisa dipercaya.
Dan setelah semua yang saya alami, saya putuskan untuk diam saja. Ternyata berpura-pura menjadi bodoh adalah sesuatu yang menyenangkan sekaligus menyakitkan. Mungkin hanya dengan "Diam" mampu mengendapkan semua ego. Tak pernah tahu sampai kapan akan berakhir. Esok mungkin? Atau tidak sama sekali?
Harusnya kau tahu, membangun rasa percaya itu sulit. Tidak semudah membalikkan telapak tangan. Sebab percaya tidak sebecanda itu. Harusnya kau tahu, bahwa mempercayai seseorang itu artinya kau layak untuk dipercaya. Dan harusnya kau bangga. Harusnya kau jaga. Bukan malah menghancurkan segalanya.
Terimakasih, kau berhasil.
Menghancurkan segalanya yang telah aku bangun dengan susah payah.
"Saya tidak dendam. Tapi saya ingat."
“Ketika “jika” terasa menyakitkan, jadikan “tapi tidak apa-apa” sebagai pengobatnya.”
— Jika dahulu aku [insert your sambat]. Kemudian iringi dengan “tapi tidak apa-apa”.
kalau ga gagal,
kapan lagi belajar bangkit setelah tersungkur,
kapan lagi belajar dari kesalahan untuk dijadikan pengalaman,
kapan lagi belajar ikhlas dan kembali meminta pada-Nya.
jangan marah sama kegagalan lagi ya. iya.
Surat Kejujuran
From: Me
To: Aurora Melia
Subject: Surat Kejujuran
Compose email:
Dear Aurora Melia,
Kucuri satu lagi potretmu siang itu. Diam-diam tanpa kamu tahu. Ah bukan, memang dasarnya kamu sulit menyadari keadaan lingkungan sekitar. Terfokus dengan apa yang kamu kerjakan. Asyik sendiri dengan kegiatan yang tengah kamu lakukan. Seperti saat itu, kamu sibuk dengan makananmu. Aku terabaikan. Ra, sekalipun kita bersisian, tetap saja lingkaranmu sulit kujamah. Sejak awal memang aku tak kamu persilakan masuk melebihi seorang sahabat. Ya, kamu membatasiku. ‘Tak boleh melewati itu!’ perintah yang kamu tempel pada keningmu, agar aku mampu membacanya. Kamu tahu bagaimana rasanya? Tak usah dipikirkan. Aku takut kamu kecapekan.
Ra kamu juga harus tahu ini, aku cukup berbesar hati menjadi tempat segala keluhmu berlabuh. Tempat di mana curahan hatimu menepi, juga berpulangnya segala lelah, sedih dan bahagiamu. Dekat denganku Ra, apa kamu merasa nyaman? Semoga iya. Karena itu saja yang mampu aku beri. Telinga untuk mendengar ceritamu, pundak untukmu bersandar, dan punggung untuk menyanggamu tetap terduduk ketika tegap sulit sekali kamu lakukan.
Sebenarnya Ra, selama ada aku kamu tak usah takut untuk kesulitan bangkit jika terlalu lama merebah lelah. Tanganku selalu ada tenaga untuk mengajakmu berdiri dan lalu berlari lagi mengitari hari. Langkahku pun selalu kuat untuk kamu ajak berjalan, menemani langkah-langkahmu yang meragu.
Bagaimanapun kondisimu Ra, aku selalu ada di situ; di sisimu.
Dan yang terakhir; jangan lewatkan bait setelah ini Ra karena hanya kali ini saja aku akan jujur padamu, pada rangkaian aksara yang kuramu namun tak akan pernah aku beritahu padamu secara langsung. Aku tak cukup berani memberikan surat ini padamu. Namun yang kutahu pasti, kamu akan mengetahuinya nanti, ya nanti saja, bukan pada detik ini. Karena tulisan ini, aku yakin akan sampai padamu, bagaimanapun caranya. Semesta memiliki rencana. Kita tunggu saja.
Ra sungguh, padamu aku sudah terjatuh. Lama. Lama sekali. Jauh sebelum kita sedekat ini. Sebelum kita berjabat tangan, melempar nama masing-masing ke atas permukaan. Sebelum kamu mengenalnya. Sebelum kamu menjadi kekasihnya bahkan akan diperistri olehnya dalam waktu dekat ini.
Ra, yang kutahu cinta tak bisa dipaksa. Maka aku tak akan memaksa. Tapi kau harus tahu ini, bukan untuk mengasihaniku hanya saja aku ingin melegakan hatiku sendiri, mengeluarkan apa yang tertabung begitu lama dan mengendap pada dasar terdalam.
Aku mencintaimu, Ra. Sudah satu dasawarsa dan entah sampai berapa dasawarsa lagi aku akan kuat begini.
Menyimpan rasa, bukankah aku juaranya?
Kau tak akan pernah menyadari rasaku ini, karena aku pandai menyimpannya. Aku cukup tabah Ra, mendengar semua cerita bahagiamu karena ulah priamu. Dan aku cukup pandai menyeka tangismu, ketika pertengkarang kecil kalian membuatmu gundah sepanjang harinya. Saat itu apa aku memintamu untuk meninggalkannya? Tidak. Aku justru menghasutmu untuk menurunkan egomu. Untuk apa? Agar kamu tetap denganya. Agar kamu selalu bersama dengannya. Karena memang dia yang mampu membuatmu bahagia. Lalu aku? Aku hanya mampu menjagamu dalam dekap seorang sahabat.
Ra, setelah kamu dimilikinya penuh, pintaku jaga baik-baik ia yang mencintaimu begitu utuh. Kalian cocok. Benar kata mereka, orang baik akan bertemu dengan orang baik. Aku tahu kamu akan berujar ‘kamu juga baik, Di.’ setelah membaca kalimatku tadi. Iya Ra, aku juga baik. Ah aku terlalu besar kepala aku perbaiki redaksinya; Aku, pria yang sedang berusaha menjadi orang baik agar mendapatkan wanita yang baiknya serupa kamu. Aku akan menemukan ia yang bisa kucintai sebegininya seperti aku padamu. Nanti.
Kamu jangan menangis. Aku tak suka dikasihani. Sini kuusap airmatamu. Tersenyumlah. Seperti yang kugombalkan berkali-kali jika kamu sedang dirundung sedih, tangismu jelek tetapi senyummu indah. Maka hapuslah.
Aku tak apa. Aku seorang pria. Biar kuurus sendiri sisa rasa. Kamu tetap saja padanya. Tetap saja menujunya. Tetap saja bersamanya.
Regards,
Dista Mahendra
Taken by: Zaenur Rahman, In frame: Orang.
Tak selalu dengan merendahkan orang lain, kamu akan terlihat lebih tinggi. Pun dengan menjelekkan orang lain, tak menjamin kamu dinilai baik. Justru yang nampak adalah kualitas dirimu.
#aksarannyta https://www.instagram.com/p/BwJA6MHAQn5/?utm_source=ig_tumblr_share&igshid=662q25657ewn
Sometimes I keep my feelings to myself cause its hard to find someone who understands.
Sayangnya, saya tak lagi percaya
I see.
Love u to the moon and back🌙
Yang tak tersampaikan oleh kata, umumnya akan tersampaikan oleh sorot mata.
Just because she's pretty, doesn't mean u'r not.