Selama ini aku selalu saja menganggap remeh apa yang ada disekitarku, yah aku selalu memandang bahwa semua hal itu biasa saja, bahkan seakan mudah dan aku mengabaikan hal-hal yang justru merupakan inti dan poin utama dari setiap hal-hal itu.
Seperti setiap hal yang aku lakukan aku selalu berkata “hah, hal seperti itu? Gak mungkin gak bisa lah..”
Atau ketika berhadapan dengan seseorang “dia? Susah darimananya yah? Keliatahnnya gampang kok orangnya” dan lain sebagainya yang intinya selalu saja aku gampangkan.
Tetapi semakin bertambah umur dan pandangan juga pengetahuanku, aku mulai bisa merasakan betapa beratnya terkadang hal-hal yang sepele itu bagi orang lain.
Atau hal-hal yang bagi orang lain mereka acuhkan dan tak mereka perhatikan ternyata semakin lama aku malah semakin lebih peka terhadapnya.
Seperti sebuah pelajaran ataupun mata kuliah yang dosen atau pengajar ajarkan kepadaku dan kepada orang lain juga termasuk teman-temanku. Dulu sewaktu masih duduk di SMP atau SMA ketika aku tak bisa mempelajari satu mata pelajaran, maka aku hanya akan berfikir “ah masa bodoh, hal itu gak akan berpengaruh apa-apa kok, kalo udah lulus juga gak akan mikirin hal begituan haha…” yah begitulah yang selalu aku fikirkan. Namun kini ketika menginjak bangku kuliah aku mulai menyadari bahwa hal-hal seperti itulah yang seharusnya aku perhatikan. Ketika melihat teman di sekelilingku menganggap hal itu begitu mudah dan aku selalu merasa “ah sial..apa ini? Kenapa ada hal seperti ini?”. Aku kira aku bisa dengan mudah berfikir seperti waktu dulu ketika masih di SMP atau SMA, namun ternyata tidak !!
Aku tersadar akan satu fakta bahwa kini aku membiayai kuliahku sendiri dan aku merasa seperti menjadi orang paling bodoh di dunia ini ketika sejumlah uang yang aku keluarkan dengan peluh dan keringatku sendiri ternyata malah tak menghasilkan apa-apa. Hal itu malah semakin lama menghantuiku seraya menekan perasaan dan menyita pikiranku masuk lebih jauh kedalamnya, dan saat itulah aku juga mulai tersadar akan banyaknya fakta bahwa bukan hanya mata pelajaran saja, namun banyak lagi hal yang aku sepelekan dan sekarng malah berbalik menghantui setiap fikiranku. Membebaniku? Mungkin saja, bahkan yah sepertinya memang!!
Seperti ketika aku menatap teman satu kelasku , aku seperti bisa berfikir “ah dia sama saja denganku…kurang lebih saja..” namun ketika aku bisa melihat backgroundnya dan keluarganya aku malah merasa semakin jatuh kedalam beban fikiranku sendiri, aku bisa melihat siapa dia yang sebenarnya dan siapa aku sebenarnya. Terkadang seperti sebuah jurang pemisah yang amat sangat dalam. Berlebihan? Mungkin anda semua akan merasa hal seperti itu, namun ya itu tadi, umur dan pengalaman yang semakin bertambah membuatku paham akan realita. Apa yang aku miliki sekarang tak ada apa-apnya dibandingkan dengan yang mereka miliki. Entahlah namun hal-hal ini seakan menyita waktu dan fikiranku. Ketika berada di tempat kerja dan berbaur dengan mereka yang memiliki pekerjaan yang sama denganku, aku merasa “setara” dan apa yang aku ucapkan bisa dengan mudah tersampaikan tanpa mengulang satu atau dua kalimat lagi, tapi ketika berhadapan dengan masyarakat yang lebih luas aku malah lebih merasa “siapa aku? Dia terlalu berbeda denganku” aku hanya merasa seolah-olah aku benar-benar berada di level yang berbeda dengan mereka.
Apa ini karena pekerjaanku? Hmmh entahlah namun entah kenapa aku bisa lebih mudah “sadar diri” atau aku saja yang tak berpandangan maju? Aku terlalu pesimis dengan masa depan? YA !! aku selalu takut untuk melihat siapa aku nanti, aku takut kalau aku hanya akan berakhir menjadi “no one or nothing” menjadi mereka manusia yang ada di muka bumi ini tapi tak ada yang menghiraukannya sedikitpun!! jika ada orang yang berkata “ah andaikan aja ada mesin waktu, aku ingin melihat gimana aku nantinya…” yang ada dipikranku malah “jangan sampai hal seperti itu terwujud”
Apa aku yang terlalu takut menghadapi realita? Tidak juga, aku malah merasa kalau sekarang aku justru lebih realistis dengan memahami bahwa mimpi dan berusaha dan berjuang itu sangatlah penting, namun kita juga harus realistis dalam menyikapinya, jika memang sepertinya mustahil yasudahlah lepaskan saja.
Kembali aku terlihat seperti orang pesimis, namun kalian akan melihat dari sudut pandang kalian bahwa hal-hal seperti itu mudah tapi kalian tak akan paham dengan semua hal yang aku alami, aku sudah mulai paham bagaimana untuk menyikapi hidup dan nasibku ini. Aku lebih bisa mengerti tentang bagaimana aku nantinya. Orang selalu berkata untuk berusaha dan bermimpi sebanyak mungkin, tapi mereka tak pernah paham faktor-faktor lain yang mau-tak-mau harus aku lalui.
Mungkin seperti ini yah, ketika aku menyukai seseorang aku akan berusaha mengejarnya, berusaha memikatnya…namun disaat aku mulai menyelami siapa dia, siapa keluarganya, disaat itulah kadang aku paham, bahwa “tidak mungkin” itu memang ada dimuka bumi ini. Aku kemudian seperti berfikir “ah tidak bisa yah? Jurang pemisah diantara kami terlalu jauh, siapa sih aku ini berharap setinggi itu?” inilah yang aku fikirkan.
Pada akhirnya aku selalu hidup dalam fikiranku dan memandang segala sesuatu dengan fikiran dan sudut pandangku sendiri tanpa menghiraukan apa yang orang lain fikirkan, aku terjebak dalam duniaku dan aku tak tau apa mungkin aku masih bisa untuk melewati batas dan jurang tersebut? Lihat saja nanti, aku terlalu malas dan terlalu takut untuk membayangkan hal itu….