Asmat akhir-akhir ini jadi lebih terkenal dibanding Dangdut Academy. Sayang, namanya terkenal dalam konteks yang menyedihkan. Namun, apa dikata, manusia Indonesia suka sekali dengan kisah-kisah miris nan menyedihkan yang dibalur drama kelas rebon. Di satu sisi, hal tersebut baik diprakarsai jadi antidepresan, tapi efek sampingnya justru buruk: pikiran kita disudahi sampai rasa kasihan saja. Lantas salah siapa? Rating? Cih. Bukan itu akarnya. Mari tengok Asmat dengan segala usaha teknis yang mengeroyokinya. Entah oleh pemerintah, NGO, Parpol, mahasiswa, dan lain-lain. Rasanya muak melihat sesama penolong ingin memperlihatkan batang institusinya masing-masing, seraya berkata "Wahai rakyat Asmat! Kalian enggak ingat aku? Aku itu loh yang dulu mengobati kalian! Iya, pas tahun 2018 itu! Iya! Yang sudah telat berbulan-bulan itu. Ya, meski sudah telat ratusan jiwa, bukannya itu lebih baik dari pada tidak sama sekali?" Dan seterusnya, dan seterusnya. Dan media menjadi wadah saling menyalahkan. Saling sirik, dengki, iri, dan curiga. Semua pihak bicara, termasuk saya. Tapi, setidaknya saya bangga tidak ikut-ikut mengaduk lumpur di dalam air yang jernih, itu kontribusi saya. Asmat, akan terkenang sebagai sesuatu yang lekat dengan wabah, dengki, politik, kemanusiaan, keterlambatan, kepentingan, penyakit, dan kebobrokan dalam salah satu laci memori semantis otak kita. Tapi Asmat juga akan dikenang sebagai sesuatu yang lekat dengan semangat, kepedulian, kebersamaan, usaha, kerja nyata, perubahan, kejujuran, dan nasionalisme dalam hati kita. Segalanya kembali ke dalam diri kita masing-masing. Mau di mana kita memendam Asmat dalam diri ini. Menggantung di pikiran, atau bersemayam dalam hati.