“Terlalu dini bagimu untuk merasa tua,” katamu setelah menyeruput kopi panas yang kuseduh untukmu. Kamu berbicara padaku tanpa menatapku. Matamu tertuju pada tembok berlumut nan rimbun oleh sulur sirih yang menjalar liar.
Aku menghitung batang-batang rokok yang kau bunuh dalam asbak berbentuk dadu dengan cekungan di bagian atasnya dan retakan besar pada salah satu sisi sampingnya. Tujuh batang belum cukup rupanya. Di sela-sela jari telunjuk dan jari tengah tangan kananmu tersisip sebatang rokok Gudang Garam Signature yang menyala. Kamu dekatkan ujung rokok itu pada bibirmu lalu kamu menghisapnya.
Asap menggulung ke arahku tanpa berusaha kuhalau. Aku duduk di sampingmu memperhatikan bekas luka di lehermu. Aku membayangkan rasa sakit yang kamu peroleh saat pecahan botol itu ditusukkan di situ. Aku mengamati kulit telingamu yang tebal, kembali merasa aneh karenanya. Perasaan itu muncul sejak pertama kali aku menciumi lehermu dan tak lekang hingga sekarang. Aku menyisir rambut yang terserak di dahimu ke belakang dengan jemariku. Rambutmu terasa berminyak di tanganku.
“Nanti pas mandi, keramas yang bersih, ya!” ucapku.
“Aku pasti keramas sekalian kalau mandi,” tukasmu.
Aku tidak punya apa-apa lagi untuk dikatakan. Kata-kata yang biasanya meluncur tanpa jeda tersumbat di tenggorokanku.
“Kowe ngopo to?” tanyamu sambil mengalihkan pandanganmu kepadaku.
“Nggak apa-apa. Lagi pengen gini aja,” jawabku sembari melingkarkan lenganku ke perut dan pinggangmu.
“Kenapa sukanya meluk kenceng banget? Kaya mau ditinggal aja. Dasar manja!” sindirmu.
Aku hanya tertawa cengengesan mengalihkan keharusan menjawab. Aku meletakkan kepalaku di dadamu. Kurasakan jantungmu berdegup tidak teratur. Nafasmu sesekali terdengar mendengus berat. Tiap momen ini terjadi aku begitu cemas. Aku berharap tidak ada penyakit serius yang hinggap di sana.
Sayangnya, aku tidak pernah berhasil berkelit di depanmu. Terkaanmu tentang perasaanku jarang meleset. Isi kepalaku tak seberapa pelik untuk kau pecahkan. Aku, seperti biasa, pura-pura tidak tahu keraguanmu.
Tiba-tiba, kamu menelanku dalam pelukan erat. Barangkali kecemasanku teraba oleh inderamu. Lalu kamu mengusap rambutku perlahan. Seketika aku merasa tenang. Sungkawa macam apapun kupastikan akan hirap ketika dekapanmu menyergap.
Jelaga berangsur-angsur menyapu langit sore. Hari ini, langit tidak meremang jingga. Kita telah dipuaskan oleh gemerisik lembut angin dan hujan yang dibendung gumpalan awan.
Kamu menggamit lenganku mengajakku beranjak ke dalam rumah. Aku mengekor sambil memelukmu dari belakang.