Jika sebuah pohon terjatuh di dalam hutan, pun tak ada seorang disekitar yang mendengar nya, lantas sesungguhnya, apa ia membuat suara?
Satu metafisika dan pertanyaan filosofikal yang sangat melekat bagi saya.
Sesungguhnya, apakah suara hanya akan menjadi suara jika ada orang yang mendengarnya?
Seseorang murid pernah bertanya pada petinggi nya,
“Jika saya tidak pernah sama sekali mengetahui tentang keberadaan sebuah surga dan neraka di atas dan di bawah sana, apakah saya akan masuk salah satunya?”
Guru itu pun menjawab, “Tidak. Kamu tidak akan pernah memasuki sebuah ruangan jika kamu tidak tahu bahwa itu adalah sebuah ruangan.”
Tiga hari yang lalu saya dilemparkan sebuah pertanyaan yang membuat saya berfikir.
“Apa sih yang lo dapetin dari pacaran?”
Dalam waktu yang tidak singkat, kedua telinga kami hanya disuguhi heningnya ketiadaan sebuah percakapan. Otak pun mulai berfikir, logika pun mulai bekerja, menjalankan mesin-mesin kecilnya dan mencoba menjawab satu pertanyaan yang terangkai sebegitu polosnya dari seorang lelaki yang mempertanyakan sebuah komitmen.
Seketika saya teringat tentang satu kutipan dari Heraclitus.
“All flows, nothing stays.”
“Perubahan”, jawab saya dengan singkat dan lantang.
Dan saat itu juga saya menyadari betapa uniknya sebuah perubahan. Kadang ia sangat amat dinanti, kadang ia datang tiba-tiba, kadang ia pergi begitu saja dan kadang ia sangat amat kita hindari.
“Jadi sekarang lo mirip sama josi, yang nurut sama pacarnya?” ucap sang lelaki.
Satu seruput. Dua seruput. Tiga seruput. Kopi pun semakin kehilangan kehangatan nya. Ampas nya pun semakin mendekati batas permukaan nya.
“Mungkin keliatan nya, gitu. Tapi rasa nya sih, ngga. Tergantung gimana lo ngeliat nya aja, Jong.”
Dari begitu banyak buku filosofi dan non-fiksi yang telah saya cerna dan saya rapal dalam hati, sulit rasanya menemukan alasan untuk sebuah perubahan yang terjadi pada hidup saya. Mungkin ada, mungkin dia nyata, tapi untuk mampu menggambarkan nya adalah hal yang cukup sulit.
Jika saya harus merapalkan satu-satu, semua alasan dan sebab akibat mengapa saya berbeda sekarang, saya akan mulai dari satu hal.
Dahulu, saya tidak sepenuhnya mengerti kenapa seseorang mampu mengorbankan dirinya, tentang hal-hal yang terlihat sepele, hanya demi orang lain yang masih terkategorikan sebuah ketidakpastian.
Sekarang saya melihat hal yang berbeda. Lelaki itu menanyakan kenapa saya bisa meninggalkan semua nya, merubah pandangan dan memberikan celah terhadap kemungkinan yang ada, serta melepas semua kebiasaan saya yang lalu-lalu. Lelaki itu bertanya bagaimana saya bisa mempunyai kemampuan untuk membatasi diri.
Saya hanya bisa mengatakan hal yang mampu saya katakan; bahwa saya sama sekali tidak merasa dirugikan. Saya tidak merasa ini sebuah tuntutan untuk dijalani. Dan saya mendapat ketenangan dan kelapangan dengan melakukan nya, karena dengan melakukannya, saya bukanlah satu-satunya orang yang akan mendapatkan dampak baiknya. Bahwa saya bukan mampu membatasi, melainkan ikhlas membatasi diri.
Semuanya butuh pengorbanan, selalu begitu. Tapi pengorbanan atas dasar kesadaran diri tidak akan terasa seperti beban, seberat pengorbanan atas dasar tuntutan. Karena ia selalu disertai keikhlasan.
Jika saya bisa mengelaborasikan semua fikiran, mungkin komitmen tidak pernah semudah itu. Seandainya saya bisa menjelaskannya pada lelaki itu, satu hal yang membuat saya ikhlas untuk membatasi diri adalah karena saya yakin dia adalah orang yang baik, untuk saya. Kenapa? Bukan karena apa yang dia lakukan untuk saya, atau apa yang dia lakukan untuk orang lain, apalagi karena watak dan sifat yang dia punya. Sama sekali bukan itu semua.
Namun hanya karena dia menjadikan saya orang yang lebih baik, dengan sendirinya, tanpa dorongan, tanpa tuntutan dan tanpa perlu ada pertukaran kata untuk menyadarinya. Tidak ada kerugian yang saya dapatkan dengan menjaga hati nya, dengan tidak mengkhawatirkan dirinya, dengan merubah kebiasaan yang lalu, dengan berhenti pulang tanpa aturan, berhenti mengkonsumsi hal-hal yang mencemaskan nya tanpa harus saya bicarakan atau tanyakan, mengurangi tidur tanpa jam yang menentu, tanpa dia harus tau berapa banyak kali semua itu menguji diri saya. Dengan tanpa dia ketahui, saya lebih memilih untuk bersua dengan kopi, menjadi permpuan senja dan menjadi orang yang lebih memilih untuk bersua dengan kepala yang tidak disertai rasa seperti berputar dan percakapan yang tidak ditemani aroma alkohol yang kuat. Dengan tanpa ia ketahui, rencana-rencana nya sedikit demi sedikit saya coba wujudkan dengan menyisihkan uang, lebih dari delapan bulan, dan sebagaimana saya mampu dibuat tersenyum karena saya merasa mampu dan saya merasa membahagiakan dirinya secara diam-diam. Dengan menjaga hati nya tanpa perlu mencemaskan dan mengusik hati dan fikiran nya karena persoalan tentang diri saya sendiri, yang saya mampu atasi, yang mampu saya batasi, yang masih dalam kemampuan saya untuk saya kendalikan dan berbuah menjadi kesenangan hati karena saya menjaga hati nya secara diam-diam, menyayaginya. Bekesempatan merasakan bahagia karena saya merasa mampu membahagiakan, secara perlahan.
Karena kesadaran diri dan usaha yang telah dia buahkan dalam diri saya bukanlah sebuah pohon yang terjatuh ditengah-tengah hutan. Mereka tidak perlu terlihat dan bukan untuk saya perlihatkan. Sekalipun mereka tidak terlihat maupun terdengar, mereka tetap ada. Perubahan dalam diri saya tetap ada untuk saya, dan ia bukanlah sebuah metafisika.
Mungkin dulu, sebelum saya benar-benar sampai pada titik kedewasaan tentang sebuah komitmen, saya menganggap ini sebuah lelucon, bahwa ini sesuatu yang konyol. Untuk apa kamu patuh pada orang lain?
Tapi sekarang berbeda, saya telah tahu eksistensi sebuah komitmen, sebagaimana sang petinggi berkata pada seorang muridnya, bahwa kamu tidak akan menyadari kamu ada didalam sebuah ruangan jika kamu tidak tahu apa itu ruangan.
Dan dibalik hal yang dulu saya lihat menyerupai kepatuhan, ternyata ada hal yang sangat lebih dari itu, hal yang tidak lain adalah sebuah keikhlasan dan pengertian teratas namakan rasa kasih dan sayang, serta sebuah kedisiplinan terhadap sebuah komitmen.
Untuk saya, satu hal yang lebih baik dari membawa kebahagiaan, adalah menimbulkan kesadaran diri dalam diri seseorang.
Terima kasih untuk satu perubahan.
Terima kasih untuk sejuta pelajaran.
Selamat malam, selamat beristirahat.