DASH | 대쉬

seen from United States
seen from Russia
seen from United States
seen from Ireland
seen from Romania
seen from Hong Kong SAR China
seen from Singapore
seen from Japan

seen from Brazil

seen from United States
seen from United States
seen from Uruguay

seen from United States
seen from South Korea
seen from Türkiye
seen from Indonesia

seen from Russia
seen from China
seen from Germany
seen from Tunisia
DASH | 대쉬
Crater Date!
Pictures from Mount Ijen. An active volcano in the East Java area of Indonesia. This area is famous for its blue fire sulphur. (May, 2025)
Just a Lazy Wordpress!
Blue Fire Crater: Rivers of Molten Sulphur Flowing Inside an Indonesian Volcano Photographed by Reuben Wu
Mengejar Bluefire Ijen
Kecil-kecil caberawit, kiranya laik disematkan untuk Gunung ijen. Ketinggiannya hanya 2386 mdpl, namun, terdapat api biru yang hanya ada dua di dunia. Selain itu, jalur pendakian menuju puncak dan turun ke kawah blue fire, luar biasa menguras energi juga mental.
Sejak pandemi, pendakian di Ijen baru dimulai pada pukul dua dini hari, membuat pendaki tidak hanya harus melawan stamina diri sendiri, tapi juga harus berpacu dengan waktu, apabila ingin melihat fenomena blue fire. Kobaran api biru ini hanya bisa dilihat dalam suasana gelap, sehingga pukul lima pagi, sudah menjadi waktu tertelat bagi pendaki, apabila ingin menyaksikan fenomena alam ini.
Saya melakukan pendakian dengan dua rombongan, lokal dan bule. Terlalu bersemangat diawal, saya pun berusaha merapat dengan rombongan bule, berdua dengan kenalan saya sesama lokal. Namun bedanya, dia pendaki pro, tidak seperti saya. Sejak awal, jalur pendakian sudah menanjak, semakin keatas, jalur semakin miring. Bisa ditebak, saya kepayahan. Sejak melewati pos pertama, saya sudah tertinggal jauh dari rombongan bule. Kaki mereka yang lebih panjang, tentu tidak bisa dengan mudah dikejar.
Sempat berpikiran untuk berhenti dan menunggu rombongan lokal yang masih tertinggal jauh dibelakang. Tapi ternyata, mereka pun tak kunjung terlihat. Apalah daya, pilihan satu-satnya tetap melanjutkan perjalanan sendirian, meski tertatih. Menyusuri setapak demi setapak jalan beralaskan tanah, dengan bermodal senter untuk penerangan. Sesekali berpapasan dengan rombongan lain dan bercerita antusias kalau terpisah dari rombongan, mrk pun menyambut dengan ramah si anak hilang ini sambil menyemangati. Ada kalanya, bertemu dengan orang asing di perjalanan, jauh terasa lebih hangat dibanding bertemu dengan orang yang dikenal sepintas. Ini lah salah satu hal yang saya suka dari melakukan perjalanan.
Sekitar pukul empat pagi, saya sampai di pos terakhir yang lokasinya ada di puncak kawah. Rombongan bule beserta guide pun menunggu saya untuk bersiap turun ke kawah dan melihat bluefire. Hanya 700m, tp terasa seperti 10kilo perjalanan. Ini jalur tersulit yang harus ditakhlukkan di Ijen. Bebatuan menjadi pijakan sepanjang jalur ke kawah. Menggunakan sandal adalah pilihan terburuk. Sepanjang jalur, hanya saya dan satu org laki-laki yang terlihat menggunakan sandal. Setengah lima pagi berkat bantuan guide, saya bisa sampai di spot bluefire. Ketika kobaran api biru itu terlihat, akhirnya salah satu keinginan saya, jauh dari sebelum pandemi melihat fenomena alam ini tercapai sudah. Memang kobaran api itu tidak sebesar espektasi saya, tapi bukan itu poin terpenting dalam perjalanan ini. Terdapat kepuasan tersendiri ketika bisa mengalahkan ketakutan atas ketidakmampuan diri. Ditambah lagi, tidak semua orang yang bisa menuju puncak ijen, dapat melihat bluefire, salah satu faktornya, karena jalur menuju kawah memang tidak mudah. Belum lagi tidak semua pendaki bisa berpacu dengn waktu yang tersedia. Rupanya tidak hanya saya yang bahagia bisa sampai dengan selamat melihat bluefire. Orang-orang yang saya temui sepanjang jalur dan melihat saya kepayahan sendirian pun turut berbahagia "lhoo mbaakk, sampai juga sampeyan disini!" Hahaha.
Ijen crater
by Phruetthiphong Pawarachan
Ijen Volcano, Indonesia
miner at Ijen Volcano, East Java, Indonesia. 2022