all my heartbreak for a man seeems like nothing when I lost my dearest one forever. It's been years and I still find myself crying a river every now and then. miss him like crazy yet there's no way of meeting him anymore
No title available
Not today Justin
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
I'd rather be in outer space 🛸

No title available

Discoholic 🪩
RMH
🪼
art blog(derogatory)

Product Placement
styofa doing anything

Kaledo Art
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
Sweet Seals For You, Always
Today's Document

❣ Chile in a Photography ❣
NASA
Claire Keane
No title available

seen from Türkiye
seen from United States

seen from India

seen from Australia

seen from United States
seen from United Kingdom

seen from United States
seen from United States
seen from United Kingdom

seen from United States
seen from India
seen from Italy
seen from China

seen from United States
seen from United States

seen from United Kingdom

seen from United States

seen from Malaysia
seen from Netherlands

seen from United States
@ruangsembunyi
all my heartbreak for a man seeems like nothing when I lost my dearest one forever. It's been years and I still find myself crying a river every now and then. miss him like crazy yet there's no way of meeting him anymore
Rumit sekali ya isi kepalaku. Ada rasa harap yang membuncah, yang aku sadar perlu untuk segera dipadamkan, namun ingin sekali aku genggam erat.
di mana ya letaknya kita di masa depan?
Dalam perjalanan ini, tidak hanya keindahan yang ada. Menemukan diri sendiri di tengah kesedihan dan kedukaan bukan sesuatu yang tidak biasa.
Namun dalam setiap langkah, setiap pertemuan, setiap perpisahan, setiap kelapangan dan kesempitan, ada ruang bertumbuh yang Allah sediakan buat kita.
Bahwa apa yang kamu cintai belum tentu baik bagimu, dan apa yang kamu benci belum tentu buruk bagimu. Sungguh Allah Maha Mengetahui, sedangkan kamu tidak.
Dalam sebuah perjalanan menemukan diri sendiri, 2022.
Tadi pagi ketika sedang berdoa di masjid, tiba-tiba ada ibu di sebelah yang memberikan 1 air mineral sambil tersenyum. Sepertinya beliau menyadari saya sedang menangis saat berdoa lalu memberikan air minum. Di situ air mata semakin mengalir karena membayangkan Allah yang memberikan air minum lewat beliau.
Kalau bukan karena Allah, rasanya tidak mungkin ada orang asing yang rela berdiri dari tilawahnya lalu mengambilkan air minum untuk devi. Seolah Allah sedang menyampaikan, “Tenang saja devi.. ada Aku yang mencintai-Mu dan selalu memberikan apa yang menjadi kebutuhanMu..”
:”””
*crying*
Bahkan, sekedar air minum saja, sejauh apapun mata airnya, jika memang Allah takdirkan untuk kita, maka Allah yang membawakan dari mata air, kemudian di tempat pengolahan air, ada kendaraan yang membawa ke masjid, lalu diantarkan oleh orang, sampai ada di depan tempat duduk saya. Begitu panjangnya perjalanan air minum tsb hingga siap diminum tanpa harus mengambilnya dari mata air, dan sungguh seluruhnya adalah kebaikan dari Allah..
Maka, ketika pikiran dan hati kita sudah mulai diisi oleh selain Allah, siap-siap saja untuk kecewa. Entah manusia, entah pekerjaan, entah sekolah, entah keluarga, dsb. Cukuplah Allah yang menjadi pengisi terbesar hati dan pikiran kita, biarlah Allah yang akan mengurusi sisanya. Tak perlu khawatir atas apa-apa yang akan kita dapat, tak perlu khawatir atas apa-apa yang telah pergi. Semoga selalu ingat bahwa Allah senantiasa ada, bahwa Allah selalu melihat kita dengan cinta, menunggu do’a-do’a terbaik kita, cerita keseharian kita.
Meskipun Allah jauh lebih tau dengan apa yang kita rasakan dan alami, tapi menyampaikan apa yang kita rasakan adalah hal yang semoga bisa menenangkan hati.
Jangan pernah menaruh harap kepada selain Allah ya, dev…
Yogyakarta, 25 April 2022.
Duhai Allah, izinkan hamba mencintaiMu seutuhnya..
Perasaan Bahagia
Tahukah kamu perasaan bahagia, yang begitu menyeruak dari dalam dada. Sampai naik ke tulang pipi dan menggerakkan bibirmu hingga sulit berhenti tersenyum.
Ada semangat baru yang tiba-tiba muncul entah dari mana, membuat harimu jadi menyenangkan, melakukan apa saja dengan ringan.
Bahkan dalam berdiam diri menghadap Yang Maha Kuasa di lima waktu, rasanya mudah. Selalu merasa kurang dan menambah-nambah yang lima jadi enam bahkan tujuh: di sepertiga malam dan di pagi hari.
Energi itu datangnya dari mana, padahal kita tidak berjumpa.
Hanya saja, sejak hadirmu di kehidupanku, ada hasrat untuk menjadi versi terbaik dari diriku. Bukan, sepertinya bukan untuk mengesankanmu. Tapi rasanya ingin saja.
Karena bahagia yang ada di dalam hati terlampau besar untuk dipendam sendiri, hingga ia terlahir menjadi hal-hal baik.
Terima kasih, ya.
Basa Basi Tanya
Lebaran 2011, ada yang melemparkan tanya, “Saiki kok ketok tuo men?” (Sekarang kok keliatan tua banget?) ke bapak yang rambutnya rontok, tinggal tipis sekali. Waktu itu posisi habis kemo.
Masih ingat betul, bapak langsung terdiam, speechless, dengan tatapannya yang melemah. Begitu pun aku. Kaget, mak deg mak tratap. Atiku entek.
I know he mean no harm. Yang bertanya memang tidak tahu ceritanya, tidak tahu kalau bapak sakit. Tapi tetap saja, rasanya menyakitkan.
Aku tahu kita tidak bisa mengendalikan omongan orang. Hanya bisa membesarkan hati agar tidak terlalu merasakan luka.
Tapi semoga kita bisa belajar untuk lebih berhati-hati ketika berbicara, ketika melontarkan basa-basi, memilah mana yang sebaiknya ditanyakan, atau lebih baik disimpan saja.
Selamat lebaran!
28 April yang ke-Enam
Hai, sudah enam tahun ya.
“Apa kabar? Bagaimana waktu berlalu dalam enam tahun ini? Luar biasa, kamu kuat ya.”
Aku masih rindu, masih kangen, masih pilu kalau mengenang. Tapi sekarang sudah bisa lebih lapang, kadang bisa bercanda juga. Menyebut namanya tak sebegitu mematahkan hati seperti dulu.
Masih kusimpan dalam setiap doa-doa yang kupanjatkan, dan insya Allah akan selalu begitu.
Kadang aku merasa bersalah, karena tertawa, karena berbahagia, karena sejenak melupakan fakta bahwa kau sudah pergi. Menikmati hidup seolah tidak ada kesedihan dalam hati.
Sesekali aku masih menangis, karena rasa rindu yang begitu besar, karena rasa sendu yang dalam, ketika aku mengingat tatapan matamu, cerita-cerita yang kau sampaikan, hangatnya pelukmu, dan ketika aku tersadar akan kenyataan bahwa tidak ada lagi kau di sini.
Aku masih rindu, dan rasanya rindu ini tidak akan bisa hilang, hanya saja aku jadi terbiasa merindukanmu.
Sampai nanti di surga ya, Bapak. Rina sayang Bapak.
Bus
Jika ada dua bus, satu ekonomi, panas, sesak, dan satu lagi bus ac, eksekutif 24, kursinya empuk, mana yang kamu pilih?
Bus ac? Bisa saja.
Tapi di luar itu, ada yang lebih penting. Pilihlah bus yang akan membawamu ke tujuan.
Tujuanmu, ke mana?
tentang menulis
seringkali rasanya aku ingin menulis. tapi kerap pula aku terlalu takut beropini karena tidak yakin pendapatku itu benar.
ada ketakutan yang besar akan penilaian orang lain, akan jejak digital, dan banyak hal. ada rasa bahwa mungkin saat ini aku berpikir begini, bagaimana kalau besok aku mendapati bahwa apa yang kutuliskan salah, dan menyadari bahwa aku berada di cara berpikir yang keliru?
hal yang kulupakan adalah bahwa pemikiran setiap orang itu berbeda, dan tidak apa-apa. tidak semua hal kita harus setuju, dan tidak semua orang harus setuju dengan kita.
dan bahwa setiap orang itu berkembang. setiap informasi baru yang diperoleh sangat mungkin mengubah persepsi kita terhadap suatu hal. dan wajar jika kita berubah pikiran, entah besok atau lusa. itu adalah bukti bahwa kita bertumbuh.
22.54
sesungguhnya kebaikan memusnahkan keburukan
— tarawih 05042022
merasakan rasa
“gapapa kalo kamu marah, rasain aja dulu. jangan dipendam.”
aneh ya? biasanya kita menutupi perasaan marah, menahan nahan. kali ini aku memberi waktu pada diriku sendiri untuk merasakannya, untuk memprosesnya.
tapi tidak cukup membiarkannya begitu saja. aku membaginya. seperti membagi kesedihan dengan orang lain untuk menjadikannya berkurang, rupanya membagi rasa marah pun menjadikannya ringan.
ada orang-orang yang ikut marah denganku, berempati, mewakilkan apa yang kurasakan dengan hujatan-hujatan.
begitu saja. sudah cukup. rasanya sudah selesai fase marah ini. aku jadi tahu, ketika kita merasa marah, kita perlu membaginya dengan orang yang tepat.
nggak apa apa, nggak apa apa
sebenarnya mungkin, bukan aku candu denganmu, melainkan aku candu pada perasaan ini
tapi ketika aku melihat foto-fotomu dan kenangan kita, aku kembali pada masa itu. entah candu padamu atau perasaan, nyatanya yang menjadikanku candu itu kamu, peristiwa kita, dan kenangan yang tersimpan.
maka sebanyak apapun aku berkata dan berusaha melepaskan, merelakan bahwa memang jalan kita berbeda. sekali lagi aku kembali lagi ke titik di mana aku merasa rindu.
mengapa hatiku terpaut sementara kita begitu berbeda?
kenyataan bahwa masa depan yang kita inginkan tidaklah sama, dan bahwa kita ternyata bukan tujuan yang masing-masing kita cari satu sama lain, menganulir apa yang terjadi di antara kita. seperti harus dihapus layaknya tidak terjadi apa-apa.
sayangnya memori di hati ini tetap tersimpan, seolah terukir di papan kayu, tidak mudah meniadakannya.
Hati-hati di jalan, beneran.
“Kenapa sih bertahan dengan orang seperti itu?”
“Sudah tau dia bukan orang baik, kenapa masih saja mau?”
Itu adalah pertanyaan-pertanyaan yang dulu kerap terlintas di pikiranku ketika melihat orang-orang “terjebak” dalam hubungan toxic yang membawa ketidakbahagiaan, membuat luka, dan (tampaknya) menjadikan sengsara saja.
Dan kini aku perlahan mulai paham.
Ketika ditanya “Kamu ingin bertemu orang yang seperti apa?”, aku akan bingung, bukan karena aku tidak tahu, tapi karena terlalu banyak yang ingin kusebutkan. Mungkin kalau ditulis, dua halaman tidak akan cukup. Bercita-cita, boleh kan? Bermimpi akan kehidupan ideal dan tujuan hidup.
Tapi ternyata, aku sekarang berada dalam keadaan yang membuatku mengernyitkan keningku sendiri. Bagaimana bisa?
Baris-baris kriteria itu hanya menjadi angan. Nyatanya hatiku jatuh juga denganmu, orang yang sama sekali belum pernah kutuliskan dalam harapan.
Sedih rasanya perlu memulai lagi dari awal. Bahwa kali ini ternyata bukan lagi.