Not a very cuddly cat
seen from Philippines
seen from China
seen from China
seen from Russia

seen from Spain
seen from China

seen from Australia
seen from Yemen

seen from Nigeria
seen from China
seen from Russia

seen from Singapore

seen from United States
seen from Russia
seen from China
seen from China

seen from United States

seen from Norway

seen from United States

seen from United States
Not a very cuddly cat
idk if "irredeemable' is really the right word for Marah, shes mostly pretty neutral except she made a terrible selfish decision out of self-preservation and that haunts her now & forever
to love (as) a god
I keep thinking about this textpost, about how terrifying it must be to be loved by someone that ascended to godhood, because it is literally them
Kalah dengan hobi
Duuuhhh ..........
Kisah Seekor Anjing Buta
Empat ekor anjing hidup berdampingan di sebuah peternakan. Sepasang anjing dewasa dan sepasang anjing yang lebih muda. Satu dari mereka buta yaitu anjing jantan dewasa. Tidak sepenuhnya buta, tetapi ia memiliki mata keruh dan penglihatan yang buruk. Hal ini diketahui ketika majikannya memberikan makanan tepat di hadapannya, makanan tersebut selalu direbut oleh anjing lainnya.
Suatu ketika sang majikan memperhatikan ketika dia memberi makan lalu menyimpulkan kalau anjing itu juga mengalami masalah penciuman. Ketika makanan diletakkan di depannya, dia tidak menyambarnya seperti tiga ekor anjing lainnya. Mereka berlomba cepat merampas makanan di hadapan anjing buta itu.
Sang majikan mengingat dahulu ada seekor anjing jantan yang lebih tua darinya dan menjadi pemimpin dalam kelompok tersebut. Ketika tiba saatnya pemberian makanan dia selalu nomor satu dan kalau ada yang mencoba rebutan makanan dengannya akan digigitnya. Anjing buta itu sering menjadi korban gigitannya. Mata kabur itu juga akibat perkelahian ketika dia masih kecil, perkelahian yang tidak pernah dimenangkannya. Mungkin bukan penciumannya yang mengalami masalah. Mungkin trauma masa muda itu yang mengakibatkan dia tak lagi agresif merebut makanan, meskipun sekarang dia menjadi pemimpin dalam kelompok, anjing jantan tertua.
Anjing kecil yang jantan belang hitam-putih dan yang betina berwarna hitam keseluruhan. Seringnya anjing belang itu yang lebih agresif merebut makanan si Buta. Suatu hari si Buta sangat kelaparan dan menjadi marah. Sang majikan selalu memberi sepotong makanan secara adil kepada masing-masing anjing. Kala itu si Buta samar-samar melihat anjing belang merampas makanannya. Dia masih sabar menunggu, terkadang ada makanan tambahan dari majikannya. Hari itu tidak ada makanan tambahan dan dia sangat kelaparan. Dia tahu si Belang yang merebut makanannya tadi. Segera dia mengejar si Belang dan membantainya. Beberapa luka goresan taring menghiasi kaki belakang dan leher si Belang.
Hari-hari berikutnya terjadi kejadian yang sama, si Buta selalu mengejar si Belang setiap kali sesi makan berakhir. Sang majikan terpaksa harus mengawal setiap kali memberi makan sampai benar-benar selesai dan kelompok tersebut bubar karena takut si Belang mati digigit si Buta.
Sang majikan terus memperhatikan gerak-gerik kelompok tersebut. Belakangan si Belang sudah otomatis menghindar setelah mengambil jatah makanannya. Malah si Hitam yang menyerobot makanan milik si Buta. Akan tetapi setiap akhir sesi makan si Buta selalu mengejar si Belang dan menggeram meskipun dia yang menghabiskan makanannya sendiri. Si Belang telah melekat di ingatannya sebagai perampok makanan.
Si Buta, pemimpin dalam kelompok dengan matanya yang keruh.
Sering kita memiliki perilaku seperti si Buta. Saya sendiri pernah mengalaminya sebagai berikut : saya sangat marah kepada paman saya karena mempertahankan karyawan yang tidak becus dalam pekerjaannya dan selalu menimbulkan konflik dengan karyawan lainnya dalam perusahaan. Memang sedari awal dia ada dalam divisi paman saya yang mengurus ritel sedangkan saya mengurus divisi grosir yang sebelumnya dijalankan mendiang ayah saya. Mereka juga yang mengurus segala kegiatan perbankan dan pembukuan gabungan ritel dan grosir. Sejak pandemi Covid-19, divisi ritel dilebur ke dalam divisi grosir dan dioperasikan di satu tempat yang sama dan saat itu banyak terdapat perbedaan baik dalam hal manajemen karyawan maupun teknik jualan yang berujung terjadi konflik.
Dalam satu kejadian yang menurut saya sangat fatal, paman saya tetap lebih membela karyawan tersebut sedangkan dua paman yang lain memilih diam, tidak mau dicap memihak siapa pun. Begitu kesalnya saya menyerahkan segala urusan penjualan kepada mereka dan saya cukup mengurus logistik. Lebih spesifik saya hanya mengurus supir dan kernet dan perbaikan kendaraan, karena urusan barang yang mau diangkut juga merupakan bagian dari penjualan, bagian dari persediaan barang.
Sejak saat itu segala kerugian dalam operasional perusahaan, segala komplain dari pelanggan, kejadian kehilangan uang dan barang, saya selalu menunjuk mereka. Saya terlalu berfokus pada kesalahan mereka, sama seperti si Buta yang selalu menyalahkan si Belang merampas makanannya.
Sesungguhnya kerugian dari penjualan dan ketidakmampuan dalam manajemen yang mengakibatkan munculnya berbagai komplain dan kehilangan uang maupun persediaan barang memang benar adalah kesalahan mereka, tapi saya tidak harus berfokus terhadap "kesalahan mereka" dan terus-terusan menunjukkan kepada orang lain mengenai hal itu.
Sesungguhnya dengan melepaskan bagian penjualan kepada mereka, saya juga tidak kekurangan dalam hal penghasilan pribadi. Malahan saya mendapatkan "waktu", yang dulu saya habiskan demi operasional perusahaan. Tekanan dan kegelisahan dalam diri juga menurun drastis karena tidak lagi menghadapi berbagai jenis kepribadian pelanggan dan naik-turunnya harga barang.
Seperti si Buta, meskipun sudah mendapatkan makanannya namun tetap marah pada si Belang. Begitu pun saya, sudah mendapatkan segala kenyamanan dengan melepaskan pekerjaan tersebut namun tetap marah kepada paman saya dan karyawan itu dari waktu ke waktu.
Percayalah, segalanya akan terasa lebih ringan dan lebih indah setelah kita berhasil melepas. Melepaskan fokus saya dari mereka dan kesalahan mereka. Dengan terus-terusan menunjuk kesalahan mereka hanya akan membuat saya terlihat lebih buruk. Saya menjadi orang yang kerjanya mencari kesalahan orang lain. Saya menjadi orang yang paling benar dan tidak bisa menerima pendapat dan cara orang lain. Padahal, sebelum waktu membuktikan kesalahan mereka, bertahun-tahun yang lalu kita tidak benar-benar mengetahui apakah cara mereka salah atau malah lebih baik dari cara saya sebelumnya.
Pada saat itu saya marah hanya berdasarkan teori umum dan keyakinan saya kalau cara mereka salah, yang divalidasi oleh beberapa orang yang menjalankan bisnis yang serupa. Baru belakangan ini saya sadari saya banyak membaca kisah-kisah dan seringnya terobosan baru datang dari perubahan drastis yang seperti ini. Tapi pada saat itu saya terlalu egois, terlalu yakin kalau cara saya lebih baik dari cara mereka.
Setelah bertahun-tahun berlalu akhirnya waktu membuktikan kalau teknik jualan dan manajemen mereka memang buruk. Paman-paman yang lainnya tetap bungkam, tetap memasang sikap tidak memihak. Seiring berlalunya waktu dan bertambahnya usia saya telah kehabisan tenaga untuk marah. Bahkan ketika saya hanya memikirkannya dan marah dalam hati, itu sangat menguras tenaga. Saya tidak memiliki kendali untuk mengubah sikap mereka, cara mereka, jadi buat apa menghabiskan waktu dan tenaga buat mereka padahal mereka sendiri tidak merasa perlu dibantu. Kalau memang sadar dan mau berubah menjadi lebih baik seharusnya mereka sudah bergerak tanpa harus digigit lagi dan lagi, karena semua petunjuk dan referensi sudah ada. Niat untuk menjadi lebih baik yang belum ada.
Mereka lebih memilih menjalani hidup enak yang tidak benar daripada hidup benar tapi melelahkan.
Mungkin ada yang bertanya, pada kisah di atas kita membicarakan si Buta, si Belang dan si Hitam, bagaimana dengan anjing yang keempat? Dia adalah anjing betina. Dia anjing paling tua di dalam kelompok. Ketika makan, dia hanya mengurusi makanannya sendiri. Ketika nampak orang asing dia melompat girang ingin dipeluk, ingin dibelai. Ketika orang menghardiknya, takut kakinya mengotori pakaian mereka, dia melompat mundur namun tetap melompat-lompat girang, bagaikan kuda rodeo dalam atraksi. Dia menggoyangkan ekornya yang buntung. Dia tidak terlibat dalam drama si Buta dan si Belang. Dia bahagia dengan caranya sendiri. Tidak ada yang mengusiknya.
Begitu juga saya yang sekarang. Tidak perlu terlibat dalam drama paman-paman saya. Saya punya penghasilan yang lebih dari cukup untuk kebutuhan harian saya dan keluarga. Saya tidak membangun perusahaan ini dari nol, saya hanya melanjutkan apa yang ayah saya kerjakan dan apa yang kakek saya mulai. Kala meninggal pun saya tidak akan membawa apa-apa ke dunia akhirat.
Beberapa orang mungkin menilai saya tidak produktif, tidak memikirkan masa depan istri dan anak. Percayalah, saya pernah di posisi itu sebelumnya dan tidak ada ketenangan batin, tidak ada kedamaian hati. Berapa pun uang yang kamu hasilkan tidak akan pernah cukup karena setiap kali kamu mencapai targetmu, target baru yang lebih tinggi akan terbentuk secara otomatis. Apa yang ingin kamu capai dalam hidupmu yang singkat di dunia ini?
Ketika kita menggenggam segelas air, tidak berat memang, namun jari-jarimu bisa menjadi kaku menjaga agar air di dalam gelas tersebut tidak tumpah dan menjaga agar gelas tersebut tidak terjatuh. Pada satu saat kamu akan merasa lelah dan ketika saat itu datang dan kamu terus memikirkannya, lelahnya akan berlipat ganda dalam waktu yang sangat singkat. Kamu cukup meletakkan gelas tersebut di atas meja. Melepas.
Saya mendapatkan kebebasan dalam hal waktu. Saya mendalami hobi fotografi dan hobi-hobi saya yang lainnya. Saya mencoba menulis buku. Saya rileks membaca novel setiap saat dan meletakkannya ketika badan saya pegal atau mata saya lelah. Dunia tetap berputar. Perusahaan tetap berjalan dengan segala baik dan buruknya.
Melepas dengan baik tidak akan membuatmu kehilangan, melainkan mendapatkan lebih banyak.
Sakit
ketika kita melihat
tak seperti
mereka melihat
apa yang ditakdirkan
memang terjadilah
tanpa amarah
tak akan ada
mengapa?
bagaimana?
selama ini
ternyata
Mestinya aku tahu batasku
namun,
batas bukannya tidak bisa dilanggar?
kau duluan
yang membuatku
tak paham batas
hanya sekadar di bibir
tak tertancap
di labirin otakmu
apa begitu sulit memaknainya?
atau
memang kau yang tak ingin?
memang batas
hanya kau yang pinta
orang lain tak berhak
sombong sekali