Apa yang Ingin Dicapai di 2022?
Aneh ya, taun ini ga posting resolusi. Sebenernya ada resolusi, ga ditulis aja. Kaya capek nulis hal yang sama terus menerus.
Apa sih resolusi itu? Kayaknya dari taun ke taun hal-hal yang sama masih bermunculan. Sekarang lagi baca buku Atomic Habits, ada satu part yang aku inget banget.
“The goal is not to read a book, bu to be a reader.”
Ada sedikit perbedaan dari sisi prinsipnya. Ketika kita pengen baca buku, yaudah setelah baca buku itu udah selesai kan? Tapi ketika kita mendefinisikan diri kita sebagai seorang pembaca, unconsciously kita akan melakukan hal-hal yang jadi trait seorang pembaca, yaitu membaca buku.
Apa hubungannya sama resolusi? Ga tau, hahaha, kepikiran aja mau nulis itu tadi.
Aku jadi mendefinisikan diriku sebagai Long Life Learner. Cocok ya kayaknya? Dari aku yang ternyata enjoy banget sama proses belajar. Suka juga dengan part achieving things nya. Inget kemaren pas belajar UPKP itu aku kaya feel really alive. Kangen banget kaya gini, belajar dengan tujuan.
Ada dua hal besar yang ingin kucapai di tahun ini, (1) beasiswa (2) nikah.
Beasiswa ini sebenernya aku masih semacam menimbang-nimbang ya, apa aku beneran pengen? Sebenernya cuma karena bosen kerja aja ga sih? Haha, tapi yaudah dijalanin dulu aja prosesnya. Toh daftar juga belum tentu ketrima kan? Jadi sekarang belajar IELTS dulu, coba bikin personal letter dulu, ga ada ruginya.
Nikah. Aku gatau udah nulis keinginan ini dari kapan. Tapi taun-taun sebelumnya aku belum bener-bener kepingin dan siap sebenernya. Hanya terdorong oleh pertanyaan-pertanyaan. Baru beberapa waktu yang lalu sadar, bahwa oh aku udah pengen punya keluarga, punya temen yang bisa diajak ngobrol apa apa, punya seseorang yang bisa dicintai dan mencintai aku. Jadi aku juga beneran mulai siap-siap nih, like getting my first shot of HPV Vaccine.
Dan aku juga sadar bahwa aku udah siap. Ada satu hal yang kupegang sebagai indikator, dari masgun yang bilang. “Kalau kamu disuruh nikah hari ini juga, kamu siap, berarti kamu udah siap.” And it works. Aku ga nyangka bakal sampe ke titik ini tbh. Selama ini, aku selalu diliputi dengan ketakutan-ketakutan, ditambah cerita dan pengalaman orang lain tentang pernikahan yang tidak seperti harapan.
Tapi ya, di dunia ini ga semua pernikahan itu ga bahagia kan? Buktinya ibu sama bapak bisa saling cinta dan bahagia sampai maut memisahkan. Tiap hari masih SMS an padahal kerja di luar cuma setengah hari. Ibu sabar banget ngerawat bapak sampai bapak gaada, dengan rasa cinta yang besar.
Aku juga sadar ketakutan itu wajar, namanya juga mau ke next level. Pas masih kuliah mau kerja takut, pas masih OJT mau penempatan takut, pengennya stay di situ aja dengan kenyamanan yang ada. Tapi sebenernya exciting kan setelah dijalani? Jadi ketakutan itu seperti menghilang sendiri.
Dan aku merasa, aku sudah selesai dengan diriku sendiri. Katanya, kalau kita bahagia dengan diri sendiri, kita siap membagi kebahagiaan itu dengan orang lain. Aku pengen, ketika aku bahagia, aku bisa membaginya denganmu, siapapun nanti.
Tentu saja setting goal nikah 2022 saat ini terdengar sangat muluk-muluk. Siapa kamu saja aku belum tahu. Tapi ya gapapa, 2023 juga gapapa, yang terpenting adalah aku saat ini sudah membuka diri dengan semua kemungkinan-kemungkinan, jadi nanti kalau kamu datang, aku sudah bisa membuka hati dengan lapang.