HIDUP ITU JANGAN DIBANDINGKAN, TAPI …
Wow, ngga kerasa ternyata saya sudah jadi warga Bandung selama hampir 5 bulan. Mungkin jika saya membayangkan diri saya 6 tahun lalu (saat pertama kali masuk kuliah), ngga akan pernah berpikir bahwa saya bisa merantau sejauh ini, eh uda pernah lebih jauh sih, saat jadi Pencerah Nusantara tahun 2017 di Mamuju Utara, Sulawesi Barat. Well, pernah membayangkan menjadi Pencerah Nusantara terus ketemu dan dilantik oleh menkes (re: Prof. Nila Moeloek) aja ngga pernah ada sama sekali gambaran itu.
Bagi yang ngga kenal saya, mari kenalan dulu. Jadi, Nidya itu adalah orang paling overthinking. Nidya selalu ngga pernah mikir hasilnya yang penting jalanin aja dulu. Tapi, Nidya yang dulu akan selalu membandingkan proses pencapaian yang dia miliki dengan orang lain, kemudian berpikir “kenapa aku ngga bisa seperti dia?”. But today, I’m proudly present who I am now.
Oke, disclaimer dulu, saya emang ngga serta merta bisa menghilangkan kebiasaan “membandingkan” ini ya, tapi sungguh insensitasnya sudah jauh lebih berkurang dibanding saya yang dulu. Saya akan coba flashback perjalanan hidup saya yang pada akhirnya membawa saya hingga sejauh ini dan membuktikkan bahwa sebenernya membandingkan diri kita dengan orang lain itu sungguh jahat (mode Cinta ke Rangga).
Sejak saya kecil, saya jarang banget bisa masuk ke sekolah favorit di Surabaya. Inget banget, ketika mau kenaikan ke SMP nilai saya hancur berantakan, membuat orang tua kecewa yang akhirnya hanya bisa masuk sekolah pinggiran. Oh, nasib sungguh nasib, kejadian sama terulang lagi, nilai UNAS SMP hancur lebur bahkan saya hampir bersekolah di desa saat itu, karena ngga diterima di SMA negeri manapun di Surabaya dan sekolah-sekolah swasta lain pendaftarannya sudah pada tutup. Saat itu, hidup saya bisanya cuma bikin orang tua pusing, bikin orang tua mikir. Padahal dulu saat sekolah, saya selalu jadi kebanggaan sekolah, sering ikut lomba (dalam satu hari bisa ikut 2 lomba bebarengan), well bisa dibilang kesayangan guru juga karena nilai rapotku engga pernah hancur malah bagus banget (haha, sorry, ini justifikasi pribadi, no offense). Akhirnya disitu saya berpikir, kemudian mempertanyakan kepada Allah, “Kenapa sih yaAllah temenku bisa sekolah di tempat yang dia inginkan sedangkan aku engga. Aku ngga pernah bisa sekolah di sekolah yang bagus”. Pertanyaan ini menggantung tanpa ada jawaban saat itu.
Awal masuk sekolah malah menjadi momok, ketakutan karena tidak bisa bersekolah di sekolah impian dan hanya menjadi imajinasi saya saat itu, hanya tinggal kenangan. Menyerah? Engga! Dari situ saya punya motivasi begini, “oke ngga papa saya ngga bisa sekolah di sekolah favorit dan malah berakhir di sekolah-sekolah pinggiran ini, kalau gitu saya buat aja sekolah ini jadi terkenal”. Kemudian, saya coba aktif di segala ekstrakurikuler di sekolah bahkan gabung di OSIS yang akhirnya menjadikan saya ketua OSIS di SMP dan SMA.
Titik balik hidup saya terjadi ketika SMA. Saat itu, sekolah yang mau menerima saya adalah Madrasah Aliyah Negeri Surabaya dengan kondisi sekolah yang seuprit luas gedungnya, ngga dikenal (bahkan saat masuk itulah saat pertama kali saya tau wujud sekolah ini). Berbekal prinsip, “enjoy the process dan selalu lakukan yang terbaik”, saya belajar dengan baik dan tetap aktif di organisasi. Alhamdulillah, selama 3 tahun saya menjadi peringkat pertama ranking parallel (se-sekolah istilahnya), menjadi ketua OSIS, dan aktif ikut lomba sana-sini. Kemudian Allah menunjukkan sedikit spoiler jawabannya kepada saya, ohh Allah tidak tidur ya ternyata, saya dapat salah satu golden ticket untuk menjadi satu orang yang didaftarkan ke SNMPTN Undangan. Perlu diketahui, saat itu untuk masuk ke list siswa yang bisa mendaftar melalui SNMPTN Undangan sangat terbatas. Saya memutuskan memilih FKM UNAIR yang notabene adalah pilihan orang tua saya. Saya meyakini bahwa ridho Allah itu adalah ridho orang tua.
Benar saja, Allah menunjukkan sedikit titik terang dalam kesuraman hidupku saat itu. Saya keterima di FKM UNAIR!
Awal masuk kuliah pun ya ngga serta merta bisa langsung cinta, kan emang bukan pilihan sendiri, ibarat jodoh ya dijodohin gitu. Ada proses panjang yang harus saya lalui untuk mengenal lebih dekat sebenernya ini jurusan keilmuan apa. Bagaimana caranya? Masih sama dengan ketika saya di SMP dan SMA, ya ikut organisasinya, aktif disana, lakukan yang terbaik. Saya selalu berprinsip walaupun ngga sesuai dengan yang kita harapkan, bukan berarti kita menghancurkan diri kita sendiri, malah disitulah letak kekuatannya, saya akan membuktikkan eksistensiku, berkembang dan berproses sejauh yang aku bisa. Dari situ benih-benih cinta muncul, saya lebih mengenal apa itu kesehatan masyarakat, bertemu orang – orang hebat, dan berakhir pada saya menemukan passion saya.
Selanjutnya, fase terberat kedua adalah setelah lulus kuliah. Pasti sebagian dari kita sudah tau, fase quarter life crisis muncul. Pikiran berkecamuk, akan kerja dimana? Mau jadi apa? Dsb. Apalagi yang lebih menyesakkan dada adalah ketika magang sebelum kelulusan, hanya saya sendiri yang tidak ditawari melanjutkan kerja ditempat magang saya, sedangkan teman-teman magang saya yang lain mendapatkan tawaran bekerja disana. Menangis, kecewa, sedih, iri, bercampur jadi satu. Tapi kemudian saya ingat, oh sudahlah kalau memang Allah bilang bukan rejekinya maka bukan rejekinya. Jadi, sambil mencari lowongan pekerjaan, saya bantu dosen untuk melakukan penelitian, hanya agar saya bisa menghasilkan uang, tidak membebani orang tua lagi, sudah ingin lebih mandiri, dan terus berproses. Life is a never ending learning process.
Kegagalan hampir saja menghampiri saya saat mendaftar Pencerah Nusantara. Dimana saat itu seharusnya saya ngga lolos tahap 1 (tahap essay dan administrasi). Wallahualam, Allah Maha Baik, sekali lagi Allah membuktikkan janji-Nya, jika memang rezeki itu sudah digariskan untuknya maka apapun yang terjadi akan tetap kembali kepadanya. Ya, saya lolos menjadi Pencerah Nusantara 5 di Mamuju Utara.
Well, pastinya selama proses itu banyak hal terjadi. Saat dimana teman-teman lain sudah settle dengan diterima kerja ditempat yang mereka inginkan, dan saat itu lagi-lagi saya belum berhasil lolos. Saya bertanya kepada Allah, “Ya Allah, sebenarnya jawaban dari semua kegagalan yang pernah saya alami ini apa?”. Allah tidak serta merta memberikan jawabannya saat itu juga, namun Allah membiarkan hamba-Nya untuk berproses, meminta dan memohon petunjuk kepada-Nya. Karena baru bertahun – tahun kemudian saya bisa sedikit menemukan jawabannya. Ingat, baru seuplik jawaban yang Allah kasih, karena sampai sekarang pun saya masih terus = mencari jawabannya, dan selalu bertanya apa yang akan terjadi esok hari. Setiap waktu akan ada saja kegelisahannya, akan berbeda kegelisahan tiap saat, tidak ada habisnya. Tapi ya memang itulah hakikatnya hidup. Selalu berproses dan memaknai apa yang terjadi didalamnyas.
Jika dulu saya tidak gagal, tidak terseok-seok, mungkin saya ngga akan bisa berdiri seperti sekarang. Saya selalu berpikir bahwa diri kita yang sekarang adalah akumulasi proses dari diri kita yang dulu. Berproses dengan benar akan sedikit demi sedikit menunjukkan titik terang dan jawaban yang kita butuhkan. Asal, kita mau untuk selalu membuka hati dan mata bahwa pelajaran hidup itu ada dimana-mana.
Jadi, membandingkan proses hidup yang kita lalui dengan orang lain itu akan menjadi percuma dan tak berguna karena sejatinya proses setiap orang akan berbeda-beda. Hidup itu jangan dibandingkan, tapi dinikmati dan disyukuri.
Bandung, 16 April 2021
















