Khasanah di Balik Sakit-Nya
Pagi-pagi buta, saya harus kembali berjibaku di tengah kepadatan jalanan Kota Makassar yang disesaki warganya yang konon tiap tahun terus bertumbuh dan kini sudah tercatat sebanyak sekitaran 1,7 juta jiwa. Bukanlah untuk mengenang kisah beberapa tahun lalu ketika berjuang menghadiri janjian diskusi bersama asisten baik hati yang menantang adu cepat datang ke kampus. Ini tentang perjalanan untuk kembali ke kampung halaman untuk sebuah misi, menunaikan tugas seorang anak terhadap orang tua, membalaskan rindu. Bukan hanya tentang rindu, ada yang lebih dari itu, mengurus Mama yang sedang diuji oleh-Nya lewat sakit.
Berbicara tentang sakit. Tidak sedikit yang suka mengutuknya ketika diujikan kepadanya. Tak terkecuali diri ini yang juga sering lupa bahwa ujian sakit dari-Nya harusnya membawa kita untuk bersyukur. Menggugurkan dosa-dosa kecil yang pernah diperbuat oleh si sakit tentulah hal pertama yang patut kita syukuri. Selain itu, ujian sakit Mama kali ini membuatku banyak belajar.
Sakit lebih mendekatkan
Saya termasuk salah seorang anak yang kurang intensif menjalin komunikasi dengan orang tua (hal yang harus segera diubah, ini tidak baik). Ini bukanlah perkara saya tidak dalam keadaan harmonis. Bukan sama sekali. Saya sedang baik-baik saja. Ini tentang keterbatasan perihal koneksi jaringan. Semoga perlahan ini akan semakin membaik ke depannya. Aamiiin.
Pesan pertama saya terima seminggu yang lalu ketika Mama minta dikirimkan obat-obatan untuk keluhan demam dan nyeri otot di sekujur badannya. Tidak perlu menunggu lama, segera setelah saya tahu obatnya seharusnya sudah sampai, saya pun kembali berkabar untuk mengetahui reaksinya. Jawaban positif yang saya terima tentulah membuat saya berbesar hati karena bisa membantu orang tua.
Berselang beberapa hari setelahnya, saya kembali menanyakan kabar. "Saya dalam perjalanan mengantar Mamamu ke Puskesmas." Jawaban tersebut tentulah cukup menghentakkan dada dan memacu otakku untuk memikirkan hal yang aneh. Refleks hati segera mengirim doa kepada Sang Pengabul untuk kebaikan kepada orang tua tercinta. Percakapan pun segera ditutup dengan ucapan, "hati-hatiki pade, baik-baikki di sana."
Pikiran kalut tidaklah berhenti di situ, sesampainya di rumah sekembali dari jaga malam di apotek, lagi, saya harus mendengar kabar yang kurang baik. "Tambah parah kayaknya sakitnya Mama. Nasuruhka pulang ke Bone sebentar," sambut Kakakku ketika sampai di rumah. Doa kembali sebagai satu-satunya hal yang bisa kulakukan saat itu.
Singkat cerita, pagi selepas shalat shubuh, kembali kucoba menghubungi Mama di kampung.
"Bagaimana mi kabar ta Ma?" Tanyaku membuka pembicaraan
"Sakit semua badanku. Panas sekali badanku. Gejala DBD nabilang dokter kemarin. Sudah mka minum obatnya tapi tidak ada perubahan kurasa. Mauka ke rumah sakit sebentar." Jawaban singkat dari Mama yang segera membawa perasaan takut bersemayam di kepala.
"Jangan dulu. Tungguka sampai di rumahka. Siap-siap ma ini pulang." Jawaban yang refleks mengalir keluar dari mulutku.
Sambungan telefon segera diakhiri dengan sebagaimana mestinya. Ambil obat-vitamin sana-sini. Berkemas. Berpamitan. Saya pulang dulu (tanpa mandi tanpa ganti pakaian).
Mama bukanlah orang yang berpenyakitan. Bukanlah orang yang gampang ditaklukkan oleh sakit. Demam biasa tak cukup untuk menyurutkannya untuk berhenti beraktivitas. Sepanjang ingatanku, tidaklah ia pernah masuk di rumah sakit sebagai pasien. Itulah mengapa kaget luar biasa segera menyergap sesaat ia bilang mau ke rumah sakit. "Pasti ada yang tidak beres ini. Ini bukanlah sakit yang biasa. Sakit yang butuh perhatian lebih sedang menyerang Mama." Sekelumit hal negatif tersebut yang terus bergema di kepalaku hingga saya tiba di rumah di Bone.
Jadilah saya disambut Mama sedang berbaring dengan badannya yang luar biasa panas, 11 12 dengan saya ketika demam tifoid lalu. Beragam pertolongan pertama pada pasien demam tinggi dengan suspect DBD-Tifoid segera dilayangkan oleh seorang apoteker kepada Mamanya. Hehe. Sejurus kemudian kembalilah suhu badannya perlahan menurun, dan kembali lah ia mulai bisa duduk dan bicara.
Meski saya yakin tifoidlah yang menyerang, bukan DBD, dan sepertinya sudah bisa dikendalikan dengan perawatan intensif beberapa hari ke depan; tapi karena niatan awal sudah bulat, jadilah Mama tetap di bawa ke rumah sakit. Yah sudah, tidaklah mengapa. Serajin-rajinnya kami membayar iuran BPJS, kami tetaplah membenci untuk menggunakannya untuk berobat. Meski pada akhirnya sampailah waktunya Mama harus bersabar untuk itu.
Sampailah Mama harus mendapat asupan makanan lewat selang infus untuk pertama kali seumur hidunya. Katanya sakit. Hehe. Namun perasannya sudah semakin membaik. Alhamdulillah. Dan jadilah saya tidak berhent mengajakanya untuk segera pulang.
Panjang lebar cerita di atas sebenarnya sudah membuang banyak bagian. Setelah mengamati, sampailah saya pada pikiran bahwa sakit Mama kali ini saya sebut sebagai teguran bagi diri ini untuk lebih "mengakrabkan" diri. Bagaimana tidak setiap saat saya harus bertanya kabar tentangnya dari jauh. Bagaimana perkembangannya? Obatnya sudah beredek? Sudah check-up di Puskesmas apa belum? Hingga saya harus pulang untuk menghilangkan batas jarak dan menanyakan segenap hal itu secara langsung. Sungguh sakit Mama kali ini membuatku semakin dekat kepadanya.
Sakit mempererat tali silaturrahmi
Usahlah berdebat yang betul itu silaturahmi atau silaturahim? Semuanya betul. Silaturrahmi baik dan benar sebagai Bahasa Indonesia. Demikian dengan silaturrahim dalam konteks Bahasa Arab.
Kerasnya kehidupan yang terus menuntut dari hari ke hari membawa manusia-manusia untuk senantiasa bersibuk ria dengan pekerjaan masing-masing dan tak jarang lupa untuk menyambungkan tali silaturrahmi. Bagaimana tidak? Belum kelar satu pekerjaan, pikiran akan pekerjaan yang lainnya sudah menghantui untuk segera diselesaikan juga. Hal ini tentulah secara perlahan namun pasti akan merenggangkan tali silaturrahmi. Namun lewat ujian sakit Mama kali ini, saya kembali dipertemukan dengan segenap handai taulan yang sudah jarang saya temui.
Segenap keluarga yang selama ini tak terdengar gaung kabarnya akhirnya bisa bertatap mata dan saling bersungging senyum, berbagi kabar, bertukar cerita hingga menertawai kehidupan secara live. Tidaklah mengapa jika itu harus terjadi di ruang tunggu bangsal rumah sakit. Mungkin dari sakit Mama kali ini kita harus belajar begitu pentingnya menyambung tali silaturrahmi. Mungkin ke depan bisa dipindahkan ke tempat-tempat yang lebih nyaman untuk semua itu, warung M Kopitiam misalanya. Aamiiin.
Sakit mengajakku bernostalgia
Saya orang Bone. Asli Bone setulen-tulennya. Bapak dan Mama orang Bone. Kakek dan Nenek dari Bapak Mama juga demikian. Ditelusuri sampai beberapa generasi di atasnya pun masih akan ketemu darah Bonenya. Namun pangkalnya tetaplah keturunan India-Arab, keturunan Adam dan Hawa dan tentu saja bukan seekor kera.
Lahir di Bone. Minum ASI eksklusifnya di Bone. Belajar makan-minumnya di Bone. Belajar berjalan-larinnya di Bone. Pendidikan wajib 12 tahunnya (minus TK) di Bone. Semua masa kecil-remajaku saya habiskan di Bone. Namun sejak hijrah untuk menuntut ilmu lebih tinggi di Kota Makassar, saya pun perlahan jadi kudet dengan hingar bingar perkembangan Kota Beradat ini.
Mama yang kali pertama di rawat di Rumah Sakit sepertinya jadi pengalaman pertama saya untuk berkunjung sekaligus menginap di salah satu RS di Bone. Sepanjang ingatan saya, baru satu kali saya menjenguk teman yang sakit di RS di Bone. Selebihnya tidak ada lagi yang saya ketahui tentang seluk beluk RS di Bone. Betapa miskin pengetahuan lagi pengalaman tentang dunia kesehatan tempat kelahiran saya sendiri. Miris.
Sudah waktunya saya harus mulai belajar akan sebarek hal tersebut. Beranjak dari kondisi itu, hal menarik dari RS di mana Mama di rawat adalah hiburan yang ditawarkan dari ruang rawat inapnya. Lagu khas daerah Bone, lagu bugis. Mendengar lantunan beberapa tembang bugis saat sepinya dini hari di bangsal rumah sakit serasa mengantarkanku untuk menyelami masa-masa lalu. Kembali mengingat segenap perjalanan hidup yang telah kulewati selama ini.
Bukan hanya itu. Saya pun berkesempatan untuk kembali mengeksplor sedikit kehidupan malam Kota Bone. Berkeliling mencari jajanan tengah malam di keheningan Kota Bone. Hal ini unik karena hampir tidak pernah lagi saya lakoni. Bagaimana tidak, setiap mudik lebaran, bisa dipastikan 8/9 waktunya dihabiskan untuk membayar kerinduan bersama sanak keluarga jadi waktu keluyuran eksplor Kota Bone tidaklah sempat. Perkembangan Kota Bone uang kutahu hanyalah sebatas daerah pinggir jalan yang saya lalui dalam perjalanan mudik. Atau hanya sebatas yang tertera di media cetak maupun media elektronik yang sempat terekam oleh indra.
Setelah diajak berkeliling, ternyata ada beberapa ikon Kota Bone yang baru dan juga beberapa situs lama yang telah dipugar oleh pemerintah daerah. Bone sudah banyak berubah. Namun saya masih bisa merasakan dan mengenangnya ketika mendapati titik-titik tertentu yang sudah begitu mendarah daging.
...
Lekas sembuh Mama.
Ada hikmah dari setiap kejadian.
Petiklah. Bersyukurlah.