Akhirnya baru sempet nulis ini. Semoga belum lupa. Tapi rasanya kalau testimoni dari semua ibu yang kukenal, nggak ada yang bisa lupa sama momennya melahirkan. Bahkan sampai sudah 30 tahun lebih pun bisa masih ingat dengan detail kronologi di hari H.
Sedikit pengantar momen melahirkan itu: di hari sabtu, jadwal kontrol dokter obgyn di week ke-38 kehamilan. Lebih tepatnya 38w3d. Ketika diperiksa dalam, ternyata sudah pembukaan 1. Dokternya rekomen untuk aktivitas yang merangsang kontraksi supaya pembukaannya makin maju. Tapi tidak menutup kemungkinan bisa saja stuck di pembukaan 1 hingga seminggu.
Awalnya lumayan kaget, karena hari jumat-nya baru last day di kantor sebelum maternity leave. Sebelumnya memang beberapa kali bertanya-tanya nanti kalau sudah mulai maternity leave tapi anaknya belum lahir, masih menunggu kontraksi, mau aktivitas apa ya? Memang sempat berharap bisa segera lahir begitu mulai cuti melahirkan. Ternyata, langsung diberi pembukaan 1.
Tapi karena kata dokternya dibilang santai-santai saja dulu, jadi ya sudah kembali ke rutinitas pindahan di weekend. Di minggu subuh-subuh, setelah menemani suami sahur, ternyata kontraksinya mulai datang. Tapi masih ringan, dan bisa jadi kontraksi palsu. Rasa kontraksinya tidak ada apa-apanya dibanding rasa ngantuk, jadi ya lanjut tidur. Sampai paginya masih seperti ini. Mulai ada lendir darah. Mendekati siang rasanya makin kuat dan intens, akhirnya minta segera ke IGD RS. Lucunya, karena sedang pindahan, jarak dengan RS jadi cukup jauh.
Di mobil, rasanya engap-engapan kontraksi per tiga menit sekali, dengan beragam gujlukan di jalan. Selama sejam lebih perjalanan.
Sampai IGD, diminta menunggu dulu di kamar khusus pasien melahirkan, ternyata bidannya sedang ada emergency lainnya. Ke toilet, darahnya makin hebat. Ketika akhirnya bidannya datang, ternyata masih pembukaan 1, tapi dibilang kalau ini mulut rahimnya memang sedang menipis, mempersiapkan persalinan.
Karena masih pembukaan 1, hasil konsultasi bidan dengan obgynnya (by chat, obgynnya tidak ada disitu) diminta pulang dulu saja istirahat di rumah. Jalan-jalan rileks di rumah saja. Jujur memang saat itu kurang sreg diminta pulang dulu karena kontraksinya makin sakit dan bingung di apartemen pun harus apa yang bisa mengurangi sakit? Tapi yasudah diikuti, untung saja jarak dari RS ke apartemen memang dekat. Sebelum pulang masih sempat nangis dulu di IGD, karena sudah sesakit ini tapi masih pembukaan 1 saja. Disana disemangati oleh bidannya yang cukup keibuan juga. Rasa-rasanya saat itu lebih butuh psikolog daripada tenaga kesehatan.
Sampai di apartemen, ternyata malah makin nggak karuan. Malahan mendadak demam menggigil, nggak paham kenapa. Chat ke RS lagi tanya boleh minum paracetamol kah – ini dibolehkan. Lelah demam, ingin tidur, tapi kontraksinya bikin sangat sulit tidur. Nelpon beberapa orang, minta maaf dan minta support. Sakitnya sulit dideskripsikan. Akhirnya bisa memaksakan tidur-tidur ayam walaupun pasti kebangun setiap kontraksinya datang per 3 menit. Ketika sudah sore akhirnya benar-benar tidak tahan, magrib akhirnya kembali lagi ke IGD RS.
Ketika dicek lagi, ternyata masih pembukaan 1. Tapi mulut rahimnya sudah semakin tipis, katanya. Akhirnya mulai admin rawat inap untuk masuk kamar bersalin. Disini makin kebingungan. Supaya tidak terlalu sakit jika terlentang, mulai cari beragam posisi lain kontraksi datang – duduk di lantai, jongkok, bungkuk, jalan-jalan. Apapun itu. Tapi energi makin lelah. Cara ngomongku makin aneh jadi seperti anak kecil, saking kesakitannya. Setelah mencoba beragam posisi itu, akhirnya maju juga jadi pembukaan 2.
Setelahnya di ruang bersalin, sudah makin malam, tapi masih belum maju lagi. Sekarang makin intens, sulit dideskripsikan. Disuapin makan tapi cuma bisa masuk sedikit, sangat malas makan rasanya meski dibilang harus makan yang banyak supaya kuat nanti ketika ngeden. Mendekati tengah malam, ternyata sudah maju ke pembukaan 3. Mulai berasa ingin ngeden tapi dilarang, belum boleh. Mata udah sangat ngantuk, kepala pusing ingin tidur, tapi benar-benar nggak bisa tidur karena tiap 3 menit datang kontraksi hebat itu.
Disitu mulai berpikir: kalau pembukaan 3 saja sudah sesakit ini, dan sudah tidak ada energi (karena sulit makan dan hampir tidak mungkin tidur meskipun sangat ngantuk) nanti gimana sampai ke pembukaan ke-10? Gimana energi untuk ngedennya? ‘
Dan rasanya sudah sangat sakit. Sulit dideskripsikan. Belum pernah merasakan sakit yang sesakit itu. Ternyata begitu kontraksi yang sebenarnya.
Awalnya coba minta epidural, tapi tidak boleh karena katanya akan menghambat proses persalinan normalnya. Akhirnya mulai minta untuk operasi Caesar saja. Dokternya membolehkan, tapi paling cepat katanya di jam 6.30. Karena harus puasa dulu, harus persiapan, dan tim operasinya juga belum siap. Sedangkan saat itu baru jam 12 malam. Gimana ceritanya menahan sakit seperti ini masih 6 jam lagi?
Saat itu Ibu sudah datang juga dari Jogja, dan suami berusaha nego ke RS untuk bisa memajukan jam operasinya. Ketika kembali, alhamdulillah ternyata bisa maju di 2.30 – statusnya diubah menjadi SC cito, operasi Caesar karena emergency, bukan Caesar biasa yang terencana. Dengan konsekuensi tambahan biaya 30% dari operasi Caesar biasa. Karena menunggu proses approval dari asuransi akan lama, jadi kami iyakan dulu dengan jaminan pribadi. Diinfokan juga bhawa ini tidak bisa SC eracs (yang katanya pemulihannya lebih cepat) karena eracs perlu berbagai persiapan sebelumnya.
Lucu, memang, Tadinya sangat ingin mengusahakan lahiran pervaginam (normal) karena ingin recovery yang cepat dan ditemani suami selama proses persalinannya, karena kalau sc tidak bisa. Tapi di momen itu rasanya semua alasan sebelumnya jadi tidak penting. Mendadak berani untuk operasi sendirian, daripada harus bertahan kesakitan beberapa jam lagi. Memang, manusia hanya bisa berencana, sedangkan Allah yang menentukan.
Menunggu operasi, ada beberapa persiapan – akhirnya diberi obat anti nyeri meskipun tidak terlalu ngaruh, serta dibantu bidan dicukur untuk bagian kemaluan. Kontraksinya masih berlanjut, masih sama sakitnya dan intensnya, tapi rasanya jadi lebih bearable karena tahu sebentar lagi akan berakhir.
Sekitar 1.30 akhirnya masuk ke ruang operasi, pamit dengan suami dan ibu. Meskipun memang hanya jalan kaki karena ruang bersalin dan ruang operasi ini sebelahan. Di ruang operasi, ternyata masih disuruh tiduran dulu menunggu di ruang transit (ruang observasi). Obgynnya sudah datang, dan hanya tersenyum lebar melihatku “sudah nggak tahan kesakitan ya” komennya kecil sambil mengisi beberapa form.
Sebelum kesakitan karena kontraksi, tadinya takut untuk operasi sc karena merasa sendirian. Ternyata aku lupa kalau ya operasinya akan ditemani tim nakes. Melihat obgyn yang sangat positif dan menenangkan ini lumayan menghibur: merasa “well, I’m in good hands”.
Perawatnya mulai memasang infus, dan hebatnya lagi bidan yang daritadi menemani menunggu bukaan sekarang mendadak berubah peran dengan cepat menjadi asisten menyiapkanku untuk operasi. Isi berbagai form lagi. Menariknya, ruangan itu penuh dengan energi positif. Karena masih bulan Ramadhan, mereka malah berdiskusi menu sahur.
Perawat 1 (Perempuan): “sahurnya kupesenin burger McD aja ya oke??”
Perawat 2 (laki-laki): “hah nggak kenyang gaksih McD?”
Obgyn: “kenyang lah, burger kan!”
Obrolan-obrolan ini sangat lucu sebenarnya. Setelahnya aku baru diberi tahu juga dari testimoni saudara, kalau tim operasinya rileks, itu pertanda operasinya adalah hal yang sangat biasa bagi mereka, bukan hal yang extraordinary.
Tapi lucunya juga, aku disitu lumayan dicuekkan. Padahal kontraksinya masih datang dan pergi, tapi berjuang sendiri. Rasa-rasanya sangat tidak sabar untuk disuntik obat bius. Ironisnya, ternyata yang paling terlambat datang justru dokter anestesi. Urutan datangnya kurang lebih: obgyn – dokter spesalisis anak (DSA) – dokter anestesi. Begitu dokter anestesi datang, akhirnya aku mulai pindah ke operating theatre.
Sepertinya tugas bidan hanya mengantar sampai situ. Sampai di ruang operasi, kurang lebih timnya: obgyn (Perempuan) – DSA (laki-laki) – dokter anestesi (laki-laki) – perawat (1 laki-laki, 2 perempuan). Kurang merhatiin juga jika ada lebih dari itu. Ini salah satu yang lucu lagi, sebelumnya sengaja memilih obgyn perempuan dan ingin persalinan normal supaya full dihandle oleh perempuan, tapi ternyata akhirnya sc yang hampir tidak pakai busana di depan beberapa nakes laki-laki ini. Tapi, apa daya, memang emergency. Di sisi lain juga berpikir, dengan kondisi sudah sangat tidak karuan seperti ini, apa mungkin mereka nafsu, sepertinya tidak.
Ketika akhirnya operasi dimulai, mereka membacakan dulu pernyataan ini mau operasi apa dengan pasien siapa. Lalu akhirnya ke bagian yang ditunggu-ditunggu: dibius. Dibiusnya hanya setengah badan ke bawah. Kalau sebelum-sebelumnya, biasanya pikiran ketakutan bagaimana jika biusnya gagal dan masih merasakan nyeri? Atau sebaliknya, bagaimana jika malah tidak bangun? Tapi saat itu memang sudah pasrah dan berusaha afirmasi: I’m in good hands. Dokternya sudah berpengalaman, semestinya baik-baik saja.
Dibiusnya disuntik dari tulang belakang, dan kata orang-orang sakit. Tapi setelah menjalani kontraksi hampir 24 jam, jujur, rasa sakitnya tidak ada apa-apanya. Jenis sakitnya juga berbeda, karena ini jenis sakit dari jarum dan obat bius yang masuk ke sistem darah. Begitu biusnya masuk, efeknya tidak langsung instan. Perlahan-lahan. Dokter anestesinya berulang kali mengecek kondisiku, menanyakan apakah sudah mulai kebas dan seterusnya. Fokusku satu: akhirnya rasa kontraksi itu hilang juga, tertutup oleh bius.
Akhirnya operasi dimulai. Di awal yang kerasa agak sakit meski sudah dibius justru saat pemasangan kateter oleh perawat. Setelahnya, terasa sepertinya dokter obgyn mulai membedah perut. Lucunya, fokusku justru bukan disitu: fokusnya di rasa kedinginan. Karena separo badan ke atas masih bisa merasakan, di bagian atas – terutama tangan – sangat menggigil. Tidak karuan. Sedingin itu.
Obgyn, DSA dan perawat semuanya fokus di bagian bawah yang sedang dioperasi. Rasa-rasanya hanya dokter anestesi yang benar-benar mendampingi dan memperhatikanku.
Untungnya, tidak lama, akhirnya kedua dokter di bagian bawah ini mulai menekan-nekan mendorong perut. Dokter anestesi pun akhirnya ikut membantu menekan dorong dari bagian atas. Sampai akhirnya… plong seperti ada yang hilang dari badan. Mereka mulai sibuk konfirmasi ini jam berapa. Jam 3 subuh, katanya. Aku bingung, Bukannya ini berarti bayinya sudah berhasil dilahirkan, tapi kenapa belum terdengar tangisan?
Ternyata tangisannya datang agak terlambat. Lalu karena bayinya agak biru kedinginan, aku diinstruksikan untuk hanya mencium bayinya – tidak bisa Inisiasi Menyusui Dini (IMD) – karena bayinya perlu diberi oksigen. Akhirnya mendengar suaranya dan melihatnya. Tapi berlangsung sangat cepat.
Setelahnya, akhirnya dokter anestesi yang juga memberi instruksi untuk aku dipasang oksigen. Di bawah, terdengar lagi obgyn sudah melanjutkan bedah di perut, sepertinya mulai menjahit bekas sayatnya. Tapi setelah dipasang oksigen, atau memang kebetulan suhu ruangan sudah dinaikkan, akhirnya sudah tidak menggigil lagi. Hangat. Dan akhirnya… tertidur. Samar-samar sepertinya sempat mendengar dokter-dokter bilang sudah selesai atau sejenisnya.
Ketika terbangun lagi, ternyata operating theatre sudah sepi, hanya tinggal aku dan perawat. Semua dokter sudah pergi. Ternyata aku ketiduran saat sedang dijahit. Memang dari sebelumnya sudah sangat ngantuk ketika masih berkutat dengan kontraksi. Operasi sudah selesai, tapi bagian bawah masih terbius. Bayinya di kamar bayi, katanya sudah dilihat oleh keluarga (suami dan ibuku).
Setelahnya oleh perawat dibawa kembali ke ruang observasi. Ditensi rutin untuk cek kondisi. Dihimbau untuk tidur saja, karena mereka paham pasti daritadi sulit tidur ketika masih kontraksi. Tidur lagi. Sampai akhirnya ketika sudah masuk waktu subuh, dipindah dari ruang observasi ke ruang rawat inap. Saat proses pemindahannya, baru paham kenapa memang dibutuhkan perawat laki-laki: cukup sulit memindahkan pasien dengan bagian bawah yang tidak bisa bergerak, jika tidak ada energi yang cukup.
Setelahnya sampai kamar rawat inap, petualangan SC cito ini rasa-rasanya resmi berakhir. Dengan kaki yang masih kebas dan sakit pasca operasi yang akan menyusul, tapi itu cerita di lain waktu lagi. Cukup mengejutkan karena dengan SC, semuanya sangat cepat. Begitu cepat untuk melahirkan. Begitu cepat untuk akhirnya bertemu sang bayi yang selama ini ada di kandungan.
Begitu cepat… untuk akhirnya menjadi seorang ibu.**