Ujian. Seringkali manusia dihadapkan atas banyak ujian. Ujian dalam beribadah, ujian dalam hubungan sosial, ujian dalam keluarga, ujian dalam pendidikan maupun dalam perkerjaan.
Pada dasarnya ujian menjadi salah satu jalan bagaimana manusia seharusnya semakin dekat dengan Allah SWT. Bukan malah menyalahkan keadaan. Bahkan ujian juga menjadi salah satu penanda bagi kita untuk menapaki level keimanan yang lebih tinggi. Namun itu semua tentu dengan usaha dan perbuatan yang baik oleh manusia dalam menjalankan maupun menghadapi ujian tersebut. Bersabarkah kita, menyerahkah kita, mensyukurikah kita atau malah mengeluhkah kita?
Bagi seorang muslim yang beriman dan meyakini bahwa Allah adalah tempat mencari pertolongan, maka tidak ada tempat lain bagi kita untuk menundukkan wajah, mengucap pertolongan dan mengadu atas apa yang kita rasa kecuali kepadaNya.
Seperti sedikit kisah yang pernah saya dengar bahwa ada orang yang mengaku bahwa Tuhan itu tidak ada.
Apa benar Tuhan ada?
Buktinya masih banyak orang yang dipenuhi masalah, banyak orang miskin, banyak orang sakit.
Sebagai perumpamaan, mereka yang tidak percaya Tuhan bisa dianalogikan sepergi mereka tidak percaya dengan tukang cukur rambut.
Mana ada tukang cukur rambut?
Kalau ada tukang cukur rambut, kenapa masih ada orang yang berambut gondrong?
Maka penjelasannya, ya iya masih ada orang berambut gondrong, kan mereka saja tidak mau datang ke tukang cukur rambut. Begitu juga dengan Tuhan.
Bagaimana kita bisa mendapat pertolongan? Menyempatkan diri untuk meminta saja kita tidak pernah.
“Mintalah kepada-Ku pasti Aku akan kabulkan.” (QS. Al-Baqarah:185)
Dan yang perlu diingat. Disaat ujian-ujian sulit datang, ketika kita sudah berusaha, berdoa meminta dan ikhlas atas ujian itu. Percayalah bahwa kemudian pasti akan datang kemudahan.