Yang paling indah, yang paling cepat berakhir.
Reza Kumar
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
occasionally subtle
Monterey Bay Aquarium

Product Placement
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
RMH

titsay
Cosmic Funnies
$LAYYYTER
Sweet Seals For You, Always

roma★
macklin celebrini has autism
we're not kids anymore.
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH

pixel skylines
YOU ARE THE REASON
todays bird
Not today Justin
Noah Kahan

seen from Malaysia
seen from Canada
seen from Poland
seen from Nigeria

seen from United Kingdom

seen from Germany

seen from Belarus

seen from United States
seen from Singapore

seen from Austria
seen from United States

seen from United States
seen from United Kingdom

seen from United Kingdom

seen from Singapore
seen from India

seen from Malaysia

seen from United States
seen from United States

seen from Türkiye
@rzakumar
Yang paling indah, yang paling cepat berakhir.
Reza Kumar
Tanda Lahir
Suka atau Tidak Hari Tua Tetap Akan Datang
Saya tertegun ketika melihat popok. Namun, ini bukan popok untuk bayi dengan kemasan yang menampilkan sesosok balita mungil atau makhluk tak berdaya lainnya. Popok ini ditujukan untuk orang tua. Sehingga saya keheranan apakah pekerjaan semudah buang air merupakan masalah besar untuk mereka? Dan saya merasa berdosa ketika mengajukan pertanyaan itu meski hanya terucap di dalam hati. Kemudian bertanya-tanya apakah manusia terlahir dengan ketergantungan kepada popok, dan berakhir juga dengan ketergantungan kepada popok?
Membayangkan diri saya kehilangan kemampuan untuk ke kamar mandi dan buang air rasanya menyeramkan, memakai popok lagi juga rasanya memalukan. Hari Tua adalah bayangan neraka yang menyusup ke dalam kepala saya dan memberi gambaran yang sama memilukannya ketika melihat orang-orang yang sudah lebih dulu menjadi tua hidup di sekitar saya. Kadang saya ingin mendekati mereka dan bertanya bagaimana rasanya menjadi tua? Dan apakah menjadi tua artinya tidak ada lagi orang-orang yang memerintahmu? atau apakah ada seseorang yang memberikanmu jaminan hari tua dan memberitahu kalau hari-harimu akan terasa menyenangkan tanpa terdengar seperti tipuan?
Tapi saya tidak pernah benar-benar menginterogasi mereka satu per satu, barangkali anak-anak mereka akan menghalangi upaya saya yang penasaran dengan menjadi tua dan menganggap saya orang yang terlalu muda untuk menjadi gila. Saya juga penasaran bagaimana rasanya berjalan dengan tongkat?
Satu hal yang pasti saya rasakan ketika menjadi tua adalah; tidak lagi muat menyusup ke kolong tempat tidur, tidak lagi tertarik berlari-larian di pusat perbelanjaan, dan tidak lagi menganggap kalau power ranger itu nyata.
Membicarakan hari tua dengan anak muda adalah hal paling sia-sia yang pernah saya lakukan, jadi, saya menyingkirkan teman-teman saya yang seumuran untuk menghindari konflik pembahasan yang serius. Jadi, mencari teman yang umurnya jauh lebih tua dari saya adalah sebuah langkah konkret.
Teman saya, yang jauh lebih tua dari saya bernama Samuel, sudah lebih mempersiapkan hari tuanya, kemudian menceritakan tentang jaminan hari tuanya dengan membuka toko mainan. Awalnya saya berpikir apa yang bisa dihasilkan dari sebuah toko mainan. Dan tidak perlu waktu lama untuk tersadar bahwa mainan adalah sesuatu yang tidak akan punah, kecuali para manusia mulai melahirkan bayi-bayi alien yang tidak bisa dihibur dengan robot plastik atau squishy atau lego. Saya juga mulai berpikir untuk membuka toko mainan. Sebab bayi akan terus datang ke bumi, dan mereka memerlukan mainan yang bisa digigit atau dihancurkan tanpa membuat orangtua mereka rugi besar.
Samuel juga berkata kepada saya kalau hari tua adalah soal jaminan. Seperti bayi yang terlahir di bumi, seseorang menjamin bayi itu untuk tetap hidup, entah itu orangtuanya, atau dokternya, atau suster yang mempunyai kebiasaan menculik bayi, atau pendeta yang menemukan seorang bayi di depan pintunya. Bedanya, tidak ada yang bisa menjamin apakah bayi itu akan tumbuh menjadi seseorang yang dipenuhi kelimpahan dan kebahagiaan. Sementara itu, menjadi tua adalah proses yang kurang lebih sama, namun proses menua memberikan kesempatan kepada setiap manusia untuk menentukan kehidupannya kelak. Dalam keadaan seperti ini, lantas saya teringat kalimat fenomenal Bill Gates; “Jika kamu terlahir dalam keadaan miskin, itu bukan kesalahanmu. Tapi, jika kamu meninggal dalam keadaan miskin, itu salahmu.”
Saya mulai menemukan titik terang. Menjadi tua dan tetap bisa hidup normal adalah sesuatu yang tidak didapat secara gratis. Bagaimanapun juga saya harus memakai popok sendiri saat sudah tua. Dan membeli sarapan quacker yang harganya jauh lebih mahal ketimbang nasi uduk di pagi hari. Gagasan tentang membuka usaha memang terdengar menarik, tetapi sebagai pelaku usaha yang telah mengalami kegagalan sebanyak empat kali, terlilit hutang dua kali, kadang saya terus berpikir ulang untuk kembali menginjak dunia membuka usaha. Iming-iming yang membuntuti di balik gagasan membuka usaha memang membuat pandangan saya tertutup bayang-bayang kesuksesan, seperti mengadakan sistem franchise, memimpin dua ratus orang karyawan, duduk di meja setiap malam sambil menghitung pendapatan harian, membuat blog tentang mainan anak, dan menua dengan tenang.
Membuka usaha artinya memberikan saya kebebasan, perjalanan menuju hari tua dengan penuh kebebasan terdengar menarik, tapi saya memikirkan apakah ada jaminan pensiun yang bisa diandalkan seandainya saya sudah harus mulai memakai popok dan pikun. Dan yang lebih penting dari itu, apakah saya akan menua dengan hati senang dan menerima segalanya dengan lapang dada tanpa merasa segala sesuatunya benar-benar berubah.
Dengan membuka usaha toko mainan, barangkali saya tetap bisa menua sambil dikelilingi barang anak-anak kecil, dan ketika saya memainkan salah satu di antaranya, saya berharap tidak menjadi orang aneh. Berhadapan dengan pelanggan yang suka menawar, anak-anak kecil yang sudah merusak sebelum membeli, pemesan yang menghilang setelah pesanannya siap, dan rangkaian-rangkaian yang bisa membuat seseorang cepat tua karena marah-marah bukanlah mitos belaka.
Menjadi tua bukanlah pilihan. Suka atau tidak, hari tua akan tetap datang dan menjalaninya sebagai hari-hari yang normal kadang menantang, kadang membosankan. Saya belum pernah mengerti bagaimana rasanya bosan terhadap kehidupan, apakah rasanya sama seperti bosan mendengar lagu yang terus-terusan diputar, atau film yang terus-terusan ditonton.
Hari tua datang seperti pagi, diam-diam dan tidak disadari. Tapi, terbangun dan disambut seorang cucu terdengar menyenangkan, kelak saya bisa memamerkan popok saya kepada cucu saya yang masih balita. Atau barangkali jika pada akhirnya saya menjadi tua dan sebatang kara, setidaknya saya akan keluar dari rumah dan mendapat sambutan selamat pagi dari tetangga-tetangga saya yang masih muda. Berdiri di pinggir jalan, berpegangan dengan tongkat kayu pemberian panti jompo, menunggu taksi datang, berangkat ke supermarket untuk membeli popok, kemudian menuju toko mainan milik saya.
Hanya Matahari yang Turun ke Bumi
Saya mengenal seseorang yang pernah menenggak pestisida cair dan selamat. Sehingga saya bertanya-tanya apakah keadaan air di rumahnya sudah mencapai titik yang lebih berbahaya dari racun dan meminum pestisida adalah pilihan terakhir. Lalu dia menjelaskan kepada saya kalau tindakannya itu dilakukan karena patah hati. Lantas saya bersyukur, kejadian ini bukan karena air menjelma menjadi sesuatu yang lebih buruk dari pestisida.
Tapi, sejauh ini belum ada gagasan yang menjamin bahwa air di kampung halaman saya, Jakarta, tidak akan berubah menjadi racun. Kali tinja di sungai Ciliwung menyimpan 41.000.000 pasukan bakteri dan bagaimana jumlah itu tetap membuat orang-orang di sekitarnya tenang adalah sebuah keajaiban.
Fakta bahwa sungai adalah salah satu sumber kehidupan selain jantung yang berdetak membuat saya penasaran mengapa ada tiga belas sungai yang bisa tercemar parah sehingga tidak cukup pantas untuk mengaliri tenggorokan orang-orang Jakarta.
Sungai Krukut yang tercipta dengan panjang empat puluh kilometer barangkali adalah jalur yang paling diincar para bakteri jika mereka ingin memulai perang dengan manusia, sebab di sinilah air bersih dan layak masuk ke tenggorokan masih mampu bertahan dan PAM Jaya melindunginya seolah-olah itu adalah bayi yang suatu hari nanti kelak menjadi raja atau Sultan. Meski setiap hari kita meracuni air-air bersih itu dengan daki di tubuh atau minyak di piring—dengan harapan Sungai Krukut tidak menyadari ini sehingga berhenti memberikan kita air bersih—berupaya tidak membunuh seluruh air bersih itu adalah salah satu usaha mengulur waktu agar orang-orang yang bekerja di Air Limbah punya kesempatan mengubah itu semua menjadi air yang hidup lagi.
Saya percaya bahwa ada beberapa pekerjaan yang mulia di dunia ini. Dan saya yakin bahwa orang-orang yang punya ketertarikan pada air yang sudah diludahi atau dikencingi dan memikirkan cara agar air-air itu bisa kembali dipakai adalah salah satu pekerjaan yang juga mulia. Maksud saya, apakah kita pernah benar-benar memikirkan kemana perginya seluruh air kencing kita. Orang-orang yang bekerja di Air Limbah memikirkan itu.
Jika ada seseorang bisa menyelami kehidupan bawah tanah dan mampu kembali sambil membawa jawaban, saya hanya mempunyai satu pertanyaan untuk di jawab;
Masih adakah air di sana untuk umat manusia?
Air adalah sumber kehidupan adalah slogan yang berusaha mempertahankan integritasnya, sebab ada orang-orang yang menganggap bahwa membuang-buang air adalah hal yang tidak mengandung dosa, dan menganggap air adalah komponen yang hanya akan seru jika dimainkan dengan cara dibuang. Seperti saya kala berusia 11 tahun. Dan disadarkan lewat banjir besar Jakarta pada tahun 2007.
Kala itu, saat saya berencana mencari ikan di sebuah pabrik yang direndam banjir setinggi lutut, saya merasa amat bahagia. Banjir yang notabenenya adalah bencana adalah wahana permainan bagi anak-anak kecil. Waktu itu listrik pun mati sehingga kami benar-benar dipaksa kembali ke zaman purba. Sejujurnya itu tidak menjadi masalah besar bagi saya, karena saya sudah tidak sabar menerjang banjir dengan menggotong saringan pada siang hari dan mengumpulkan air untuk mandi di malam hari.
Mengumpulkan air bersih adalah bencana yang sesungguhnya bagi saya, karena saya harus memandangi pipa kecil yang tertanam di depan kamar mandi, memastikan pipa itu mengucurkan air dari tanah dengan kekuatan yang lemah ke sebuah baskom sambil berjongkok. Sejak saat itu, setiap saya mandi, saya berhenti menjadikan segayung penuh air sebagai topi (meski hal itu amat menyenangkan untuk anak seumuran saya).
Banjir dan kekeringan air adalah sebenar-benarnya kiamat yang pernah dialami Jakarta. Keduanya tidak memberi ruang untuk air bersih sumber kehidupan. Dan saya khawatir jika kiamat benar-benar datang, saat matahari mulai turun ke bumi, orang-orang Jakarta akan berteriak.
Oh! Tenang saja! Kita pernah kebanjiran dan kekeringan air! Ini hanya matahari yang turun ke bumi!
Nama : Reza Reinaldo
No Hp : 08992553070
Tempat Tinggal : Jalan Cendrawasih V, Griya Rajawali Bintaro Blok C no 38, Sawah Baru, Ciputat, Tangerang Selatan.
Pekerjaan : Karyawan
E-mail : [email protected]
Dewa Yunani hanya Mencuri Api
Ibu saya terlalu menakuti hal yang tidak akan pernah terjadi. Fakta bahwa rumah kami tidak akan pernah kemasukan air banjir tidak mengubah keputusannya untuk tetap mengangkut semua barang dari lantai satu ke lantai dua. Itu bukan pekerjaan mudah, pertama-tama ada sofa yang mampu menampung empat orang sekaligus, kemudian barang-barang yang tidak pernah terlalu kami perhatikan di lantai satu kini berubah menjadi momok menakutkan yang merengek minta digotong.
Ini terjadi pada tahun 2007 di Jakarta, kalau saya tidak salah ingat. Yang pasti saat itu saya sudah diperbolehkan untuk pergi ke luar untuk mencari ikan-ikan kecil di suatu lahan bangunan yang kebanjiran, jadi, tidak mungkin kalau kejadian banjir besar ini adalah tahun 1996, sebab saya baru lahir saat itu.
Rumah kami mengalami mati listrik paling lama sepanjang sejarah kehidupan saya. Empat hari. Dan cukup dalam waktu empat hari membuat kami—warga Kali Deres—mengalami kemunduran evolusi sosial. Sekaligus mengharuskan saya untuk berjongkok di kamar mandi terbuka untuk memandangi air tanah yang berasal dari pipa manual mengisi baskom-demi-baskom dan menuangkannya ke tangki air. Sebab mati listrik hanya membuat kipas angin dan lampu dan pemompa air mati, usus kami masih menyala untuk menyalurkan kotoran, dan tubuh masih terus memproduksi bau badan.
Ada perbedaan antara air tanah dengan air yang dihasilkan mesin bersuara bising itu dan secara otomatis bakal memenuhi tangka air kami yang berada di atap. Air tanah membuat pinggul saya yang kala itu masih berusia 11 tahun berubah menjadi pinggul seorang pria 35 tahun yang sebagian besar dalam hidupnya dihabiskan untuk kayang. Singkatnya, mengumpulkan air bersih saat mati listrik adalah pekerjaan yang sama sulitnya dengan mencari berlian di sungai-sungai Sierra Lione.
Sempat berpikir kalau saya ini adalah anak tiri sehingga tugas seberat itu diberikan kepada saya, bukannya kepada kakak perempuan saya yang sudah berumur 17 tahun, yang dilengkapi dengan tulang kuat karena sering dicekoki minyak ikan rasa jeruk. Saya juga dicekoki minyak ikan itu, tapi tulang saya masih seperti karet yang bakal terhuyung saat mengangkat sebaskom air. Sehingga air bersih yang sudah saya kumpulkan tidak pernah benar-benar penuh. Tapi, ibu saya berkata kalau pekerjaan mengangkat air bukanlah pekerjaan perempuan.
Ayah saya, yang diberkahi keajaiban berupa kepercayaan diri meski tidak mandi, bisa-bisanya terus mengobrol dengan pak RT di pos seolah-olah hal itu akan membuat seseorang menyelam dan memperbaiki gardu listrik. Entah mereka membicarakan apa, tapi, pada akhirnya ayah saya mengeluarkan genset yang didapatnya secara gratis dari kantor dan mempertunjukannya ke warga dengan sedikit pamer. tapi, genset itu hanya mampu mengisi baterai handphone, banyak tetangga yang berkumpul di depan rumah saya dan membawa kabel charger, tapi tidak ada satu pun yang menawarkan diri untuk membantu saya mengangkat sebaskom air bersih.
Setiap kali saya berjongkok dan mengalami kesemutan parah, saya membayangkan nikmatnya mandi di siang hari yang panasnya mengingatkan saya pada neraka. Saya akan menyalakan kran air selama saya mandi dan mengguyur tubuh berkali-kali menggunakan gayung dengan tujuan yang amat tidak berfaedah. Kulit saya akan terasa mati rasa jika diguyur secara berkali-kali tanpa henti, sehingga disiram air atau tidak bakal terasa sama saja. Tapi, kran tetap menyala dan guyuran tetap berlangsung. Dan dalam saat-saat itu, saya menganggap membuang-buang air di kamar mandi dalam keadaan telanjang adalah hal yang tidak mengandung dosa.
Bayangan-bayangan itu membuat saya semakin kuat mengangkat baskom berisi air bersih, dan berupaya tidak terhuyung agar tidak ada setetes pun yang terbuang. Saya membayangkan baskom itu berisi bayi kecil tak berdaya yang kelak bakal menjadi raja atau sultan.
Sejujurnya, saya tidak pernah khawatir kehabisan air saat itu, saya hanya anak 11 tahun yang menganggap air adalah komponen seru yang dimainkan dengan cara dibuang. Dan setelah pinggul saya mengalami ospek terhebat dan telapak kaki saya menjadi sasaran empuk kesemutan, kini saya sering membudget air untuk mandi. Apa yang bisa saya perbuat pada air dan apa yang bisa air perbuat pada saya adalah sebuah kisah cinta antara manusia dengan alam.
Dan sejauh ini saya hanya dapat menemukan kisah Prometheus yang mencuri api dari Gunung Olimpus untuk diberikan kepada manusia. Yang artinya, belum ada dewa Yunani yang mencuri air untuk diberikan kepada manusia.
Nama : Reza Reinaldo
No Hp : 08992553070
Tempat Tinggal : Jalan Cendrawasih V, Griya Rajawali Bintaro Blok C no 38, Sawah Baru, Ciputat, Tangerang Selatan.
Pekerjaan : Karyawan
E-mail : [email protected]
What a Night
Kepulanganku. Aku harap akan memiliki intensitas yang sama ketika seorang anggota militer yang kembali setelah bertahun-tahun meletakkan nyawanya di Afghanistan atau perbatasan Pakistan-India.
Baiklah. Itu masih rencana dan ekspektasi.
Kembali ke Desember 2011. Satu malam yang ditunggu-tunggu; malam tahun baru, sebagian besar dihabiskan dengan kepulan asap shisha dan remahan keripik kentang murahan yang dapat kau temukan di persimpangan jalan manapun. Kedengarannya itu malam yang sepi dan menyedihkan, tapi tidak masalah karena ini Malam Tahun Baru. Tidak semua orang melewati malam yang mewah. Pada intinya, semua akan menjalani malam bersama-sama. Dan benar-benar tidak akan menjadi masalah jika kau melewatkannya dengan seseorang yang menawan. Sesorang yang akan kau nikahi. Membicarakan gaun dan rumah di tengah danau dan anak-anak dan ayunan dan kolam bebek.
Hampir kami membicarakannya. Tapi, seseorang yang berada di distrik 6 sedang tidak menggunakan otaknya dan yakin kalau Petasan Dalam Rumah akan menjadi opsi terbaik saat mati lampu. Secara teknis, dia benar. Rumahnya tidak lagi gelap. Rumahnya membara.
Aku pikir, aku sedang libur. Tapi suara Kapten Osman seperti sedang terpanggang matahari pada hari Senin di bulan Oktober. Meninggalkan keripik kentang yang tinggal setengah dan gema suara yang berbunyi kau-bilang-kau-libur.
Menjadi Pemadam Kebarakan memang tidak mudah. Tapi, setidaknya kami belum pernah mendapat panggilan dari neraka. Butuh air yang banyak untuk memadamkan neraka.
Kami sampai di distrik 6 dan saling meledek tentang hari libur. Asap hitam terlihat sedang membentuk sesuatu. Api menikmati rumah itu. Benar-benar menikmatinya inci demi inci. Terlihat dari polanya yang rapi, volumenya yang stabil, dan goyangannya yang kompak mengikuti arah angina. Mungkin aku terdengar brengsek, tapi para pemadam kebakaran tidak dididik untuk menganggap api adalah kiriman iblis, kami menganggap api adalah perempuan. Perempuan yang dipenuhi nafsu.
Nick dan Harper sudah menyemprotkan air. Ini tidak terlalu berarti selama kau tidak menemukan titik api. Setidaknya kami menenangkan para warga sekitar terlebih dahulu.
Aku meninju lebih dulu pelaku-tak-punya-otak yang menyalakan petasan. Seorang remaja gemuk yang akan memakan otaknya sendiri andai kehabisan cokelat. Tidak perlu repot-repot mencari, remaja itu masih tetap menggenggam pemantik api. Ia terlalu panik untuk melepaskan pemantik itu dari genggamannya, seolah-olah semua akan aman kalau kau menggenggam sesuatu.
Ibunya—menurut pendapatku—menghampiriku dan berkata “Sir, tolong—“ aku sudah menyiapkan kata-kata kalau harta dan surat-surat kini sudah menjadi masalah berhirarki rendah, jadi aku tidak akan mau masuk ke dalam untuk menyelamatkan itu semua. “Anak perempuanku.” Dan kalimat pelengkapnya bukanlah masalah berhirarki rendah. Aku akan mencari titik api, kataku.
Pakaian anti api tidak benar-benar tahan api seperti rompi anti peluru tidak benar-benar tahan peluru. Mereka hanya harus mencari celah. Dan api adalah pencari celah terhebat setelah air. Aku mengetahui itu, tapi, dokter tidak akan berkata pada pasien yang sudah terkena kanker untuk pasrah dan menanti ajal, paling tidak mereka mencoba, untuk uang dan moral kepahlawanan.
Aku mulai merasa bersalah pada makanan yang pernah kupanggang setelah masuk ke dalam rumah itu. Anak perempuannya terjebak di dapur dengan semangkuk makaroni hangus. Dia bersembunyi di bawah meja marmer. Urusan selesai. Ternyata belum. Dapur itu memiliki akses jalan yang sempit dan setelah aku masuk, sebuah lemari raksasa tumbang dan menutupinya. Ini adalah kisah klise untuk para pemadam kebakaran. Kau-masuk-dan-terjebak. Apalagi?
Aku bergabung ke kolong meja. Ini bukanlah misi penyelamatan. Aku mempersempit ruang untuknya. Dia bertanya kenapa aku masuk dan aku menjawab aku akan menikah. Itu bukan jawaban yang logis dan tidak menjawab apapun. Tapi, aku benar-benar tidak mau selingkuh dengan “Perempuan” ini. “Perempuan” ini tidak ramah dan panas dan akan memeras tabunganku dan memperbolehkan dirinya sendiri untuk terus selingkuh dengan pria lain. Dia egois pada dasarnya.
Aku tidak menyelamatkan sorang anak kulit hitam yang mainannya sedang diinjak-injak oleh anak kulit putih. Aku tidak menembak seorang pemburu gading gajah. Aku hanya pergi sejauh 30 kilometer dari rumahku. Hanya distrik 6. Ini adalah jejak karirku dan tidak akan disebut pahlawan andai berhasil lolos dari sini dan akan disebut si-tolol-yang-ceroboh jika mati. Beda cerita kalau aku adalah orang asing yang tiba-tiba menawarkan diri untuk melakukan penyelamatan fantastis.
Mencetak gol di final piala dunia, menjadi orang pertama yang menginjakkan kaki di mars, dan semua lamunan itu menjadi fantasi saja daripada kemungkinan. Dan aku mempertimbangkan Selamat Dari Kebakaran Malam Tahun Baru berada di sisi yang mana. Aku mengecek jam tanganku; 00.02. Aku sudah setahun terjebak di sini.
Sambil menunggu penyelamat lain datang. Aku memikirkan orang-orang yang pernah lolos dari maut dan orang-orang yang berbicara tentang api. Dan aku teringat John Milton berkata; Namun dari api itu. tidak ada cahaya, hanya kegelapan yang nyata.
Aku bertanya-tanya apakah John Milton ini pernah sekolah atau aku yang terlalu tolol memahami metafora.
Jam Cinderella
Jika misteri memang diciptakan untuk membatasi akal manusia, mungkin orang-orang yang memecahkan misteri merupakan jelmaan setan. Dan tidak bisa kutolak ajakan ini, untuk menjadi setan. Mencari tahu kemanakah Edurne setiap sore, setiap matahari mulai menunjukkan sisi-sisi kelemahannya, apakah dia anak senja yang suka dibicarakan banyak orang? dia kembali ke rumahnya di matahari sana? diperlakukan dengan keadilan yang sama sekali tidak membuat siapapun merugi? Ya, jangan pernah bicarakan keadilan di bumi ini, kawan lama. Dia bermain-main dengan jam Cinderella, batasan-batasan waktu yang memuakkan. Oh, ya Tuhan, biarlah dongeng tetap menjadi dongeng dan jangan pisahkan aku dengan Cinderella-ku semenit pun, jangan membuatku khawatir akan alasan hidupku, Jane Eyre-ku, Mademoiselle-ku. Sebab ketika seluruh umat manusia mempertanyakan kelenyapannya yang taat itu, aku hanya bisa menjawab; “Parce-que je ne sais pas, mes chers. (karena aku tidak tahu, sayangku.)
I want to tell You a Story
Ketika lawan bicaramu berkata; “Aku mau menceritakanmu sebuah kisah.” Kau harus mengakui bahwa mengubur ketertarikan aneh yang disebabkan olehnya merupakan hal yang sia-sia.
Kau akan diam, seolah siap berdoa, menunggu, menerawang bola matanya, meragukan kalau yang terpendam di situ bukanlah mata namun safir hitam, memperhatikan getaran di bibirnya, seakan hal itu membuat lawan bicaramu lebih cepat memulainya, mencondongkan tubuh bila perlu, mempersempit ruang udara agar hanya dirimu yang mampu mendengar kisah itu, lalu mempersiapkan jalur khusus dari telinga menuju kepala untuk membayangkannya.
Tapi, apa yang akan terjadi andai lawan bicaramu tidak melanjutkannya? Dia hanya berkata “Aku mau menceritakanmu sebuah kisah.” Dan setelah itu dia diam. Dia tidak berkata apa-apa, namun tetap memandangmu dengan ekspresi yang memperjelas bahwa isi kepalanya padat, seolah dia akan menceritakan kisah itu tapi ragu-ragu, seakan di dalamnya menyimpan rahasia paling kelam sepanjang sejarah umat manusia. Lalu kau tetap menunggu, membalas tatapan matanya, seolah berkata kau siap mendengar segala kisah heroiknya, tidak berani bertanya kapan cerita itu dimulai karena takut lawan bicaramu tersinggung, serba berhati-hati dalam mempertahankan sikap ingin tahu itu. Dan dalam momen itu, dirimu dikuasai rasa penasaran yang menggebu-gebu namun tak boleh di pertontonkan, tidak sedikitpun berpikiran bahwa lawan bicaramu penuh omong kosong, kau yakin bahwa di dalam kalimat pembukanya tersimpan kisah hebat yang perlu waktu untuk merajutnya.
Dan apa yang akan kau lakukan andai lawan bicaramu itu tetap diam selama satu tahun atau satu abad? Aku yakin, kau tetap menunggunya. Sebab dua orang yang saling jatuh cinta dan bisu, selalu diberi kelebihan berupa kekuatan untuk menunggu, dan diberi kekurangan berupa keberanian.
Daisy
Ya
Tidak
Ya
Tidak
Ya
Tidak
Baiklah, tidak.
Mahkota Bunga Daisy selalu menemukan jalan untukku. Paling tidak untuk pertanyaan yang hanya melibatkan ya atau tidak. Aku tidak mengerti, tapi petikan terakhirnya selalu menyelamatkanku dari malu berkepanjangan. Mr. Loewis menyukai bunga Daisy, dia yang mengajarkanku untuk meminta jawaban pada bunga, awalnya kupikir itu konyol. Tapi ternyata tidak sekonyol yang kukira. Mr. Loewis membangun kebun khusus untuk bunga kesukaannya itu, ia berkata bahwa bunga ini menyimpan daya magis, warna putih dan magis selalu diibaratkan sebagai sesuatu yang baik. Aku tidak pernah bertanya bagaimana cara kerjanya, tapi suatu waktu aku pernah melihat Mr. Loewis begitu murung, ia memutuskan untuk menuju kebunnya dan sekembalinya dari sana kemurungan itu seperti dimangsa hidup-hidup tanpa bekas. Aku pikir itu cukup membuktikan bahwa kemagisan itu ada.
Aku jatuh cinta pada Mr. Loewis. Dia seorang duda tanpa keturunan yang tinggal di istana. Beruntung Tuhan memilihku menjadi salah satu tukang jahit Mr. Loewis. Ia bilang kalau aku punya selera yang unik dan senyum yang halus, dia suka kepribadian yang baik diiringi dengan anugerah Tuhan berupa keterampilan. Itulah sebabnya dia akrab dengan seluruh pelayan. Aku tidak pernah merasa segila ini, tidurku seperti dikejar sosok menyeramkan dan siangku seperti siksa andai Mr. Loewis tidak mengecek pekerjaanku. “Kau hanyalah tukang jahit.” Kadang suara itu muncul dari dalam diriku, mengingatkanku bahwa bumi masih bulat dan matahari masih panas, apa yang membuatku berpikir untuk mencintai pria yang jelas-jelas terancam gila oleh Miss Dysie.
Miss Dysie merupakan bukti bahwa Tuhan pernah begitu bahagia saat menciptakan umatnya. Dan saat aku berkaca, aku melihat Tuhan yang sedang—mungkin—kesal. Mr. Loewis sering bercerita padaku tentang Miss Dysie, bidadari yang tersesat di kota sebrang, kata pria yang kukagumi itu. Sesuatu yang paling membuatnya heran adalah nama Miss Dysie yang ejaannya sama ketika mengucapkan Daisy, bunga kesukaannya. Ia memberiku waktu satu hari untuk mengomentari gagasannya, dan aku menggunakan bunga Daisy untuk menentukan apakah aku harus berkata kalau gagasan itu konyol atau malah mendukungnya. Dan, aku harus mendukungnya. Baiklah, kalian tahu apa yang terjadi setelah aku mendukungnya? Aku dipeluk. Ya, benar, pelukan yang hangat dan lebar, pelukan paling harfiah, pelukan yang secara sengaja membuat tubuh telanjang kami bisa saja menempel andai tidak ada pakaian yang melapisinya.
“Aku tahu! Aku tahu! Sahabatku, aku tahu sejak awal kalau kau, si penguasa senyum terhalus sedunia, adalah sahabatku!” kata Mr. Loewis setelah pelukan kami berakhir.
Aku selalu menunggu. Tidak pernah tahu apakah tindakan itu semacam teknik untuk mencari waktu yang tepat atau salah satu kebodohan umat manusia. Sambil ditemani bunga Daisy, diam-diam terus mengorek takdir dan perantaranya untuk kepentingan pribadiku. Apa aku harus mengatakannya? Tiga kata keramat itu? Aku cinta kepadamu, yang berefek panjang untuk diriku atau orang yang bersangkutan, apa yang kutawarkan? Cintaku yang begitu miskin, tanpa harta atau koneksi? Kenapa Mr. Loewis harus menerima cintaku andai ia bisa menaklukkan Dewi Athena? Lantas, kenapa makhluk mungil ini diberi kutukan berupa ketertarikan aneh pada seorang duda? Di sisi lain, Mr. Loewis berubah. Kupikir, orang-orang yang masih diberi akal sehat sepakat bahwa pria yang sedang jatuh cinta merupakan makhluk yang menjijikkan. Tapi, bukankah hal yang sama juga terjadi kepada si perempuan?
Bermain-main dengan keberuntungan yang tidak dijanjikan oleh siapapun kecuali diri sendiri ternyata lumayan asyik. Dan lewat permainan itu terkadang aku mendapat semacam wahyu berupa keyakinan. Misalnya, aku menghitung jumlah lukisan yang ada di istana itu, sambil berkata dalam hati ‘andai jumlah lukisannya genap, maka Mr. Loewis akan menerima cintaku’ dan aku mendapati 26 lukisan. Atau saat aku sedang menggulung benang dan bersiap melemparnya ke dalam tong sampah, terkadang, aku melemparnya dari jauh sambil mempertaruhkan diriku sendiri; ‘andai tidak masuk, aku akan keluar dari istana ini’ dan lemparanku tepat sasaran.
Para malaikat membantuku, mungkin mereka ingin menanamkan tanda dalam kepalaku yang dipenuhi prasangka-prasangka ini. (untuk diketahui bahwa gagasan itu mungkin terdengar gila, tapi itulah yang terjadi saat kalian jatuh cinta)
Pagi itu aku membawa setangkai bunga Daisy. Tidak yakin, tapi sepertinya tetap harus kucoba. Sudah terlalu banyak petaruhan yang kumenangkan akhir-akhir ini. Tidak pernah satupun yang meleset. Dan mungkin kali ini bunga Daisy akan memberiku jalan yang benar. Aku memetik bunga itu tanpa melihat, atau bahkan mengintip jumlah mahkotanya agar tidak menimbulkan kecurangan dari dalam diriku sendiri. Aku akan mencobanya sekali lagi. Untuk menjawab pertanyaan yang menyerupai kanker; Apakah aku harus menyatakan cintaku pada Mr. Loewis?
Aku memulainya;
Ya
Tidak
Ya
Tidak
Ya
Tidak
Ya
Tidak
Ya
Mahkotanya habis.
Jantungku berpacu, tubuhku memanas. Aku harus mengatakannya?
“Oh Jeanette!” seru suara yang memanggil namaku. Aku tidak bisa mengidentifikasi suara siapakah itu. Tapi telingaku dengan jelas menangkap keseluruhan isi kata-katanya. “Kau tidak boleh mengotori lantai gereja sekalipun dengan mahkota bunga Daisy. Mr. Loewis dan Miss Dysie sedang mengikrarkan janji!”
I Came, I Saw, I Lost
Luka kecil dalam diriku jahitannya dibuka.Yakin bahwa itu artinya ada sesuatu yang sudah sembuh, ternyata malah memperlihatkan luka lain dengan tampilan baru. Kehadirannya menawarkanku banyak hal. Selain memperjelas fakta bahwa segala apapun yang menyatu akan hancur, dirinya akan menjadi zat yang dihirup, sementara tubuhnya menjadi makanan bagi makhluk lain.
“Indah sekali di sana.” Itu kata-kata terakhir Thomas Edison. Dan gadis itu menunjuk langit. Seolah menandakan suatu saat dia juga akan bergabung ke sana, menyatu dengan konstelasi, mengajakku, dan bersama-sama menjadi makhluk yang mengambang.
Aku datang ke rumahmu, melihat dua makhluk kecil yang mengitarimu tanpa henti, dan benar-benar kalah saat salah satu dari dua makhluk itu bertanya; Ibu-Dia-Siapa.
Review Go Set A Watchman
Judul : Go Set A Watchman
Pengarang : Harper Lee
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Terbit : 2015
Harga : Rp. 74.000,-
Tebal : 285 halaman
Cover : Soft Cover
ISBN : 978-602-1637-88-3
Rating : 4 / 5
“Kesetaraan untuk semua orang, tak ada keistimewaan bagi siapapun.”
Pertama, penulis review ingin mengingatkan untuk para pembaca To Kill A Mockingbird bersiap menerima fakta-fakta yang agaknya membuat kita sedih sejenak. Oh Jeremy..
Seperti yang tertulis di sinopsis pada bagian belakang novel ‘dan dia pun bukan Scout yang polos lagi’. Tidak sepenuhnya benar. Masih ada beberapa bagian yang menunjukkan kepolosan Scout.
Menggunakan sudut pandang orang ketiga, Harper Lee tidak menguasai Jean Louise Finch secara utuh. Gadis—yang sudah—26 tahun ini kembali ke kampung halamannya, Maycomb, setelah merantau dari New York untuk menjalani kuliah atau semacamnya. Dia menemui pacarnya, Henry, dan ayahnya yang heroik, Atticus Finch, dan juga bibinya yang masih bersikeras membuat Jean menjadi wanita terhormat, Alexandra.
Suasana hukum dan politik begitu kental di sini. Jean Louise yang pada dasarnya dididik menjadi seorang pribadi yang melihat orang lain hanya sebagai ‘manusia’ dan tidak punya masalah dengan orang Negro, merasa patah hati saat melihat Atticus seolah-olah punya masalah dengan orang Negro. Padahal, 20 tahun lalu, Atticus menjadi pengacara seorang kulit hitam dan membelanya mati-matian. Jean Louise menjadi saksi keheroikkan ayahnya yang rela dibenci seisi kota lantaran membela seorang Negro. Jean Louise mulai menganggap Atticus seorang yang munafik dan menjadi gila. ia menyembunyikan kepedihan itu seorang diri dan mulai bertindak impulsif. Mendatangi rumah Calpurnia—pembantu kulit hitamnya saat Jean kecil yang kini sudah pensiun—untuk mencari keyakinan bahwa dirinya, Jean Louise, tidak akan berpaling dan melawan orang-orang Negro.
Upaya Jean Louise Finch yang menginginkan penjelasan dari ayah yang dipujanya tidak menemukan titik terang sampai pamannya, Jack Finch, hadir dan meluruskan masalah dengan dua tamparan lebih dulu.
Berhubung Harper Lee seorang lulusan Hukum, setiap istilah hukum dalam buku ini amat menggugah dan cerdas. Ada keyakinan yang tertanam dalam Go Set A Watchman. Dengan menyentuh sisi nurani setiap umat manusia, buku ini akan amat sangat dinikmati oleh para pembaca To Kill A Mockingbird.
Saran penulis: Baca To Kill A Mockingbird lebih dulu, dan temukan masa depan di Go Set A Watchman.
The Story Of L
Tidak ada hal yang lebih menyedihkan bagi Loli ketika melihat sebuah tubuh keturunan Adam menggelepar kaku kehabisan nafas, kehabisan gairah, kehabisan kata-kata penuh cumbu. Sementara dirinya masih sanggup mendekatan dirinya pada kenikmatan yang digadang-gadang sebagai kenikmatan surga itu sebanyak seratus kali lagi.
“Oh, lemah sekali. Lemah sekali,” kata-kata dengan nada merendahkan itu tidak mampu menaikkan kembali bentuk emosi apapun pada setiap pria yang mendengarnya. Balasan paling umum dari si pria adalah meludah ke arahnya.
Lolita menginjak usia 47 tahun. Pusat dirinya begitu indah untuk seluruh golongan pria baik-baik maupun bajingan. Keriputnya disamarkan dengan lihai, cara berpakaiannya menunjukkan kelasnya yang amat tinggi padahal dirinya begitu murah. Kegemarannya mencari perkara dengan lelaki berkeluarga belum juga berhenti saat umurnya mencapai 50. Tiga ratus pernikahan resmi dan agung—dihadapan Tuhan, ia hancurkan begitu mudahnya. Kebanggan tak normal meliputi setiap jengkal dirinya. Setiap pria yang menuju surga bersama Lolita selalu direndahkan setelahnya. Entah ukuran Tongkat Emasnya, entah aroma tubuhnya, entah lekukan-lekukan penuh urat di perut sang pria.
Kegemaran mencari perkaranya itu tiba-tiba berhenti sejenak ketika ia dihadapkan pada pekerjaan yang menuntutnya membuat orang lain berilmu. Padahal, ilmu di dirinya sendiri pun terbatas. Ironi, batinnya.
“Nah, kalau ilmu diibaratkan sebagai air. Maka aku adalah gunung dengan mata air paling jernih,” kalimat pertama Lolita di depan sebuah perkumpulan yang berisi anak-anak berumur 10 sampai 12 tahun.
Kegiatan yang dianggapnya amat membosankan itu membuatnya semakin bergairah dalam hal memuaskan dirinya sendiri setiap malam. Karena baginya pemicu puncak kenikmatan itu adalah hal-hal yang paling tidak enak. Tapi, pandangannya, gagasannya, asumsinya, seketika luntur saat seorang anak laki-laki, berkulit putih bersih, dengan wajah polos, rambut tebal yang ditata rapi, bertanya;
“Ma’am. Hamil itu apa?”
Lolita tiba-tiba mirip seseorang yang cacat dalam hal bicara. Setiap suku kata terpisah-pisah bagai korban mutilasi. Dan akhirnya ia berhasil menghilangkan cacat itu segera;
“Umurmu berapa, nak?”
“11 tahun, ma’am.”
“Nah. Kau tahu Kiamat? Seperti yang tertulis di kitab-kitab suci?”
“Aku tahu, ma’am.”
“Hamil itu sama seperti Kiamat.”
Penjelasan singkat itu terus menangkring di dalam kepala Lolita sepanjang hari. Lebih dari pertanyaan lugu anak itu. Lolita merasa anak itu sangat tampan dan tiba-tiba hasrat ingin menuju surganya naik. Ia memuaskan diri sambil berkhayal anak laki-laki umur 11 tahun tadi berubah menjadi buas.
Hari-hari berikutnya, pertemuannya dengan si anak laki-laki itu membuatnya tidak bisa berhenti memuaskan diri sendiri. Wajah polos itu membuat peningkatan drastis bagi Alat Penghancur Rumah Tangga-nya. Tidak pernah bertanya-tanya kenapa dirinya bisa menyukai seorang lelaki yang bahkan mungkin belum pernah melihat bentuk Alat Penghancur Rumah Tangga. Si Anak laki-laki itu menemui Lolita pada waktu senggang. Matanya memerah dan hidungnya basah, ia terisak;
“Ma’am, ibuku akan kiamat.”
“Jangan menangis, nak. Kiamat masih lama. Dan, ya Tuhan, jangan terlalu serius menanggapi kata-kataku. Aku itu suka bercanda.”
“Tapi—“
“Apa kau tahu surga?”
“Tahu, ma’am.”
“Apa kau mau ke sana?”
“Tentu, ma’am.”
“Bersamaku?”
“Kalau bisa, dengan keluargaku juga, ma’am. Dan juga peliharaan kucing kampungku.”
Lolita kerasukan setan. Ia melepas kain yang menutupi kulitnya. Memperlihatkan makanan para bayi yang membuat si anak laki-laki kebingungan bukan main, tapi bisa mengendalikan diri pada situasi yang seharusnya sudah tidak bisa dikendalikan.
“Aku sudah berhenti menyusu saat umur 2 tahun, ma’am.”
“Kau harus mencobanya lagi kalau ingin masuk surga.”
Dan si anak laki-laki dengan pasrah berupaya mencoba makanan para bayi itu lagi. Tapi ia tidak mendapat tanda-tanda tenggorokannya dialiri sesuatu dan terus berusaha mendapatkannya. Desahan Lolita menggila, ia seperti sedang disembelih, ia menyerupai binatang sekarat, rohnya seakan ditarik secara paksa dari setiap tulangnya, bahkan ia menggigit bibirnya sendiri sampai darah menyeruak keluar dari situ.
Setelah hari itu, Lolita memberi perintah untuk si anak laki-laki terus mengunjunginya setiap pulang sekolah untuk diberi syarat-syarat masuk surga lagi. si anak laki-laki yang terlalu lugu dan terlalu takut untuk membantah menurutinya dan mulai dipertemukan dengan bagian-bagian tubuh manusia yang menurutnya asing. Dia hanya diberi tugas untuk menghisap dan menjilat dengan lidah mungilnya.
Tahun-tahun itu berjalan dengan penuh desahan Lolita dan kebingungan si anak laki-laki. Umurnya terus bertambah, dan si anak laki-laki, ketika sudah dianggap cukup dewasa oleh Lolita untuk digiringnya ke surga, diberi iming-iming ‘Syarat Terakhir Masuk Surga’.
“Tanggalkan seluruh pakaianmu, nak.” Kata Lolita.
Di situ, Lolita bisa melihat Keajaiban Pertumbuhan yang begitu pesat. Seolah baru kemarin ia memberinya syarat-syarat untuk masuk surga. Dengan penuh kerakusan, Lolita membuat si anak laki-laki yang beranjak dewasa itu mengerang keras, seolah ada luka kering yang sedang dicabut secara paksa.
“Aku punya kekasih, ma’am.” Kata si anak laki-laki itu. Lolita yang mendengarnya tiba-tiba meradang. Menghentikan anggukannya di bagian bawah tubuh si anak laki-laki itu.
“Sebelum kau bercerita tentang surga, kau harus mengunjunginya lebih dulu” kata Lolita. “10 tahun. Tidak ada yang menghancurkanku selama 10 tahun karena aku menunggumu.”
Setelah si anak laki-laki dibaringkan di atas kasur tipis, Lolita yang sudah membiarkan seluruh tubuhnya tidak ditutupi kain sehelai pun. Mulai menuntun Surga menuju Umatnya yang sudah berdiri sejak lama. Dengan perlahan, Umat itu mulai melihat pemandangan asing yang menyesakkan.
Orang-orang jahanam, sudah lama Surga ini tidak dimasuki umatnya! Batin Lolita. Sentakan rasa kaget yang melibatkan; kenikmatan, kengerian, kerasukan, keliaran, sikap buru-buru, menjulur ke setiap penjuru tubuhnya sampai menyerang titik pusatnya; jantung hati. Lolita sudah terlalu tua untuk merasakan kaget yang seperti itu. Ia ke surga lebih dulu.
Dinner With Foreign Neighbors
“Kebanyakan dari pria hanya bisa terengah-engah dan kemudian langsung tidur. Mereka makin mirip sapi, darling. Sapi yang tidak berguna.” Kalimat perkenalanku dengan seorang penghuni baru kamar atas yang dulunya ditinggali seorang pemuda baik-baik yang kemudian berubah menjadi psikopat lantaran kekasihnya tidur dengan ayahnya. Dan kalau mau mencoba melihat lebih jauh lagi, kamar itu dulunya juga pernah ditinggali oleh seorang nenek tua yang gemar membuat kerajinan tangan dengan bahan dasar kotoran manusia. Aku mulai bertanya-tanya apakah kamar itu selalu diisi oleh orang-orang aneh?
Nama baru si pemilik kamar atas adalah Jane. Setelah akhirnya aku mulai sadar kalau itu bukan nama yang sesungguhnya ketika pengirim paket selalu menitipkan barang kepadaku ketika penghuni kamar atas kosong. Setiap harinya, pemilik nama dari paket itu selalu berubah; Marla, Olly, Selli, Jennifer, Rosemy, Gishel, Anastasya. Namun yang selalu mengambil paket kekamarku adalah seorang gadis yang kukenal dengan nama Jane—gadis berusia dua puluhan yang gemar memakai gaun warna hitam dan rutin menggantungkan rokok di bibirnya. Ia memancarkan kesan ramah kepadaku, sejujurnya.
Semenjak kedatangan Jane ke apartment kecil ini, langkah kaki berat selalu terdengar pada jam 2 pagi, aroma tembakau memasuki setiap kamar, dan suara-suara bisikan yang terlalu jelas untuk diabaikan selalu menjadi alasanku terjaga pada jam segitu. “Sayang…. besok datang lagi…..gigimu putih namun napasmu mengindikasikan ada sigung yang mati di perutmu…jangan sampai jungkir balik..oh, aku Catherine..” bisikan itu berasal dari Jane. Dan biasanya balasannya seperti ini. “Aku harus ke kantor….istriku.…nyalakan rokokku…jangan suka menggigit…ya Tuhan.....kalau luka aku harus bilang apa ke istriku...sampai jumpa lagi, Margaret.”
Sebulan setelah kedatangannya, kegiatan sosial kami hanya sekedar menyapa setiap pagi tanpa menyinggung pekerjaan, nama asli, latar belakang, atau apapun. Jadi, malam itu aku benar-benar tersentak saat pintu kamarku diketuk dengan tempo cepat oleh Jane. Ia dan piyamanya menerobos diriku dan langsung menutup pintu lalu menguncinya.
“Maaf, darling. Aku sedang dikejar-kejar penjahat. Ya ampun, aku bosan bermain dengan makhluk purba. Badannya besar, otaknya kecil.”
Aku terpaku, memperhatikan Jane yang sedang mengamati keadaan luar dari lubang pintu. Aku mendengar bentakan keras seorang pria yang sedang menggedor-gedor pintu kamar atas. “Ayolah, sayang. Sebentar saja!” dan “Jalang! Kalau kau tidak membukakan pintu dalam hitungan ketiga, tamatlah riwayatmu! dan “Aku tahu kau di dalam. Bercinta tanpa suara itu sulit!”
“Jam berapa ini?” tanya Jane.
“12 lewat 20,” jawabku.
“Nah, 20 menit lagi dia akan asma lalu pulang. Anggap saja setiap kata-kata kasarnya adalah pahala bagi yang mendengarnya. Setuju?”
“Baiklah.”
“Aku suka pada pria yang irit bicara. Jangan sampai aku menerkammu, sayang. Bicaralah yang banyak.”
“Maaf. Tapi, apa ada masalah?”
“Masalah? ya, tentu. Setiap orang punya masalah, kan? nah, masalahku adalah aku tidak pernah menganggap masalah itu adalah sebuah masalah. Pria di atas itu kaya tapi tidak mampu membeli pengharum badan. Dan dia marah setiap kali aku mengatakan kalau aku lebih baik menjadi lesbian bersama istrinya. Padahal, istrinya benar-benar lesbian, loh.”
“Apa kau seorang pelacur?” tanyaku dengan nada paling datar sedunia. Dan menyadari kalau aku baru saja menunjukkan kebodohan serta kebrengsekkan dalam waktu yang bersamaan. Tapi Jane malah tersenyum dan piyama yang diikatnya ia longgarkan sedikit secara sengaja. Aku bisa melihat pakaian dalam warna hitamnya dari jarak ini.
“Apa yang kau punya di dalam kulkas? Aku lapar,” kata Jane, menuju kulkas dan mengambil 2 diet coke, sepiring kentang goreng sisa dingin, dan burger utuh yang kurencakan sebagai sarapanku nanti. Ia meletakkan itu semua di atas meja makan yang super kecil. Kebetulan ada 2 kursi dan ia mengajakku untuk duduk bersamanya.
“Nah, tetangga, aku bukan pelacur. Tapi aku sudah tidur lebih banyak bersama pria yang berbeda dibanding seluruh pelacur yang ada di dunia ini. Kalau pelacur, mereka dibayar untuk diam dan membuka pangkal paha lebar-lebar. Sementara aku, aku bisa menjadi seorang penasihat, ibu yang menyayangi anaknya, istri yang setia, seorang pelayan kelas kakap, pembersih telinga yang handal, bagi seluruh laki-laki yang pernah tidur denganku. Aku akan berkata dengan jujur kalau permainanmu bagus, bulu ketiakmu harus dicukur, aromamu mirip jenazah yang didiamkan 2 tahun, atau eranganmu sangat indah. Tapi, akhir-akhir ini aku kecewa dengan para lelaki. Mereka menyalahgunakan Hak Istimewa dalam hal ini. Mereka menjadi liar—sementara aku dilarang. Katanya aku bisa melukai mereka. Ya ampun.”
Jane melahap burgerku. Burgerku.
“Jadi, siapa namamu sebenarnya?”
“Emily. Aku selalu menyebutkan nama secara acak. Apapun yang terbesit di benakku—asal nama itu nama perempuan. Tapi aku pernah mengaku sebagai Kongo dan pria itu percaya.”
“Maksudku, yang asli.”
“Tidak punya. Aku cuma seorang wanita yang gila bercinta dengan nama yang berbeda-beda. Dengan begitu aku bisa menjadi orang yang berbeda bagi setiap pria yang akan kutiduri. Aku tidak bisa menjadi liar saat menghadapi anak kecil. Intinya, kau harus membaur. Nah, dengan mengganti nama, itu menjadi lebih mudah.”
“Baiklah. Aku akan memanggilmu, Jane, saja.”
“Begini, bukan bermaksud membuatmu bingung. Tapi, aku memang tidak punya nama pasti. Mengerti? sekarang, temanilah aku makan malam, darling. Aku satu-satunya makhluk yang lahir dari kesalahan Tuhan, sesuatu yang disebut cinta lupa dipasang di tubuhku.”
“Baiklah.”
“Kau mulai terlihat konyol, tetangga. Caramu mengatakan ‘baiklah’ membuatku sangat bergairah. Sudah kubilang kan kalau aku suka pria yang irit bicara—“ Jane berdiri, kursinya terdorong ke belakang dan ia meraih kerah bajuku dan menariknya sampai longgar. Dia berusaha menciumku dan aku membiarkan usahanya berhasil. Rasanya mirip rokok, alkohol, saus, dan daging. Aku dilempar ke atas tempat tidur dan Jane berada di atasku. Aku ingin bertanya apakah ini caranya membayar makan malam gratis dariku atau apa. Tapi mulutku terus disekap.
“Kau seperti makhluk vertebrata yang tidak pernah berciuman. Payah. Payah sekali. Tapi lebih baik ketimbang sok jago,” Jane duduk di atas perutku, menekan-nekan tulang rusukku. Saat kupikir kami akan melakukannya, ia tersenyum penuh kemenangan. “Nah, sudah 20 menit berlalu. Makhluk purba itu pasti sudah pergi. Tetangga, keperjakaan para laki-laki di mataku itu seperti buah-buah yang bergelantungan di pohon yang rendah. Sangat mudah untuk dipetik!”
Lost In The Mind
4 Hari Sesudahnya.
Hanya ada satu kebenaran: aku masih mencintainya dan tidak ingin menghancurkan kehidupannya. Tapi para polisi begitu yakin kalau aku yang membunuhnya. Padahal, satu-satunya bukti yang ada hanyalah rekaman kehadiranku di depan pintu kamar hotelnya. Seseorang menjebakku.
4 Hari Sebelumnya.
Banyak pertemuan-pertemuan tak terduga di dunia ini. Dan fenomena itu terjadi pada pagi hari. Saat terjadinya kecelakaan mobil di depan sebuah kafe pinggir jalan. Aku percaya masih adanya magnet dendam antara Amerika dan Jerman, semua terlihat saat SUV Chevrolet menghantam bagian belakang Mercedes Sport. Kedua pengendaranya sama-sama wanita. Tapi aku kenal SUV Chevrolet itu. Pemiliknya adalah Holly. Secara teknis, mobil itu adalah milikku dan Holly saat masih menjalin hubungan pernikahan sebelum aku mendapatinya sedang bercumbu di dalam mobil bersama kliennya. Aku memberikan mobil itu padanya.
3 Hari Sesudahnya.
“O.J Herman tidak pernah dapat penghargaan selama karirnya sebagai polisi penyidik. Semua kasusnya selalu berakhir di berkas ‘salah tangkap’” kata seorang polisi yang tidak sabaran kepada rekannya yang kurus. Andai aku satu lawan satu dengan si kurus, aku yakin aku bisa menang. Aku ditahan bersama para pecandu narkoba setelah mereka gagal mendapat jawaban yang mereka mau dariku. Ya ampun, tidak ada satupun pertanyaan mereka yang bisa kujawab.
3 Hari Sebelumnya.
“Berat badanmu naik?” tanya Holly.
“Lumayan.” Jawabku.
“Masih seperti dulu. Jawabanmu selalu singkat. Apa kau tidak sadar kalau sifat itu yang membuatmu dijauhi para wanita?”
“Termasuk kau?”
“Oh, jangan sekarang. Sudah lama aku menghilangkan rasa bersalah itu. Kau tahu, aku mengikuti konseling di berbagai tempat ibadah. Dan para pemuka agama selalu menyuruhku untuk memaafkan diriku sendiri.”
“Jadi, kau melampiaskannya dengan menabrak mobil di lampu merah?”
“Wah, kebiasaanmu dalam bersarkasme juga belum hilang?”
“Itu fakta.”
“Jalang pemekik itu mengerem mendadak. Dan aku tidak lihat lampu merah. Aku harus mengurus semuanya sendirian. Ram sedang di luar negeri. Kau mau mampir ke hotelku?”
Ajakan itu terdengar seperti ‘apa kau mau bercinta dengan wanita yang sedang ditinggal suami keduanya ke luar negeri?’. Walau kami sudah cerai, bukan berarti hubungan paling manusiawi itu terhalang. Holly perempuan yang cantik dengan tubuh yang selalu jadi bahan tontonan. Dia menikah lagi setelah cerai sementara aku tidak. Jadi, hitungannya aku yang paling bernafsu di sini.
2 Hari Sesudahnya.
Aku berada di dalam mobil polisi. Tanganku diborgol. Kemejaku sobek. Pipiku lebam. Dan mata kiriku seolah masuk ke dalam. Salah satu polisi yang bertubuh kekar terus membicarakan seseorang yang bernama O.J Herman. Jelas ada dendam pribadi di antara mereka. ‘Keparat’ dan ‘Sialan’ dan ‘Cacat’ dan ‘Sampah’ dan ‘Brengsek’, selalu jadi kata tambahan setelah nama O.J Herman.
2 Hari Sebelumnya.
Holly memberikan alamat hotelnya dan nomor kamarnya. Diam-diam membicarakan masa lalu tanpa terang-terangan. Saat momen-momen tertentu, Holly mengirimiku foto dirinya. Hubungan gelap seperti ini ternyata lebih asyik ketimbang pernikahan resmi.
“Kau yakin dia belum pulang hari itu?” tanyaku, membicarakan Ram, suami barunya.
“Selama belum ada kabar yang jelas, kupikir semua aman.”
“Bagaimana kalau dia mendadak pulang?”
“Yeah, anggap dirimu sial. Aku akan berakting kalau kau mencoba memperkosa seorang mantan istri.”
“Oh, aku harap aktingmu bagus.”
1 Hari Sesudahnya.
Nafasku memburu, dadaku sakit, kepalaku pusing dan tanganku berdarah, tapi itu bukan darahku. Aku menuju kamar mandi dan membersihkan darah itu. Kemejaku dipenuhi wewangian dari Holly. Aku sangat lelah. Suara sirine polisi memekakkan telinga pada jam 3 pagi. Pintu flatku diketuk dengan tempo cepat. Aku tidak menanggapinya dan pintu itu didobrak secara paksa. Aku bangun dan terlibat dalam perkelahian dengan dua orang yang berpakaian polisi. Aku kalah.
1 Hari Sebelumnya.
Kekonyolanku mencapai puncaknya saat mengalami kecelakaan mobil. Bukan berarti aku ikut-ikutan Holly. Ini murni. Walau bukan jenis kecelakaan yang membuat mobil terguling atau bensin bocor lalu terbakar, kecelakaan ini cukup untuk membuatku di bawa ke rumah sakit. Dokter menyarankanku untuk dirawat tapi aku menolaknya mentah-mentah. Aku punya urusan dengan mantan istriku besok. Dan urusan itu lebih menyenangkan. Lagipula, aku hanya sedikit cedera di kepala, sedikit perban dan lukanya akan kering. Jadi, dokter itu membawaku ke ruang pribadinya, memberitahukanku kalau aku mengalami gegar otak. Dan dia bilang akan ada masalah pada ingatan jangka pendek. Misalnya, aku akan lupa pada sarapan pagiku atau bahkan lupa pada namaku sendiri. Kedengarannya Konyol.
Hari itu.
Holly meneriakiku saat suaminya tergeletak di lantai. Hanya itu yang kuingat.
Mb Wartegku Part 3 : End.
Kau tidak bisa menghindar dari patah hati, tapi kau bisa memilih siapa yang akan mematahkan hatimu. Dan pemilihan itu terjadi tepat saat kau jatuh cinta pada seseorang. Begitu juga malam itu, saat tatapannya tak mampu kutangkap dan kusimpan lebih lama, secara tidak sadar aku memilihnya.
Tidak ada fantasi yang lebih menyenangkan dari kau dan aku, saat semua berputar, aku melihat sekelilingku, dan kudapati kehidupan yang manis. Kusadari bahwa aku sedang terjebak dalam pikiranku. Tidak mampu lolos saat kau bersinar di mataku. Kau sering membawaku ke dalam malam yang terlihat fana. Membuktikan bahwa sosok semacammu pun tetap bisa hilang suatu saat nanti. Entah dari dunia ini, atau dari pikiran makhluk fana lainnya.
Setiap hari esok akan datang, satu-satunya hal yang kukhawatirkan adalah ketiadaanmu dan senyumanmu. Diiringi khayal suatu hari nanti bahwa akulah yang menjadi alasan senyummu. Dan seketika semua itu menjadi jelas dalam hitungan detik, bahwa khayalan itu akan tetap menjadi khayalan. Satu-satunya mimpi yang terus kuharapkan agar tetap menjadi mimpi adalah mimpi burukku. Dan aku yakin betul bahwa kau bukan mimpi burukku. Jadi, aku bertanya-tanya kenapa kau tetap berada di mimpiku.
Aku menyadari lapisan itu. Lapisan tak kasat mata yang memisahkan antara kau dan aku, membuat tatapan kita tak pernah bertemu satu sama lain, penyebab awal ketiadaanku di ingatanmu. Ironisnya lapisan itu seolah tidak pernah diciptakan di dunia ini saat kau memanggil dirinya, mendapati dirinya seutuhnya sampai ke pusat ubun-ubunnya, merasakan aura kehidupan yang kental saat bersamanya, mengerti bahasa tubuhnya, dan saat kau melihatku, kau melihat patung.
Upayaku untuk membuktikkan kepadamu kalau aku juga seorang makhluk—makhluk yang hidup, rasanya sia-sia. Mengingat lapisan itu sudah ada semenjak pertemuan pertama kita, mengingat dirinya yang benar-benar hidup di matamu, dan mengingat betapa asingnya kita.
Aku tidak menang. Hanya saja bukan berarti aku kalah.
Mb Wartegku Part 2 : Ini Bukan Kerajaanmu
Aku pikir, jatuh cinta itu ada masa kadaluarsanya. Tidak peduli selama apapun, hal semacam itu juga harus berakhir. Demi membuktikan bahwa keadilan juga mempunyai sisi yang kejam, bahwa dunia diciptakan dari pemikiran-pemikiran paradoks. Seperti pagi itu, saat semuanya terasa paradoks. Kau datang tanpa membawa pengumuman.
Ada saat di mana seluruh upaya manusia kembali menjadi debu, bahkan beberapa berakhir tanpa bekas. Seolah ditelan alam semesta dan disimpan dalam Ruang Tak Terhingga. Percaya atau tidak, sebagian besar yang memenuhi Ruang Tak Terhingga adalah kumpulan Para Perasaan. Dan aku juga percaya, beberapa perasaan yang ditelan itu mampu melarikan diri dan kembali ke tuannya. Sama seperti perasaanku yang mendadak kembali saat melihat matanya yang tersenyum mengikuti bibirnya.
Aku percaya, gadis itu ratu yang tersesat. Terjebak dalam sekumpulan makhluk liar yang pekerjaannya tidur sambil jalan di malam hari, menggodanya di pagi hari, dan mendapatkan senyum sang ratu secara cuma-cuma. Itu salah satu jenis ketidak-adilan paling kejam di dunia ini. Aku yakin, senyuman sang ratu mempunyai harga yang tidak ternilai. Sebanyak apapun lapisan emas yang kita punya, sebanyak apapun potongan langit yang susah payah kita kumpulkan, belum pantas menawar senyum sang ratu.
Tapi ini bukan kerajaannya. Maka dari itu, kami semua berbondong-bondong untuk mencuri senyumannya..
Mb Wartegku Part 1
Andai aku hilang malam itu, dan semua tidak harus terjadi seperti seharusnya. Wajah-wajah yang jarang kutemui muncul malam itu. Perasaan yang dirindukan muncul malam itu. Memikirkan bagaimana caraku memandangnya, bertanya-tanya kenapa harus ada cara yang berbeda dalam memandang seseorang. Rambutnya yang membuatku penasaran sehalus apa rasanya
Kau bisa merasakan cahaya yang menembus jendela, memandang kehidupan yang begitu sempit untuk matanya, dan mencuci segalanya ke laut.
Aku bertanya-tanya apakah ia memandangku seperti caraku memandangnya, apakah ia menyadari kalau dirinya begitu dicari oleh indera penglihatan setiap umat manusia, apakah ia menyadari kalau aku ada di sana, memandangnya dari balik kaca-kaca berkerak hasil dari kotoran kehidupan, berupaya melihatnya secara utuh.
Dan malam itu….. ah, andai aku hilang malam itu.
To Be Continued..