Ini untuk semua orang yang merayakan pensiunnya 'seseorang' yang dahulu pernah menjadi persinggahan tanpa bisa dijadikan tujuan. Selamat merayakan.
seen from Ukraine
seen from United States

seen from United States

seen from Brazil

seen from United Kingdom

seen from United States

seen from United Kingdom
seen from Morocco

seen from United States
seen from United States
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from China
seen from Russia

seen from United States

seen from United Kingdom
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from Italy
seen from United States
Ini untuk semua orang yang merayakan pensiunnya 'seseorang' yang dahulu pernah menjadi persinggahan tanpa bisa dijadikan tujuan. Selamat merayakan.
Suka atau Tidak Hari Tua Tetap Akan Datang
Saya tertegun ketika melihat popok. Namun, ini bukan popok untuk bayi dengan kemasan yang menampilkan sesosok balita mungil atau makhluk tak berdaya lainnya. Popok ini ditujukan untuk orang tua. Sehingga saya keheranan apakah pekerjaan semudah buang air merupakan masalah besar untuk mereka? Dan saya merasa berdosa ketika mengajukan pertanyaan itu meski hanya terucap di dalam hati. Kemudian bertanya-tanya apakah manusia terlahir dengan ketergantungan kepada popok, dan berakhir juga dengan ketergantungan kepada popok?
Membayangkan diri saya kehilangan kemampuan untuk ke kamar mandi dan buang air rasanya menyeramkan, memakai popok lagi juga rasanya memalukan. Hari Tua adalah bayangan neraka yang menyusup ke dalam kepala saya dan memberi gambaran yang sama memilukannya ketika melihat orang-orang yang sudah lebih dulu menjadi tua hidup di sekitar saya. Kadang saya ingin mendekati mereka dan bertanya bagaimana rasanya menjadi tua? Dan apakah menjadi tua artinya tidak ada lagi orang-orang yang memerintahmu? atau apakah ada seseorang yang memberikanmu jaminan hari tua dan memberitahu kalau hari-harimu akan terasa menyenangkan tanpa terdengar seperti tipuan?
Tapi saya tidak pernah benar-benar menginterogasi mereka satu per satu, barangkali anak-anak mereka akan menghalangi upaya saya yang penasaran dengan menjadi tua dan menganggap saya orang yang terlalu muda untuk menjadi gila. Saya juga penasaran bagaimana rasanya berjalan dengan tongkat?
Satu hal yang pasti saya rasakan ketika menjadi tua adalah; tidak lagi muat menyusup ke kolong tempat tidur, tidak lagi tertarik berlari-larian di pusat perbelanjaan, dan tidak lagi menganggap kalau power ranger itu nyata.
Membicarakan hari tua dengan anak muda adalah hal paling sia-sia yang pernah saya lakukan, jadi, saya menyingkirkan teman-teman saya yang seumuran untuk menghindari konflik pembahasan yang serius. Jadi, mencari teman yang umurnya jauh lebih tua dari saya adalah sebuah langkah konkret.
Teman saya, yang jauh lebih tua dari saya bernama Samuel, sudah lebih mempersiapkan hari tuanya, kemudian menceritakan tentang jaminan hari tuanya dengan membuka toko mainan. Awalnya saya berpikir apa yang bisa dihasilkan dari sebuah toko mainan. Dan tidak perlu waktu lama untuk tersadar bahwa mainan adalah sesuatu yang tidak akan punah, kecuali para manusia mulai melahirkan bayi-bayi alien yang tidak bisa dihibur dengan robot plastik atau squishy atau lego. Saya juga mulai berpikir untuk membuka toko mainan. Sebab bayi akan terus datang ke bumi, dan mereka memerlukan mainan yang bisa digigit atau dihancurkan tanpa membuat orangtua mereka rugi besar.
Samuel juga berkata kepada saya kalau hari tua adalah soal jaminan. Seperti bayi yang terlahir di bumi, seseorang menjamin bayi itu untuk tetap hidup, entah itu orangtuanya, atau dokternya, atau suster yang mempunyai kebiasaan menculik bayi, atau pendeta yang menemukan seorang bayi di depan pintunya. Bedanya, tidak ada yang bisa menjamin apakah bayi itu akan tumbuh menjadi seseorang yang dipenuhi kelimpahan dan kebahagiaan. Sementara itu, menjadi tua adalah proses yang kurang lebih sama, namun proses menua memberikan kesempatan kepada setiap manusia untuk menentukan kehidupannya kelak. Dalam keadaan seperti ini, lantas saya teringat kalimat fenomenal Bill Gates; “Jika kamu terlahir dalam keadaan miskin, itu bukan kesalahanmu. Tapi, jika kamu meninggal dalam keadaan miskin, itu salahmu.”
Saya mulai menemukan titik terang. Menjadi tua dan tetap bisa hidup normal adalah sesuatu yang tidak didapat secara gratis. Bagaimanapun juga saya harus memakai popok sendiri saat sudah tua. Dan membeli sarapan quacker yang harganya jauh lebih mahal ketimbang nasi uduk di pagi hari. Gagasan tentang membuka usaha memang terdengar menarik, tetapi sebagai pelaku usaha yang telah mengalami kegagalan sebanyak empat kali, terlilit hutang dua kali, kadang saya terus berpikir ulang untuk kembali menginjak dunia membuka usaha. Iming-iming yang membuntuti di balik gagasan membuka usaha memang membuat pandangan saya tertutup bayang-bayang kesuksesan, seperti mengadakan sistem franchise, memimpin dua ratus orang karyawan, duduk di meja setiap malam sambil menghitung pendapatan harian, membuat blog tentang mainan anak, dan menua dengan tenang.
Membuka usaha artinya memberikan saya kebebasan, perjalanan menuju hari tua dengan penuh kebebasan terdengar menarik, tapi saya memikirkan apakah ada jaminan pensiun yang bisa diandalkan seandainya saya sudah harus mulai memakai popok dan pikun. Dan yang lebih penting dari itu, apakah saya akan menua dengan hati senang dan menerima segalanya dengan lapang dada tanpa merasa segala sesuatunya benar-benar berubah.
Dengan membuka usaha toko mainan, barangkali saya tetap bisa menua sambil dikelilingi barang anak-anak kecil, dan ketika saya memainkan salah satu di antaranya, saya berharap tidak menjadi orang aneh. Berhadapan dengan pelanggan yang suka menawar, anak-anak kecil yang sudah merusak sebelum membeli, pemesan yang menghilang setelah pesanannya siap, dan rangkaian-rangkaian yang bisa membuat seseorang cepat tua karena marah-marah bukanlah mitos belaka.
Menjadi tua bukanlah pilihan. Suka atau tidak, hari tua akan tetap datang dan menjalaninya sebagai hari-hari yang normal kadang menantang, kadang membosankan. Saya belum pernah mengerti bagaimana rasanya bosan terhadap kehidupan, apakah rasanya sama seperti bosan mendengar lagu yang terus-terusan diputar, atau film yang terus-terusan ditonton.
Hari tua datang seperti pagi, diam-diam dan tidak disadari. Tapi, terbangun dan disambut seorang cucu terdengar menyenangkan, kelak saya bisa memamerkan popok saya kepada cucu saya yang masih balita. Atau barangkali jika pada akhirnya saya menjadi tua dan sebatang kara, setidaknya saya akan keluar dari rumah dan mendapat sambutan selamat pagi dari tetangga-tetangga saya yang masih muda. Berdiri di pinggir jalan, berpegangan dengan tongkat kayu pemberian panti jompo, menunggu taksi datang, berangkat ke supermarket untuk membeli popok, kemudian menuju toko mainan milik saya.
BINTANG sepak bola Brasil, Neymar resmi mengumumkan pensiun dari sepak bola internasional. Pengumuman itu dilakukan Neymar tidak lama bersel
BINTANG sepak bola Brasil, Neymar resmi mengumumkan pensiun dari sepak bola internasional. Pengumuman itu dilakukan Neymar tidak lama berselang setelah Selecao disingkirkan Norwegia 1-2 di babak 16 besar Piala Dunia 2026 di Stadion New York (MetLife), Amerika Serikat pada Senin WIB.
Piala Dunia 2026 menjadi penutup yang pahit bagi Neymar. Sepanjang turnamen, dia hanya bermain selama 37 menit sebelum Brasil harus angkat koper lebih cepat akibat kekalahan dari Norwegia.
Uniknya laga terakhir Neymar memiliki makna emosional. Pasalnya, Stadion MetLife di New York itumerupakan tempat ia menjalani debut bersama tim nasional senior Brasil pada 10 Agustus 2010 dalam laga persahabatan melawan Amerika Serikat.
BADAN Pusat Statistik (BPS) mencatat 41,75% lansia di Indonesia berada dalam kelompok rumah tangga dengan distribusi pengeluaran 40% terbawa
BADAN Pusat Statistik (BPS) mencatat 41,75% lansia di Indonesia berada dalam kelompok rumah tangga dengan distribusi pengeluaran 40% terbawah.
Hal itu membuat lansia terjebak dalam lingkaran kemiskinan dan kerentanan ekonomi. Kondisi itu semakin diperparah oleh absennya sistem perlindungan pensiun yang inklusif, yang membuat hanya lima persen lansia yang mampu menopang hidup secara mandiri dari dana pensiun.
Untuk itu Ekonom Universitas Gadjah Mada, Eddy Junarsin, Ph.D., CFP, merekomendasikan perbaikan sistem jaminan hari tua di Indonesia. Ia menyampaikan bahwa kurang besarnya potongan gaji untuk pensiun menjadi salah satu penyebab kurangnya dana pensiun bagi para pekerja.
Saat ini potongan gaji untuk jaminan hari tua hanya 1%, ditambah kontribusi dari perusahaan sebanyak 2% dari gaji kotor. Sebaiknya potongan dari gaji pekerja untuk jaminan hari tua sebanyak 5-6%, dengan tambahan kontribusi perusahaan sebanyak 8-9% dari gaji kotor.
Pensiun: Menerima Sunyi dalam Rasa Syukur
Narasi ini pada mulanya di WA Grup. Belum saya olah menjadi esai sebagai selera batin. Sementara saya copy-paste. Sayang tak diketahui karya siapa. Aliran paragraf saya cuplik dari WA Alumni 1972 IAN IB forwarded by Farianus 30/05/2026 – 07.56 PROLOG: Sebuah Pesan di Grup WA…utk bahan renungan Di sebuah grup WA alumni SMP / SMA yang seluruh anggotanya rata-rata sudah berusia di atas 70 tahun,…
Edinson Cavani Resmi Pensiun di Usia 38 Tahun, Tutup Karier Gemilang di Sepak Bola Eropa
KALBAR SATU ID, BOLA – Striker veteran asal Uruguay, Edinson Cavani, resmi mengumumkan pensiun dari dunia sepak bola profesional pada usia 38 tahun. Keputusan tersebut menandai berakhirnya perjalanan panjang seorang penyerang yang dikenal tajam, pekerja keras, dan konsisten di level tertinggi sepak bola dunia. Nama Cavani mulai mencuri perhatian publik saat bersinar bersama Napoli di Serie A.…
CEK FAKTA Kenaikan Gaji Pensiunan PNS 2025, Apakah Benar? Berikut Penjelasannya
KALBAR SATU ID – Jagat media sosial belakangan diramaikan oleh kabar yang menyebut adanya kenaikan gaji pensiunan PNS pada tahun 2025. Narasi yang tersebar bahkan menampilkan klaim “Breaking News!!! 19 Oktober 2025, Taspen Resmi Umumkan Soal Kenaikan Gaji,” lengkap dengan gambar yang tampak meyakinkan. Namun, setelah ditelusuri, kabar tersebut dipastikan tidak benar alias hoaks. Melalui akun…
From Battlefield to Green Fairway: The Story of Sergeant Indra and JUMAT4D
Here stands Sergeant Indra, a man whose life once echoed with the sharp report of rifles and the urgent shouts of command. For years, he served his country with unwavering dedication, clad in the rigorous uniform of a soldier, a protector of peace in the most challenging terrains. The discipline, the camaraderie, and the sacrifices were the bedrock of his existence. Yet, beneath the hardened exterior of a combatant, a different spirit yearned for expression—a spirit of freedom, joy, and the simple pleasure of a well-struck shot.
After an honorable discharge, Indra found himself at a crossroads. The structure of military life had provided purpose, but now he sought a new kind of engagement, one that allowed him to embrace his individuality without constraint. That's when he discovered JUMAT4D.
JUMAT4D wasn't just an organization; it was a philosophy. It championed the idea of boundless freedom, encouraging its members to pursue their passions, to live authentically, and to find joy in every endeavor, whether grand or simple. It was a community that celebrated diverse interests, from the thrill of high-speed racing to the quiet focus of a culinary art, and everything in between.
Indra, drawn by this ethos of unbridled expression, found his new tribe. He wasn't giving up his disciplined past; rather, he was integrating it into a more expansive present. He chose to wear the JUMAT4D emblem proudly, on a shirt that subtly blended his military camouflage heritage with the relaxed attire of a civilian. This wasn't just a shirt; it was a statement – a symbol of his journey from structured duty to self-directed freedom.
Now, as the morning sun casts long shadows over the manicured greens, Indra finds his peace here. The same focus he once applied to strategic maneuvers, he now channels into perfecting his swing. The vast open spaces of the golf course, framed by distant mountains and lush palm trees, offer a tranquility that replaces the chaos of war. His golf bag, emblazoned with JUMAT4D, holds not just his clubs but also the memories of a life lived fully, a testament to his transformation.
He is no longer just Sergeant Indra; he is Indra, a free spirit, a man who has learned that true strength lies not only in defense but also in the pursuit of happiness. He carries his past with pride, yet strides confidently into a future where every day is an open fairway, and every swing is an act of pure, unadulterated joy, all under the banner of JUMAT4D.