Cinta si rusdi maslim
.
cinta ibarat gangguan jiwa, saat aku mulai obsesif dan kau alasan untuk kompulsifku untuk bertemu
malamku saat ini dan besok adalah pagimu, milikmu dan untukmu menentukan alasan merindukanku
cerita halusinasimu serta ilusi dan waham adalah tentangku
.
perjanjian dibawah senja dan taman serta anak-anak yang bermain bola menjadi saksi ketika kukecup keningmu
menjadikanmu euforia bahkan aku takut, untuk menyembuhkanmu dariku
sayang bukan bintang dan gemerlap lampu kota yang menyertai rindu ini, karena cukup pelangi dimatamu untuk mengobati rinduku
.
aku tak keberatan jika saja aku menderita skizofrenia, lebih baik dari kehilanganmu dan aku sadar itu
pertemuan satu bulan lalu seperti onset skizofren yang menggerogoti kesadaranku
ini bukan hanya pertemuan atau kencan, tapi obat untuk gangguan jiwaku
yang terkasih untukmu kekasih khayalan!
.
surabaya, 3 mei 2017.
Waktu tidak mensponsori kisah kita, duduk berdua denganmu pada sebuah kafe adalah fiktif.
Pergi dengan mira,
“bungur KL, satu” dengan menyodorkan uang sepuluh ribu.
Sesampainya, menemuimu lalu pulang,
dengan sumber selamat,
“Jombang KL, dua” kamu menyodorkan uang duapuluh ribu.
Tak ingin cepat sampai, semoga bus mogok atau macet.
Agar lama,
kencan denganmu diisi dengan dengkur penumpang dan dangdut koplo.
Kencan denganmu butuh sepuluh ribu dengan 2 jam pertemuan; 1 jam beradu tawa, sisanya terpejam pulas.
airmata kita gelandangan
selalu ‘nemu emperan
hentikan waktu yang kota
wagu pada airmatamu
menembus saujana
yang tidak pernah
menutupi semenjana kita
menghadapi segala
temanku, bisakah punggung kita
menjelma malam?
lorong-lorong jarak yang mengekang ragamu dibalik bayang-bayang semu…
Hadir bagai belati melukai rasa ini… Hingga setiap kata yang tak sempat terucap…
Menjadi baik adanya dibalik buruk yang tercipta…
Entah dengan siapa kini aku berdiri melawan hari…
Biarlah hujan yang menjawabnya…
Lalu membawanya pada titik temu waktu…
Pada detik yang mengusik sudut sempit
Janji ini terukir syahdu bersama sepotong kain
Sejengkal bumi ini berbisik
Bahwa dunia adalah fana
Namun rasaku nyata menuju Si Empunya
Siapakah ia yang ku cinta
Saat dunia berkata
Bahwa manusialah jawabannya
Namun, sesuatu tak tampak berseru
Yang tak terlihatlah
Yang jauh lebih nyata.
Kekasih untuk Kelelawar Gotham
Tudung malam benar-benar gelap
Hingga bubuk mesiu menabur aromanya pada genangan darah orangtuamu
Apa daya ia lahir dari benih-benih darah pengganti sperma dan trotoar jalan pengganti rahim
-kenalkan, namanya balas dendam
Ia kekasihmu, yang mengencanimu hingga menjelma kelelawar
Selina dan Diana pun tak setia seperti dia
Kawini dia, si balas dendam
- untuk melahirkan anak bernama sia-sia
Lapar menghadang kelana ujian
Lalu kuhantarkan butiran karbohidrat
Untukmu yang tengah penat
Kuah kaldunya melagukan dialog kita
Riuh, semacam krenyes ayam di dalamnya
Pahit daun pepaya menyertai tiap kelakar receh
Malam itu
Rendang memang absen, namun senyum kita tidak kan mas?
malam minggu tadi di pinggiran alun-alun
kau dan aku pelan-pelan leleh pada
secontong es krim yang hangat di bibir
di mana sedetik kemudian hujan deras
Tak perlu seperangkat gombal
Karcis bioskop dan popcorn wangi
Cukuplah senyummu yang ayu
dan gerombolan kunang belingsatan
Dick : Kehangatan untuk Barbara dan Kori
Malam, cerai beraikan aku saat ini
Taburkan sepertiga untuk Barbara, jelmakan aku jadi jubahnya
Sepertiga lagi untuk Kori, bentuk aku jadi selimut hangat ranjangnya
Sepertiga sisanya bawa aku terbang mengelana menuai dosa akibat mengencai dua bidadari siang dan malam
Noodle es krim dan dua gelas air putih
Telah tersaji dalam mangkuk mini
Bak menelan kenangan sampai lesap
Mulai menelisik labirin tentang memoar silam
Kita berdua, aku dan kamu saja
Di cafe elit meja nomor tiga
Mbak Warni pesan roti panggang
Selai kacang selai coklat sebagai isi
Jus jambu ditambah ice cream tak ketinggalan
Mas Agus hanya pesan kopi hitam
Dengan uang dua puluh ribu di dompet
Kacang dalam roti berhamburan tertawa tebahak
“Yang penting pencitraan , masalah bayar urusan belakang.”
Aku meringis di depan kaca
Senada dengan gula-gula di pekanraya
Ah malang, sandalku putus dari selopnya
Oh, kencanku tinggal kentjan(a)
Kelas Puisi Regional Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara