Banyak hal yang tidak terduga terjadi dalam hidup. 2022 jadi tahun yang cukup berwarna dari awal tahun hingga akhir tahun. Dari hal paling bahagia, marah, sedih, bingung, syukur, pendewasaan, putus asa, kecewa, semua ada.
Namun ada hal yang paling aku highlight di tahun 2022. Yaitu korelasi antara pernikahan dan keberanian. 2 tahun pernikahanku memang seru, gak semuanya tentang cerita bahagia. Entah sudah berapa banyak piring, mangkuk dan gelas yang kami lempar selama 2 tahun lebih tinggal berdua. Entah berapa kali kami saling mencaci dan memberi tatapan benci.
Entah berapa kali akupun merasa putus asa dan menyesal dengan pilihanku menikah dengan lelaki ini. Kalau bisa dibilang memang sudah tidak ada hal yang bisa diselamatkan dari pernikahan kami. Berkali kali aku mengatakan bahwa aku ingin selesai.
Sampai pada akhirnya selama 2 tahun pernikahan aku membalas semua rasa kecewaku, dengan kesalahan yang amat fatal. Saat itu aku menganggap 2 tahun penderitaanku, hanya aku balas dengan satu pukulan. Di titik putus asa, aku menemukan lelaki lain yang aku kira ia jauh lebih baik. Aku kira ia jauh lebih bisa melindungiku dan membahagiakanku. Soal perasaan? Jujur saat itu aku sudah tidak begitu peduli, lelaki mana yang memiliki perasaan lebih besar. Yang aku pedulikan hanya lelaki mana yang bisa membuatku merasa aman.
Sampai pada akhirnya semua berantakan. Pasanganku tahu, dan aku akui dengan gagah berani semua kesalahanku. Iya aku memang salah, tapi setidaknya aku bertanggung jawab dan berani mengakui kesalahanku dan menerima segala konsekuensinya. Aku bukan pecundang yang lari begitu saja dan mencuci tangan. Nama baikku hancur. Semua orang yang tahu sudah pasti kecewa dan menganggapku buruk. Walau ada perasaanku untuk membela diri, bahwa bukan tanpa alasan aku memilih bercerai dan akhirnya tergoda dengan lelaki lain.
Pada kejadian ini, aku melihat keluasan hati suamiku. Aku melihat betapa besar perasaan dia. Betapa besar keinginan dia untuk melindungiku. Ia memaafkanku, tanpa ada amarah sedikitpun. Kalau aku berada di posisi dia, jujur sudah tidak ada kata maaf. Sudah habis aku caci maki pasanganku yang jelas-jelas berkhianat. Yang dia ingin lakukan hanya memperbaiki rumah tangga kita. Fokus membahagiakanku dan membuatku kembali melihat dan mencintai dia. Sesungguhnya aku salut, entah aku bisa menemukan lagi / tidak lelaki yang setulus ini mencintaiku.
Disisi lain, aku melihat keberanian lelaki yang aku temui di penghujung tahun 2022 ini. Aku baru sadar, dia hanya berani mendekatiku lewat jalur belakang. Dia hanya berani mendekatiku ketika aku sudah banyak berubah dan jauh lebih baik, bukan tipikal yang menemani dari nol. Dan dia tidak memiliki keberanian untuk mengakui dan bertanggung jawab atas kesalahannya seperti apa yang aku lakukan kepada suamiku. Dan dia tidak memiliki keberanian untuk membelaku, seperti apa yang dia janjikan. Pada akhirnya dia hanya berani untuk mengamankan kepalanya sendiri saja. You’re not gentleman.
Jujur, aku sudah marah dan muak dengan lelaki ini. Atas apa yang sudah dia lakukan, pergi begitu saja, dan cuci tangan atas semuanya. Kemana dia saat aku dimaki maki orang? Kemana dia saat aku difitnah orang ? Kemana dia saat aku merasa hancur dan sendiri? Kemana dia saat aku depresi dan ingin bunuh diri? Kemana janji dia saat itu yang bilang “kita hadapi semua ini berdua, aku akan melindungi kamu dari orang yang jahat dan berani ngomong macem-macem sama kamu” Mana? Dia malah menghilang dan bersembunyi. Padahal masalah ini semua terjadi juga karena dia.
Yang hadir untukku malah suamiku. Yang menghadapi para pembisik ini satu persatu. Yang sabar merawatku saat depresi. Yang berusaha memperbaiki nama baikku. Sampai akhirnya aku tersadar dengan statement suamiku. “Laki laki itu dilihat dari keberaniannya. Kemana keberanian dia dari dulu untuk mendekatimu? Dia terlalu banyak berfikir panjang dan menimbang-nimbang. Saat kamu sudah sebaik ini dia baru datang. Coba aku! Dari kamu masih banyak kurang nya pun aku sudah berani dan yakin untuk menikahimu! Mana keberaniannya untuk menghadapiku?!”
Yang aku pelajari dalam pernikahan di tahun 2022 adalah tentang keberanian. Keberanian dalam mengambil keputusan, keberanian menanggung segala resiko, keberanian mengakui kesalahan, keberanian memperbaiki masalah, keberanian merelakan banyak hal, keberanian memperjuangan banyak hal, keberanian menghadapi kondisi sulit, keberanian untuk menikmati rasa kecewa dan sakit, dan keberanian untuk memperjuangkan hal yang ingin dimiliki.
Bagi orang yang belum memiliki keberanian sebesar itu memang belum cocok untuk menikah. Untuk kamu yang belum memiliki keberanian, dan lebih memilih bersembunyi.