Aku sangat setuju sekali bahwa tidak ada hubungan manusia yang mulus dan baik-baik aja, yang ada hanyalah mereka yang saling mengedepankan toleransi, rasa maaf dan pemakluman.
Laluu kugenggamlah prinsip itu sebagai dasar mengahadapi berbagai perilaku manusia dimuka bumi, heran-nya aku masih sering sakit hati, karena dari situlah aku mewajarkan semua hal yang terjadi kepadaku dan aku bingung sendiri, sesat sendiri. Dari semua wajar, mana yang paling wajar untuku? Lalu sampai mana batas wajarnya? Masih bolehkah aku kecewa?
Aku mempertanyakan diriku sepanjang waktu, bolehkah aku marah juga? Atau aku hanya boleh bersabar sambil menunggu marah reda? Mana yang paling baik untuku?
Jika aku merengek dan meminta, adakah jatah permintaan untuku meski hanya permintaan maaf?
Semuanya hanya bisa terbenam dikepala, lalu hal yang paling mudah kulakukan adalah menangis, tapi untuk apa aku menangis jika semuanya terlihat baik-baik aja? Apakah narasi "baik" yang kubangun selama ini akan runtuh bersamaan dengan air mata yang jatuh?