Cinta yang Sempurna
(Bahkan aku tidak yakin apakah kata per kata tersebut benar kususun berdampingan)
Kemarin aku baca sebuah quote di aplikasi Twitter (masih setia dengan Twitter, bukan X); ada seseorang yang menceritakan bahwa di-antar-jemput oleh orang tua ialah sebuah priviledge, lalu orang lain menjawab dengan cerita lain, bahwa meskipun antar-jemput itu tidak terjadi dalam hidupnya, ia tetap bersyukur. Dari cuitan netijen aku menyadari bahwa bentuk kasih sayang orang tua kepada anaknya itu berbeda-beda. Karena, kondisi finansial, fisik, bahkan prinsip setiap keluarga yang berbeda.
Ketika aku baru hidup merantau, aku memiliki seorang teman yang sama-sama “anak rantau”. Kami hidup berjauhan dari keluarga untuk menuntut ilmu. Saat aku baru mengenalnya, aku takjub karena hampir setiap waktu ia menelpon orangtuanya. Tidak ada urusan tertentu, hanya memberikan kabar apakah temanku ini sudah makan, bagaimana kesehatannya, dan bagaimana hari itu berjalan. Sedangkan aku, tidak demikian. Aku tidak setiap waktu menghubungi orangtuaku. Aku tidak bersedih, juga tidak merasa temanku aneh.
Barangkali bentuk kasih sayang orangtuaku bukan berupa terus menghubungi setiap waktu, namun dengan mengunjungi semua kosanku, yang terhitung tujuh tempat yang berbeda sejak pertama kali merantau. Barangkali berupa kehadiran orangtuaku secara tiba-tiba di kota asing yang pertama kali ku datangi saat ujian tulis masuk kampus (mungkin orangtuaku menyebutnya kejutan, bagiku itu support mental).
Dewasa ini, rupanya aku tidak lagi menimbang-nimbang “andai aku jadi kaya dan punya orangtua CEO, pasti hidupku lebih mudah”. Rupanya, hidup begini adanya. Masih terus belajar bahwa kasih sayang orangtua ialah sebaik-baik yang mereka bisa usahakan, sehingga bentuknya akan berbeda antara orangtuaku dengan orangtua temanku.
Meski kadang aku diam sejenak ketika sepulang dinas dari luar kota dan rekan-rekanku dijemput di bandara. Tentu saja hal itu belum terjadi padaku, karena tidak ada satupun keluargaku di kota ini. Aku juga suka senyum sendiri melihat rekanku ditelpon keluarganya setiap waktu. Selain karena orangtua tidak sepanjang waktu menggunakan gawai, aku tidak masalah dengan hal itu. Aku tetap merasa nyaman dan dicintai. Kalau kata kakak di Twitter, barangkali itu karena rasa saling percaya yang tumbuh dan saling mendoakan agar selalu dalam penjagaanNya.
Dari sana aku belajar bahwa, alangkah baiknya kita tidak perlu menanyakan ‘Kenapa orangtuamu tidak menjemput? Kenapa ulangtahunmu tidak dirayakan? Kenapa keluargamu begini begitu...’ Berbeda hal jika teman kita ingin bercerita, harus kita dengarkan dengan empati tanpa merasa bahwa nilai keluargaku telah lebih baik dari keluarganya.
Kini aku semakin memahami bahwa di dunia ini, tidak ada cinta yang sempurna. Karena cinta ialah wujud usaha seorang manusia yang tidak sempurna, yang penuh luka, yang bangkit, yang sembuh, yang tidak ingin mengulang kesalahan yang sama, yang memperbaiki diri agar lebih baik dari generasi sebelumnya, yang juga hidup untuk pertama kalinya.
Ternyata aku tidak butuh cinta yang sempurna, karena itu tidak ada di dunia. Aku cukup dengan merasa bahwa kasih sayang orangtua ialah bukti bahwa Allah memilihkan kita orangtua untuk melatih ikhlas dan syukur sejak mengenalkan kita pada cinta manusia pertama, cinta orangtua.











