Key Kopi
Tak seperti seharusnya
art blog(derogatory)
KIROKAZE
Sade Olutola
No title available
Cosimo Galluzzi
No title available
occasionally subtle
"I'm Dorothy Gale from Kansas"

tannertan36

oozey mess
Mike Driver
official daine visual archive
he wasn't even looking at me and he found me

izzy's playlists!
No title available
macklin celebrini has autism
ojovivo
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
tumblr dot com

pixel skylines
seen from Malaysia
seen from United States

seen from Germany

seen from United States
seen from United Kingdom

seen from United Kingdom

seen from United Kingdom

seen from Malaysia

seen from India
seen from United States

seen from Canada

seen from Brazil
seen from Malaysia
seen from Australia
seen from China

seen from Netherlands
seen from Hong Kong SAR China

seen from Germany
seen from United States
seen from Germany
@sageadipura
Key Kopi
Tak seperti seharusnya
Lakatebbu IV
Beberapa hari yang lalu tepatnya hari Rabu, 02-November-2022, pergi ke suatu yang belum pernah sama sekali kami kunjungi, nama daerahnya pun masih asing ditelinga dan itu adalah daerah dengan ketinggian 400 kaki. Sebenarnya saya cuman menumpang ikut dengan Rani, Aya dan Mahfud, mereka bertiga adalah pengelolah kedai Gudmud Coffe dan Roastery dan tujuannya kesana unthk bertemu dengan salah satu tokoh yang menanam kopi dihalaman belakang rumah. Akses untuk masuk kedaerah pacekke tidak terlalu sulit, aspal yang lumayan mulus dan pengaman pinggir tepian gunung yang terbuat dari besi dan ada juga yang kayu. Mobil dan motor bisa mengakses daerah itu, dalam perjalan kalian akan melihat landscape di area gunung dan perkebunan jagung sebelum dsampai desa yang kami maksud. Udara mulai dingin seiring mobil berjalan dengan pelan mengikuti dua pengendara motor yang memandu kami ketujuan.
Belokan dan tikungan cukup banyak, memacu adrenalin meskipun hanya berada didalam mobil, pikirku, naik motor atau sepeda bakalan seru kalua melintas kedaerah pacekke. Sentak teman tertawa, berpikir aku tak bisa melakukan hal itu. Kami bercerita dan tidak berhenti terpesona dengan pemandangan sepanjang perjalanan. Saya duduk di jok depan sebelah kiri, mataku puas melihat kiri kanan, dan sesekali menegur Mahfud yang menjadi supir untuk tetap fokus dengan jalan. Setelah kami berkendara sekitar 20 menit di kaki gunung Pacekke, mata tertuju dengan tembok beton yang ada di pinggiran gunung, kurang lebih,satu kilometer pagar beton terbentang dengan kokoh dan usang, pikirku aku tidak akan melihat beton industri setelah masuk kedaerah ini. Pikirku, itu adalah pagar perusahaan atau industri. Setelah sampai kepuncak gunung kami, pemandu kami berhenti, ternyata tujuan kita sudah sampai, kami turun dari mobil dan langsung menyapa pak Asri, salah satu warga yang berprofesi sebagai Kepala Sekolah di pacekke dan petani. Empat orang pemandu dan teman saya duduk di pinggir jalan diatas kursi yang pak asri buat sendiri dari batang pohon dan kaki dari besi yang sudah berkarat. Saya berada beberapa meter dari mereka dan untuk sementara waktu tidak ikut mengobtol, saya malah melihat tanaman bunga mereka yang cantik dan berwarna ungu dan biru, senang melihat hal yang belum pernah dilihat sebelumnya. Suasana dikampung ini juga sejuk ditambah kembang-kembang yang bercorak indah terpadu dengan aspal yang basah sehabis gerimis menjelang sore. Selesai menfoto satu persatu bunga, saya lalu ketempat teman yang lain, bergabung dan mendengar cerita pak Asri tentang hasil hutan yang berada dekat sini. Kopi jadi topik utama diperbincangan tersebut.
Beberapa menit berlalu, Pak asri mengajak kami ke halaman belakang rumahnya untuk melihat tanaman yang dia tanam, melawati jalan setapak yang basah dengan pinggiran kembang dan tanaman yang memanjakan mata. Kebunnya seperti tidak ter-urus, kopi nampak kurang sehat, mungkin karena hama atau terlalu banyak tanaman yang bercampur didalam kebunnya, ada pohon pisang, lada, buah naga dan lain-lain. Padahal kopinya berbuah dan batangnya sudah setinggi 150 cm, kebanyakan mati tangkai. Tapi pisangnya tumbuh subur dan berbuah besar dan banyak. Setelah berkelilng di halaman kebun, kami diajak ke kebun selanjutnya, aksesnya tidak terlalu jauh dan sulit. Kebunnya berada diseberang kubura warga desa pacekke. Tidak jauh dari rumah pak Asri. Kami tidak masuk kekebun tersebut, hanya melihat dari luar, karena tanaman kopi mereka berada dipinggir jalan. Mereka melihat dan sambil mengobro tentang kopi yang pas Asri tanam, katanya bibit kopi didapat secara gratis dan bibit itu berasal dari Lampung, kata bapak itu. Petani disini cuman sedikit, karena jumlah Kartu keluarga didaerah ini cuman 100. Tapi menurutku dengan kebun kopi yang tak jauh dari rumah dan akses yang lumayan dekat, mereka bisa megawasi dengan mudah. Suatu keuntungan yang bisa diperhitungkan.
Beberapa saat kemudian setelah berkeliling dan mengobrol, tiba-tiba awan mulai gelap di sore hari, gerimis mulai terlihat dari gunung disana, berharap hujan itu tak sampai kemari. Bergegas kami kembali ke rumah pak Asri, serasa cukup untuk hari ini, padahal kami masih mau mengunjungi tempat lain, yang mungkin tak kalah indah untuk dilihat. Tiba-tiba air turun dari awan sejajar dengan rumah pak asri. Deras, hujan itu meredam suara kami, menunggu itu berharap redah agar kami bisa pulang, karena waktu kami terbatas.
Jam 5 sore, hujan deras beralih ke rintik kecil merasa bahwa kami sudah menunggu terlalu lama dan membiarkan kami untuk pulang, ,kami akhirnya berpamitan dengan tuan rumah, dan meminta ijin untuk dapat berkunjung lain hari, karena masih ada hal lain yang ingin mereka lakukan. Terimakasih sudah membawa kami berkeliling, dan melihat hal yang baru, khususnya saya.
Halo ... Suka-suka. @gudmud_cofferoastery (IG)
Suka-suka, Gudmud coffe and roastery. ❣️❣️🌻🐳🐢
Raf Eatery
Keluar untuk bersua ketempat teman dan menikmati kopi Letta di GUDMUD bersama keluarga kecil saya, sekalian mengobati rindu anak kami Yonah. Sebelum kesana, mama yonah ingin mampir ke Raf Eatery, katanya ingin mencoba menu makanan ringan yang dia lihat di akun Instagramnya. Setelah sampai ditujuan, saya melihat nampak dari depan kedai tersebut dengan alis yang mengerut karena cahaya putih yang dipancarkan oleh banyak lampu neon menempel di dinding luar. Sangat terang untuk tempat sekecil itu, pikirku. Tapi itu berhasil untuk menarik perhatian orang yang melintas disekitar.
Memarkir motor kesayanganku dibibir aspal yang sudah tidak utuh dan yonah bersama mamanya masuk dengan senyum manis sambil menyapa kasir yang dia temui untuk memesan. Melihat dia membaca menu dengan cermat, jatuhlah pilihan roti kukus dengan isian kaya,cokelat,pandan dan ayam cincang menjadi pilihan untuk santap bersama teman. Harga roti kukus dengan isian dimulai dari 4000 rupiah sampai 6000 rupiah.
Lanjut ke bagian dalam Raf Eatery nampak 3 orang berbaju seragam kedai mulai sibuk mengolah pesanan dengan cepat dan tentunya saling bercanda satu sama lain. Memperhatikan sekeliling bangunan, saya melihat dinding sedang tahap perbaikan atau mungkin renovasi. Kursi alumunium dengan empat kaki, meja dari box plastik yang dibalikkan berwarna hijau dengan tatakan plastik itu cukup unik. Yonah sepertinya merasa senang berada di sini.
Setelah menunggu beberapa menit saya pandangan teralihkan oleh dinding yang mirip seperti lukisan Jakson Pollock. Aku bertanya-tanya apakah itu disengaja dikupas dan di cat kembali atau sengaja dibuat seperti itu. I don't know. Sentak saya mengambil handphone dan mengarsipkan, siapa tahu bisa menjadi referensi untuk membuat karya selanjutnya.
Bel pun berbunyi, tanda pesanan sudah siap untuk diambil dan dibayar. Kasir tersenyum dan mengucapkan terimakasih dengan riang. Dan merayu yonah untuk datang kembali lain waktu. Kami membalas senyum mereka, pasti. Dan mengucapkan terimakasih dengan riang juga.
Saya dan mama yonah tidak sabar ingin merasakan rasa dan tekstur dari roti kukus itu, kami bergegas menuju kedai kopi Gudmud untuk menyantap dengan teman-teman yang lain, sembari bersua dan menikmati kopi. Setelah kami sampai, kami mencobanya dan ternyata rotinya agak lembut tapi menurut saya, isian dan rotinya tidak seimbang dari segi porsi. Untuk lidah saya itu terlalu banyak isian dan membuat kita cepat enek untuk menikmati kelembutan roti kukus nya. Tapi dengan harga ramah dikantong itu sudah lumayan untuk menikmati roti kukus yang empuk.
Ingatan Tempo Dulu
Melihat mereka di tepi lapangan sambil melihat orang dewasa bermain bola seakan mengingatkan saya pada saat duduk di bangku sekolah dasar. Sejak kecil, tiada hari tanpa bermain bola bersama dengan teman-teman kelas. Hingga setelah pulang sekolah kami langsung ke daerah Pekkae, kecamatan Bacukiki Barat kelurahan Lumpue, dengan berjalan kaki melewati tepian aspal ditemani dengan terik matahari. Kenapa kami kesana? Ada seorang pelatih sepak bola yang umumnya kami panggil Pak Ija'.
Beliau dulu pemain sepak bola disebuah klub ternama kota Parepare, dan keseharia pak Ija' adalah petani sekaligus penjual buah Salak. Saya dan teman-teman selalu melihat beliau mengikat buah Salak menggunakan daun Salak. Entah kenapa saya teringat beliau setelah melihat anak-anak yang berada di samping lapangan yang menunggu giliran untuk bermain dan setelah bermain pelatih mereka menyuruh mereka mencabuti rumput yang panjang. Persis seperti pak Ija' lakukan, beliau sering menyuruh kami mencabut rumput yang panjang sebelum dan sesudah bermain bola. Dan setelah itu pak Ija' menyuruh kami membersihkan diri dirumahnya, dan setelah itu pak Ija' memberikan kami air minum, terkadang juga susu atau es manis (es lilin).
Sudah puluhan tahun saya tidak pernah bertemu dengan pak Ija', astaga. Semoga pak Ija'sehat-sehat dan panjang umur. Maaf pelatih saya sebagai murid,bisa tergolong murid durhaka. Terimakasih pak Ija' telah bersedia melatih kami tanpa mendapatkan imbalan apapun dari kami.
Paint your mood
Doa untuk Mesin
Seperti hari kian berubah, entah menjadi lebih baik atau buruk. Laut berubah menjadi daratan, tempat berdoa dapat berdiri di atas permukaan laut.
Paku menancap entah sedalam apa. Suara bising dari mesin raksasa seperti lazim terdengar.
Raksasa kuning bergerak bebas seperti kemerdekaan untuk berkarya. Apakah bumi menyambut atau justru akan menelan. Semoga biru dan pasukan nya tetap sehat, tidak seperti biotanya yang kehabisan tempat bernaung.
Warna dari Rompi Jingga
Bunga jam 9 pagi. Bunga ini hanya mekar di pagi hari sampai kurang lebih jam 11 pagi. Foto ini saya ambil di pinggir trotoar jalan Andi Makkasau di Kota Parepare,samping Coffe shop yang bernama M Coffe. Ada sisi menarik dari samping Coffe shop ini, ternyata lahan kosong tersebut dulunya adalah tanah kosong yang tidak terawat dan menjadi tempat pembuangan sampah masyarakat, sampai ada seorang laki-laki yang umumnya dikenal dengan Om Peter, juru parkir sekitar jalan tersebut. Selain menjaga ketertiban area parkir. Beliau senang menanam tumbuhan-tumbuhan, seperti cabai,bayam,bunga,dll. "Sengaja menanam tumbuhan tersebut di pinggir trotoar, supaya tanah kosong tersebut tidak kotor dan menjadi tempat sampah. Anak-anak di M Coffe juga sering menyiram tanaman tersebut" ujar om Peter.
Sebagai juru parkir, om Peter berhasil membuat metode yang sederhana tapi sangat bermanfaat dan berhasil, buktinya tanah kosong tersebut sudah tidak kotor. Dan siapa saja boleh memetik cabai atau bayam yang di tanam oleh om Peter. Ujar om Peter.