Cinta seperti Tuhan, berada di antara orang-orang yang mempercayainya.
https://twitter.com/sajakmaniss
taylor price

★
Sade Olutola
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
sheepfilms
art blog(derogatory)
Lint Roller? I Barely Know Her
Sweet Seals For You, Always

PR's Tumblrdome
YOU ARE THE REASON

blake kathryn
Monterey Bay Aquarium
tumblr dot com
TVSTRANGERTHINGS
Claire Keane

Kaledo Art
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
Mike Driver
Three Goblin Art
todays bird

seen from United States

seen from Croatia
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Moldova
seen from United Kingdom
seen from Greece

seen from United States
@sajakmaniss
Cinta seperti Tuhan, berada di antara orang-orang yang mempercayainya.
https://twitter.com/sajakmaniss
Kusimpan kenangan kita
kepada senja, hujan, atau daun yang
gugur dipetik angin:
semoga kita bertemu,
di musim yang lain.
Rinduku dikuatkan oleh doa
yang tabah diuji jarak antar kota
sebab kita percaya:
cinta akan selalu,
menemukan jalannya.
Daun gugur
di waktu matahari terbenam:
kesedihan
adalah kebahagiaan yang terlupakan.
Di ujung jalan ini
akhirnya kita harus saling melepaskan:
kau dengan pilihanmu
aku dengan kesedihanku.
Tuhan,
sampaikan sajak ini padanya
agar kelak, dia membaca
bahwa jarak hanyalah caraMu
mengajarkan kami untuk saling setia.
Rhyme before sleep
Seringkali kita membayangkan
hal-hal mustahil menjelang tidur
Membayangkan masa lalu yang indah
terulang kembali
Mendambakan masa depan mapan
bersama orang-orang yang disayangi
—menjadi dalang bagi lakon sendiri
: menghayal adalah upaya menghibur diri.
あなたは私を動揺させる
harus dengan apa kuikat cintamu
agar kekal dalam diriku
sedang aku hanya kata
yang gagal menjadi larik
sajak cinta.
Penulis dan Penyair
Sepertinya 'Cinta' masih akan menjadi tema yang menarik untuk selalu dibaca. Setidaknya, sampai mataku masih mampu mengeja setiap kata demi kata yang ditulis olehmu. Saya tidak pernah menafikannya. Cinta adalah sesuatu yang mampu mengubah kita menjadi lebih baik—menurutku. Meski terkadang, cinta membawa luka. Cinta menyimpan kesedihan dan kebahagiaan. Sebab memang demikian adanya, cinta terbuat dari keduanya. Lalu? Dimanakah cinta itu berada? Di langit, di bumi, atau di dalam diri kita sendiri? Maukah kau menunjukkannya, padaku?
*
Di Twitter, saya mengenalmu sebagai seorang Penulis. Tahukah kamu, dahulu, saya ingin sekali memiliki pacar seorang penulis. Kenapa? Sederhana saja, karena saya suka membaca. Saya juga ingin menjadi alasan baginya, untuk tetap bertahan menulis. Tapi, itu dulu. Sekarang? Sudah setahun terakhir saya sangat suka membaca puisi. Dan, saya jatuh cinta padanya. Tak mungkin kupacari ia. Saya ingin mencintai si pembuatnya saja—penyairnya, maksudku. Ada banyak jenis puisi yang saya suka, tapi tak mungkin juga, bukan, jika saya pacari semuanya, hahaha.. Sepertinya saya sedang tidak waras. Ya begitulah! memang terkadang, cinta membuat kita menjadi gila. Kita?
*
Kemudian, semuanya berubah. Setelah saya memutuskan untuk menjadi seorang penulis, atau mungkin menjadi Penyair. Saya malah tidak ingin mencintai atau memacari mereka. Saya takut. Tapi bukan lantaran penghasilan sebagai seorang penulis ataupun penyair. Sungguh. Bukan itu. Saya hanya berpikir, bagaimana mungkin saya mencintainya (Penyair) Hari ini, entah syairnya untuk siapa. Lantas lusa? Bisa saja untuk seseorang lain yang ditemuinya kemarin. Saya mengalaminya. Saya juga tidak ingin mempunyai pasangan seorang penulis. Mereka pandai sekali mengarang cerita. Saya takut dibohongi. Saya tidak ingin hidup dipenuhi dengan drama. Saya hanya ingin hidup bahagia. Itu saja!
*
Ternyata, saya salah. Saya terlalu egois untuk menghakimi itu semua. Rasanya saya berpikir terlalu dangkal. Sekarang saya mengerti, arti cinta sesungguhnya, tentunya, setelah dicintai olehmu—seorang penulis sekaligus penyair. Bagiku kini, kita adalah syair dan cinta adalah Puisi!
Buat @Anggrek_Lestari
*)
Ditulis untuk mengikuti Proyek Menulis #30HariMenulisSuratCinta
Lengkung Payung
Cuaca mendung dan kabut tipis
pertanda gerimis akan jatuh.
Adakah yang lebih romantis,
dari berteduh di bawah
lengkung payung yang sama,
berdua.
Semarang, 2015
Kapal Kertas
Buat : aanmansyur
Kau dan ibumu telah sepakat memberikan sebuah nama kepada hujan
kecil itu: gerimis. Tetesan lembut rintik air yang mencintai matamu. Telah
kau ciptakan selokan sebagai jalan agar air itu dapat mengalir dengan
lancar. Kau sering bermain di sana—di selokan buatanmu. Pernah suatu
ketika, kau membuat kapal kecil dari kertas bekas surat yang tak sempat
kau kirimkan kepada Ibumu. Sebab kau tak ingin melihat ibumu
menggigil dan bersedih karena keadaanmu saat itu, maka kau putuskan
untuk tidak mengirimkannya. Seperti inilah isi suratmu:
“Mama, saya ingin celana panjang dan Majalah Bobo.
Kalau tidak bisa beli yang baru, yang bekas juga saya terima.”
Sebelum kapal kertas itu kau larung ke dalam air yang mengalir, kau
sempat berdoa; agar ia bisa sampai menuju hilir dengan selamat.
Kapalmu terus bergerak mengikuti arus, dan tak sengaja menabrak
punggung tanganku. Kebetulan waktu itu aku sedang mencuci tangan di
sana. Sebenarnya telapak tanganku tidak kotor, tetapi melihat air jernih
membuat hasrat untuk mendekat dan merasakan kecipaknya. Kapal
kertasmu basah. Lambungnya bocor. Perlahan karam dan tak sempat
kuselamatkan. Kamu menatapku. Tajam. Kemudian kupungut kapal
kertasmu. Dengan hati-hati kuperbaiki. Tapi, mana mungkin bisa kembali
seperti semula. Sesuatu yang telah hancur tak akan pernah bisa
kembali, kecuali kita menciptakannya lagi. Kubawa kapal itu ke arahmu
dengan gemetar. Kulihat kau mematung dan membetulkan lensa kaca
matamu. Sepasang kakiku mengayun pelan. Darahku berdesir hebat.
Jantungku berdetak lebih kuat dan cepat. Semoga dia tidak marah,
batinku.
“Ini kapal kertasmu, ya? Maaf, aku tidak sengaja telah merusaknya.”
Kupelankan suaraku. Kupasang wajah cemas dan memelas.
“Bukan, ini bukan milikku!”
Balasmu tegas.
“Lalu?”
“Tapi,...”
“Kau hanya seorang diri di sini?”
Heranku.
“Semua yang telah kulepaskan, aku tak akan pernah mengharapkanya
kembali, dan aku juga tidak pernah menyesal.”
Katamu.
“Alam telah memilih.”
Imbuhmu.
Aku tertunduk lesu. Kau melihat arloji di tangan kirimu. Ketika aku
hendak menatap wajahmu, tiba-tiba kau telah lenyap.
***
Semarang, 2015
Menanti halilintar kecil
Hujan jatuh sepanjang hari, seperti air mataku.
Akankah kisah kita berakhir di januari,
seperti refrain di lagu itu.
Engkau yang luruh, bersama derasnya hujan
tahukah perasaanku
: sebagai halilintar kecil yang lesap
ke dalam gemuruh tubuhmu.
Hanya aku yang jatuh dan mencintai
selebihnya acuh dan abai
seperti itulah kau,
tak pernah peduli.
Pulanglah, kekasih, sebab pulang adalah cara terbaik
untuk kembali dan menuntaskan rindu.
Itulah mengapa, rumah selalu berpintu
: hatiku.
Januari, 2015
1000 Pintu
a/
Kau gambar kesedihanmu, sebagai balon berwarna hijau.
Di dekatnya, seorang gadis sedang menangis
; menyaksikan balon yang terlepas dan meletus
oleh tajam jarum hujan.
b/
Kau tulis kesedihanmu, ke dalam banyak sajak.
Kata-kata selalu bisa membuatmu merasa lebih baik
seperti ketika kau bercermin
; kesedihanmu terlihat lebih cantik dan menarik.
c/
Kesedihan telah memilih ingatanmu sebagai 1000 pintu
tapi cukup dengan satu kebahagiaan
akan menjadi kunci untuk membukanya.
Percayalah.
.
Semarang, 2015
Hujan tanpa suara
*
Kutemukan kembali kenanganmu
melalui sapu tangan berwarna biru.
Tentu kau masih ingat, bukan?
Melalui sepotong kain lembut itu,
pernah kau bisukan hujan di mataku.
*
Waktu memang tidak akan pernah terulang,
tapi kenangan selalu mempunyai cara
untuk menemukan jalan pulang.
Dan hati kita mempunyai cukup ruang
untuk menjamunya setelah tualang.
*
Kadang kenangan bertandang
hanya untuk sekadar singgah
atau hanya ingin berziarah.
*
Kelak, setelah kau lalui segala kembara,
semoga cinta yang akan membawamu
kembali.
Semarang, 2015
Obituari kenangan
Pernah, kita
sedekat api dan kayu
yang saling berbagi hangat,
lalu musnah menjadi abu
yang saling merindu.
kemudian kutinggalkan
sedikit kenangan
di ranum bibirmu
agar kau selalu tersenyum
ketika mengenangku.
Semarang, 2014
Hujan di bulan Desember
1/
Hujan telah reda
tapi masih menyisakan sedikit gerimis.
barangkali, seperti itulah cinta
: tak tahu kapan harus berhenti.
2/
Ini akhir desember dan
hujan turun sepanjang hari.
ah, betapa musim rindu telah dimulai
dan kenangan selalu mempunyai cara,
untuk kembali.
3/
Katakan padanya,
jika jarak menuju masa lalu adalah dekat.
kaubisa menempuhnya,
hanya dengan mengingat
dan memejamkan mata.
Semarang, Desember 2014.
Surat panjang dari seberang
Sajauh mata memandang, hanya ada lampu-lampu kecil
seperti bintang-bintang yang bersinar terang
—merentang dan membentang menuju seberang.
*
Di sana—di tempatmu menungguku pulang,
kurasakan gigilmu memanggil namaku
; dadaku bagai dihunjam tajam pedang, pedih!
*
Dari rantau, di seberang pulau,
kutulis tulus sepucuk surat untukmu.
Semoga mampu mengobati kerinduanmu.
Sebab jarak yang memisah, mencipta cemas
yang lantas membawamu ke rimba curiga.
*
Di sini, aku baik-baik saja,
seperti harapanmu. Semoga sua segera hadir,
untuk memastikan wajah takdir,
bahwa kita berjodoh.
*
Kelak aku pulang dari tualang, sayang, membawa uang
—yang akan kutukarkan dengan sepasang cincin,
sebagai lambang cinta kita.
*
Perbesar sabar, kekasih, tabahkan tubuhmu.
Aku segera pulang menunggang hujan.
Semarang, 2014.