batuk-batuk, dan sekarat.
Sudah lupa beda mendung dan malam.
Sama-sama muram, katanya.
Dua orang muda duduk bertatapan. Mereka diam.
Mata salah satu di antara mereka
menggambar baris-baris peluru di wajah pasangannya.
Menamai pelurunya satu-satu,
satu-satu pula pelurunya hilang.
"Kiranya di luar sana jerit knalpot
adalah satu dari banyaknya hal yang mengganggu kepalamu--
hal-hal lain yang juga menggangguku,
maka, ingatlah ada malam-malam dengan
pelukan lebat dan sengguk napas
atau hanya sekadar pura-pura lupa,
atau hingga sekarang masih belajar untuk melupa
hitungan hari sebelum kau
menemukan kita tersesat di tempat ini."
dan mulai malas berganti warna.
Orang-orang sudah lebih pandai mewarnai langitnya masing-masing,
tidak bagi salah satu dari dua orang muda tadi.