The first hiking, september 2017.
Untuk newbie seperti saya, Gn. Prau adalah pendakian gunung permulaan yang sangat baik. Tanjakannya tidak terlalu curam. Pos gunung cuma ada 10 (kalo tidak salah), dan jarak antara satu pos dengan pos lainnya cukup terbilang dekat menurut saya.
Mendaki gunung sangat membuat ketagihan. Betapa tidak, saya sangat menikmati setiap perjalanannya. Dan membuat saya menghargai setiap proses yang harus dilalui. Karna saya adalah orang yang menggilai hasil daripada proses, dengan mendaki gunung, saya jadi lebih menghargai proses daripada hasil, karna hasil hanyalah bonus, tentu saja prosesnya yang paling menentukan. Mengapa demikian?
Karna saya merasakan sendiri bahwa hasil dari pendakian tersebut tidak sesuai ekspetasi saya. Saya dan rekan lainnya tiba di puncak gunung pada maghrib jam 6 sore. Setibanya di puncak, kita sudah disambut oleh angin badai dan hujan. Dingin kah? Sebenarnya saya adalah orang yang sangat menyukai cuaca dingin, tapi pada saat itu, saya menyerah.
Alhamdulillah, proses tersebut bisa dilalui dengan tibanya esok pagi. Namun sayangnya saya tidak bisa mengabadikan moment MILKY WAY lewat kamera saya, karna saya lebih memilih didalam tenda sambil meminum jahe merah dan memakan nasi putih serta ikan kaleng yang dihangatkan daripada saya diluar membeku kedinginan. Namun saya sempat melihat dengan mata saya betapa indahnya MILKY WAY tersebut. Dan itu salah satu alasan yang membuat saya ketagihan untuk mendaki.
Besok paginya, saya melihat keluar tenda, dan pemandangannya sangat indah. Jauh dari hiruk pikuk ibukota, dan polusi udara kendaraan. Disana sangat tenang dengan suara angin berhembus dan cuacanya yang sangat menyejukkan hati, pikiran, dan jiwa. Waktu yang sangat singkat untuk bisa merasakan aroma pegunungan, sapa salam hangat bersama rekan lainnya yang bertemu pada saat itu.
Pada saat sekolah, sebenarnya saya sangat ingin mendaki sampai ingin bergabung dengan ekskul pendaki di sekolah, namun orang tua saya sangat melarang karna saya seorang perempuan. Namun, sepupu perempuan saya bisa bergabung dalam ekskul tersebut. Adilkah? Sangat iri melihat sepupu perempuan saya bisa sesuka hati melancong mengeksplore dari satu gunung ke gunung lainnya. Tapi, dewasa ini akhirnya saya bisa merasakannya. Terlambatkah? Semoga tidak ada kata terlambat untuk merasakannya.
Dan tahun ini, saya sangat ingin pergi ke Gn. Papandayan karna penasaran dengan Hutan Mati dan Bunga Edelweis nya. Sebenarnya di Gn. Gede Pangrango juga ada Bunga Edelweis, tapi sepertinya masih sangat ramai untuk bisa kesana. Sebenarnya saya tidak terlalu suka jika terlalu ramai. Namun sepertinya di Gn. Papandayan juga sudah ramai. Saya jadi agak bingung sih (hehehehe). Tapi tekad saya sudah bulat seperti tahu bulat yang digoreng dadakan cuma lima ratusan (yang sekarang sudah seribuan), opsi pertama saya adalah Gn. Papandayan, jika tidak memungkinkan mungkin beralih ke opsi kedua, yaitu Gn. Gede. Semoga tahun ini bisa di realisasikan. AMIN.
Tapi, the one and only.. namanya manusia pasti ada keinginan untuk pergi ke suatu tempat sebelum benar-benar pergi meninggalkan dunia ini. Ya, saya sangat ingin mendaki Gn. Rinjani. 10 tahun yang lalu, saya pernah membaca buku tentang Gn. Rinjani dan saya sangat mengaguminya sampai saat ini. Saya sangat ingin mengeksplore Indonesia daripada luar Indonesia. Kenapa? Karna Indonesia ini sangat kaya akan sumber daya alamnya (kata dosen saya juga seperti itu), jadi saya hanya ingin mengelilingi Indonesia karna saya cinta negeri Indonesia, bukan dengan politiknya.
sekian, dan tararengkyou..












