"Kita adalah sepasang halaman buku yang dibuka terlambat. Saling menggenapkan tapi mustahil bersama."
Kita dekat tapi tak mungkin dalam satu barisan. Terpisah melalui ruang yang sebenarnya rapat. Kemungkinan-kemungkinan untuk bersama membuat kita bertahan. Bahwa pada satu titik kita pasti beriringan. Lekat serupa jalin lembar kertas yang intim. Tapi kita tahu. Bayangan-bayangan itu, harapan-harapan itu tak pernah niscaya. Serupa kegembiraan malam tahun baru. Ia hingar bingar yang menyenangkan tapi mustahil untuk terjadi selamanya.
Aku adalah halaman ganjil buku filsafat tua yang melelahkan. Kamu halaman genap yang menjelaskan pemikiran. Aku adalah rumus fisika yang membutuhkan pemecahan. Kamu ada untuk membuatku lebih mudah mengerti dunia, sedangkan aku ada untuk membuatmu masuk akal dan diterima. Aku tahu kamu tak pernah minta untuk menemaniku. Seperti juga aku ada karena tanpamu adalah kemustahilan yang membosankan.
Kita sering berpisah. Kamu harus menemani segala angka genap di hadapanku. Sementara aku bersetia pada segala keganjilan di pekaranganmu. Jeda antara kita adalah bahasa yang susah dipahami oleh matematika. Ia bukan tentang angka. Bukan juga rangkaian titik pada peta. Sela keberadaan kita adalah hasil dari kesepakatan yang kita tolak keberadaannya. Kita memperjuangkan keinginan dengan segala yang kita miliki. Tapi pada akhirnya kita sadar. Segala usaha akan menemukan tembok angkuh bernama kemustahilan.
Kalau kamu perangko maka aku adalah kertasnya, kertas usang yang rapuh. Terus lemnya siapa? Terserah ngikut Tuhan aja.
Titip rindu untuk ibumu, ku doakan ia sehangat pelukmu padaku. Tapi ini kenapa pemerintah kita rasanya blangsak banget ya. Kita pindah ke Maladewa aja gimana? Tapi disana juga ada Pluralisme kan?
Cinta dan titah ibu memang dua peristiwa yang monumental.
Jadi titip salam gak? Iya jadi.
Aku bilang "Gusdur sholat lima waktu". Emang kita siapa saling titip salam?. "Atau tujuh waktu? Ditambah Tahajud sama Dhuha" katamu. Emang kita siapa berani mengutuk?
Ibuku dan ibumu sama-sama ibu-ibu yang doyan mengutuk keadilan. Katanya keadilan tak pernah mati, kenapa? Karena tak pernah dilahirkan.
Ibumu baik, ibuku ya gitu, baik tapi gak sabaran. Kadang urusan cinta bukan lagi masalah hati, bukan juga kepentingan, tapi politik.
"Bukannya politik juga kepentingan ya?" Tanyamu. Aku mengangguk, kakiku kesemutan kelamaan duduk mengajarimu bahasa Inggris biar kalau aku bilang "I love you" kamu gak balas "wkwkwkwk".
Aku menggapai ponsel diatas meja, menyenggol segelas kopi lalu menumpahkannya. Ibu menatapku, mengabaikan genangannya. "Terima aja cintanya, ibu maju pilgub 2024" kata ibu.
Aku kaget. Dari atas meja kopi mulai menetes mengenai karpet. Astaga, kalo urusan cinta ibu paling juara tapi akunya lagi males bersihin tumpahannya. Itu bukan kopiku.
Tentu lebih lama dari apapun. Lebih lama dari waktumu nonton drakor dan Netflix. Lebih lama dari waktumu memilih baju. Lebih lama dari screenshoot-nya orang-orang pas telponan. Lebih lama dari selamanya.
Waktu membeku, semesta berhenti, barista melogo, lagu Melly Goeslow di-pause, kucing tak tau diri tetap lewat. Diatas meja ada segelas cappucino tapi yang ku cicip malah bibirmu.
Plis pake maskermu, bukan sebab virus atau aturan pemerintah. Tapi senyummu berbahaya; bikin tangan tremor, mimisan, demam, meriang, sakit kepala, mutusin tali kolor, dan keringat deras bagai sauna. Bikin pengen nambah populasi manusia.
Kata ibu aku harus nurut Tuhan. Tapi demi Tuhan, demi ibu, demi lovato. Aku ingin bersamamu lebih lama dari takdir. Tapi ibu suka kamu kok.
Yang patah tumbuh, hanya lagu. Syarat tumbuh itu adalah dirawat.
Aku rasa kali ini memang benar-benar perlu mengunjungimu sekali lagi, meski menuliskanmu kembali berarti bunuh diri yang ku rencanakan sendiri. Apakah artinya telalu lama aku menguburmu hingga tak seorangpun mendengar cerita lampau tentangmu?
Apa kabarmu? Tentu kau tenang dan senang diatas sana, tersenyum melihatku melafalkan perjuangan yang merentang menjadi ras manusia. Malam ini aku menyeduh segelas cokelat panas dengan sengaja lalu meletakkanmu kembali ke dalam isi kepala. Untuk menjaga terusan, untuk mengingat sempat bertutur tentang kesetiaan.
Sudah berapa lama tak lagi kau ku tuliskan?
Hari ini beberapa orang mengingatkanku tentangmu, mengingatkan tentang jeda yang sempat hilang setelah perpisahan, mengingatkan penanda yang harus ku buramkan agar tak terbaca oleh kesunyian, kesepian, atau kehilangan.
Jingga, bukankah bertahun lalu sudah ku katakan, perlahan kita akan beranjak tua lalu memahami bahwa tak mudah menjadi manusia. Kau tak pernah setuju apalagi percaya, bagimu hidup adalah kabar bahagia dan keceriaan, tentang tawa dan kesempatan, bagimu hidup adalah pemberian yang mulia.
Sungguh aku ingin merangkulmu, memujimu hingga batas langit ke tujuh, memecah angkasa hingga ke Nirwana. Menyelesaikan rindu untuk menuntaskan ahwal yang tak pernah ku mau luput darimu, agar tak meredup batas nalar, agar cerita tentangmu seumur usiaku terus bergetar.
Aku ingin membacakan bagaimana kisah hidupku setelah kenyataan bermuka masam datang merencanakan kehilangan. Selepas kamu tiada, pada Tuhan aku banyak bertanya tentang cinta, keterbuangan yang tak pernah ku minta. Sebab aku sadar betul bahwa kepergianmu adalah peristiwa yang menghadirkan duka, harapan tentang kita tak pernah terwujud dengan sendirinya. Takdir membunuhnya lebih dini dari yang sempat ku kira.
Jingga, kekal ternyata bukan milik kita, tapi debar ini sudah bersembunyi terlalu lama. Aku cukup tahu bahwa mengeja namamu sekali lagi berarti membuka luka yang ku balut dengan jerit sendiri. Bagaimana caraku meneteskan air mata jika diluar sana setiap kepala menganggapku sebagai makhluk terkuat di dunia? Mereka tak pernah tahu jika nadiku mendenyutkan namamu, nyawa hidupku yang ku pegang erat dalam rapuhnya diriku, mengalun seraya memadatkan makna kurun dan peristiwa dalam segumpal ingatan, hingga akhirnya sedikit kalimat berujar lambat di bibirmu “janjikan padaku, hidupmu harus berguna bagi segala yang bernyawa”. Dengan senyum kuat aku mengangguk, tak ingin menghadirkan apa yang hanya menjadi tutur puitis di yakinmu.
Aku ingat di hadapmu termangu, bahkan untuk itu hening pun rela menunggu. Aku ingat saat memperhatikanmu dengan riang, kau menyerupa di tengah dunia melawan arus masa yang sering kali mengutuk kita tiba-tiba, bertahan hanya dalam separuh nafas dengan keinginan yang membenam di kepala lalu menghubungkan segala yang mampu kau temukan pada hijaunya dedaunan di kejauhan sana, pada apa yang telah kita berikan untuk hidup sebelum hidup kembali mengambilnya sebagai serpihan yang tak kita inginkan kepergiannya.
Tapi, itu sudah berlalu. Aku ingin menyapamu dengan bahagia, dengan surat `Pembukaan` tujuh ayat dan ku aminkan. Aku ingin mengajakmu merayakan jika itu tak pantas kita tangisi. Sebab hidup takkan pernah kita temukan maknanya ketika kita terlalu nyaman berkubang dalam kesedihan. Begitukan?
Seperti yang kau ceritakan; hidup hanyalah ilusi. Kita terpejam, Tuhan memberi mimpi, dan segenap persoalan terbawa pergi. Kemudian saat terbangun di pagi hari, kita hanya harus meneruskan takdir temu untuk memugar niatan yang terlanjur mengakar dalam kepalan, untuk bernafas pada hitungan kesembilan, melawan sesaknya dunia agar setiap senja takkan kehilangan kemuningnya.
Tuhan memang tak pernah bercanda saat Lauhul Mahfudz diciptakan.
Disini sedang purnama dan langitnya berawan namun semua baik-baik saja. Aku berjanji, cerita kita tak akan pernah kadaluarsa.
Apa yang lahir dari ketiadaan? “alam semesta” ucapmu. Bagaimana aku mengatakanmu bukanlah atheis, bahwa alam semesta tidak dapat muncul dari ketiadaan. Aku tak setuju padamu. Satu-satunya hal yang aku yakini adalah bahwa saat itu kita benar-benar berada di bawah langit Jogja pukul empat lewat lima puluh lima. Setidaknya arloji ku menunjukkan angka yang nyata.
"Aku sebut itu sebagai fluktuasi vakum".
"Apa?" rautmu bingung.
"Apa yang apa?"
Tanganku menghidupkan batang rokok ketiga, jika aku tak salah menghitungnya. Isi kepala mulai meraba-raba, lampu Thomson berkeliaran di sana entah datang dari mana. Menyala pada setengah menit pertama, lalu, aku melihatmu sebagai sebuah ketunggalan yang tak perlu digenapkan. Kamu, adalah keabstrakan yang tak terhingga tanpa butuh penjabaran.
Bagiku, dunia ini kadang seperti sebuah susunan fraktal. Pola-pola kecil membentuk keserupa diriannya; berulang, tersusun, tak terencana, ketat, acak, namun begitu rapi. Tapi tetap saja, isinya itu-itu saja. Tidak bagimu, menurutmu dunia ini “ajaib”, semua serba tak terduga. Aku rasa satu-satunya yang tak terduga adalah pertanyaanmu selanjutnya saat bibirmu bergerak dan mulai angkat bicara.
"Jelasin!"
"Yang paling sederhana?"
Sambil mengangguk, mulutmu mengucap “yap” tanpa suara. Pandanganmu jatuh di rerumputan, kakimu menyilang, berayun di atas bangku coklat tua. Tepat di sebelahmu aku menyandarkan punggung, menatap kejauhan, membayangkan bagaimana menjelaskan kesederhanaan tanpa menimbulkan kerumitan? Begitu paradoks rasanya.
"Efek Casimir” ucapku. Kepalamu spontan mengarah padaku, "Aku bayangin, apa?". Mungkin bagimu rerumputan tak semenarik tanggapan. Rasa penasaran adalah kelemahanmu yang paling kentara. Kamu selalu punya pertanyaan dan aku selalu punya jawaban: Kita hidup dalam percakapan.
"Coba, dua buah cermin saling berhadapan"
“Lalu?”
“Apa jadinya?”
Kamu tak menjawab.
Kepalamu pergi dariku. Pandanganmu kembali jatuh ke rerumputan, berpindah ke langit, ke jendela, batang pohon, dedaunan, pagar, tanaman, sudut-sudut, lalu padaku. Aku selalu tahu pandangan itu seluruhnya akan kembali padaku.
“Aku tahu” kamu tersenyum.
“Apa?”
“Bayangan di dalam cermin satu sama lain akan saling mengecil lalu menghilang”
“Iya, kamu benar”
“Lalu?” tanyamu.
Aku menghela nafas panjang, menepuk jidat, hampir membuka suara sebelum telunjuk kananmu bergerak menyentuh ujung bibirku yang artinya aku tak boleh berkata apa-apa. “Aku paham sekarang!” sambungmu. Kali ini sepertinya kamu tak bercanda. Aku menyingkirkan telunjukmu “Masa? Apa coba?”.
Lirikanmu sombong, seakan baru saja memecahkan pertanyaan Zeno setelah dua ribu tahun kemudian. “Jadi, fluktuasi vakum dapat dipikirkan sebagai pasangan-pasangan partikel dan anti partikel yang muncul bersamaan pada suatu waktu, bergerak terpisah namun searah, lalu menyatu dan saling melenyapkan. Iya kan?" Kamu menjawabnya dengan lantang, rupamu girang sambil mengepalkan tangan, mengangkat kedua lengan dengan tinggi kemudian menurunkannya, lalu bertepuk tangan kecil penanda bahwa kamu menghargai diri sendiri.
Aku, hanya melipat kedua tangan dan menatap keentahan. Tersenyum kecil sambil menggelengkan kepala. Bukankah yang baru saja kamu jelaskan adalah tentang kita?
Siang itu, parkiran luar gedung, di dalam mobil, di bawah hujan.
Aku menekan tombol start saat kamu menggerutu tak karuan, tanganmu sibuk meraba kancing belakang blouse mu. Mobil menyala, AC ku hidupkan, aku menoleh "sini ku bantu". Kamu membelakangiku, menghadap jendela yang embunnya mulai memudar. "Udah ku bilang gausah dilepas" katamu. Aku menyingkap rambutmu, mengecup tengkukmu sekali lagi. Disana ada kesenangan yang tak bisa dibicarakan, aromanya seperti rembulan sedang aku adalah serigala yang berkeliaran yang dibodohi kisah sendu percintaan Etruska dan saudaranya.
"Udah, bilang apa?" ucapku.
"Makasiiiih" kamu menyahut.
Satu kecupan jatuh di bibirku. Nafasmu kewalahan. Sudah berapa lama kita disini? "Kita berbohong saja" katamu. Bukankah sekarang kita sedang melakukannya? Seolah mengerjakannya seringan bernafas.
"Kamu sudah mencuri banyak hal"
"Aku tidak pernah mencuri"
"Lantas?"
"Aku hanya menemukan hal tersebut sebelum hilang"
Kamu tersenyum, tak menjawab.
Aku menurunkan kaca sekitar 5 centi, menghidupkan sebatang mild lalu mengepulkan asapnya, percikan air masuk melalui celah. Tak lama lagi kamu akan pergi. Tak ada yang perlu digenapkan kali ini, toh kamu akan menghubungi ku kembali dalam beberapa hari dalam alasan yang itu-itu saja. Kamu tak pernah berjanji, mungkin karena tahu bahwa aku selalu mau terlibat di dalamnya, membantumu menuntaskan sisa kelipatan dari luka kesedihan yang telah kita kalikan berdua. Atau dari mereka yang menjanjikan hidup selamanya.
"Bagaimana cara menipu manusia serigala?" Tanyamu. Aku menggelengkan kepala, membuang jauh-jauh tatapan ke atas angkasa dimana matahari mulai keluar diantara mega. "Cahaya" gumam ku dalam hati.
Kamu menyentuh kepala belakangku, mendekatkan wajahmu ke sisi kiriku, "i love you to the moon and back" bisikmu lalu tersenyum dan mencolek pipi kiriku. Aku menoleh, di kedalaman matamu ada perih yang tak mampu dijangkau puisi, ada pedih yang sengaja tak kamu obati. Katamu, kisah tentang Valerious dan Dracula sudah cukup menyenangkamu.
Kamu menjauh pelan. Merapikan berbagai hal yang dapat kamu sentuh.
"Udah jam sebelas ternyata"
Aku mengangguk
"Nanti aku wa"
Aku tak menjawab
"Make up ku gak berantakan?"
Aku menggeleng selagi tanganmu sibuk membenarkan pakaian.
Kamu menatapku seolah lelah menghadapi bayang pikiran pilu, satu pelukan sampai jumpa lagi, bibir yang bertemu agar tak ada keluhan rindu. Apakah kita akan membicarakan cinta, sebentar? Tak usah pikirku. Kita sama-sama tahu yang telah terjadi tak perlu dibawa sampai mati sebab cinta hanyalah legenda Adam dan Hawa yang tak mampu dinalar oleh manusia kadaluarsa seperti kita.
Hujan mulai mereda. Kamu membuka pintu, lalu pergi meninggalkanku bersama AC yang menyala, bersama keringat yang mulai mengering diantara kening, bersama jejak yang selalu menggodaku untuk kembali. Aku menurunkan jendela sepenuhya, membuang sisa rokok. Tak lama ponsel berbunyi. Aku menekan tombol hijau, mengingat janji yang telah disepakati malam tadi.
"Halo"
"Halo, jadi lunch bareng?"
"Fifteen minutes, i’ll be there"
"Kamu dimana?"
"Di dalam rencana-rencanamu"
"I love you"
“I love you too, Alice”
Telpon ku tutup. Andai dulu kita, tak pernah mencoba belajar terbang. Mungkin hari ini tak akan ada serigala yang melolong ke arah bulan.
Aku terlanjur mendapatimu kehilangan tegar, seperti burung kehabisan kicau di penghujung musim kemarau. Namun bisa saja itu kehendakmu. Pilihanmu sebagai pribadi yang mampu menutup mata dari bising dunia. Meski aku tetaplah kekasihmu yang bisa saja tak ku hiraukan seolah melati hilang wangi. Tak apa, asal tidak hatimu yang sirna arti. Dan itu ku tanamkan berulang di satu tanah masa yang sudah. Aku tak ingin ceriamu berlalu.
Aku terlanjur menemuimu tengah merajuk pada Tuhan, pada hari, pada semesta yang kau anggap juga tak peduli. Tentu itu sebelum luruh keangkuhanku yang bertanya muasal dibaliknya. Toh itu tidak penting sebab bukankah kita pernah berdoa “semoga tak ada sesal untuk hidup yang tak kunjung kita yakini mengarah kemana”. Tapi itu terlalu rumit. Untuk alasan yang tak ku pahami, kamu tetap saja merenungi dingin yang dulu sekali pernah kita temui. Menekuni senja yang hilang jingga. Menekuri jengkal sunyi dalam ruang yang berduka.
Sesaat kau nyatakan padaku “berjalanlah meski matahari tak pernah meluruskan bayang, berangkatlah meski bulir hujan menggenangkan aksara darah pada jalan”. Bagiku itu terlampau musykil, tapi kamu selalu beranggapan itu adalah niscaya. “Ini bukan untukku mengobati luka, ini bagiku mengukuhkan hidup tidaklah bercabang dua”, katamu.
Seperti prosa, aku ingin melihatmu kembali menuliskan lagu, meski dengan nada yang naik turun tak tentu yang kerap kita dendangkan sebelum lelap menyapa senyap. Kemudian bermimpi tentang sungai di barat yang sempat disinggahi Nuh atau berteduh di buritan sauh dari riuh dan terik yang membunuh.
Namun sayang, hidup kita kali ini haruslah kita mengerti bahwa semua bukanlah mimpi sekali lagi. Bukan.
Ada tujuan yang harus diikrarkan sebelum kita terkulai dalam pusaran. Ada janji yang harus dipenuhi agar aku dan kau terus tergoda untuk kembali. Di atas altar sana, di tempat seluruh ingat dengan rapi kita catat. Dan menghayatinya sebelum waktu membunuh kita berdua, cepat ataupun lambat.
Aku terlanjur menyuamu telah terlupa akan itu semua. Tidak jua kah kau bersedia mengibarkan kisah tegar kita dulu?
Malam ini, kau telah setia memurungkan paras; menggariskan batas yang tak lagi bisa dimasuki dengan tawa yang keras. Aku tak mengerti bagaimana caraku mengobati, membuka celah untuk mengakrabi hari-hari kita meski di hadapmu itu tak pernah mudah terucap.
Kekasihku, aku tak lagi mengerti beda diantaranya; aku hanya berharap lembaran ini sempat kau baca.
Hey Atlantis, aku menemukannya. Atau katakan saja kami bertemu. Desakannya menggebu, padahal seharusnya ia tau bahwa aku akan selalu mau untuk bertemu. Kali ini ia datang dengan membawa pertanyaan mistis. Aku mendengarkannya seperti di masa lalu, terasa cukup manis. Tapi, tahun ini memang bukan tahun yang baik untuk sebuah pertemuan atau dipertemukan atau melempar peruntungan untuk sebuah kebetulan. Mungkin tahun-tahun kami tak pernah begitu baik berjalan.
Hari itu Jakarta tak kehilangan ramainya, ditengah Pandemi yang mereka ributkan sebagai konspirasi ala kadarnya. Aku, di bangku panjang seberang jalan tepat menghadap pintu masuk Ragusa, pintu yang tak pernah kehilangan mondar-mandirnya orang-orang. Mataku menyapu sekeliling dengan gamang; dari terik matahari dibalik gedung kementrian, ojol yang mencari kembalian, tukang bakso sepi pelanggan, sampai dia yang samar-samar melambai dari ujung jalan. "Kamu lagi" ucapku dalam hati. Entah kenapa entah mengapa aku tetap mau menemui orang ini. Mungkin karena ku rasa, Tuhan, ternyata masih saja melindunginya.
Langkahmu usai tepat di hadapanku. Aku bertengadah, hidungku menangkap aroma kakao dan jeruk nipis, "Jo Malone?" Tanyaku. Kamu mengangguk, memberikan senyum terbaikmu. Kemudian duduk di sebelah kiriku. "Blue agava" ucapmu sambil membenarkan rok lilit diantara kedua kaki. Aku mengangguk. "Suka kan?" Tanyamu. Aku mengangguk lagi saat kamu menggigit bagian bawah bibirmu. Aku selalu suka aroma apa saja. Ohya. Satu-satunya hal yang tak ku suka adalah saat kamu menarikku ditengah pasar hanya untuk mengejar penjual kerupuk langgananmu yang kamu kira sudah gulung tikar.
"Maaf telat" Katamu.
Telat? Aku ingat suatu malam beberapa tahun lalu. Kamu menghidupkan lampu, membangunkanku pagi-pagi buta. "Aku telat", dua kata yang ku dengar saat aku baru setengah sadar. Insting kelelakian ku diuji; aku membuka mata, kemudian mencuci muka. Tapi siapa sangka itu hanya akal-akalanmu yang kelaparan karena semalaman begadang menterjemahkan quick korean. Marahku mulai menjadi, namun hilang tanpa arti. Rautmu minta makan, lucu.
"Aku yang telat"
"Kita ngapain hari ini?
"Entah, kamu kan yang ngajak ketemu katanya bosan karantina"
"Aku punya pertanyaan"
"Apa?"
Kamu diam memberi jeda. Matamu sibuk ke seberang sana, memperhatikan mereka yang keluar masuk Ragusa. Aku selalu tau, isi kepalamu sedang tak disini bersamaku. Bagiku kepalamu adalah tempat yang berbahaya, yang sarat akan isyarat. Terlalu ramai disana, aku menolehpun enggan rasanya sebab isinya bisa dimana saja atau apa saja. Dari yang nyata sampai mengada-ada, dari yang serius hingga sebercanda saat kamu bertanya "usia biologis ku seharusnya berapa?". Namun, aku selalu percaya, pada akhirnya, isinya tetap saja akan kembali pada kita.
Suaramu parau, "Kamu mau es krim?"
Aku tersenyum. Tahun-tahun ternyata tak berdampak apa-apa, tak membuatmu serta-merta menjadi waras dari terminologi yang itu-itu saja. Kamu tak ubahnya tetap sebuah klausul bahan kimia yang selalu membuatku menggelengkan kepala. Peribadi yang ku rawat baik dalam ingatan dari miskinnya pilihan-pilihan manusia.
Sepersekian detik aku menuju ke dalam matamu. Ada kegundahan disana, seolah ada tulisan yang tak kamu selesaikan agar bisa berpindah halaman. "Tadi kamu mau tanya apa?" Ucapku.
Lagi-lagi kamu bisu. Bertingkah sibuk memperhatikan sesuatu di belakangku. Aku menoleh mencari tau. Seorang bapak menawarkan dagangannya, keset dan perabotan rumah tangga diatas gerobaknya. Pikirku tidakkah orang tua seharusnya tak lagi bekerja apalagi ditengah Corona. Kota ini kadang terlampau membabi buta melibas apa saja yang bergerak diatasnya. Tak seperti tahun-tahun termanis kita di Jogjakarta. Semua orang ramah tak berkesudahan, hingga kamu dengan serius mengajakku berencana memiliki anak lima saat itu juga, gila! Pikirku. Mau dikasih makan apa? Tapi, tidak disini. Bahkan mimpi kadang terlalu pagi untuk harus disudahi. Menanggalkan status manusia setiap harinya bukan barang langka. Disini, nasib buruk orang lain adalah bahan bercandaan.
"Nanti kalau udah nikah mau tinggal dimana?" Katamu.
Kepalaku, spontan pergi menuju parasmu. Sepasang mata bertemu. Kamu tersenyum pelit, mengerutkan kening. "Jawab!!!" desakmu. Dua detik aku menutup mata, mencoba mengingat kembali mengapa aku rela menggenggam hati wanita gila di depanku kali ini.
"Kamu ingat? Orang-orang yang dulu meramalkan hubungan kita takkan berhasil?"
Kamu mengangguk.
"Kamu ingat mereka? Yang mengatakan bahwa kita hanya terjebak kisah cinta sesaat?"
Kamu mengangguk lagi, kemudian menambahkan "lalu?".
"Mereka apa kabar ya?" Sambungku.
Kamu menyilangkan kaki, membenarkan posisi dudukmu, dan meluruskan punggung. Apakah kamu sedang mengingat nama? Siapa saja yang mensyukuri perpisahan kita? Siapa saja yang mengamini saat aku membunuh keniscayaan, mengamuk kehilangan elegi dan tak ingin melihat parasmu kembali.
Menurutmu itu adalah rehat, tirakat yang kita ijinkan keberadaannya. Tawa kita yang terlampau berlebihan akhirnya menjadi tangis yang tak berkesudahan. Lalu lagi-lagi aku harus banyak membaca kalimat motivasi, yang menurut mereka kebijaksanaan tertinggi adalah tahu kapan harus berhenti. Menurutku semua itu basi.
Kamu membuka suara "Kayaknya...". Aku berdiri, menggulung kameja sebelah kanan dan kiri. Lisanmu berhenti, tak ku biarkan itu selesai disini. "Ke seberang yuk, es krim, mau?" Tanyaku. Kamu tersenyum, mengangguk, memberikan tepukan kecil tanpa suara.
Tangan kiri ku membuka telapak di hadapanmu, disana kamu meletakkan telapak kananmu. Dua telapak bersatu seperti di masa lalu. Aku menggenggam segalamu dengan penuh arti. Kamu berdiri, sedikit limbung, membenarkan tas selempang yang mrnggantung di bahu kiri.
Dari bangku panjang itu, hanya sekitar dua puluh langkah menuju Ragusa. Dua puluh langkah lagi aku akan mendengarkan ocehan yang tak karuan. Tangan kananmu menggamit lengan kiri ku, pada bahuku kepala mu jatuh. Kita menyebrang, kamu membisikkan sesuatu padaku.
"Kayaknya suatu hari kita harus tanya mereka, nanti kalau udah nikah lebih baik tinggal dimana".
Jauh di ujung pandanganku, kota ini memang tak pernah tidur. Udara yang likat sesekali dipenuhi suara ambulan. Namun siapa yang tahu akhirnya, kita berdua menyebrang jalan di bawah langit ibu kota bukan lagi di kota istimewa. W.S. Rendra benar, akan selalu ada kabut dalam pikiran.