"Sabtu Bersama Bapak", bacaan yang pas. Menyenangkan! #BaruSempet #Baca #Novel #Lagi #PecanduBuku #MeTime #Mudik #KampungHalaman #Sukabumi #Indonesia (di Sukabumi, Indonesia)
taylor price

pixel skylines
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
One Nice Bug Per Day
noise dept.
Jules of Nature
Game of Thrones Daily

JBB: An Artblog!

No title available
dirt enthusiast

祝日 / Permanent Vacation

Origami Around

Kiana Khansmith

Love Begins
we're not kids anymore.

izzy's playlists!
art blog(derogatory)
RMH
trying on a metaphor
Not today Justin

seen from Malaysia

seen from United States
seen from Belgium
seen from United States
seen from Indonesia
seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States

seen from United States
seen from China

seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from United States
@sayworld
"Sabtu Bersama Bapak", bacaan yang pas. Menyenangkan! #BaruSempet #Baca #Novel #Lagi #PecanduBuku #MeTime #Mudik #KampungHalaman #Sukabumi #Indonesia (di Sukabumi, Indonesia)
"Tuan Penyaji Tawa" Sewaktu layar 32 inch menyalakan acara komedi. Bukan melulu kelompok penghibur, namun dibalik mic yang mengharuskan mereka melucu sendirian diatas panggung. Beberapa komedian berebut tawa penonton, termasuk diriku yang diam diberanda. Ada yang mencuri indra penglihatanku, beliau yang khas dengan verbal kota kembang. Juga memiliki senyum hanya 2cm. Guyonan yang disajikan beliau ternyata membuatku candu, sampai setiap seminggu sekali, aku setia pada layar kaca walau dalam keadaan lapar dan belum mandi. Sebab ingin tertawa adalah hak segala umat. Tidak ada sedikitpun memiliki hasrat untuk menemuinya, sekedar tertawa dalam nyata. Aku merasa cukup diam dirumah, dan tertawa dalam keadaan suka - suka. Namun sewaktu, takdirlah yang membawaku pada satu dimensi yang menyenangkan. Aku akhirnya membawa diriku pada sebuah cafe yang menyajikan beliau. Tanpa seduhan kopi, tanpa gula. Aku duduk diantara tawa, duduk disebelah barista. Sampai malam menuju larut, mencoba menggoda dalam sapa. Setidaknya, perasaan senang bisa dilaporkan dalam bentuk berita. Akhirnya, takdir memang tidak menjanjikan apapun selain "terjadilah". Kepalang riang tanpa jumlah. Seandainya saja bisa duduk bersanding lebih lama, membicarakan sajak yang selalu beliau tawarkan dalam guyonan. Aku mau mendengarnya sampai pagi sekalipun. Tak ada hal yang menarik lagi malam itu, selain beliau yang sungguh seperti kopi. Membuatku susah tidur. Aku mau lagi, mau dalam kisah yang sama. Disuatu masa, disuatu tempat yang berbeda. Semoga Dari banyaknya orang yang menyukainya, sungguh aku adalah salah satunya. Dan itu halal rasanya. Hai, tuan penyaji tawa. Apakah semesta akan mendukung diriku untuk terus rindu kau hibur? Malam ini rasa melankolia, disandingkan dengan kue manis dan susu cokelat. Aku sudahi ya, jangan malu. Salam rindu, pecandu tuan. - pict by pulung (twitter)
Perempuan Folk
Sehari - harinya rambut digerai dan dijepit depan poni. Kalau senyum, manisan bogor sekalipun tidak ada apa - apanya. Semesta memanggilnya, Mari.
Mari sukanya bangun pagi, tidak mau kalah dengan matahari. Karena Mari sadar, bangun siang hanya dilakukan oleh orang - orang yang putus asa melawan kantuk. Lagipula, Mari harus pergi ke kebun menanam impian. Supaya cita - cita jadi petani masih memiliki regenerasi dijaman yang serba digital ini.
Mari anak kedua dari 2 bersaudara. Kakaknya meninggal sejak Mari masih janin dirahim ibunya. Sekarang Mari hidup dan dibesarkan kakek dan nenek dalam keluarga sederhana. Orang tua Mari mengadu nasib menjadi TKI dan TKW di negeri tirai bambu. Sampai saat ini Mari belum pernah bertemu dengan orangtuanya. Mungkin orang tuanya sudah lupa, atau sedang asik berdagang sambil jadi kuli orang china.
Mari usianya sekarang sudah 25 tahun. Anak - anak disekitarnya sering memanggilnya perawan tua. Padahal, kehidupan dikota masih banyak yang hidupnya menjadi kacung perusahaan. Sampai lupa menikah. Mari, bukannya tidak laku dikampungnya. Melainkan, Mari tidak ingin menjual keperawanan demi bertahan hidup kebanyakan seusianya.
Akhir - akhir ini Mari sering melamun, sembari minum kopi yang dibuatnya khas. Entah apa yang dipikirkan Mari. Mungkin Mari rindu akan suasana dalam rahim. Yang kenyang karena placenta yang bagus. Ah, bukan itu. Mari hanya memikirkan bagaimana caranya masuk surga. sedangkan surganya ada kaki si ibu yang sekarang jadi TKW di China?
Dongeng diujung Maret - SAY
Picture : www.esty.com
Perempuan. Makhluk absurd saat PMS. Doyan bilang"Engga apa apa" saat resah. Pintar analisa perasaan. Logikanya tidak dijual. Juga, duduk ketika pipis.
SAY
Kalau pekerjaanmu menyita waktumu penuh. Sampai tidak ada cerita menjelma rindu. Aku tidak apa. Sebab, aku tidak menggajimu untuk terus mengabariku.
SAY
"Seberapa yakin kamu, kalau semesta tidak mendukung. Harap tulus! Kamu cuma ciptaan yang terlanjur memiliki perasaan. Bersoraklah binatang - binatang dimuka bumi". • • • Bogor, 19 Maret 2016. • • in Frame : @rizqikikuk #Pagi #Siloet #CurahanHati #LakiLaki #Yang #Sedang #Resah
Kalau semesta tidak mendukung, bukan berarti kita adalah sisa - sisa doa yang belum terdengar.
Say
Dialog, yang sukanya mengutuk hari kemarin beserta isinya. Lupa, kalau dirinya “hari ini” adalah hasil dari yang dilalui.
say (Rabu,sendu)
Gadis yang kau patahkan, itu hanya hatinya. Bukan akalnya! Bergila-lah lebih lama, sebab ia akan tetap sehat dan hidup.
say (²lima /XI/duaribu15)
Menciummu malam itu, aku tahu, perpisahan denganmu lebih cepat datang dibanding malaikat pencabut nyawa sekalipun.
say
Teruntuk Bandung malam ini, ada yang ingin aku sampaikan. Aku benar - benar merindukan berandaku, lengkap dengan ayah, ibu dan adikku. Tidak ada hal yang lebih menarik, selain meng-atap-kan diri bersama orang yang setia sedari ku bayi. Dimanapun aku berada, pulang kerumah adalah hal yang serius.
say (Bandung, 30 Oktober 2015)
Sebetulnya, sejadah yang digelar, tidak semata - mata menopang untuk shalat. Justru, ada waktu untuk duduk manis, berdoa adalah prihal romantis. Meditasi terbaik, ada pada dirimu yang berserah diatas sejadah.
Say
Catatan Perjalanan Camping Festival “Seuri Bray”
Sedari ku mulai terjerumus dengan brengseknya Skripsi, tak banyak waktu untuk aku bersenang – senang dengan kesukaanku terhadap dingin dan sepi. Tapi aku rasa Tuhan jauh lebih mengerti, bagaimana ia memberikan kesempatan kepadaku dengan cara yang keren.
Aku adalah salah satu perempuan penikmat musik, penggemar jalan - jalan, dan menggilai keduanya. Ku rasa Camping Festival adalah hal yang pas untuk dinikmati. Sudah lama tidak ngopi, makan dinesting sembari seuri bareng baraya (dibaca : sambil ketawa bersama saudara).
Informasi event ini aku dapatkan dari seorang pria sanguin di Bandung. Sebut saja dia mas dadang, salah 1 pemain cajon fenomenal Band Parahyena. Dia menyelundup seperti manusia persuasi, dan aku tergoda untuk menjadi peserta tanggal 3- 4 Oktober 2015. Juga, aku memang menyukai Band Parahyena setelah melihat perform-nya di salah 1 café Bandung saat itu. Akhirnya aku memutuskan dengan sadar untuk hadir dalam acara Seuri Bray.
Singkat Cerita.. Aku mendaftarkan diri bersama ke-empat kawanku dari Jakarta. Dia bernama Kikuk, Uya, Bentol, dan Jupe. Lalu kami menunggu hari itu tiba..
Menjelang keberangkatan, justru kawanku bernama Jupe mengundurkan diri, ia lebih memilih ke Singapore bertemu pujaan hatinya. Dan, akhirnya tiket pindah alih ke kawanku bernama Semok. (Mubazir udah ditransfer uangnya), hehe.
Hari itupun tiba, dimana kita akan berangkat pada tanggal 2 Oktober hari Jum’at malam. Namun aku ada halangan yang sangat sakral, akhirnya diputuskan untuk berangkat Sabtu siang. Resikonya, akan banyak acara yang ketinggalan, dan itu mutlak.
Sisa – sisa lelah menyetir karena urusan, aku serahkan untuk gantian pada kawanku Uya tepat dipukul 13.30 WIB. Menembus Jakarta yang macet, juga jarak yang lumayan Jauh menuju Ciwidey Bandung. Lara, namun tetap nikmat rasanya jika isi mobil penuh gurauan, juga disponsori oleh cemilan yang enak dan mengenyangkan. Sesampainya di Tol Pasteur Bandung, aku menjemput kawanku dari Mahacita UPI bernama Beben. Beliau akan menjadi navigator menuju lokasi Seuri Bray.
Akhirnya sampai juga di Green Hill Ciwidey tepat pukul 20.30 WIB. Argh!! Ada penyesalan tidak bisa melihat Angsa dan Serigala perform, dan juga Parahyena. Tapi apa daya, sudah sampai dilokasi itu saja sudah cukup menyenangkan. Sambutan Panitia cukup hangat, sehangat pemandian air panas yang tersedia didalamnya.
Saat registrasi ulang peserta, tidak lama aku bertemu kawanku penulis buku Tabah Sampai Akhir. Beliau juga mengisi acara di acara Seuri Bray. Dan, asik juga konsep acaranya. Karena ini memang acara pertama yang aku datangi bertema camping Festival.
Singkat cerita lagi..
Bergegas mencari lapak untuk menebar tenda dan beristirahat. Aku melewati lapak tendanya para talent – talent, akhirnya ketemu mas dadang yang sedang berdiri disebelah panggung. Senang, akhirnya bertemu kembali dengan idola. Ohya, lapak tendaku persis sebelah kanan panggung dan depan lapak Bazzar. Juga bergabung bersama kawanku dari Yogyakarta bernama Sakti. Setidaknya, aku masih bisa melihat perform Fiersa Besari, sisa – sisa perform Parahyena, juga Kloppas. Mengobservasi panitia dan peserta, ada malam yang rugi untuk dilewatkan. Tidak perlu ada yang disesali, lebih baik menari – nari dalam malam yang semakin larut, dan melebur bersama rinduku terhadap Bandung. Malam itu sangat menyenangkan bagiku, bagi mereka, bagi siapapun yang memauinya.
(Aa - aa gemes Parahyena)
(Parahyena Performance. yihaaaaaa)
Acara musik selesai, api unggun mulai redup, aku masih diluar tenda bersama kawan – kawanku. Saling bertukar cerita, merayakan kelulusan kuliah dengan seteguk bajigur, juga disponsori oleh pendongeng lucu dari mas dadang. Tidak terasa, tertawa sampai jam 3.30 pagi. Dan suasana tenda semakin hening dan tak bernyawa. Akhirnya aku memutuskan untuk manja – manja bersama sleeping bag. Terimakasih yang terlibat, aku senang.
Pagi datang, peserta mulai ramai. Ada yang sibuk sarapan, sibuk senam, sibuk foto – foto, sibuk mendengarkan, sibuk jalan – jalan, sibuk bengong, sibuk hammockan, sibuk berjemur, sibuk mencari seseorang, sibuk mandi, sibuk jatuh cinta, sibuk jadian, sibuk dengan talkshow, juga sibuk mengobservasi. Semua sibuk dengan gayanya masing – masing. Ku rasa, aku ingin berlama – lama dalam acara tersebut. Tapi hasratku yang dibatasi waktu, harus bergegas pamit. Terima kasih sudah baik, sudah mengadakan acara Camping Festival untuk Satu Bumi Kita. Lain waktu, mungkin aku akan ikut kembali, dengan tidak lagi kata terlambat datang. Supaya tidak ada yang dirugikan, hehe.
( Pemeran Posisi Badak Tempur yang Gagal : Kikuk, Semok, Bentol, Epoy, dan Uyha)
(Talkshow “Tabah Sampai Akhir” by Irfan Ramdhani)
Aku meninggalkan acara sebelum Seuri Bray selesai. Maafkan, ada yang harus ku buru – burui, supaya beberapa tempat di Bandung dapat dikunjungi. Seperti penakaran Rusa di Rancaupas Ciwidey, Alun – Alun Bandung, Jembatan Fenomenal bertuliskan quote Pidi Baiq, juga Kantin Nasion Rumah The Panas Dalam. Setelah itu, aku berpisah dengan kawanku dari Yogyakarta dan juga Mahacita UPI. Senang bisa berbagi senang – senang dengan kalian.
(Penakaran Rusa, Rancaupas, Ciwidey, Bandung)
Sebelum benar – benar meninggalkan Bandung, aku mengunjungi dulu buah batu yaitu Sekretariat Argawilis di ISBI Bandung. Untuk bertemu idola, juga mengistirahatkan mobilku yang mulai mengkhawatirkan dipaksakan pulang. Argh! Aku masih ingin lama – lama di Bandung.
Jam 22.30 WIB aku dan keempat kawanku meninggalkan Bandung menuju Beranda. Terimakasih Camping Festival Seuri Bray, sudah meleburkan rinduku dengan Bandung, juga dengan orang – orang yang menyenangkan. Sampai jumpa, diwaktu yang berbeda dan di rasa senang yang sama. Amin
Aku memang haus, tapi aku tidak akan menenggak air orang lain tanpa pamit. Sebab, dehidrasi tak perlu berbagi. Mati itu sendirian.
say
Pagi ini rasa kantuk yang berat. Juga sesak yang amat. Kau yang sedang asik mengecup gadismu, dan kau biarkan aku menelanjangi indera lihatku. Sadis!
say
Sementara, ada hal - hal yang perlu ku nuklir di Bandung. Tentang ruang yang sesak ditempati, turut berduka cita atas dosaku mencintaimu. Ku harap ALLAH maklumi.
Ibu, pengisi afeksi terbanyak, pemberi asi terbaik, pendoa terindah.. Jangan pergi jauh - jauh, sebab surgaku ada dikakimu.