Dalam Setiap Hubungan, Pasti Ada Dentingan.
69% konflik dalam rumah tangga gabisa diselesaikan dengan cepat, contohnya hal-hal kecil seperti naro handuk berantakan, baju kotor dimanadimana gt, yang berujung pada konflik besar. Cara menyelesaikannya adalah dengan komunikasi antara kedua belah pihak agar tercipta winwin solution.
Menyelesaikan konflik itu dapat membuat intimacy bertambah kepada pasangan.
Tapi terkadang, ada konflik yang bisa hanya diterima aja tidak harus diselesaikan, kita harus memilah-milah, "yaudahlah ya pasangan saya emang kaya gitu, terima aja". yaudah ya disertai dengan penerimaan tulus dalam hati ya, terima, terima.
Perbedaan perempuan dan laki-laki dalam berkonflik.
Laki-laki : yaudah sih to the point aja.
Perempuan : dengerin aku ngoceh dulu. akhirnya perempuan bakalan ngoceh panjang lebar diomongin semua, ibarat film nih, itu ga dari awal langsung ending, muter dulu dia ke banyak twist-twist baru tuh ending.
Kenapa ya ko perempuan sering banget marah?
karena perempuan itu dilindungi oleh insting protector, makanya perempuan lebih peka dan sensitif terhadap sesuatu. Kalau lagi marah nih, mungkin aja dia lagi merasa terancam, pekerjaan yang menumpuk kah, anak lagi rewel kah, jadinya dia marah, gitu.
Komunikasi bersama pasangan itu harus dijadikan kebiasaan loh, minimal 10-15 menit gitu membahas apapun.
Berkomunikasi saat berkonflik bersama pasangan adalah hal yang susah. bahkan pasangan yang sudah menikah berpuluh-puluh tahun pun harus tetap belajar, yaa belajar mengatur emosi, merangkai kata-kata, dan belajar memahami "dia tipe yang sensitif, bagaimana ya cara komunikasi yang tepat sama pasangan aku ini".
Kalau lagi berkonflik, dan ingin mengutarakan sesuatu, yu coba dibiasakan jangan langsung "aku mau ngomong". Wadoow, nanti pasangannya mikir "apanih yang salah? wah bakal ribut nih".
Coba dibiasakan sebelum menyelesaikan konflik, ngobrol santai dulu, selipin-lah humor dan obrolan ringan, biar suasananya gak tegang melulu, gitu. Harus menetralkan emosi, udah tenang, baru omongin.
Tapi kalau gabisa dengan cara ini, mau ngomong tapi ko liat pasangan jadi makin emosi ya?
Untuk kamu yang suka memendam emosi dengarkan lagu dulu, baca buku dulu, sudah tenang, kemudian liat pasangan kamu apakah sudah tenang juga?
Untuk kamu yang suka mengeskpresikan emosi bisa tuh dengan melakukan aktivitas lainnya dulu seperti cuci piring gitu, sudah tenang, kemudian liat pasangan kamu apakah sudah tenang juga?
Jika sudah sama-sama tenang, yu mulai komunikasikan. ingat ya, harus dalam kondisi sama-sama tenang. Segala sesuatu yang dibahas dengan emosi, yang ada hasilnya akan kacau berantakan.
Lalu, diam di saat emosi juga gabaik loh.
Diam itu menjadi emas saat itu bertujuan untuk menenangkan diri. Diam yang gabaik adalah saat emosi, saat ada konflik dengan pasangan terus maunya dimengerti aja.
Hei, kan pasangan kamu tuh bukan pembaca pikiran loh. Gimana dia bakal tau kalau kamu ga ngomong?
komunikasikan dengan baik dan lembut.
Gimana kalau kita punya pasangan yang suka lari atau menghindar dari konflik?
contohnya: seseorang yang gasuka berada dalam konflik terus kalau ada konflik selalu ngomong "yaudahlah gausah dibahas, ntar aja ntar". gitu, selalu menghindar.
Dia kenapa seperti itu? apakah bawaan dari pola asuh keluarganya yang tidak suka menyelesaikan konflik? sehingga dia selalu menghindar? kemudian, beritahu pelan-pelan, "ayo komunikasikan, kamu maunya apa? maunya gimana? biar sama-sama plong, biar ga ada yang dipendem,".
Dia kenapa seperti itu? apa jangan-jangan dari aku nya? aku yang selalu menciptakan suasana menyeramkan disaat sedang berkonflik makanya dia menghindar?
“oh oke deh, kalau intonasi suara aku mulai naik, lebih baik udahan dulu ngocehnya, minum dulu”.
Poin penting: Komunikasi dalam menyelesaikan konflik dengan pasangan itu memang butuh proses, perlu belajar. Jangan sampai terburu-buru yaa nanti yang ada malah itu akan jadi pressure/tekanan. Yang terpenting adalaah ber-progress bersama.
Diskusi, 2 Juni 14.00-15.00
Terimakasih Psikolog Ega dan Kak Tarra