Parece homologado.

#ryland grace#phm#rocky the eridian#project hail mary spoilers


seen from Indonesia

seen from Malaysia

seen from Dominican Republic

seen from Indonesia
seen from Taiwan
seen from China
seen from United States

seen from China
seen from Yemen
seen from China

seen from France

seen from Belgium
seen from Belgium

seen from Netherlands

seen from France
seen from Bulgaria
seen from China
seen from Lithuania
seen from Dominican Republic
seen from China
Parece homologado.
Hidup tak pernah selesai ditulis. Kita semua hanya sedang membaca, belajar, dan mencoba memahami arti halaman berikutnya.
Baca Sunset II Acrylic on canvas 9x12". Crestone, Colorado. Charles Morgenstern, 2024.
“Kalorifer peteği mi, soba mı? Bizimki ikisi birden… 🔌🔥
Modern ısının nostaljik hali burada!”
“Petekten soba olur mu? Olur!
Biraz boru, biraz hayal gücü yeter.” 😄
Assalamu 'alaykum, kak. Tolong bagi tips gmn caranya bisa menumbuhkan dan memelihara minat baca, di saat pentingnya membaca berbagai buku baru disadari setelah dewasa. Bukan membiasakan membaca buku sejak kecil. Terimakasih
Wa 'alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh.
Membacalah untuk menemukan diri sendiri. Membaca buku itu seperti proses ekskavasi. Kita menggali untuk menemukan sesuatu yang terkubur. Ketika kamu tertarik dengan sebuah buku, ia memberi petunjuk tentang siapa diri kamu dan bisa jadi seperti apa kamu. Ikuti apa yang secara alamiah menarik bagimu. Tidak perlu merasa aneh jika kamu tidak tertarik dengan buku yang populer atau yang direkomendasikan orang lain.
Membacalah dengan cara kamu sendiri. Tidak ada aturan dalam membaca. Kamu boleh membaca dengan lambat, mengulang-ulang suatu bab, melewatkan beberapa bagian, atau bahkan meninggalkan suatu buku di tengah jalan kalau buku itu tidak berbicara denganmu. Membaca seharusnya menjadi dialog pikiran yang bisa kamu nikmati, menantang keyakinanmu, mengguncang pandanganmu, atau membuatmu bertanya tentang segalanya.
Membacalah untuk melawan kedangkalan. Di era teknologi yang serba instan, di mana orang-orang puas dengan kedangkalan, membaca adalah bentuk perlawanan. Membaca mengajarkan kita untuk berpikir mendalam, merasa dengan tajam, dan melihat dunia dengan lebih utuh. Ambil kendali atas pikiran dan kontrol penggunaan media sosial. Sadari bahwa meskipun tidak seadiktif scolling media sosial, membaca adalah cara untuk memastikan pikiranmu tetap hidup, terus tumbuh, tidak diam membeku.
Kartini: 7 Langkah Lebih Maju di Antara Kaumnya
"Salah satu biografi terbaik untuk mengenal Raden Ajeng Kartini yaitu dengan membaca buku yang ditulis Pramoedya Ananta Toer yang judulnya 'Panggil Aku Kartini Saja'. Di tahun segitu nggak banyak orang mempermasalahkan tentang kelas sosial, tapi Kartini did that!"
Suatu ketika saat break kerja, saya membuka Youtube Shorts, lalu ada postingan video di mana dia lagi wawancara entah siapa, kayaknya salah seorang 'tokoh' di dunia literasi. Awalannya dia membahas Raden Soesalit, salah satu tokoh pergerakan dan anggota Partai Sosialis Indonesia which is he is on the left. Jujur, asing juga mendengar namanya. Tapi, ternyata beliau adalah putra dari Raden Ajeng Kartini.
Seorang gen Z yang apa-apa FOMO setelah melihat cuplikan video kurang dari 30 menit itu, akhirnya membaca karangan Pramoedya Ananta Toer itu. Lagi-lagi apa? Ya, lebih baik terlambat daripada tidak membaca sama sekali HAHAHA
Bab-bab awal-awal banyak bercerita tentang latar belakang Indonesia sebelum Kartini lahir, di mana saya cukup terkesima bahwa di tahun 1800-an, saat cultuurstesel penyebab paceklik di tanah Jawa menjadi awal sebuah tulisan di mana titik berat Kartini akan kepeduliannya terhadap rakyat. Tulisan apakah itu? Yap, Max Havelaar!
Terus yang mengherankan lagi, di zaman-zaman itu banyak para bangsawan tuh ternyata tidak berpendidikan, bahkan jadi bahan gujingan di kalangan bangsawan pula karena beranggapan bahwa mencicipi ilmu pengetahuan dari penjajah berarti meninggalkan Kejawaannya, kasarannya Londo Coklat! Untungnya... Kartini lahir di keluarga bangsawan yang kakek buyutnya sadar pentingnya pendidikan bagi keturunannya. Bayangkan saja, kalangan bangsawan yang dapat membaca bahkan bicara dalam bahasa Belanda hanya 4 se-Hindia Belanda, yakni Achmad Djajadiningrat dari Banten (ternyata leluhur dari aktor Lutesha), RM Tumenggung Kusumo Utoyo Bupati Jepara terdahulu, serta paman dan ayah Kartini! Benar-benar privilege yang Kartini pergunakan sebaik mungkin.
Bayangkan saja dengan privilege Kartini sebagai bangsawan, ia dapat mencicipi pendidikan yang 'mewah' bagi sebagian besar pribumi saat itu. Tidak hanya berhenti di situ, Kartini juga menempuh ilmu selama di rumah meski harus dipingit dan belajar hanya setara di kelas rendah, ketika kakaknya, Sosrokartono melanjutkan pendidikan tingginya di negeri Belanda dan menjadi sarjana pertama di Indonesia karena kejeniusannya. Lagi-lagi perempuan harus bekerja keras 2 kali lipat dibanding laki-laki untuk mengenyam baris-baris pengetahuan yang seharusnya pantas untuk didapat.
Namun, sebetulnya yang paling sedih adalah ketika ia banyak tawaran menulis untuk surat kabar Hindia Belanda, tapi dibatasi oleh ayahnya sendiri dan menganggap orang-orang di sekelilingnya berpikiran tidak-tidak tentang perempuan yang seharusnya tahu batas yang tidak ia langkahi yakni menjadi tenar karena pemikiran. Ya, lagi-lagi karena dia seorang perempuan.
Menariknya lagi, Kartini banyak menulis tentang kritik sistem feodal Jawa yang membuat manusia tidak setara dengan manusia lain hanya karena pangkat dan jabatan. Tulisannya ini juga yang menjadi ilham seorang Bung Karno ketika menulis pidato pembelannya yang paling fenomenal, Indonesie Klaagt Aan. What a plot twist! Kadang saya berpikir, apa yang Bung Karno lakukan bila Kartini hidup di masa Bung Karno melakukan gerak revolusi itu secara bersamaan?
Pemikirannya yang progresif itu pula diilhami tidak hanya dari ia membaca buku yang ditinggalkan kakaknya, Sosrokartono, tapi dari kunci semua tempat curhatnya, Estelle Zeehandelar, perempuan sosialis Belanda yang juga mempengaruhi sebagian besar pemikiran Kartini. Tidak hanya Stella, namun juga Nyonya Abendanon yang akhirnya menghimpun surat Kartini kemudian dijadikan buku fenomenal yang kita kenal sekarang, Door Duisternis Tot Licht atau Habis Gelap Terbitlah Terang.
Dari buku Pram itu, kita diajak untuk merasakan pergolakan perasaan Kartini tentang kepedulian kepada rakyatnya, ketika bangsawan kala itu tidak punya rasa pelayanan tinggi terhadap rakyat. Di masa itu ia memimpikan ketika suara rakyat didengar melalui satu kata: demokrasi, hal yang janggal dalam sistem feodal Jawa. Kartini secara sadar mengakui bahwa betapa ironis keadaan rakyatnya saat itu, sampai ia menulis artikel di majalah Hindia Belanda berjudul "Vergeten Uithoekje" atau Pojok Terlupakan. Dari karangan itu, Kartini bercerita tentang pengrajin ukiran Jepara di belakang gunung yang keadaannya memprihatinkan. Bisa di bilang saat itu, Kartini layaknya meng-endorse usaha rakyatnya agar lebih dikenal, terutama oleh kalangan Belanda.
Akhir kata, Kartini secara sadar mengetahui bahwa alat yang ia punya saat itu hanya lah bahasa, yakni bahasa Belanda, di samping keterampilannya pada bahasa Perancis. Untuk mengubah nasibnya dan nasib kaumnya saat itu, ia perlu bicara dalam bahasa jajahannya untuk memberi pengertian kepada kaum penjajah bahwa kaumnya mampu setara dengan kemajuan yang telah diciptakan oleh Belanda. Kaumnya pula tidak ingin menjadi rakyat tertindas, karena kemajuan tidak hanya diperjuangkan tetapi juga ditulis dan sebarluaskan. Meskipun ia tidak seperti Pandita Ramabai yang memperjuangkan bangsanya dengan berbicara melalui bahasanya, namun, Kartini dengan bahasa kaum penjajahnya sendiri, ia mampu 7 langkah lebih maju di antara kaumnya dengan memanfaatkan privilege yang ia punya, sumber daya, waktu, tenaga, dan kekuasaan. Keterbatasan bisa jadi senjata, bukan lagi alasan. Hingga akhir hayatnya pun, kebebasannya sebagai perempuan masih jadi barang langka sampai ia menikah dan menghembuskan napas terakhirnya🥀.
Bacasızdır içimizdeki duman,
Ne bir gören olur, ne de bir duyan...
@ayhancabakislar