Untuk orang yang berani menghadapi kesukaran dan berani bergulat melawannya, apakah yang bisa menyedihkan hatinya?
Gulat di Jakarta (Pramoedya A. Toer)

blake kathryn
🪼
Peter Solarz

oozey mess

tannertan36
almost home
Lint Roller? I Barely Know Her

No title available
Acquired Stardust
hello vonnie

JBB: An Artblog!

ellievsbear
I'd rather be in outer space 🛸
h

Discoholic 🪩

Andulka
taylor price
todays bird

pixel skylines

PR's Tumblrdome
seen from Canada
seen from Türkiye
seen from United States

seen from United States

seen from Colombia
seen from South Africa

seen from Brazil
seen from Romania
seen from Türkiye

seen from Malaysia
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Belarus

seen from Russia
seen from Saudi Arabia
seen from United States

seen from United States

seen from South Africa
@sceneofanangel
Untuk orang yang berani menghadapi kesukaran dan berani bergulat melawannya, apakah yang bisa menyedihkan hatinya?
Gulat di Jakarta (Pramoedya A. Toer)
Berdoalah dulu. Ucapkan syukur. Masih banyak waktu untuk tidur. Kita hanya dapat berusaha apa yang patut diusahakan. Yang lain-lain bukan lagi dalam kekuasaan kita. Berdoalah, bersyukur.
Gulat di Jakarta (Pramoedya A. Toer)
Kemewahan yang diburu dan bukan mengikuti adalah jalan kekosongan jiwa.
Gulat di Jakarta (Pramoedya A. Toer)
Dunia ini adalah dunia manusia. Kalau saja tak ada berbagai batas yang dibuat-buat oleh berbagai macam golongan.
Gulat di Jakarta (Pramoedya A. Toer)
Ia berbahaya dalam penderitaannya. Ia tahu ada sesuatu yang diperjuangkan. Dan untuk itu ia rela.
Gulat di Jakarta (Pramoedya A. Toer)
Yang penting dalam hidupmu, bukanlah didikan yang kau terima dari orang. Yang penting ialah didikan yang diberikan oleh pikiranmu sendiri yang waras pada dirimu.
Keluarga Gerilya (Pramoedya A. Toer)
Aku pikir, kebaikan yang dipaksakan itu akhirnya jadi kejahatan.
Keluarga Gerilya (Pramoedya A. Toer)
Tapi orang yang sudah meninggal dunia sudah tentu tempatnya. Yang harus kita pikirkan sekarang ialah yang ditinggalkan.
Keluarga Gerilya (Pramoedya A. Toer)
Barangkali betul juga bahwa pendidikan dan pengajaran tak menjamin orang menjadi baik.
Keluarga Gerilya (Pramoedya A. Toer)
Tarik dagumu. Busungkan dadamu. Ini baru permulaan. Permulaan, mengerti?
Keluarga Gerilya (Pramoedya A. Toer)
Bagaimana kita perlu sekali mengetahui hirarki penyebab masalah sampai menemukan intinya. Begitu inti dipegang, solusi cenderung sederhana.
Secangkir Teh Melati (Benjamin Wibisono)
Bisa dibayangkan kejayaan bangsa ini andaikan sejak 1950-an setiap ayah membiasakan anak-anaknya, laki dan perempuan, masuk ke toko buku.
Secangkir Teh Melati (Benjamin Wibisono)
Aku yakin seyakin-yakinnya bahwa andaikata aku berhasil sekali pun menjadi makhluk paling bebas, hidup tanpa melayani orang lain bukanlah kehidupan.
Kekasih Musim Gugur (Laksmi Pamuntjak)
Ini bukan karena aku percaya bahwa perempuan harus bergantung pada laki-laki. Tapi aku tak percaya bahwa perempuan harus menanggung semua akibat, sementara laki-laki bebas dari hukuman, dengan nama baik, martabat, dan stabilitas keluarganya tetap utuh.
Kekasih Musim Gugur (Laksmi Pamuntjak)
Jangan menyerah pada kegelapan. Nyalakan lilin.
Kekasih Musim Gugur (Laksmi Pamuntjak)
Aku mengagumi ibuku dengan segala keberanian dan kesetiannya, dan mencintai ayahku dengan segala kesalahan dan kealpaannya.
Kekasih Musim Gugur (Laksmi Pamuntjak)
Aku mengagumi ibu luar biasa, meskipun ada dalam diriku yang menganggap itu sudah sepantasnya: perempuan memang dilahirkan lebih tangguh ketimbang laki-laki.
Kekasih Musim Gugur (Laksmi Pamuntjak)