Seseorang pernah berkata kepadaku, jika kau resah dan tak bisa mengungkapkan alasannya maka tataplah langit. Ceritakanlah semua dan rahasiamu akan aman. Ia juga mengatakan jika pikiranku penuh sesak dengan segala macam tanya yang tak kunjung terjawab, ungkapkan saja segala kekhawatiran itu, meski tak ada jawaban setidaknya bebanku akan berkurang. Dan banyak hal lainnya yang ia katakan kepadaku tentang pikirannya. Ia adalah Saka. Segala resah yang tak pernah terucap dan segala tanya yang tak pernah terjawab. Seseorang bak matahari dengan pikiran layaknya ombak, hangat dan menghantam dengan teratur namun bukan untukku saja.
Ada banyak hal yang baru aku sadari saat semua sudah terlambat, termasuk Saka. Aku tak tahu kapan perasaanku mulai hadir dan mengapa bisa ia orangnya. Saka pernah berkata bahwa lebih baik jatuh cinta tanpa alasan agar tak ada perasaan yang hilang saat alasan itu hilang, saat itu aku tak setuju. Bagiku jatuh cinta harus dengan alasan, agar ada alasan untuk mempertahankan saat kau mulai ragu dengan perasaan. Tentu hal tersebut menjadi topik perdebatan panjang antara aku dan Saka yang kini cuma bisa kuputar diingatanku.
Jika diibaratkan aku dan Saka layaknya dua kutub yang berlawanan. Saka percaya dengan namanya kebetulan sedangkan aku yakin dengan hubungan sebab-akibat. Tak pernah terpikirkan olehku pada akhirnya justru ia yang menjadi sebuah kebetulan. Dulu aku dan Saka bertemu tak sengaja saat aku sedang melarikan diri dari segala kegaduhan hati ke sebuah kedai kopi yang tak terkenal dan biasanya sepi yang Saka yakini itu sebuah kebetulan. Saat itu semua bangku penuh, hujan deras, jalanan macet dan aku sudah terlalu malas untuk mencari tempat lain untuk bersembunyi. Pandanganku mengitari tempat itu dan kulihat di meja Saka masih ada 3 bangku kosong. Aku memberanikan diri untuk menghampiri meja itu.
“Permisi, saya Chara. Jika kamu tidak keberatan dan terganggu, boleh saya gabung? Meja lain sudah penuh dan di luar hujan deras” tanyaku pada Saka yang pada hari itu terlihat sangat segar dengan kaos warna biru langit yang dipasangkan dengan celana jeans pendek dan sneakers putih. Ia tersenyum dan mengulurkan tangan, “ Hai, Saka. Silahkan, saya sendiri kok”. Dengan senyuman aku membalas jabatan tangan Saka, meletakkan tasku dan pergi untuk memesan segelas matca latte dan sepotong cheese cake untukku. Aku memilih duduk di seberang Saka, membaca buku sambil sesekali melihat ke arahnya yang sedang sibuk dengan pensil dan buku gambarnya. Hampir 1 jam kami habiskan dengan kesibukkan masing-masing. Hingga aku tersadar dengan sebuah kalimatnya.
“ Nama kamu sama buku yang kamu baca gak cocok ya”, ucapnya dengan senyum dan tatapan hangat. Aku menatapnya bingung. “Chara artinya suka cita kan, sanksekerta” ucapnya seakan ingin memberi jawaban atas tatapanku.
“ Searching barusan” jawabnya sambil tertawa. “Arti nama kamu bikin penasaran.”
“ Gak, unik. Jadi gampang diingat”. Setelah pertemuan pertama itu aku dan Saka bertukar media sosial dan kami jadi cukup sering berkomunikasi baik dengan bertemu ataupun bertukar pesan.
Setidaknya masih ada kenangan baik yang bisa aku ingat tentang kami yang hanya sebuah kebetulan. Ada banyak kenangan yang lainnya yang pantas untuk diingat namun aku memilih untuk melupakan. Saka, manusia yang membantuku memaafkan masa lalu namun memberi luka kecil yang justru lebih mematahkan. Saka tidak salah, aku juga tidak salah. Waktu saja yang tak berpihak kepada kami. Aku tak membencinya, namun aku juga tak bisa jika terus mengenangnya. Dan disinilah aku sekarang, di tempat aku bisa mengingatnya dengan baik, kedai kopi tempat pertama kali kami bertemu. Tempat terakhir kali aku melihatnya dan kemudian dia menghilang, kembali ke tempat ia seharusnya berada dan bergerak menuju titik akhirnya, dengan sebuah pesan yang masih membekas diingatanku.
” Char, nanti saat kamu bertemu dengan seseorang yang hanya menetap sementara, itu hanyalah sebuah titik temu. Kalian hanya ditakdirkan untuk mengisi satu sama lain sesaat, sebelum pada akhirnya bergerak ke titik selanjutnya. Jangan disesali, pasti akan selalu kenangan dan pelajaran kan.Dan untuk saat ini, aku adalah titik temu untuk kamu. Kebetulan bertemu. Aku tak bisa memilih dengan siapa titik temuku. Kamu juga gak bisa memilih bersinggungan dengan siapa pada kehidupanmu. Karna kita hanya titik temu, maka ada saatnya kita akan bergerak menjauhi titik temu kita sekarang dan menuju titik selanjutnya.” Kemudian ia bangkit dari duduknya, tersenyum tulus lalu pergi menuju titik selanjutnya, yang kini kusadari bahwa itu adalah caranya berpamitan.
Bagaimana denganku saat ini? Memilih untuk tetap bergerak menuju titik-titik selanjutya yang aku tak tahu akan seperti apa dan penuh dengan pertanyaan yang mungkin lebih baik jika tak terjawab.