Malam ini, grup Genks IIUM tumben-tumbenan ngobrol berat diluar dunia pernikahan, perpancian, masakan, skincare dan drakor. Kali ini, ngbrol berat tentang Indonesia. Ekonomi Indonesia! Kembali ke khittah-nya sebagai jebolan MEc hahaha...
Tapi, semua pesimis mistis aja bawaannya.
Ada yang bertanya ke gw, gimana prediksi tentang Indonesia ke depan? Gw jawab resesi hingga tahun depan, pengangguran melambung dan semoga kriminalitas gak ikut-ikutan naik. Well, seluruh sektor ekonomi minus kecuali sektor kesehatan aja yang saat ini sedang menggeliat tumbuh. No wonder sih.
Parahnya, sektor keuangan juga dilanda dilema. OJK kembali digoyang performa nya. Selevel Pak Presiden Jokowi (via reuters) yang menegur dan menyarankan OJK “dibubarkan” dan kembalikan fungsinya ke BI?! Man, itu ibarat lu sebagai pekerja disuruh mundur oleh bos dan kembalikan jabatan ke pegawai lama aja. Sakit sih!
Tapi, di posisi ini gw sepakat dengan Pak Jokowi. Isu Jiwasraya dan sekarang bank run sudah nyata di depan mata, lalu OJK seakan lambat mengatasi di tengah pergerakan yang dipaksa cepat. Gw cuma khawatir satu, saking lambatnya, haruskah BLBI kembali digelontorkan yang biasanya berujung kasus penyelewengan? Rumus “Too Big to Fail” yang sekarang gw baru sadar apa benar itu sebagai obat atau justru sebenarnya racun buat Indonesia?
Lalu, ada pertanyaan ke gw, bagaimana sikap kita sebagai masyarakat?
Well, gw sama skeptisnya sama Muth tentang kondisi ekonomi sekarang yang seakan gak ada titik terang. Gelap tanpa celah.
Tapi, gw kutip kata Kak Iqbal, saat ini seluruh sektor menurun dan hanya satu yang bisa menggerakan dan menolong ekonomi Indonesia. Social Movement! Mereka yang masih bisa bertahan, akan menolong mereka yang butuh bantuan bertahan hidup. Skala kecil, mulai dari tetangga, saudara, masyarakat, universitas, provinsi hingga antar negara.
Muth tiba-tiba japri, “mungkin saat ini masih bisa, tapi sampai kapan Cha?”
Spontan gw jawab, “Sampai seluruh Muslim musnah dari dunia ini.”
Jleb, entah angin darimana, tetiba gw bisa jawab gituan :)) Mungkin karena ingat dengan tulisan Manusia Perahu ini. Di tengah kekacauan saat ini, Aceh yang terkenal dengan keIslaman mereka yang kuat, mampu menerima saudara Rohingya yang sudah berlayar puluhan ribu kilometer namun diusir dimanapun. Mereka hanya masyarakat nelayan. Mereka bukan miliyuner. Mereka pun pasti terdampak ekonominya akibat pandemi ini. Tapi gak jadi alasan. Dengan keras bersuara, “orang Rohingya tidak diterima di Malaysia dimana-mana, tapi cuma di Aceh, kami menerima.”
Gw merinding nangis dengarnya :’) Bukti selama Islam masih ada di bumi, social movement akan tetap ada bahkan di masa sulit saat ini, insyaAllah.
Dan Muth pun diam tidak mempertanyakan lagi, mungkin dia lelah mikir negara.
Dan gw cuma berdoa, semoga Corona segera berpulang ke Rahmatullah.