"What is the probability that out of seven billion people on the planet, the person I like would like me back? Right now a miracle might happen to me." -Na Jung-
Claire Keane
Sade Olutola

JVL

Andulka

@theartofmadeline
we're not kids anymore.

⁂
Stranger Things

No title available
styofa doing anything
i don't do bad sauce passes

★
wallacepolsom
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open

No title available

Kiana Khansmith

Love Begins
Cosimo Galluzzi

tannertan36
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from Brazil
seen from Brazil
seen from Malaysia

seen from United States

seen from United States

seen from Singapore

seen from United Kingdom
seen from United States

seen from Malaysia
seen from Brazil
seen from Trinidad & Tobago

seen from Canada

seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from Argentina
@seemapensieve
"What is the probability that out of seven billion people on the planet, the person I like would like me back? Right now a miracle might happen to me." -Na Jung-
Tentang Menikah: #4 Orangtuamu, Orangtuaku
Bismillahirrahmaanirrahim.
Pernikahan, tidak hanya aku dan kamu menjadi kita.
Namun ternyata juga, orangtuamu, adalah orangtuaku. Begitupun sebaliknya.
Tak hanya beradaptasi dengan kebiasaan suami, kitapun harus beradaptasi dengan orangtua baru kita.
Di awal pernikahan, baru saya sadari betapa terasanya berada di 'lingkungan' yang berbeda. 'Laboraturium' yang membuat pasangan kita memiliki sifat dan kebiasaan yang dimilikinya saat ini. Pola pengasuhan, hal apa yang 'diperbolehkan' dan 'tidak diperbolehkan', batas toleransi terhadap suatu hal dan hal yang lain bisa sangat berbeda.
Lagi-lagi kuncinya adalah bersabar. Berbesar hati untuk menerima perbedaan.
Lalu, sebagai istri yang shalihah, tentulah kita harus memahami, wanita yang seharusnya paling dimuliakan suami kita adalah ibunya.
Dukunglah suamimu memuliakan ibunya
Ya, mungkin kadang terasa berat, tapi coba kita posisikan diri sebagai ibundanya, suatu saat jika kita memiliki anak lelaki, tidakkah kita menginginkan hal yang sama, dimuliakan anak kita meski mereka telah menikah?
Ingat, doa ibunya masih yang paling mustajab untuk suami
Semoga dengan mendukung suami kita memuliakan ibunya, kita mendapatkan ridha suami, dan mendapatkan ridha Allah SWT
Namun yang perlu diingat, ini tidak sama dengan urutan memberikan nafkah ya. Sebagai suami, tentu yang paling utama untuk diberikan nafkah ialah istri dan anaknya, baru kemudian orangtuanya.
Wallahu a'lambisshawab
Skala Prioritas - Woman with A Quarter Life Crisis
Bismillahirrahmanirrahim.
Hanya ingin berbagi pengalaman dan pendapat saya pribadi, yang mungkin tidak sama dengan pemikiran atau kondisi orang lain.
Dewasa ini, jamak kita dengar, Quarter life crisis. Atau mungkin, yang sedang membaca tulisan ini, tengah mengalaminya? Predikat sarjana telah didapatkan. Lalu, apa yang sebaiknya kulakukan sekarang? Menikah, belum ada calon, kerja, belum dapat-dapat, kalau kuliah lagi, laki-laki akan takut mendekati (?)
Bersyukur kita wanita, hidup di zaman sekarang, di mana kesempatan untuk menempuh pendidikan terbuka lebar. Tersedia kesempatan luas untuk berkarir, berkarya, memberi manfaat kepada orang lain. Menuntut ilmu itu baik, berkarya memberi manfaat itu tentu baik, jika dilakukan dengan cara yang ma'ruf dan dengan tetap menjaga diri sebagai muslimah. Namun tiba-tiba, di tengah keasyikan mengejar mimpi, ada lelaki baik yang datang ingin menikahi, atau belum ada lelaki yang menghampiri, namun seringkali terdengar suara di kanan kiri, kapan nikah? calonnya mana?Sehingga tidak sedikit kita yang bimbang, jalan hidup apa yang harus aku pilih?
Secara pribadi, saya tidak mendukung, suara-suara sumbang yang mendiskreditkan wanita yang belum menikah dan melanjutkan pendidikan atau fokus kepada karirnya. Juga tidak mendukung apabila wanita menikah hanya karena tuntutan sosial. Sungguh, jodoh adalah urusan Allah, kita tidak punya kuasa atas itu.
Namun, jikalau diminta untuk membuat skala prioritas, aku menjadikan menikah menjadi prioritas utama, apalagi jika kau takut untuk terjerumus dalam dosa. Tanpa terburu atau tergesa, jika belum mendapatkan calon yang baik dan sesuai, maka memprioritaskan menikah adalah dengan cara terus berdoa, berikhtiar misalnya dengan minta dicarikan orang yang terpercaya, seraya terus memperbaiki diri dan menimba ilmu untuk kesiapan menikah, sembari mengisi waktu yang ada dengan berkarya dan memberi manfaat untuk sesama. Menikahlah ketika memang sudah siap, ketika menemukan lelaki yang baik agamanya, taat pada Rabbnya, baik akhlak dan tutur katanya, bukan yang sekedar cinta, banyak harta, atau didesak tetangga..
Kenapa menikah?
Menikah menjadi wajib hukumnya, jika itu menghindarkan diri dari dosa.
Menikah itu, sunnah yang dianjurkan, penyempurna separuh agama. Betapa beruntungnya kita, jika kita menikah dan menghasilkan generasi yang shalih shalihah.
Allah dalam firmannya menyebutkan, laki-laki ialah pelindung bagi wanita. Saya percaya, sekuat dan semandiri apapun tampaknya wanita, akan lebih merasakan ketentraman jika ada sosok laki-laki di sampingnya, dan begitu pula halnya dengan laki-laki, karena itu adalah fitrah manusia.
Dan, tak bisa dipungkiri, dari sisi medis, semakin berumur seorang wanita, kondisi kehamilan akan semakin berbahaya untuknya (begitupun jika semakin muda).
Bagaimana jika nanti setelah menikah, aku tak bisa meneruskan pendidikan atau karir?
Di sinilah pentingnya komunikasi, dan memilih pasangan yang mau menerima kita dan mimpi-mimpi kita. Sebelum menikah dulu, saya sampaikan apa keinginan dan rencana saya selanjutnya. Mungkin ada satu dan lain hal yang harus dikompromikan, ketika dua orang dengan rencana hidup berbeda dipersatukan dalam pernikahan. Seperti saya yang harus menunda untuk mendaftar kuliah lagi hingga kami memiliki anak, (alhamdulillah saat ini saya kuliah lagi, setelah memiliki anak), mungkin pada awalnya berat, namun asalkan pada akhirnya sampai pada tujuan, seharusnya kita bisa mengesampingkan ego untuk mengutamakan apa yang lebih prioritas.
Semoga coretan pribadi ini sedikit memberikan pandangan lain pada teman-teman yang sedang dalam kebingungan di ujung usia seperempat abadnya.
Wallahu a'lam bissshawab.
Tujuan Hidup
Bukankah suatu kebodohan
Mati - matiannya kita mengejar dunia
Belajar begadang semalaman, namun tahajud tak pernah dilakukan, demi nilai cemerlang dan profesi yang diidamkan
Melewatkan waktu sholat untuk menyelesaikan pekerjaan, demi pujian atasan dan naik jabatan
Anak, pasangan, orangtua. Yang seharusnya menjadi prioritas untuk ditunaikan haknya, terabaikan
Agamamu, imanmu, disia-siakan, demi yang katanya sebuah pencapaian
Jika maut esok menghampiri, apa yang diharapkan bisa menemani?
"Semua ini dalam rangka ibadah"
Benarkah yang terucap seiring dengan hati dan perbuatan?
Instropeksi diri,
Luruskan niat,
Karena hati, amatlah mudah terbolak balik
Memoles yang buruk tampak baik, itulah tipu daya syaithan
Apa yang seharusnya menjadi kewajiban di dunia, itulah yang harus ditunaikan, di atas yang lainnya.
Jadi, apa tujuan hidupmu?
RIUH
I'm an introvert, yes, absolutely
being in peace with only myself, that's the way I'm recharged
Talk less, reflect and contemplate more
I like socialize with extroverts, since I can only nod and listen while they're talking.
Since I moved to this city, -they called big city, metropolis, or whatsoever, many things seem to be different somehow, from my little tiny hometown. the previous of me who always love to live my life peacefully, try not to pay even a single attention to others' life If i'm not in charge of theirs , started to get distracted by the surroundings...
- - - - - - - - - - -
Satu hal yang sangat kusyukuri,
Sedari kecil, Bapak Ibu selalu mengajari, (atau mungkin bisa dikatakan mendoktrin :) ) apa yang kita usahakan di dunia, semuaaaaa itu hanya untuk meraih ridha Allah..
Apa itu mempertontonkan gelimang harta, apa itu membanggakan pencapaian.. Janji Allah itu, jauuuh... jauuuuuuuuh lebih dari itu...
Ketika berdoa pun, sarannya adalah, berdoalah minta yang terbaik.. bukan minta harta yang berlimpah, pencapaian ini itu, karena belum tentu yang berlimpah dan terpandang di mata orang itu, baik untuk akhiratmu...
Ketika orang - orang sibuk memperbagus hunian, perabot rumah kami seadanya, yang penting masih bisa digunakan fungsinya. Ber-ide menambah meja dan kursi pun, ketika momen akan menyambut saudara jauh. Alhamdulillah, untuk urusan memuliakan tamu, mereka usahakan sebaik-sebaiknya - mungkin ini bisa dibahas di kesempatan yang lain. Cat tembok depan rumah banyak yang mengelupas, tidak banyak ambil pusing. Meskipun mungkin ada satu dan lain hal yang mungkin terlihat betapa "cueknya" saking tak pernah mengurusi pandangan orang lain, dan diriku yang dulu pun tak jarang juga malu, dan berpikir kenapa keluarga kami berbeda XD, lebih baik berlebihan cueknya terhadap dunia dibanding berlebihan menaruh sebagian besar porsi perhatian kita terhadapnya. Ya, dulu aku kecil juga kadang - kadang iri dengan keluarga atau teman - temanku, yang rumahnya tertata apik, gordennya cantik, hahaha... Masih ingat juga ketika dulu mobil yang dipunya Bapak hanya berupa pick up karena untuk keperluan usaha, dan aku dijemput sekolah dengan itu, aku masuk dengan sedikit bersembunyi di dalam. Pernah juga saat mengantarku ke terminal angkot untuk sekolah, Bapak memakai baju berlubang-lubang, katanya untuk uji mentalku hahaha padahal saat itu tak terbersit sedikitpun di benakku rasa malu atau yang lain.
Setiap kali aku ujian dan mendapat nilai bagus, tak pernah aku dipuji orangtuaku, entah ini baik atau tidak menurut teori psikologi. Tapi aku merasa, memang pujian akan membuatku besar kepala. Pernah aku iseng bertanya pada Bapak, aku dapat nilai ujian bagus nih, nggak dikasih hadiah atau apa gitu? Jawabnya cuma, nilai itu kan untuk kamu sendiri, yang Bapak butuhkan itu cuma kamu jadi anak yang shalihah. Aku terima baik-baik jawaban itu, dan insya Allah akan selalu kuingat...
Saat aku SNMPTN, tak pernah terpikir bahwa pilihan jurusan yang kupilih, adalah profesi yang sebagian besar orang dipandang 'wah'. Anggapanku ya itu cuma satu di antara profesi yang lain. Aku memilih itu juga bukan karena kuanggap keren atau apa, tapi orang tua yang mengarahkan. Dan setelah menekuni profesi ini, baru sedikit demi sedikit sadar, kalau ada sebagian orang yang seakan 'mendewakan' profesi ini. Tapi ya sudah, terserah kalau ada yang anggap profesi ini istimewa. Apa aku harus minta dihormati, harus menjaga image yang gimana-gimana gitu? Aku rasa tidak..
Semakin ke sini, semakin banyak berhubungan dengan berbagai kalangan, berpindah ke kota besar yang banyak gemerlap duniawinya, ditambah dengan makin menjamurnya platform sosial media dan penggunanya yang semakin banyak, aku mulai merasa 'pusing'. Ramai sekali kurasa sosial media, orang-orang sekitar, mempertontonkan, menunjukkan, apaa saja, apapun itu. Tak hanya itu, urusan orang lain pun diamat-amati, lalu dikomentari pula. Seperti saat kami membeli kendaraan baru, yang itupun sebenarnya tiba-tiba saja tercetus, karena ingin bisa pulang ke kampung halaman dengan nyaman, birrul walidain insya Allah, bukan untuk gagah-gagahan atau apa. Sebelumnya setiap pulang pergi kerja selalu naik motor juga tak ada masalah. Karena lama tak membawa mobil, dan carport rumah kebetulan ukurannya ngepas, masih adaptasi istilahnya, saat mobil baru datang dan dimasukkan ke carport, sempat mepet ke tembok bagian sisi kanan belakangnya, tapi tak sampai ada yang lecet. Kemudian biasa ya sedikit maju mundur lalu bisa masuk. Nah tiba - tiba, ada tetangga mertua yang tiba-tiba wa mertua, mobil anaknya habis nabrak ya.. Allahu akbar, itu yang pertama, kaget sih saya, segitunya banget urusin hidupnya orang. Saya nggak kesel merasa terhina atau apa, cuma kaget aja, bisa ya ada yang kaya begitu. ini ga yang kenal in person ama saya lho.
Kemudian lagi, saat saya memutuskan untuk berhenti kerja sementara, karena beberapa alasan. Sepertinya tetangga saya dan tetangga mertua mikirnya "wah, sudah nggak kerja, wah sudah turun kasta nih" kasarannya begitu, dari komentar yang diceritakan oleh mertua saya. Saya sih bodo amat, mau dipikir hidupnya seneng, hidupnya susah, nggak masalah. Cuma ya itu, kaget! kok gini amat ya orang, dan pusing! apa-apa dilihat dari materi, pencapaian, pandangan orang. Lalu, tak terasa sepertinya saya jadi terbawa untuk ikut-ikutan. Ikut-ikutan mempertontonkan hal ini itu di sosial media. Karena jika ada hal yang sering kita lihat, yang awalnya terasa aneh, lama-lama akan terasa biasa, kan? Kalau mau dan niat, cukup banyak juga kok yang bisa ditunjuk-tunjukkan. Apalagi ke tetangga mertua yang usil itu. Bisa keki dia kalau kami kasih liat semuanya, hahaha. Tapi, semoga refleksiku ini menjadi pengingat untuk diriku sendiri, saat mulai ingin ikut-ikutan menunjuk-nunjukkan, mempertontonkan, urung melakukannnya. Mau tetangga berulah yang gimana-gimana, selow aja.
Tentang Menikah: #3 Seni Komunikasi
Bismillahirrahimanirrahim.
Setelah sekian purnama, akhirnya jari jemari ini gatal ingin menulis lagi. Sekedar berbagi, dan sebagiannya mungkin juga tentang pencurahan isi hati :D.
Seru ya membicarakan tentang pernikahan, karena dalam pernikahan kita dituntut terus belajar. Belajar menjadi pasangan yang baik, orangtua yang baik, menantu yang baik, anak (yang sudah dinikahi orang lain) yang baik. Ya, segala dalam hidup ini pun sebenarnya tentang belajar kan, untuk menjadi lebih baik dari hari ke hari.
Setelah #1 Seni mengalah dan #2 Aku bukan malaikat & kamu bukan bidadari, hal selanjutnya yang menurut saya penting dalam pernikahan adalah seni komunikasi.
Makin saya pahami bahwa komunikasi yang baik itu sangat(tt) penting dalam pernikahan. Komunikasi yang baik, akan memudahkan kita, untuk menyampaikan apa yang kita mau, apa yang kita tidak suka, menguatkan ikatan batin antara suami istri, menyamakan persepsi, visi dan misi, meluruskan hal yang perlu diluruskan, dan bisa menghindarkan dari konflik rumah tangga yang bisa makin membesar seperti bola salju kalau terus dipendam dan menjadi bom waktu yang sewaktu-waktu bisa meledak (adalagi yang mau menambahkan manfaat komunikasi?)
Teringat masa-masa awal menikah. Sekedar diketahui saya adalah orang yang kurang bisa mengungkapkan perasaan & emosi dengan kata-kata. Suami saya sebaliknya. Ketika ada hal yang tidak saya suka, saya lebih banyak diam, tak jarang berpikir, okay, sabar aja, nurut, ikuti kata-kata suami, istri shalihah itu begitu yakan..
Tapi, ternyata saya salah.
Diamnya saya menjadi seperti, yah itu tadi, bola salju dan bom waktu. Ternyata sekedar mengalah itu bukan hal yang tepat. Ternyata alangkah jauh lebih baik untuk mengkomunikasikan semua uneg-uneg, dan merumuskan solusi yang disetujui keduanya. Win win solution.
Bagaimana caranya saya akhirnya bisa mengkomunikasikannya? Ketika saya banyak diam, dan bermuka masam (mohon jangan ditiru yang part ini), si suami yang alhamdulillah makin hari makin sabar menghadapi istrinya, selalu bertanya saya kenapa.. kalau ngga mau jawab, ditanyaa terus.. sampai jawab :D. Terus mengalirlah komunikasi dan jadi plong semua yang selama ini dipendam.
Itu di atas tadi adalah contoh yang kurang baik dari saya yaa.. jangan ditiru hehe.. bagaimana yang baik? ya dikomunikasikan dari awal. Bersyukur punya suami yang encourage saya untuk ngomong, coba suami cuek atau diem2 aja. Makin runyam kan perkara. Dan bersyukur juga suami mau menurunkan egonya, dengan mau mendengar istrinya dan mengkompromikan satu dan lain hal. Begitulah, menikah memang butuh kerja keras kedua belah pihak agar biduk rumah tangganya tidak karam.
Komunikasi juga penting untuk meluruskan berbagai kesalahpahaman. Pasti tidak akan jarang terjadi kesalahpahaman antar suami istri, entah yang berhubungan dengan pekerjaan, keluarga besar, hubungan dengan mertua, dll. Komunikasikan, atau dalam islam istilahnya tabbayyun, untuk mencari kebenaran, menghilangkan prasangka. Tidak adanya komunikasi yang baik menjadi celah syaithan untuk memisahkan suami dengan istrinya, berhati-hatilah! karena itu adalah misi utama mereka. Seperti di hadist Nabi ini.
Dari Jabir radhiallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air (laut) kemudian ia mengutus bala tentaranya. Maka yang paling dekat dengannya adalah yang paling besar fitnahnya. Datanglah salah seorang dari bala tentaranya dan berkata, “Aku telah melakukan begini dan begitu”. Iblis berkata, “Engkau sama sekali tidak melakukan sesuatupun”. Kemudian datang yang lain lagi dan berkata, “Aku tidak meninggalkannya (untuk digoda) hingga aku berhasil memisahkan antara dia dan istrinya. Maka Iblis pun mendekatinya dan berkata, “Sungguh hebat (setan) seperti engkau” (HR Muslim IV/2167 no 2813).
Yang terakhir, komunikasi bisa meningkatkan ikatan batin antara suami istri, terutama jika obrolannya dari hati ke hati. Kita semua sudah tahu kan kalau perempuan itu stok kosakata yang harus dikeluarkan dalam sehari jauh lebih banyak dari laki-laki. Jadi untuk para suami jangan lupa untuk sering2 membuka telinga untuk siap sedia mendengar celotehan istrinya ya :D. Momen yang saya sukai biasanya sebelum tidur, ketika sudah punya anak, saat anak sudah tidur. Yang bahasa kerennya pillow talk. Ngobrol dari hal receh sampai penyatuan visi misi, rencana keluarga ke depan, dll. Dan khususnya lagi untuk suami, jangan hilangkan kebiasaanmu (atau mulailah jika belum) untuk sekadar mengucapkan kata-kata romantis pada istrimu setiap hari, karena percayalah itutuh se-ngefek ituh buat istrimu :)
Wallahu a’lam bisshawab
Random Thought
There is no ideal condition that happens either accidentally or orderly planned in real life.
You can’t get all of things you want (maybe I’d say almost impossible because I don’t really know whether such things can happen)
I mean, there must be both of positive and negative impacts, or both of pleasant and unpleasant things, following your choice.
One thing must be kept in mind is never regret your choice, so decide it wisely.
Mencari Bahagia
Di era sosial media sekarang ini, banyak bersliweran postingan yang kerap dikatakan, ‘standar bahagia’. Karir yang melesat, rumah dan mobil mulus hasil kerja keras siang malam, pasangan yang romantis, atau anak yang lucu nan cerdas. Mungkin bagi yang sudah paham konsep ‘sawang sinawang’, hal itu tak berdampak apa - apa pada kesehatan mental. ‘Ah dia mah yang seneng-seneng aja yang diliatin, aslinya sih lagi ga akur ama bojo tuh’ (lah kok jadi julid wkwkwk) Tapi bagi sebagian lain, bisa banget membuat jadi tidak bahagia. jadi merasa tidak berguna, tidak berharga, tidak mendapatkan yang seharusnya, dan seterusnya... Intinya, tidak bersyukur. Dan itu bahaya lho. Dosa :(. Naudzubillaahi min dzalik.
Solusinya? yaa dibalik aja. Jika tidak bahagia itu karena tidak bersyukur, maka bersyukurlah maka kita akan bahagia. Dan yang terpenting, harus selalu diingat bahwa bersyukur itu kewajiban hamba Allah yang beriman.
“Dan (ingatlah juga), tatkala Rabbmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (QS. Ibrahim: 7).
Dengan sibuk mensyukuri apa yang kita miliki, kita tak akan sempat mendambakan yang dimiliki orang lain. Sehingga tak ada ruang dalam hati untuk munculnya iri dengki. Ditambah lagi janji Allah SWT bahwa jika kita bersyukur, akan ditambahkan pula nikmat kepada kita.
Sehingga, sumber bahagia pada akhirnya terletak di hati. Hati yang senantiasa mensyukuri nikmatNya. Bukan pada harta, benda, ataupun manusia lain.
Jadi gimana, sudah siap mencari bahagia?
Masa lalu saya adalah milik saya, masa lalu kamu adalah milik kamu, tapi masa depan adalah milik kita
Habibie kepada Ainun
Tentang Menikah: #2 Aku Bukan Malaikat, Kau Bukan Bidadari
Setelah akad terucap, perasaan bahagia menyeruak di hatinya. Senyumnya terus mengembang. Akhirnya ia menghalalkan sesosok wanita yang di matanya terlihat sempurna tanpa cela.
Seminggu, dua minggu, sebulan, setahun berlalu. Perlahan - lahan ia melihat hal yang kurang ia sukai dari pasangannya. Karakter pasangannya perlahan - lahan mulai tampak, termasuk kekurangannya. Begitu banyak kekurangan pasangannya yang ia lihat dan betapa seringnya cekcok yang terjadi, hingga terbersit di pikirannya, apakah aku telah menikahi orang yang salah?
Naudzubillahi min dzalik.
Saat mencari pasangan hidup, tidak jarang seseorang memiliki segudang kriteria. Semuanya harus baik. Padahal tidak ada insan yang sempurna, tanpa salah, tanpa cela. Insan, jika dilihat dari aspek bahasa, berasal dari tiga akar kata. Salah satunya نَسِيَ (nasiya) yang berarti lupa. Sehingga manusia terkadang bisa lupa dan mudah dipengaruhi syaithan untuk melakukan perbuatan tercela.
Bahkan sesosok Nabi pun pernah melakukan kesalahan. Seperti Nabi Yunus yang ditelan ikan Paus sebagai teguran dari Allah karena marah dan meninggalkan kaumnya karena dakwahnya tidak diindahkan. Pun Nabi Muhammad yang pernah ditegurNya karena mengharamkan madu yang hukum asalnya halal untuk menyenangkan istrinya.
Kau bukan Malaikat, dia pun bukan Bidadari. Jika akhlaqmu tak seperti Muhammad, mengapa mendamba sosok yang serupa Khadijah?
Mungkin istrimu tak pandai memasak, namun ternyata ia amat piawai mendidik anak.
"Dan bergaullah dengan mereka (istri-istrimu) secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak."
( QS An-Nisa':19)
Mungkin suamimu tak pintar merayu, namun jerih payahnya dalam mencari nafkah untukmu, mendidikmu dan menjagamu dari api neraka, cukup menjadi alasan atas sabda Rasulullah,
“Seandainya aku boleh menyuruh seorang sujud kepada seseorang, maka aku akan perintahkan seorang wanita sujud kepada suaminya”.
Maka, kuncinya adalah:
1. Tidak berekspektasi berlebihan, karena tak ada manusia yang sempurna.
Sebelum atau awal-awal menikah terkadang ekspektasi dan pandangan seseorang terhadap pasangannya begitu besar. Hal tersebut wajar karena saat jatuh cinta, seperti dikatakan seorang Profesor Neurosains Harvard Medical School (klik di sini untuk melihat sumber), terjadi perubahan neurotransmitter di otak, dan terjadi deaktivasi jalur neural yang bertanggung jawab terhadap emosi negatif. Salah satunya menurunnya fungsi penilaian kritis terhadap orang lain, termasuk penilaian orang yang dicintai. Ketika kadar neurotransmitter tersebut menurun, pikiran pun seakan ‘kembali jernih’.
2. Bersyukur akan apa yang ada pada pasangannya. Allah pasti memberikan yang terbaik untuk kita. Karena boleh jadi kita tidak menyukai sesuatu padahal menurutNya itu baik untuk kita.
3. Menundukkan pandangan, serta tidak membanding-bandingkan pasangan dengan orang lain.
Ada sebuah kisah yang beberapa kali pernah saya baca, tentang seorang suami yang mengadukan perasaannya kepada seorang Syaikh. Ia berkata,
"Ketika aku mengagumi calon istriku seolah-olah dalam pandanganku ALLAH tidak menciptakan perempuan yang lebih cantik darinya di dunia ini. Ketika aku sudah meminangnya, aku melihat banyak wanita seperti dia. Ketika aku sudah menikahinya aku lihat banyak wanita yang jauh lebih cantik dari dirinya. Ketika sudah berlalu beberapa tahun pernikahan kami, aku melihat seluruh perempuan lebih manis dari pada istriku."
Sang Syaikh berkata,
"Apakah kamu mau aku beritahu yang lebih dahsyat dari pada itu dan lebih pahit?"
Pria tersebut menjawab,
"Iya, mau."
Syaikh melanjutkan,
"Sekalipun kau kawini seluruh perempuan yang ada di dunia ini, pasti anjing yang berkeliaran di jalanan itu terlihat lebih cantik dalam pandanganmu daripada mereka semua."
Pria penanya itu tersenyum masam, lalu ia berujar,
"Kenapa Tuan Syaikh berkata demikian?"
"Karena masalahnya bukan terletak pada istrimu. Tapi masalahnya adalah bila manusia diberi hati yang tamak, pandangan yang menyeleweng, dan kosong dari rasa malu kepada Allah, tidak akan ada yang bisa memenuhi pandangan matanya kecuali tanah kuburan."
Sang Syaikh melanjutkan,
"Jadi, masalah yang kamu hadapi sebenarnya adalah kamu tidak menundukkan pandanganmu dari apa yang diharamkan Allah. Sekarang, apakah kamu menginginkan sesuatu yang akan mengembalikan kecantikan istrimu seperti pertama kali kamu mengenalnya? Ketika ia menjadi wanita tercantik di dunia ini?"
Pria itu menjawab,
"Iya, mau sekali."
“TUNDUKKAN PANDANGANMU“, jawab sang Syaikh.
THE LAST but not least, untuk kamu yang sedang dalam pencarian atau penantian, jangan bosan untuk terus memperbaiki diri yaa :). Karena laki – laki yang baik untuk wanita yang baik, kan, begitu pula sebaliknya :).
Bekasi, 17 April 2018.
Dari seorang yang masih belajar menjadi istri terbaik untuk suami terbaik.
Tentang Menikah: #1 Seni Mengalah
Saat mempersiapkan pernikahan, saya mendapatkan ide untuk meminta tips dalam mengarungi rumah tangga dari sahabat, rekan, atau saudara yang hadir dalam pernikahan kami, dengan cara menyediakan kertas dan meletakkan toples yang saya namai dengan ‘Tip Jar’ di depan pintu masuk.
Beberapa hari setelah resepsi usai, saya mulai membaca satu persatu pesan yang ditulis. Menyenangkan rasanya mendapatkan saran dari orang - orang terdekat kita, karena kita tahu pasti mereka akan memberi saran yang terbaik dari mereka, dan belajar dari pengalaman orang lain akan jauh lebih efisien dibandingkan untuk menunggu belajar dari pengalaman kita sendiri. Dari beberapa saran tersebut, rata-rata yang saya dapatkan adalah saran untuk mengalah dengan pasangan.
Dari buku-buku yang pernah saya baca sebelum menikah, saya sudah cukup memahami bahwa salah satu bekal untuk menikah adalah bagaimana kita belajar mengalah. Dan setelah menikah, pentingnya seni mengalah dalam berumah tangga makin terasa :).
Setelah menikah, kepentingan keluarga menjadi lebih utama dibandingkan kepentingan pribadi.
Bagaimana kita harus mengalah dengan menunda meraih ambisi diri jika kondisi rumah tangga belum memungkinkan, atau bahkan mengurungkannya jikalau ternyata setelah diskusi dengan pasangan hal tersebut kurang sesuai dengan cita-cita bersama.
Bagaimana kita harus mengalah demi kebutuhan pasangan. Bagaimana sang suami membatalkan agenda berlibur dengan rekan sekantor saat sang istri membutuhkannya untuk mengantarkannya memeriksakan kehamilan misalnya. Bagaimana sang istri menunda keperluannya demi mengutamakan kebutuhan suami. Seorang istri wajib memenuhi kapanpun panggilan suami untuk menunaikan hajatnya, meskipun ia sedang di dapur. Bahkan untuk berpuasa sunnah pun, Allah haramkan jika tanpa seizin suami.
Setelah menikah, keharmonisan keluarga tak mungkin datang tiba-tiba. Ia adalah sesuatu yang harus diupayakan. Karena mencintai, adalah kata kerja.
Bagaimana kita harus mengalah untuk berusaha memahami karakter satu sama lain. Bagaimana kita harus mengalah untuk menerima kekurangan pasangan, kalau perlu kita beri masukan nasihat namun tetap dengan cara yang baik. Bagaimana sang suami harus mengalah untuk bersabar saat sang istri lupa di mana menaruh kunci untuk kesekian kalinya misalnya. Atau bagaimana sang istri harus mengalah untuk bersabar saat sang suami menaruh barang secara sembarangan sepulang kerja.
Bagaimana kita harus mengalah untuk belajar memahami kondisi pasangan. Bagaimana sang suami harus mengalah untuk meminta maaf pada istrinya yang sedang ngambek meskipun sang suami masih belum tahu apa salahnya. Mungkin sedang PMS :). Atau bagaimana sang istri harus mengalah untuk tidak berkeluh kesah kepada suami jika melihat suaminya sedang kelelahan dan tidak mood sepulang kerja.
Bagaimana kita harus mengalah untuk menyesuaikan diri kita dengan apa yang disuka atau tidak disuka pasangan. Suami suka masakan pedas istrinya tidak, ya sang istri mengalah untuk belajar membuat sambal. Sang istri penyuka jalan-jalan tapi suami tidak, suami hendaknya mengalah untuk mengantarkan istri :). Suami tidak suka durian tapi istri suka banget, sang istri jangan mengkonsumsi durian saat bersama suami dan berkumur atau menggosok gigi setelah mengkonsumi durian. Istri tidak suka suara dengkuran, suami belajar posisi tidur supaya tidak mendengkur.
.
Yang harus diingat, awas, jangan sampai terbalik. Posisikan diri kita sebagai pihak yang mengalah, bukan sebaliknya. Jangan sampai ada perkataan atau perbatinan seperti ini, ‘Dia kan tahu aku begini-begitu, harusnya dia maklum dong, bukannya ngomel aja tiap hari’. Jangan, ya! :)
Menikah Untuk Bahagia?
"Ubahlah kalimat, Pangeran dan putri menikah dan hidup bahagia selama lamanya menjadi pangeran dan putri menikah, kadang-kadang mereka mendapat nikmat dan bersyukur, kadang-kadang mereka mendapat musibah dan bersabar, lalu mereka hidup taat dan istiqomah serta wafat husnul khotimah" - Salim A. Fillah
Indah. Mungkin itu yang dibayangkan oleh sebagian besar seorang jomblo single mengenai pernikahan. Sang putri bertemu pangeran berkuda putih impiannya kemudian menikah dan hidup bahagia selama-lamanya. Ya, menikah memang indah kok :P. Begitulah yang difirmankan Allah SWT.
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir (QS. Ar Rum 30:21)
Namun , jangan sampai sebelum menikah kita hanya membayangkan yang indah – indah saja. Liat temen yang ke mana – mana dianter pacar, baper. Liat drama korea, baper (hayo, korean drama intoxication detected). Sudah terlalu lama sendiri, sudah terlalu lama aku asyik sendiri… Lama tak ada yang menemani, rasanya… *backsound*.
Capek kuliah, pingin nikah aja deh. Capek ngerjain skripsi revisi mulu, duh nikah aja kali ya. Seakan setelah menikah, hilang semua masalah dan beban pikiran. Memulai pernikahan dengan mindset yang salah seperti itu dapat menimbulkan kekecewaan. Karena ekspektasi berlebih seringkali tidak sesuai dengan realita.
Pernikahan sejatinya adalah lembaran hidup baru. Berisikan tantangan – tantangan hidup baru. Mengambil peran – peran baru. Yang tadinya pasca gajian foya – foya sekarang mulai melakukan perencanaan keuangan untuk keperluan berumah tangga. Yang awalnya bangun tidur makanan sudah tersedia di meja makan kemudian berangkat kuliah, kini harus bangun lebih pagi untuk belanja dan menyiapkan sarapan. Hadirnya anak merupakan tanggung jawab baru. Bukan sekedar penyejuk mata orang tuanya karena tingkah polahnya yang menggemaskan dan peredam pertanyaan dari sana sini ‘kapan punya momongan’?. Lebih dari itu, memiliki anak adalah amanah, untuk membesarkan dengan sebaik-baiknya, dengan pengajaran yang baik.
“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka”(Q.S. An-Nisa:9)
Hidup bersama seseorang yang memiliki perbedaan sifat dan karakter, 24 jam sehari, 7 hari seminggu, pun merupakan tantangan tersendiri. Perbedaan rawan menimbulkan konflik jika masing – masing belum memahami seni mengalah. Kekurangan pasangan sedikit demi sedikit mulai tampak. Yang sebelumnya terlihat sempurna, kini ketahuan kalau ia pelupa. Yang awalnya tampak anggun, ternyata teledor dan ceroboh.
Setelah menikah, ujian – ujian hidup yang hadir berbeda, yang tidak jarang jauh lebih berat dibandingkan saat masih sendiri. Tapi tak perlu khawatir, Allah pasti memberikan ujian sesuai dengan kemampuan hambaNya.
Jadi, masih kepingin nikah? yuk luruskan niat kita untuk menikah! :)
Penyakit Hati
“Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati" (HR. Bukhari Muslim) Perkara hati memang sulit. Tidak seperti amal perbuatan yang bisa dilihat orang kain, hanya kita sendiri yang tahu mengenai hati kita, sehingga lebih mudah untuk kita tergelincir pada penyakit hati saat sedang khilaf terlupa kalau kita selalu ada dalam pengawasan Allah Azza wa jalla. Beberapa hari yang lalu menemukan suatu ulasan tentang beberapa penyakit hati dan tips menghindarinya, yang ternyata sepertinya sering muncul di hati kita (saya) tanpa disadari :'(, menggerogoti amal perbuatan baik yang telah kita lakukan sebelumnya, Naudzubillahi min dzalik. Bahas satu persatu yuk. 1. Takabbur Takabbur itu sombong. Dalam islam, sombong itu menolak kebenaran dan meremehkan orang lain. Menganggap diri paling benar, yang lain salah. Paling pintar, paling tahu. Yang mengerikan adalah, betapa berat perkara sombong ini, hingga seseorang tidak dapat masuk surga selama ada kesombongan dalam hatinya neski sebesar biji sawi. Tips menghindarinya? Buang jauh-jauh anggapan kalau kita yang paling baik, paling benar, paling tahu. Karena bisa saja memang bukan demikian adanya. 2. Riya,' Riya' itu, melakukan suatu perbuatan agar dipuji manusia, bukan karena Allah SWT. Nah ngerinya adalah, riya bisa muncul sebelum, sedang, atau setelah amalan. Serem kan? 3. Ujub Ujub ialah mengagumi diri sendiri, merasa 'lebih' dari yang lain. Mungkin orang jamak berpikir ini sama dengan sombong. Beda ujub dari takabbur atau sombong adalah, pada ujub tidak didapatkan penolakan terhadap kebenaran. Meski tentu tidak selalu, namun bisa jadi seseorang itu menjadi ujub karena dipicu oleh: -Mendapatkan banyak pujian-pujian dari orang lain -Banyak berhasil beberapa kali -Memiliki wewenang besar dan langka, yang bila dimanfaatkan akan sangat memudahkan yang biasanya sulit -Terkenal -Memiliki banyak pengetahuan -Fisik dan penampilan yang baik dan menarik -Dan lain-lain. Nah, makanya, hati-hati terhadap nikmat, karena bisa saja itu jadi ujian kalau kita ngga kuat mental trus terlena melayang ke awang-awang. Padahal kita apa atuh, cuma debu beterbangan di alam semesta ini. Kalau ujub mulai datang, artinya kita mulai lupa dari mengingat Allah yang Maha Besar, Maha segala-galanya. “Bagi Allah semua kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di antaranya.” (QS. Al Maidah: 120) Rasulullah Saw bersabda, “Tiga hal yang membinasakan: Kekikiran yang diperturutkan, hawa nafsu yang diumbar, dan kekaguman seseorang pada dirinya sendiri.” (HR. Thabrani) 4. Sum'ah Sum'ah berasal dari kata sama'a yang artinya memperdengarkan. Jadi maksudnya, memperdengarkan orang lain mengenai amal baik kita. Trus apa ya bedanya dengan riya'? Nah ini yang baru saya tahu, kalau sum'ah, amal ibadahnya benar diniatkan karena Allah, tapi dibicarakan pada manusia. Rasulullah SAW memperingatkan dalam haditsnya, “Siapa yang berlaku sum’ah maka akan diperlakukan dengan sum’ah oleh Allah dan siapa yang berlaku riya maka akan dibalas dengan riya.” (HR. Bukhari) Diperlakukan dengan sum’ah oleh Allah maksudnya adalah, diumumkan aib-aibnya di akhirat. Sedangkan dibalas dengan riya, artinya diperlihatkan pahala amalnya, namun tidak diberi pahala kepadanya. Astaghfirullahal adzim, naudzubillahi min dzalik T-T. 5. Hasad Hasad ialah merasa iri terhadap nikmat yang dimiliki orang lain, diiringi harapan agar nikmat itu hilang atau bwrpindah kepadanya. Hasad hukumnya haram, baik dalam hal duniawi atau hal agama. Apalagi kalau hasad itu disertai tindakan, perbuatan, atau ucapan, langsung atau tidak langsung. 6. Taqtir Taqtir artinya kikir, tidak mau mengeluarkan harta meskipun perkara wajib. “Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karuniaNya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan akan dikalungkan kelak di lehernya pada hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Ali ‘Imran: 180) “Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar” (QS. Al Lail: 8-10) 7. Panjang angan-angan Bahaya dari panjang angan-angan ialah, seseorang akan terlalu fokus terhadap sesuatu yabg diangankan hingga melalaikan kewajiban yang seharusnya dilakukan, seakan-akan ia memiliki banyak waktu, tidak segera mempersiapkan bekal untuk hari akhir. “Orang berakal adalah yang tidak panjang angan-angannya. Karena, siapa saja yang kuat angan-angannya, maka amalnya lemah. Siapa saja yang dijemput ajalnya, maka angan-angannya pun tidak ada gunanya. Orang berakal tidak akan meninggal tanpa bekal; berdebat tanpa hujah dan berbenturan tanpa kekuatan. Dengan akal, jiwa akan hidup; hati akan terang; urusan akan berjalan dan dunia akan berjalan.” (Ibn Hayyan al-Basti, Raudhatu al-‘Uqala’ wa Nuzhatu al-Fudhala’) Nah itu tadi beberapa penyakit hati yang mungkin seringkali muncul tanpa kita sadari. Makanya terus istighfar dan berdoa pada Allah agar hati kita selalu terjaga. Yaa muqallibal quluub, tsabbit qalbi 'ala diinik, 'ala tho'atiq 'alal iimaan..
"To love means to open ourselves to the negative as well as the positive - to grief, sorrow, and disappointment as well as to joy, fulfillment, and an intensity of consciousness we did not know was possible before."
Rollo May
The supreme happiness is the conviction of being loved, inspite of ourselves
Victor Hugo
Mimpi
Hari ini adalah hari bahagianya sahabat saya, karena hari ini hasil seleksi penerimaan ppds untuk periode Januari 2018 keluar dan dia terima. Jelas saya ikut senang, karena saya tahu perjuangannya dari awal dan bagaimana ia sangat menginginkan hal itu. Rekan satu kelompok internsip saya juga berhasil lolos, namun setelah sempat gagal di pendaftaran periode sebelumnya. Siapa sih yang ngga ingin sekolah lagi. Saya juga sebenarnya sudah ambil ancang-ancang untuk mulai daftar di bulan Januari, segera setelah saya menyelesaikan kontrak kerja. Malah dulu ingin langsung daftar setelah internsip selesai, tapi ngga berani karena belum banyak pengalaman kerja. Walau kepingin banget, dan membayangkan kalau bisa segera sekolah dan menyelesaikan dengan cepat saya bisa meraih gelar sp di usia kepala 2, hati terasa gamang, karena ada hal lain yang seharusnya lebih menjadi prioritas saya. Bagaimana tidak, kalau sudah sekolah ppds, pikiran dan tenaga akan banyak terkuras terutama di masa awal-awal sekolah. Sehingga otomatis hal-hal lain akan sedikit terabaikan. Belum lagi kalau sudah sekolah di kota tertentu, mau tidak mau akan menetap cukup lama di kota tersebut untuk menyelesaikan pendidikan. Dengan berbekal keyakinan bahwa ada hal lain yang lebih prioritas dalam hidup saya, saya memohon sama Allah agar Ia mudahkan saya untuk itu. I move my dream aside for something more valuable for my next life in hereafter. Dan ya, insya Allah, niat yang baik yang memang didasarkan karenaNya, apapun itu, pasti Ia mudahkan. Alhamdulillah for every blessing in my life.
Rutinitas
Lagi jaga shift siang IGD. Barusan ketemu lagi sama pasien yang tadi malem periksa. Pasien dengan Ca mammae stadium lanjut diantar dengan suaminya yang kelihatan sayaang banget karena tiap ke IGD selalu terlihat khawatir dan menjelaskan panjang lebar tentang kondisi istrinya. Kata suaminya, “Dok nggak capek ta, tadi malem baru jaga, jaganya sampe ngantuk-ngantuk, saya sampe nungguin dokter bangun pas mau pamit pulang”. Saya refleks ketawa 😂 #ketawameratapinasib. Nggak sih, udah biasa kok, dan memang pilihan saya. Cuman memang sebenarnya sudah mulai jenuh dengan rutinitas ini. Ingin segera cepat menyelesaikan kontrak yang selesai akhir Januari tahun depan, kemudian mencari tantangan hidup lain. Semangatt 💪