Pernah ngerasa ngga nyaman sama diri sendiri? Seberapa sering? Ingin jadi seperti orang lain? Kok dia begitu ya, gue kapan bisa begitu ya? Kok gue gini-gini aja ya? Banyak lagi pertanyaan yang ditodong untuk diri sendiri.
Kita ngga sadar bahwa kita udah terlalu keras sama diri sendiri dengan ngeliat orang lain dan pengen jadi seperti dia. Insecure itulah yang bikin kita ngerasa ngga tenang. Akhirnya kita ini seperti hidup tapi tidak benar-benar hidup. Kenapa ya?
“Dunia saat ini sedang berkembang pesat dalam segala hal, kecuali kesehatan mental.“ (Martin Seligman)
Ternyata banyak faktor yang bikin kita insecure. Faktor-faktor ini berhubungan juga sama fenomena manusia modern yang banyak kita temui, atau jangan-jangan kita masuk ke salah satunya?
Sumbu Pendek. Gampang ngegas, gampang marah, gampang ngambek. Menurut ilmu kesehatan, orang yang sakit secara fisik itu 85% berasal dari psikis loh, dari pikiran.
Mudah Stress. Banyak orang yang kurang relaks dan gampang panik. Karena gampang panik, akhirnya malah semakin stress karena stress itu sendiri.
Anarkis. Definisi anarkis di era pandemi yang serba online ini ngga selalu secara fisik, tapi bisa dari omongan yang kurang baik yang ditujukan untuk orang lain.
Over Thinking. Nah ini nihhh.. Sering ngga sih? Padahal memang hidup ini ngga semua sesuai dengan apa yang kita harapan. Yang bisa kita lakuin yaa tentunya harus berlatih menerima apa yang ngga sesuai dengan apa yang udah kita rencanakan.
Over whelmed. Sadar ataupun ngga sadar, terkadang kita terjebak dengan standar-standar tertentu. Misalnya standar kecantikan. Akhirnya, kita malah ngga puas sama diri sendiri.
Over protective. Sesuatu yang berlebihan itu ngga baik. Contoh ketika anak jatuh karena kesandung, eh malah nyalahin mejanya padahal kita tau itu bukan salah meja. Coba bicarakan perlahan dengan anak, “Ade, lain kali jalannya hati-hati ya.”
Gimana? Kamu termasuk ke salah satu dari 6 fenomena manusia modern itu ngga? Btw, secara ngga sadar, kita ini cenderung pengen ngikutin tren loh. Tren ditengah pandemi ini adalah berlomba-lomba mengejar kesibukan, karena mindsetnya semakin sibuk, yaa semakin produktif. Eh pada kenyataannya, semakin sibuk malah semakin capek, terus semakin banyak yang gampang emosian. Yang kena siapa? Tentunya orang-orang terdekat. Kita harus tau bahwa ngga semua kesibukan itu berarti produktif.
“Siapa-siapa yang nyaman dengan dirinya, maka orang lain juga nyaman saat bersamanya. Siapa-siapa yang keras terhadap dirinya, maka kemungkinan ia akan keras dengan orang lain.” Begitu kata Bunda Aniqq.
Punya target boleh, tapi jangan terlalu keras sama diri sendiri. Harus ingat bahwa diri sendiri juga manusia.
Masih ngomongin tentang insecure. Hal yang bisa kita lakuin adalah self acceptance dengan cara ramah pada diri sendiri. Kalau kita lalai, yaa berbenah diri tapi jangan sampai menghakimi diri. Kita juga harus jujur sama diri sendiri dengan mencintai diri secara utuh tentang kelebihan dan kekurangan yang kita miliki. Terakhir, kita harus fokus karena hal yang bikin kita mudah patah, terluka dan terguncang adalah fokus kepada orang lain, bukan fokus kepada diri sendiri.
Kita harus sadar bahwa Allah itu ngga pernah menciptakan produk yang gagal. Allah menciptakan kita dengan ridho dan ikhlas, terus kenapa kita ngga bisa ikhlas ketika Allah berkehendak lain? Penerimaan adalah jalan menuju ikhlas dan ridho. Segala sesuatu pasti ada hikmahnya. Sama-sama yuk kita berlatih menerima apapun yang Allah takdirkan untuk diri kita dengan menjalani apa yang Allah berikan untuk kita dengan usaha dan do’a.
Kunci untuk kita pulih adalah menerima. Kita harus tau, Allah ngga akan pernah salah manaruh cerita.
Depok, 03 Agustus 2021 || Self Healing Sharing (SHS1) || Pembicara: Raudhlatul Aniqq S. Psi, CH, CHt @aniqqalfaqiroh || @hayyuacademy https://www.instagram.com/hayyuacademy/?hl=id || Written by: Sekar Kusumaningrum