Sekte Gotong Royong, Journey to Mt. Papandayan
“Berbagi waktu dengan alam
Kau akan tahu siapa dirimu yg sebenarnya
Hakikat manusia” -- Gie oleh Eross dan Okta
Sebait lirik di atas rasanya begitu kami rasakan betul dalam perjalanan ini. Perjalanan pertama kami untuk menemui sekaligus menyanjung alam Indonesia. Begitu banyak perasaan yang menghampiri sebelum dan sesudah perjalanan. Untuk lebih lengkap, berikut sedikit catatan perjalan dan dokumentasi yang sempat kami ambil:
Sekitar pukul 15.30 seluruh anggota regu: Omo, Aldi, Ganjar, Egi dan Firman sudah tiba di Terminal Cicaheum. Sempat kebingungan akan menggunakan bus/elf. Tanya beberapa orang, katanya sore sudah tidak ada elf yang langsung menuju Cisurupan. Karena lupa cari tau harus menggunakan elf dengan rute yang mana, kami percaya saja, dan memutuskan menggunakan bus dengan rute Bandung-Garut.
Pukul 16.30 Bus mulai menyusuri jalanan. Hanya menemui beberapa titik kemacetan, dan sisanya lumayan lancar. Tiba di terminal Garut, kami sempatkan untuk santap malam sambil mencari informasi kendaraan yang harus kami gunakan selanjutnya. Ada beberapa pilihan kendaraan menuju Desa Cirupan. Ada angkutan kota, mobil sewaan, dan elf. Karena ongkos mobil sewaan terhitung mahal dan kalau malam elf katanya lumayan jarang, kami disarankan menggukan angkutan kota berwarna putih biru. Tapi ketika menunggu angkutan kota lewat, ternyata ada elf dengan rute Bandung-Cikajang menghampiri dan langsung menawari “a papandayan, langsung cisurupan”. Gayung bersambut, kami langsung naik elf tersebut. Di perjalanan sempat banyak bertanya dengan pak kondektur. Katanya kalau mau ke Papandayan bisa menggunakan elf Bandung-Cikajang, bisa dari Terminal Cicaheum/Leuwi Panjang. Sedikit menyesal ketika ingat saat bus mulai berjalan dari Terminal Cicaheum, kami sempat melihat elf tujuan cikajang sedang menunggu muatan penuh di jalan masuk Jatihandap.
Hanya butuh waktu 1 jam, kami tiba di depan jalan masuk Desa Cisurupan. Disana sudah banyak mobil pick up yang berbaris rapih, siap mengantar hingga kaki gunung. Namun mengingat kami hanya berlima dan mobil pick up itu sistemnya borongan, terpaksa harus menunggu pendaki lain yang mau naik juga agar ongkosnya lebih murah. Setelah menunggu hampir 1 jam, kami tidak kunjung melihat pendaki lain kecuali yang membawa kendaraan pribadi. Terpaksa kami harus menumpang mobil pick up dengan ongkos lebih mahal. Jalanan menuju kaki gunung Papandayan lumayan buruk. Sesekali kami sedikit terpental ketika melewati jalan berlubang. Lubangnya cukup dalam dan banyak. Namun tidak jadi masalah karena kami di suguhi pemandangan kota garut, di tambah malam yang cerah membuat bulan dan bintang tidak malu menampakan diri. Sesampainya di Pos jaga, Omo langsung mengurus izin mendaki, dan lain-lain. Setelahnya, agar lekas istirahat langsung kami dirikan tenda dan membuat minuman untuk menghangatkan diri.
Matahari pagi mulai mengusir udara dingin yang kami rasakan sejak malam tadi. Dari dalam tenda terdengar cukup riuh. Ternyata sudah banyak orang yang berdatangan, mayoritas dari Jakarta dan sekitarnya, siap untuk melakukan pendakian. Sembari menunggu yang lain bangun, saya mencuri start untuk sarapan dan mencari tumpangan api unggun untuk menghangatkan diri. Owh ternyata pemandangan di sekitar tempat kemah, lumayan bagus. Tebing curam dan kepulan asap belerang terlihat jelas dari sana. Cukup membuat yakin pemandangan di atas jauh lebih bagus.
Satu persatu bangun, mencari sarapan, membersihkan diri, dan membereskan tenda. Sekitar pukul 8.30 langkah demi langkah, kami mulai menapaki jalanan berbatu.
Agak sulit menyelaraskan langkah kaki dengan ritme bernafas. Baru saja berjalan beberapa menit sudah mulai terasa payah. Sesekali kami mengalah pada motor yang melintas. Tak lama kami melalui kawah yang mengeluarkan kepulan asap tadi. Wanginya agak menyengat. Sangat di sarankan membawa masker dan semacamnya. Setelah wanginya tak terlalu terasa, kami istirahat sejenak sembari berbincang dengan pendaki lain. Dari sana terlihat lawang angin dan jalur yang harus kami tempuh untuk menuju ke atas.
Cukup bikin kurang yakin bisa kuat atau tidak melaluinya. Kami mulai berjalan kembali. Mendekati Lawang Angin, medannya semakin menanjak. Nafas menderu-deru, kami semakin sering beristirahat untuk menormalkannya. Tak terasa 2 jam berjalan, tiba juga di Lawang Angin. Istirahat sejenak sebelum kembali berjalan. Pukul 11.00 kami tiba juga di Pondok Saladah. Sudah banyak orang yang mendirikan tenda disana. Sehingga kami lumayan kebingungan menentukan lokasi yang akan di tempati. Setelah berkeliling, kami pun menemukan lokasi yang cukup strategis. Lokasinya di kelilingi pepohonan. Langsung berbagi tugas. Ada yang mendirikan tenda, mencari kayu bakar, dan membuat minuman serta memasak. Semua Selesai. Istirahat sejenak sembari menunggu ikan sarden kami matang.
Pukul 13.30 berangkat menuju Tegal Alun. Sebuah padang edelweiss yang katanya merupakan salah satu lokasi terbaik di Gunung Papandayan. Ada 2 jalur yang bisa kami tempuh. Pertama, jalur landai dengan melewati Hutan Mati. Kedua, jalur terjal dengan membelah bukit. Kalau melalui jalur terjal, katanya bisa langsung melihat puncak Gunung Cikurai. Namun mengingat fisik yang tak begitu prima kami putuskan melewati jalur landai.
Di perjalanan kami menjumpai banyak pipa air yang entah tersambung kemana. Jadi soal air tidak perlu takut kehabisan. Di Hutan Mati kami menjumpai jejeran pepohonan mati dengan tanahnya yang berwarna coklat keputihan hasil dari erupsi Gunung Papandayan beberapa tahun silam. Indah, terlihat gradasi antara hutan gersang dan rimbun.
Makin lama medannya semakin menanjak. Mungkin mencapai kemiringan 70° dengan pijakan yang sedikit berpasir. Setelah berjalan hampir 1,5 jam, kami tiba di Tegal Alun.
Panoramanya begitu indah. Rasa lelah hilang seketika. Semua tergantikan saat hamparan bunga edelweiss yang indah menyapa kami dengan lembut. Ada rasa kepuasan yang begitu besar ketika ingat pagi tadi, kurang yakin bisa kuat atau tidak sampai disana. Ternyata kami bisa.
Setelah mengambil beberapa foto dengan latar hamparan edelweiss, kami berjalan ke sisi Tegal Alun. Ke sebuah jurang yang terlihat cukup dalam. Disana kami saling bercerita banyak hal, mulai dari perjalan yang tadi telah kami tempuh, puncak Gunung Papandayan yang entah dimana, asmara, alam Indonesia yang begitu indah, dan masih banyak lagi.
Dinding tebing , pepohonan, awan, asap belerang yang membumbung, edelweiss, bulan yang nampak malu-malu, tidak lupa memutar musik yang sebelumnya sudah saya siapkan. Ost Gie, Fleet Foxes, Float, hingga Ebiet G Ade menbah keindahan alam yang kami temui sore itu.
Pagi tiba, waktunya kami pulang. Tapi kabut tebal masih menyelimuti dan matahari begitu malu menampakan dirinya. Kami lanjut tidur saja sembari menunggu suhu menjadi lebih hangat. Oh ia malam tadi Pondok Saladah di selimuti kabut . Dari dalam tenda, rasanya seperti di guyur hujan. Sampai tidur kami pun sedikit terganggu karena alas dan pinggiran tenda bocor. Malam yang begitu panjang.
Pukul 8.00 begitu matahari benar-benar menampakan diri dan udara menjadi cukup hangat, kami mulai bersiap diri untuk pulang. Sembari menunggu sarapan matang, satu persatu mulai membereskan barang bawaan dan menyusunnya dengan rapih ke dalam tas.
Entah kenapa menu sarapan pagi itu terasa begitu spesial. Padahal hanya sayur sop. Usai sarapan, langsung tenda kami bongkar dan tidak lupa mengumpulkan sampah.
Pukul 11.00 kami mulai berjalan pulang. Untuk terakhir, kami puaskan mata kami memandangi panorama sekitar Pondok Saladah. Rasanya begitu berat harus pergi dari sana. Namun ada rasa kecewa yang menghampiri kami, ketika masih banyak sampah yang di simpan dan tidak dibawa turun oleh para pendaki lain. Ada juga yang membakar sampah plastik disana. Cukup perihatin mengingat dengan bangganya mereka menyubut diri sebagai pecinta alam namun tidak benar-benar mencintai alam.
Perjalanan turun, menuju pos menghabiskan waktu 2,5 jam, sama seperti perjalanan naik kemaren. Di lanjut kembali menumpang mobil pick up menuju Desa Cisurupan. Ada kejadian lucu ketika kami mulai memasuki pemukiman warga. Mendadak pak sopir menghentikan laju mobilnya, dan mundur. Salah satu penumpang bilang ada dompet jatuh. Seketika kami penasaran apa betul ada dompet jatuh. Namun ketika mundur, dompet yang di maksud bergerak sedikit demi sedikit seperti ada yang menariknya. Dan ah ternyata segerombolan anak muncul dari balik persembunyiannya dan terbahak-bahak. Seketika kami pun ikut terbahak-bahak mengingat tindakan sopir tadi. Sangat berkesan sebagai penutup perjalanan kemaren hahaha. Sekitar pukul 14.30 kami mulai pulang ke Bandung menumpang elf, dan sekitar pukul 17.30 tiba di Terminal Cicaheum. Perjalanan yang menyenangkan. Semoga dalam waktu dekat kami bisa kembali menghabiskan waktu dengan alam. Amin…..
*Di tulis oleh Firman Triyadi & foto diambil oleh Aldi Rivaldi