Akhirnya sampai juga pada pembahasan ini. Pembahasan mahasiswa tingkat akhir. Itu menandakan bawasannya aku sudah tua dan harus segera minggat (dengan terhormat) dari tempatku menempuh pendidikan tinggi ini.
Masuklah ke pembahasan sensitip mahasiswa tua bangka, skripsi.
Apa itu skripsi? Makanan apa itu? Apakah ia baik untuk kesehatan?
Skripshit, skripsweet, krispi, or whatever you called it adalah tiket mahal yang digunakan untuk menyabet gelar sarjana di perguruan tinggi. Kenapa mahal? Karena butuh kurang lebih empat tahun untuk bisa mendapatkan tiket tersebut. Keringat, darah, air mata pun dipakai sebagai alat pembayaran yang banyak dikeluarkan untuk menyelesaikan studi.
Awalnya aku meyakinkan diri sendiri bahwa skripsi itu ya kayak tugas biasa, tugas-tugas sebelumnya yang bisa dikerjakan dan diselesaikan dengan cepat (seperti Bandung Bondowoso). Tapi kenyataannya tidak semudah itu kawan, banyak faktor yang membersamai dan tentu saja menghalangi, yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal yang berasal dari diri sendiri. Ingat, musuh terbesar adalah melawan diri sendiri. Rasa malas, prokrastinasi, tura-turu merupakan faktor internal yang tentunya akrab dengan mahasiswa tua. Satu hal kawan, masalah terbesar kita adalah merasa bahwa kita masih punya banyak waktu.
Faktor eksternal seperti dosbing yang susah ditemui, dosbing yang menuntut kesempurnaan, padahal harusnya beliau-beliau ini tahu bahwa kesempurnaan hanya milik Allah SWT. Dosbing yang mendadak banyak acara. Belum lagi kurangnya dukungan moral dan finansial, tingkat insecure yang tinggi melihat teman seangkatan sudah sidang, tuntutan untuk lulus tepat waktu, dan blablabla (yang kalau kujabarkan di sini bisa jadi novel nanti). Pating semrawut!
Tapi kenapa ya, ketika aku baca-baca skripsi milik para pendahuluku di perpustakaan fakultas, rasanya seperti gampang saja menyusun skripsi.
āOh gini tok ta?ā āOh nek ngene ki 2 minggu yo rampungā āOwalah skripsi tipis wae rapopo rekā
But, reality hit me hardly.
Pas ngerjain skripsi sendiri kok ya ātulisan opo iki kok nggilani ngeneā Semakin dibaca semakin tidak jelas, semakin bingung, semakin tidak tahu tulisan ini mau dibawa ke mana?
Kalau sudah begini, aku yang menyelesaikan skripsi atau skripsi yang menyelesaikanku?
Skripsi terus saja berlari-larian di kepalaku, terngiang-ngiang di gendang telingaku. Mau makan ingat skripsi, mau minum ingat skripsi. Mau tidur ingat skripsi, bahkan ketika sedang mengerjakan skripsi pun aku ingat skripsi (skripsi kuadrat). Lihat, betapa aku mencintai skripsiku.
Sakjane skripsi iki akal-akalane sopo seh rek?
Sebenarnya skripsi ini memang pembuktian dari hasil belajar kita selama empat tahun. Tapi nyatanya sama seperti pertamina, ādimulai dari nol ya Mas/Mbakā Menyusun dan menyelesaikan skripsi membuat kita mau tidak mau, suka tidak suka belajar lagi dari nol.
Memang ya, perasaan paling bahagia di Unversitas itu ketika kita dinyatakan diterima sebagai mahasiswa baru tok, sisanya ya skill bertahan hidupmu saja yang harus diadu. Dosenku saja pernah berkata, āSelamat kalian telah masuk di Universitas ini, sekarang pikirkan bagaimana harus keluar dari siniā
Aku pun turut prihatin dengan kawan-kawan angkatanku yang juga sedang berjuang. Aku mengkhawatirkan mereka sama seperti mengkhawatirkan diriku sendiri. Rasanya seperti berjalan di lorong gelap penuh keragu-raguan, lalu dikejar perasaan gelisah tak karuan, selepasnya kau jatuh dalam jurang ketidakpastian masa depan. Taekkk!
Terus terang, pundakku sedang menampung beratnya ekspektasi keluarga dan orang-orang di sekitarku. Kebahagiaan dan rasa bangga mereka adalah tanggung jawabku. Tapi, bagaimana jika aku mengecewakan mereka?Ā Ah takkan kubiarkan itu terjadi, aku akan berjuang mati-matian (walaupun terkadang aku merasa berjuang sendirian). Aku akan membuktikannya. Bagaimana pun aku harus menyelesaikan apa yang telah aku mulai. Aku pasti bisa, begitu juga dengan kamu. Kita bisa!
Tapi kawan, rasanya kalau sedang lemah, letih, lesu mau disemangatin satu kabupaten pun yo rak bakal mempan. Kecuali, kalian menyemangatiku sembari menyelipkan uang 2 milyar di tangan. Aku akan bersemangat, saking semangatnya akan kuselesaikan skripsi itu dalam kurun waktu dua malam, saestu!
Anyway, untuk aku, kamu, dan orang-orang yang sekarang sedang berjuang menyelesaikan studinya, semoga Tuhan berada di sisi kita. Semoga diketukan pintu hati para dosbing untuk membimbing kita dengan sabar dan mempermudah semuanya. Semoga kita dapat sidang skripsi dan wisuda tahun ini. Aamiin.
Semoga kita dapat bertahan. Tetaplah hidup kawan, jagalah selalu kewarasanmu. Ingat, lebih lambat dari orang lain bukan berarti kita gagal. Setiap insan punya waktunya sendiri untuk mekar. Setiap masa ada orangnya, dan setiap orang ada masanya.
Sedikit tips dari dosbingku tercinta, āUntuk semua, berdoa semoga dimudahkan dan diberi kelancaran, kekuatan dalam berpikir untuk menyelesaikan skripsi. Pakai rumus 2-2-2: Jam 2, 2 rekaat (minimal), 2 air mataā
S E M A N G A T S K R I P S I A N ! ! !
*) Oh iya, pasti banyak yang menyuruh kamu untuk bekerja keras, kalau begitu akan ku seimbangkan dengan menyuruhmu untuk beristirahat.
Work hard, play hard, istirahard brodiiii!!