Peluh terus mengucur, langit semakin gelap, namun perjalanan masih tersisa setengah, sekitar 1,5 jam lagi. Sebagian rombongan kami kini tiduran kelelahan di atas tanah basah setapak jalan kebun coklat sementara yang lainnya di bawah tumbang beberapa dan menunggu angkutan motor untuk menjemput. Sebenarnya naik motor pun bukan pilihan karena jalan setepak ini bersisian dengan jurang terjal. Lelah sekali, kakiku yang hanya beralas sandal jepit mulai lecet-lecet, aku tidak tahu bahwa trekking ini akan melewati medan yang berat, bahkan melewati sungai selutut.
“Goyangkan badanmu! Trek trek trek jing! Agar kamu bahagia, trek trek trek trek jing!” tibatiba salah satu diantara kami (Ka Ipin) yang sedang tiduran bangkit dan bernyanyi, menyemangati kami melanjutkan perjalanan. Tinggal tiga tanjakan panjang lagi dan kami akan segera sampai, sebelum malam semakin larut dan badan semakin lelah, kami harus sampai sebelum besok pagi kegiatan mengajar dimulai! Perjalanan pun kami lanjutkan dengan sesekali berhenti, sesekali terkena getah coklat, diselingi dengan tambahan nyanyian Ka Ipin sebagai penyemangat.
Satu tanjakan terlewati, dua tanjakan, hingga tanjakan ketiga, kami tertegun sejenak menatap langit yang sebelumnya tertutup pohon coklat kini terlihat jelas dihiasi bintang-bintang dan pemandangan kota nun jauh di sana, wajar saja, di bukit ini tidak ada listrik sama sekali sehingga bintang bermunculan mengintip perjalanan kami dengan begitu indahnya. Perbukitan terakhir, semakin dekat dengan puncak hingga tiba-tiba gerombolan anak-anak laki-laki dan perempuan berambut panjang melambai-lambaikan tangan, menghampiri kami sambil tersenyum malu-malu. Inikah anak-anak pedesaan di atas bukit itu? Ya, mereka menjemput kami ternyata, kami semakin dekat dengan pemukiman mereka. Kami berjalanan bersama dituntun oleh mereka sampai ke desa.
Foila! Tanda-tanda kehidupan yang pertama kami lihat dari desa ini adalah sebuah warung kecil di sebelah sekolah dasar bercat putih gading, itulah sekolah tempat kami akan bermalam sekaligus tempat kami mengajar esok pagi, SDN Terpencil 04 Maganggal Bobalo.
Sekolah panggung berukuran kecil ini hanya sekitar 6m x 13m. atapnya ditutup oleh seng, langit-langitnya bolong-bolong, lantainya berdebu, dan ruangannya hanya dibatasi oleh tiga sekat berbahan tripleks dan dipergunakan untuk kelas 1 sampai kelas 7, bisa bayangkan bagaimana kecil dan berisiknya saat kegiatan belajar berlangsung?
Pagi itu tim kami dibagi menjadi dua, tim pertama mengajar di tempat kami menginap (SDN Bobalo), sementara tim lainnya melanjutkan perjalanan 45 menit menggunakan ojek ke desa atas, SDN 02 Pesangkang Pabounang.
Aku mendapat giliran mengajar kelas 5, 6, dan 7 SDN Bobalo bersama Ka Gilang, orang Klaten yang sedang ditugas kerjakan di Palu, Sulawesi Tengah. Awalnya sulit sekali mengajar 38 anak ini, mereka sangat pemalu dan pendiam, ditambah kami berdua yang teledor kurang mempersiapkan bahan, hal ini menjadi semakin sulit saja. Namun, lama kelamaan suasana mencair, kami menemukan cara untuk mengajar mereka. Materi yang kami sampaikan adalah Pancasila, sistem pernafasan, dan sistem pencernaan. Pada materi sistem pencernaan misalnya, kami memulai dengan mengajak mereka berimajinasi tentang sebuah piring yang ada di depan mereka penuh makanan lezat yang mereka dambakan, secara virtual kami “mencocol” nasi dan lauk bersama-sama, lalu memasukan tangan kami ke mulut, mengunyah makanan lezat hingga kenyang. Itulah awal narasi yang kami buat bersama anak-anak hingga menceritakan bagaimana perjalanan makanan itu selama di tubuh kami. Kegiatan belajar hari itu diisi juga dengan bernyanyi berbagai macam lagu, sebagai bonus mereka mengajarkan kami lagu daerah Sulawesi dengan bahasa yang tidak kami pahami dan seringkali keliru kami ucapkan dan menghadirkan tawa anak-anak karena kekikukan kami di depan kelas ketika mengikuti mereka.
Sedikit cerita tentang mereka, anak-anak ini sangaatt jarang turun dari bukit tempat mereka tinggal, lebih parah lagi cerita dari pengalaman mengajar di SDN Pesangkang Pabounang, mereka bahkan tidak mengerti bahasa Indonesia dan belum hafal lambang-lambang Pancasila. Fasilitas yang disediakan pun seadanya, kamar mandi yang tersedia hanyalah sepetak kotak kecil sepinggang, tanpa pintu dan tanpa atap dengan sumber mata air yang mengalir melalui bambu yang dipasang setinggi betis kami, di situ pulalah kami, tim 1000 guru, mandi selama menetap di sana. Mengenai kesehatan, jika ada penduduk yang sakit, maka mereka hanya menunggu bidan yang datang sekitar dua minggu sekali ke desa untuk mendapatkan pertolongan.
Menurut salah satu guru di sini, selepas lulus kelas 7, biasanya mereka akan putus sekolah karena terlalu jauh dari rumah untuk melanjutkan ke SMP, apalagi perguruan tinggi. Murid mencapai lebih dari seratus, tetapi pengajar yang ada hanya 9 orang termasuk kepala sekolah, hanya kepala sekolah yang berstatus sebagai pegawai negeri sipil (PNS) di SDN Bobalo ini. Sangat, sangat jauh dari kehidupan dan segala kemudahan kita yang berskolah di kota, tetapi kegiatan belajar mengajar tetap terlaksana secara khidmat dengan anak-anak yang penuh antusias dan guru-guru yang benar-benar ikhlas untuk mengajar. Untuk mencapai sekolahnya, anak-anak harus berjalan jauh juga dari desa atas.Tak jarang seorang guru dari desa bawah rela tinggal di sini hanya untuk mengajar anak-anak didiknya.
Aku sangat terharu ketika mereka menulis cita-cita dan impian mereka, walaupun masih banyak yang mengikuti apa yang ditulis oleh teman disebelahnya, yaitu bercita-cita menjadi guru, tetapi beberapa dari mereka sudah mulai terbuka pikirannya. Ada harapan di hati dan pikiran mereka untuk mencoba berani turun dari bukit ini, untuk melihat dunia luar, melihat Kota Palu, dan yang terpenting, melanjutkan sekolahnya. Ada seorang anak yang menulis “Aku ingin ikut Kak Ulfah ke Jakarta”, bisa bayangkan bagaimana aku terharu membacanya? Aku lebih terharu lagi ketika mereka bernyanyi sebuah lagu iklan BOS (Bantuan Operasional Sekolah) zaman Pak SBY menjabat dulu,
“Tiba saat kita maju bersama, melaksanakan wajib belajar,
Sampai pendidikan tingkat pertama, bagi tunas bangsa
Satukan tekad penuh kesadaran, bekal kemandirian,
Demi mencapai pendidikan dasar, menatap masa depan….”
Teaching and Travelling
1000 Guru Sulawesi Tengah
5-7 Mei 2017