Sepertinya tantangan baru bagi rumah tangga muda adalah masuk menjadi bagian dari masyarakat. Entah, mungkin ini aku saja atau ada juga yang lainnya. Tapi seperti yang dulu pernah aku tuliskan, membangun rumah tangga berarti kita sudah menanggung hidup bukan lagi ditanggung, jadi, tidak ada lagi nama orang tua yang bisa kita gunakan untuk menanggung segala tindak tanduk kita, terlebih jika kita hidup jauh dengan mereka.
Bermasyarakat ternyata tidak semudah itu, kita menjadi bagian dari mereka yang diantaranya sudah sepuh, sebagian lainnya baru senang senangnya jadi mbah ber cucu satu, sebagian lagi sedang matang matangnya tanpa tanggungan anak yang masih butuh perhatian, sebagian lagi,,, mungkin kita, dengan segala kerepotannya difase anak masih kecil, pun sedang memulai rumah tangga baru.
Jujur sebenarnya berinteraksi dengan mereka itu ngeri ngeri sedap, sebab kita belum tau latar belakang mereka, kalaupun tau, interaksi kita dulu tidak seintens sekarang, yang bikin kita mengenal sisi lain mereka. Ingin menyapa takut kalau ternyata sambutannya tidak sebaik yang ada dibenak kita, ingin bertanya ini itu, takut ada yang salah, bahkan terkadang tidak sadar kita membuat salah yang menyebabkan anggota masyarakat murka sekali, sebab ada tipe manusia yang senggol bacok, em, gak semengerikan bacok juga sih, hanya saja gampang tersulut hanya karena hal yang remeh yang bahkan tidak kita sadari kesalahannya. Bahasa pun mulai kita tata, kita yang dulu banyak berbicara dengan kawan seusia, harus banyak mengerem kata kata ngakrab yang nihil krama.
Tantangan tantangan hidup bermasyarakat banyak membuatku belajar, sebab selama ini ternyata kita tidak pernah benar benar menjadi bagian dari mereka. Saya seminggu yang lalu dimarahi tetangga, semua umpatan keluar, padahal saya membakar sampah di halaman rumah yang saya tinggali, memang sebagian asap ada yang masuk kerumahnya, tapi tidak lama dan tidak banyak, sebab itu aktifitas yang tidak sekali dua kali saya lakukan, bahkan saya pernah menyalakan 5 titik api dengan asap yang tentu lebih menyesakkan (sebab biasanya ibu pemilik rumah menyuruh, agar sekaligus membakar rumput yg ada). Posisi saya sedang sendiri, tidak seperti biasanya yang ditemani pemilik rumah, mungkin kondisi inilah yang menjadi kesempatan bagi tetangga ini untuk mengeluarkan segala bentuk keresahannya. Saya kaget, saya bingung, posisi saya sendiri, saya takut, sampai saya tremor, tidak tau harus bersikap apa, ingin menangis rasanya.
Ternyata mental saya belum seberani itu, ternyata saya mudah down hanya karena umpatan dan caci maki dari orang sekitar saya, ternyata saya belum tenang menghadapi hal mendadak yang diluar dugaan kita. Beberapa hari berlalu, saya mengingat kembali, bagaimana Rasul bisa setenang itu ketika dicaci maki, diboikot, berusaha dibunuh, dilempari kotoran, bahkan itu dilakukan oleh kaum beliau sendiri, bahkan sebagian dari mereka pun adalah saudara beliau. Bagaimana perasaan sesak saya jika saya ada di posisi beliau? Jika bukan karena faham ini memang bagian dari resiko dakwah, mungkin mundur dan menyerahlah pilihannya, tapi ini kondisi yang harus kita jalani, bukan untuk dipilih.
Menyampaikan hal yang kontra dengan keumuman yang ada, membuat kita ovt bahkan sebelum bertemu mad'u, seperti tadi sore ketika saya akan mengisi ttg riba ditengah ibu ibu. Takut, jika jika saya harus menerima ketidak terimaan mereka, takut jika saya akan mendapat cemoohan sebab seperti sok pintar, padahal usia belum seberapa, berlanjut dengan ketakutan materi yang akan diusung di pertemuan mendatang.
Yaa semoga Allah mudahkan



















