Receh-Receh Kemewahan Cerita Perjalanan Part 1
Saya selalu takjub dengan perjalanan. Entah bagaimana cara Allah mengaturnya, dalam setiap pergi yang saya lakukan, saya selalu menemukan. Kali ini dalam episode 3 hari berjalan, saya dipertemukan dengan orang yang membuat sadar bahwa ‘jalan di tempat’ saya beberapa tahun ini sungguh tidak terlalu buruk. Usai salat dzuhur dan asar di sebuah masjid, sambil meluruskan punggung (gendong tas segede kulkas capek juga, Bray), saya dihampiri seorang perempuan. Dilihat dari segi usia sepertinya tidak jauh dari saya. Mungkin, karena jalanan ternyata terbukti membuat wajah manusia cepat menua.
Namanya…., ya betul lagi-lagi saya tidak bertanya siapa namanya. Anaknya dua. Satu anak sambung, laki-laki usia 12 tahun. Satu lagi anak kandung usia batita. Long story short, dia bercerita tentang rumah kontrakannya di pinggir kota. Mungkin lebih tepat disebut kos petak. Kamar mandinya di luar. Gantian dengan tetangga. Sebagai perempuan muslimah yang kebutuhan privasi adalah nomor satu, saya tidak bisa membayangkan bagaimana tinggal di tempat seperti itu. Tapi bukan ini punchline-nya.
Selama 5 tahun dia tinggal di sana, dia tidak tinggal dengan suaminya, tapi dengan CALON suaminya. Saya tidak salah tulis, dan teman-teman tidak salah baca. Di sini dia bercerita bahwa selama 5 tahun bersama dia tidak kunjung dinikahi. Bahkan sekarang KTP ditahan calon suaminya karena takut ia kabur.
Sebagai manusia (yang ngakunya) rasional dan logis, ketika dia bertanya pendapat, tentu saya langsung bilang, “Kenapa nggak ditinggalin aja, Kak? Kan nggak kunjung dinikahin juga.”
Bagi yang sudah pernah bertemu langsung dengan saya, pasti tahu betul ekspresi wajah saya seperti apa.
“Lagi pula, anak kedua saya itu anak kandungnya dia.”
“Kami tidak direstui oleh keluarga saya. Jadinya dia ngajak saya kawin lari ke sini. Orang tua saya sudah nggak mengakui saya sebagai anak. Saya hubungi kayak gimana juga nggak pernah dibalas.”
Saya diam. Nggak tahu juga harus bicara apa.
“Jadi ya sekarang saya hanya puya calon suami saya itu. Mau nikah resmi negara, orang tua dan kakak tidak ada yang mau jadi wali. Mau nikah siri, belum ada uang,”
“Oh nikah siri itu bayar ya?” Saya benar-benar tidak tahu.
“Ya bayar, Kak. Kan butuh bayar orang buat mau pura-pura jadi wali,”
Cerita kemudian berlanjut, soal mengapa keluarganya menentang. Konon karena si calon suami belum resmi bercerai (hingga saat ini) dan sudah memiliki anak. Sedangkan dari si kakak yang mengajak saya bicara, dia sudah trauma dengan laki-laki single. Selama ini ketika dia pacaran dengan laki-laki single, selalu hanya berakhir hmm…di kamar. Jadi baginya ya lebih baik dengan laki-laki beristri asal setia. Ada logical fallacy di sini. Tapi saya benar-benar tidak punya tenaga untuk meluruskannya saat itu.
Apa yang terjadi di atas, sangat mungkin bukan salah si kakak perempuan. Bisa jadi selama ini dia tidak punya imajinasi lain soal hidup yang lebih baik, selain bergantung dengan laki-laki yang bukan siapa-siapanya. Sangat mungkin ia tidak punya cukup keberanian untuk pergi, tidak peduli soal KTP atau apa pun, asal menuju hal yang lebih baik.
Saya 10 atau 5 tahun yang lalu pasti akan menghakiminya. Ya pantas ketemu laki-laki yang begitu, kamunya juga begitu. Gara-gara cerita ini, saya menjadi lebih sadar, ternyata ‘seremeh’ keberanian adalah hal yang mewah. Hal sesepele imajinasi atau visualisasi (dikorelasikan dengan harapan) hidup yang lebih baik dan ‘bermartabat’ adalah kemewahan juga. Bahkan sereceh ‘takut dosa’ itu beneran nggak semua orang punya..
Sebenarnya saya berusaha menuliskan cerita ini dengan gaya jenaka. Biar nggak serius-serius amat gitu. Tapi sepertinya saya gagal, haha!
Tiga puluh menit di sebuah masjid.