Niit!! Idupin napa tumblrnya..?!
oiiiii ini udah hidup lagii
No title available

izzy's playlists!
No title available
EXPECTATIONS
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
Fai_Ryy
Game of Thrones Daily
wallacepolsom
No title available
Xuebing Du

@theartofmadeline

★
almost home

Product Placement
The Bowery Presents
The Stonewall Inn
art blog(derogatory)
Today's Document
occasionally subtle

titsay
seen from China
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from Singapore

seen from United States
seen from United Kingdom
seen from United States

seen from Türkiye
seen from United States
seen from United States
seen from Saudi Arabia
seen from United States

seen from Canada

seen from Türkiye
seen from United Kingdom
seen from United Kingdom

seen from Malaysia
@senjakalaitu
Niit!! Idupin napa tumblrnya..?!
oiiiii ini udah hidup lagii
Never run back to whatever broke you.
Bapak, jika waktu bisa diputar kembali. Akan kuseduhkan segelas kopi untukmu setiap pagi. Akan kupijit pundakmu setiap kali hendak tidur. Akan kusisirkan rambut ikalmu saat hendak pergi. Akan kubersihkan sepatumu. Akan kucucikan baju-bajumu dan kusetrika dengan rapi. Dan akan kupeluk bapak sesering mungkin. Bapak, jika waktu bisa diputar kembali. Ingin kutanyakan padamu, apa lagu favoritmu? Supaya aku bisa memutarnya berulangkali bila bapak tak bisa memutarnya lagi. Ingin kutanyakan padamu, apa makanan kesukaanmu? Supaya aku bisa memasaknya setiap kali aku merindukan bapak. Bapak, jika waktu bisa diputar kembali. Betapa senangnya bila kita bisa pergi ke bioskop bersama, pergi ke toko buku agar aku bisa memamerkan selera bacaku yang kuanggap paling keren sedesa. Betapa senangnya bila kita bisa pergi berenang bersama lagi, seperti yang sering kita lakukan saat anak-anakmu masih kecil dulu. Betapa senangnya kita pergi tamasya, sebelum bapak repot bekerja yang juga harus dilakukan karena adanya kami, untuk kami. Bapak, ingin kuulangi masa-masa itu lagi. Memegangi kamera untuk merekammu yang sedang mengajari adek berenang. Ia masih murid taman kanak-kanak saat itu. Dan bapak sungguh gagah lagi tampan. Bapak, ingin kuulangi masa-masa itu lagi. Melihatmu mengajari adek bersepeda di depan rumah. Menyuruhnya berkeliling perumahan kita yang cuma satu putaran itu, dan kau menungguinya di depan pagar sambil melipat tanganmu di bawah dada. Bapak, ingin kucium pipimu. Ingin kupeluk tubuhmu erat, sampai aku merasa lega, sampai bapak berbalik memelukku erat. Mencium keningku. Tidur bersamaku, bersama adek, bersama ibu. Betapa hangat. Tapi waktu tak bisa diulang kembali. Tidak pernah bisa, bapak. Pada seumur hidupku, akhirnya kuusap pipimu tanpa bisa menciumnya lagi. Untuk pertama dan terakhir kalinya kita berdua bisa sedekat ini. Pipi yang dingin, wajahmu yang terlihat damai, dan mata yang terpejam. Kupeluk tubuhmu yang diam di dalam sebuah peti. Wangi, tubuhmu wangi. Bapak, maaf aku tak bisa melakukan apapun untuk menahan kepergianmu. Ingin rasanya kunego Tuhan agar tak memanggilmu secepat itu. Ingin kubisiki malaikat maut supaya dia pergi sampai jauh-jauh hari. Tapi aku tak berdaya, bapak. Bahkan kabar kepergianmu tak pernah masuk dalam daftar bayanganku. Maaf aku tak bisa melakukan apapun untukmu, bapak. Membiarkanmu hilang di bawah tumpukan tanah. Sendiri. Terbungkus kain kafan yang tentu saja kau tak menyukai model pakaian macam demikan. Sepi. Gelap. Ingin rasanya aku menemanimu saja, bapak. Membantumu menjawab pertanyaan-pertanyaan malaikat yang barangkali akan ada yang menyulitkan. Sebab selama ini bapak tak punya banyak waktu untuk menghabiskan segala kitab. Sebab waktu bapak hampir habis untuk membesarkan tiga anak yang terdidik dan seorang istri yang tak henti-hentinya merapal do’a-do’a dalam ibadah yang giat. Bapak, tak ada yang bisa kulakukan lagi untukmu, selain membalas semua pengorbananmu lewat do’a yang kukirimkan. Yang kadangkala kubaca dengan tangis sesenggukan. Kadang juga dengan hati yang kuat dan senyum lebar di tengah kenangan kita yang berputar di dalam kepala. Akan kulakukan segala amalan yang bisa memudahkan jalanmu menuju surga, menuju perjumpaan dengan mbak arik yang sudah menunggumu di depan gerbangnya. Suatu hari kelak, aku juga akan menyusulmu, bapak. Hanya tinggal menunggu waktu, maka kita akan berkumpul lagi. Bahagia di surga.
Sudut Pandang
Malam itu aku bercerita panjang soal hari-hariku yang mendadak menyeramkan.
Kau mendengarkanku baik-baik. Sambil kutatap lekat matamu yang mendamaikan, aku menahan beban napas sebab kau terus membakar batang demi batang rokok.
Sesekali kubuang pandangan sebab aku kehabisan kata-kata. Aku disergap gugup, sebab kau banyak berubah.
Kepalamu dipenuhi gagasan yang bijak, kritik akan hal-hal yang kau anggap tak layak, dan tentu saja, kau jauh lebih bijak.
Tengah malam aku pulang, kubenamkan wajahku yang mulai gatal-gatal karena asap rokok. Kepalaku berat, hampir dua hari tak tidur lelap. Sambil setengah sadar, kurapali kalimat-kalimat yang kau tanamkan di telinga.
Kubenamkan lebih erat kepalaku ke dalam bantal. Sebab aku malu, aku pasti begitu dungu di matamu.
Bertemu guru.
Bunga Andong, 22 September 2014.
Racun di kepalaku itu bernama; perasaan ingin tahu atas segala.
Kau tau apa yang lebih mengerikan dari waktu yang tak bisa kembali?
Adalah sebuah kondisi, saat kau tak bisa membedakan lagi, apakah kau sedang mencintai atau sekedar berilusi, sebab kau tak bisa rasakan apapun selain menyepakati, menghargai dan menjaga relasi.
Adalah sebuah kondisi, saat kau tak bisa membedakan lagi, apakah kau sedang benar-benar dicintai, atau kau hanya sebuah hal yang ada hanya untuk ada. Hanya untuk sebuah kata ada.
Adalah sebuah kondisi, saat kau tak bisa membedakan lagi, apakah kau sungguh memiliki makna, atau kau hanya disisi tanpa arti.
Adalah sebuah kondisi, saat kau ingin pergi tapi kau begitu takut pada keinginan untuk kembali.
Adalah sebuah kondisi, saat kau tiba pada sebuah mati rasa yang tak bisa kau sembuhkan sendiri.
Bunga Andong, Malang, 27 Agustus 2014.
Age is an issue of mind over matter. If you don't mind, it doesn't matter.
oleh: muhammadakhyar (Koordinator Komunitas Menulis Langit Sastra)
Manusia yang berada pada zona tengah kurva normal dapat dipastikan akan mudah untuk menyatakan bahwa mencuri, berbohong, atau menyakiti orang lain adalah perbuatan salah. Hanya saja level moralitas seseorang tak bisa diukur...
dua puluh dua tahun.
kau pria baik, tentu saja keinginanmu agar aku bisa jadi sebijak rasul itu baik untukku. tapi agaknya itu mustahil untuk diwujudkan, tidak hari ini juga tidak pada hari lain. aku tak lahir dengan mukjizat. aku adalah gadis berlimpah salah yang hanya sedang bertambah tua sekaligus berkurang usia. angka-angka itu tak bisa membuatku tiba-tiba menjadi suci dari dosa. mereka hanya bilangan bisu, dari tahun ke tahun, dari satu ke dua puluh dua. mereka hanya hitungan diam, dan kau, barangkali akan mulai perhitungan pada sikapku yang selalu minus di matamu.
kau pria baik, tentu saja kau tak seharusnya membuat hari-hari yang katamu semakin kelam - sebab telah lama-lama bercengkerama dengan perempuan paling kejam - terjadi berulang-ulang.
kau pria baik, tentu saja itu tak berarti kau harus terus menerus memaafkan. kau justru harus marah, kau harus berani meninggalkan. sebab aku bukan pemuas ekspektasi. aku cuma sampah visual penuh kepalsuan di kepalamu, yang terus kau pikirkan sebab kau terlalu sering membayangkan yang tidak-tidak, seperti; keburukanku yang selalu kau kemas sendiri menjadi kewajaran yang kau sayangi.
kau pria baik, tapi kebaikanmu lambat laun jadi mengerikan buatku. atau, aku terlalu mengerikan untuk menghadapi kebaikanmu sepanjang waktu.
Pigura Hitam
Ingin kusepuhkan daunan lontar pada kanvas kita yang koyak-koyak,
bila ternyata hari-hari hanya mampat di ujung tiang bendera.
Dengan tinta apakah akan kau tulis diary-mu hari ini?
Ada segelas susu, mangkuk merah dan sumur darah yang tak pernah akan kering kau timba.
Tak pernah kita rencanakan melipat sejarah pada bingkai birgari seperti saat ini.
Hingga sisa-sisa mimpi hanya membekas pada mata kita yang sunyi. Atau bayangan hitam yang diberkaskan lampu belencong.
Hari ini masih ada yang berusaha mengeja tangismu.
Menghimpun air mata dari reruntuhan harapan.
Memajangnya di tembok warna hitam pekat.
-Tulus Widjanarko-
Orang-orang kota, orang-orang berbangsa itu, begitu takutnya kalau orang tidak lagi menghormatinya. Dan mereka begitu takutnya kalau terpaksa menghormati orang-orang kampung.
(Pramoedya Ananta Toer, Gadis Pantai)
Hypocrisy
reaganlodge
We are just trying to figure out each other
Hampir lima tahun.
Kota yang agaknya terkutuk tapi selalu dirindukan.
Terimakasih atas kenangan dan segalanya.
:)
:'(
Mereka bebas menyatakan emosi tanpa diplomasi basi. Sebuah ruangan sempit, gelap dan udara yang pengap dianggap lebih nyaman ketimbang merasa berdiri di atas ladang kejahatan seluas 1.919.440 km².
Tumpukan kaleng-kaleng cat dan bau minyak yang menyerbu lewat basah kuas-kuas mungkin lebih menyegarkan ketimbang eksistensi dan materi yang dikejar-kejar mereka yang peluhnya menderas di jalan-jalan sambil sibuk menggerutu.
Atau mereka yang sedang bersantai di sebelah rumah sambil menghidupkan televisi dengan volume brengsek, bahkan hanya untuk mendengar agedan-adegan tak berguna seperti; lelaki bersorban yang terus diwawancarai soal kesibukannya menjual sabda Tuhan demi hidup yang parlente.